You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Faedah Seputar Wushul

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Faedah Seputar Wushul

Disebutkan dalam Jawahirul Bihâr yang menukil pernyataan Sayyidi Abdul Karîm al Jîli pada akhir bagian kitab al Insân al Kâmil dengan redaksi berikut:

“Ketahuilah bahwa maqam qurbah (kedekatan jiwa dengan Allah Swt) merupakan washilah (sarana) untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, hal itu disebabkan karena orang yang telah sampai pada maqam tersebut menjadikan maqam itu sebagai perantara bagi ketenangan kalbu seraya untuk mengejawantahkan ragam hakekat ilahiyyah.

Ragam kalbu ini pada asalnya terasa aneh dengan segala hakekat ilahiyyah, namun jika kalbu ini diciptakan dari hakekat ilahiyyah, maka dengan turunnya manusia ke alam ini, keanehan kalbu tersebutpun tercipta, sehingga kalbu sering kali tidak mudah menerima suatu perkara hingga ia menyaksikan sendiri, hal itu terjadi pada yang lainnya, seperti halnya kaca atau juga tabiat, dimana ia melihat jiwanya berada pada sesuatu itu sebagai sebuah asal keberadaannya. dimana nama Allah Al Haq merupakan sarana ruhani mendapatkan ketenangan bahkan menggapai ragam sifat ilahiyyah.

Kalbu seorang wali yang sudah wushul pada maqam qurbah merupakan sarana jasad bisa tenang dan mampu mengejawantahkan ragam hakekat ilahiyyah lantaran nampaknya atsar dari kedekatan sang wali kepada Allah Swt. Diri seorang wali belum mampu mengejawantahkan ragam nilai ilâhiyyah kecuali dia sudah menyaksikan sendiri, sehingga sang wali menjadi sarana untuk menggapai ragam hakekat ilahiyyah. Semua nabi dan utusan Allah, sarana mereka adalah Nabi Muhammad Saw.

Wasilah sebenarnya adalah inti dari maqam qurbah itu sendiri, dimana martabat pertamanya adalah maqam khullah (maqam diri yang penuh dengan aib) dan martabat terakhir adalah maqam al khalil (maqam yang dirindukan/maqam bersahabat dengan Allah Swt) dan bermula lagi dari maqam al habib (maqam sosok yang dicintai Allah). Sebab, maqam al habib adz-dzāti (sosok yang dicintai Allah) merupakan sebuah ibarat untuk menyatakan posisi seorang hamba yang merindukan Allah, dimana orang yang merindukan Allah akan nampak dengan gambaran orang lain, setiap dari gambaran yang pertama dan kedua saling bergantian menempati posisi yang satu dengan yang lainnya.

Tidakkah engkau lihat pada jasad dan juga ruh ketika keduanya saling merindu, maka bagaimana di dunia ini ruh bisa merasa sakit lantaran sakitnya jasad, juga bagaimana nanti di akhirat jasad bisa merasakan sakit lantaran sakitnya ruh. Kemudian baik ruh dan jasad akan muncul dengan gambaran yang saling berbeda. Pada kondisi inilah Allah Swt memberikan isyarat dengan firman-Nya,

اِنَّ الَّذِيْنَ يُبَايِعُوْنَكَ اِنَّمَا يُبَايِعُوْنَ اللّٰهَ ۗ يَدُ اللّٰهِ فَوْقَ اَيْدِيْهِمْ ۚ فَمَنْ نَّكَثَ فَاِ نَّمَا يَنْكُثُ عَلٰى نَفْسِهٖ ۚ وَمَنْ اَوْفٰى بِمَا عٰهَدَ عَلَيْهُ اللّٰهَ فَسَيُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا
innallaziina yubaayi’uunaka innamaa yubaayi’uunalloh, yadullohi fauqo aidiihim, fa man nakasa fa innamaa yangkusu ‘alaa nafsih, wa man aufaa bimaa ‘aahada ‘alaihulloha fa sayu-tiihi ajron ‘azhiimaa

“Bahwa orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka, maka barang siapa melanggar janji, maka sesungguhnya dia melanggar atas (janji) sendiri; dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan memberinya pahala yang besar.”
(QS. Al-Fath 48: Ayat 10)

Nabi Muhammad Saw menempati maqam diri beliau. Begitu juga firman Allah Swt,

مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَا عَ اللّٰهَ ۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا 
may yuthi’ir-rosuula fa qod athoo’alloh, wa mang tawallaa fa maaa arsalnaaka ‘alaihim hafiizhoo

“Barang siapa menaati Rasul (Muhammad) maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barang siapa berpaling (dari ketaatan itu) maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 80)

Nabi Muhammad Saw pun telah bersabda secara gamblang kepada Abu Sa’id al Kharraz saat ia bermimpi, dimana Abu Sa’id al Kharraz berkata, “Wahai Rasulullah, maafkanlah aku, sebab kecintaanku pada Allah Swt membuatku sibuk dari cinta kepadamu,” Nabi Muhammad Saw bersabda padanya, “Wahai orang yang diberkahi, sungguh kecintaan Allah Swt itu adalah kecintaanku.”

Nah, ketika Nabi Muhammad Saw adalah wakil dari Allah Swt, maka Allah lah yang menjadi wakil dari Nabi Muhammad Saw. Wakil adalah khalifah dan khalifah adalah wakil. Dia (Allah Swt) itu adalah dia (Muhammad Saw) dan dia (Muhammad Saw) adalah Dia (Allah). Darisinilah Nabi Muhammad Saw menyendiri dengan kesempurnaan; yaitu dengan khatam kamalat (penutup ragam kesempurnaan jiwa) dan maqâmât ilâhiyyah secara bathin. Allah pun memberikan kesaksian pada nabi Muhammad Saw dengan memposisikan beliau pada maqam risalah zhahir, yang merupakan akhir dari maqam mahabbah dan awal dari maqam khatam.

Maqam khatam adalah sebuah ungkapan pengejawantahan diri dengan semua hakekat Allah Swt, kecuali pada perkara yang makhluk tidak mungkin menggapainya. Maka secara global, para nabi milik beliau Saw, meski sebenarnya secara terperinci hakekat para nabi adalah milik Allah Swt. Untuk inilah seorang wali yang kamil akan senantiasa berada dalam kesempurnaan jiwa, sebab Allah Swt tidak memiliki batasan, dimana para wali Allah pun akan senantiasa ber-tarqiyah sesuai dengan apa yang Allah Swt berikan pada diri mereka.

Lalu ketahuilah, bahwa maqam ubúdiyyah (penghambaan diri kepada Allah) tidaklah dikhususkan bagi orang yang memiliki martabat tertentu, terkadang ada wali Allah kembali dari maqam khullah (cacat diri) menuju maqam al khalq (makhluk), tetapi ia berada pada maqam ubudiyyah. Terkadang ada pula wali Allah yang kembali dari maqam hubb (kecintaan diri kepada Allah), ada lagi yang kembali dari maqam khatam dan lain sebagainya. Perkaranya demikian, sebab maqam ubúdah adalah maqam kembalinya seorang hamba dari martabat ilähiyyah (dengan bantuan dari Allah) menuju maqam ciptaan (makhluk). Sebab maqam ‘ubůdiyyah ini menguasai semua maqâmât yang ada.

Sumber : BUKU KUPAS TUNTAS MAQAM KHATMIYYAH & KHATMIYYAH SAYYIDI SYAIKH AHMAD AT-TIJANI RA (NAHJ AL HIDAYAH FI KHATM AL WILAYAH) SYAIKH AL ‘ALLAMAH SAYYIDI AHMAD SUKAIRIJ AT-TIJANY