You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Wushul Berpijak Pada Ushul (Syari’at)

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Wushul Berpijak Pada Ushul (Syari’at)

Al Arifbillah Sayyidi Abdul Ghani An-Nabulisi pernah menuliskan dalam kitab beliau ar-Radd al Matin Ala Muntaqidz al Ulûm Muhyiddin: al Fasi menuliskan dalam Tarikh-nya ketika Ibnu ‘Araby ketika itu mengaku bahwasanya ia adalah wali khatam (penutup wali), sebagaimana Nabi Muhammad Saw juga penutup para nabi, hal ini tidaklah benar karena masih banyaknya wali Allah dari kalangan ulama Amilin di zaman Ibnu ‘Araby, bahkan zaman setelah beliau. Jika toh yang diinginkan dari makna wali khatam tersebut adalah wali khatam yang berada di kota Fess, maka inipun tidak benar sebab masih banyak wali dan orang-orang pilihan Allah setelah zaman Ibnu ‘Araby, perkara ini kiranya sudah banyak diketahui oleh banyak orang.

Setelah paparan ini, Sayyidi An-Nâbulisi mengatakan: Pengakuan bahwa dirinya adalah wali khatam dari sisi al Muhammady al Khass itu tidak berarti melarang adanya wali lain menduduki maqam tersebut pada zaman beliau, bahkan pada zaman setelah beliau; baik di kota Fess maupun dikota lainnya. Sebab, wali lain yang ada adalah wali dari sisi al Muhammady ghair khass. Jika engkau masih membutuhkan penjelasan komprehensif mengenai perkara ini, maka simaklah berikut ini:

“Ketahuilah, bahwa Nabi Muhammad Saw merupakan khatmu jami’ al anbiya wal mursalin (penutup semua nabi dan utusan Allah); makna hal ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Saw telah merasakan semua masyrab nabi yang ada dan juga masyrab setiap utusan Allah sebelum beliau Saw, maka beliau (Nabi Muhammad Saw) adalah sosok yang menghimpun semua masyrab nabi dan utusan Allah Swt. Oleh karena itu, Nabi Muhammad Saw datang dengan membenarkan semua nabi dan utusan Allah, bahkan beliau Saw memiliki maqam dan martabat yang lebih tinggi dari mereka (para nabi dan utusan Allah Swt). Allah Swt singkapkan ragam kondisi jiwa mereka, ragam berita tentang para nabi dan utusan Allah Swt ada pada kalbu beliau Saw dengan ayat Al Qur’an yang dibacakan pada kita. Sehingga sisi kenabian beliau Saw merupakan pokok dari semua kenabian, dimana kenabian para nabi dan utusan Allah Swt yang lain malah merupakan cabang dari kenabian beliau Saw. Oleh karena itu, Nabi Muhammad Saw pernah bersabda,

كُنْتُ نَبِيًّا وَآدَمُ بَيْنَ الْمَاءِ وَالطِّيْنِ

“Aku telah mendapat pangkat nabi ketika Adam masih berada diantara air dan tanah.”

Sementara para nabi yang lain, mereka mendapatkan pangkat kenabian ketika diutus dan bukan sebelumnya. Itulah yang menjadi pembeda ragam masyrab para nabi yang ada, dimana kenabian Nabi Muhammad Saw merupakan sisi ruhani para nabi lainnya, seperti air yang terbagikan dari masyrab-nya Nabi Muhammad Saw. Masyrab tersebut merupakan sisi ruhani Nabi Muhammad Saw, dimana Allah Swt awali alam ini dengan ciptaan, sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat, “Beliaulah sosok awal yang diciptakan Allah, cahaya Muhammad berasal dari cahaya Allah Swt.” (Al Hadits). Penjelasan hadits ini sangatlah panjang.

Lalu saat Allah menciptakan tanah bagi Nabi Adam As, Allah Swt alirkan sisi ruhani Nabi Adam As dari masyrab-nya Nabi Muhammad Saw [yang menghimpun semua masyrab yang ada]. Begitu juga pada saat Allah ciptakan tanahnya nabi Nuh As, nabi Ibrahim As, nabi Musa, nabi Isa As dan semua utusan Allah, Allah atur penciptaan tanah mereka pada alam ini dan mengalirkan air ruhani pada mereka (masyrab mereka) dari air ruhaninya Nabi Muhammad Saw [yang menghimpun semua masyrab yang ada].

Kemudian saat Allah Swt menciptakan tanahnya Nabi Muhammad Saw, Allah pun alirkan air ruhani beliau Saw yang khusus pada tanah yang juga khusus, maka dengan inilah Nabi Muhammad Saw muncul ke alam ini sebanyak dua kali; Pertama, muncul secara detail seperti para nabi dan utusan Allah sebelum mereka. Kedua, muncul secara global (dengan kelahiran beliau pada zaman tertentu). Oleh karena itu, kenabian ditutup oleh beliau Saw, tidak ada nabi setelah beliau Saw. Hal ini lantaran sempurnanya kemunculan beliau Saw secara detail (dalam urutan para nabi As) yang dibarengi kemunculan secara global (kenabian pada zaman beliau Saw).

Jika engkau sudah mengetahui perkara ini, maka ketahuilah bahwa para wali Allah Swt setelah Nabi Muhammad Saw akan tetap ada sampai hari Kiamat tiba; dimana mereka ini terbagi menjadi dua: Pertama, wali dari sisi al Muhammady al Jâmi’. Kedua, wali dari sisi Al Muhammady ghair jâmi’.

Yang pertama, Wali dari sisi al Muhammady al Jâmí’, sosoknya adalah pewaris Nabi Muhammad Saw dari sisi al Muhammady (yang menghimpun semua masyrab para nabi dan utusan Allah), namun ia tidak sampai pada derajat nabi karena memang derajat kenabian tidak bisa diusahakan (dengan riyadhah diri). Para wali yang seperti ini banyak dari umat ini; yang terakhir adalah Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby al Hatimi. Inilah makna dari perkataan beliau, “Aku adalah wali khatam dari sisi al Muhammady al Khass. Mengenai maqam beliau ini, silahkan telaah kitab beliau yang berjudul Fushûsh al Hikam, sebab pada buku tersebut beliau menyimpan perbendaharaan ilmu. Sebagaimana disarankan pula dalam sebuah bait beliau:

صَرَّةٌ أَوْدَعْتُ عِلْمِي عِنْدَهَا فِي كِتَابٍ وَسَمَيْتُهُ بِالْفُصُوْصِ

“Ada bungkusan dimana kusimpan ilmuku disana # yaitu didalam buku yang kuberi judul Fushush”

Yang kedua, wali dari sisi al Muhammady ghair jâmi’, sosoknya adalah pewaris Nabi Muhammad Saw, namun tidak dari sisi al Muhammady (yang menghimpun semua masyrab para nabi dan utusan Allah), tetapi dari masyrab nabi lainnya, seperti masyrab-nya nabi Nuh, nabi Ibrahim, nabi Musa dan nabi Isa, sehingga dalam magam ini kewalian mereka diungkapkan dengan redaksi: Nuh al Muhammady, Ibrahim al Muhammady, Musawi al Muhammady dan ‘Isawi al Muhammady. Mereka inilah wali fard, sosok penutup wali sisi ini secara mutlak adalah Imam al Mahdi di akhir zaman.

Ketahuilah, bahwa semua sisi ruhani para nabi As senantiasa meminta madad dari ruh yang paling agung; yaitu ruh wujudnya alam semesta secara keseluruhan; dan inilah hakekat ruh Nabi Muhammad Saw yang merupakan ruh asal adanya penciptaan. Allah Swt berfirman terkait dengan nabi pertama; yaitu nabi Adam As, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَاِ ذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ
fa izaa sawwaituhuu wa nafakhtu fiihi mir ruuhii faqo’uu lahuu saajidiin

“Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)nya, dan Aku telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”
(QS. Al-Hijr 15: Ayat 29)

فَاِ ذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ
fa izaa sawwaituhuu wa nafakhtu fiihi mir ruuhii faqo’uu lahuu saajidiin

“Kemudian apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan roh (ciptaan)-Ku kepadanya; maka tunduklah kamu dengan bersujud kepadanya.””
(QS. Sad 38: Ayat 72)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman terkait nabi Isa As :

وَا لَّتِيْۤ اَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَـنَفَخْنَا فِيْهَا مِنْ رُّوْحِنَا وَ جَعَلْنٰهَا وَا بْنَهَاۤ اٰيَةً لِّـلْعٰلَمِيْنَ
wallatiii ahshonat farjahaa fa nafakhnaa fiihaa mir ruuhinaa wa ja’alnaahaa wabnahaaa aayatal lil-‘aalamiin

“Dan (ingatlah kisah Maryam) yang memelihara kehormatannya lalu Kami tiupkan (ruh) dari Kami ke dalam (tubuh)nya; Kami jadikan dia dan anaknya sebagai tanda (kebesaran Allah) bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 91)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ مَثَلَ عِيْسٰى عِنْدَ اللّٰهِ كَمَثَلِ اٰدَمَ ۗ خَلَقَهٗ مِنْ تُرَا بٍ ثُمَّ قَا لَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
inna masala ‘iisaa ‘ingdallohi kamasali aadam, kholaqohuu ming turoobing summa qoola lahuu kung fa yakuun

“Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) ‘Isa bagi Allah, seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 59)

Allah Swt awali kenabian dengan nabi Adam As, lalu dari nabi Adam As, Allah munculkan Hawa, kemudian para nabi lain bermunculan dari tulang sulbi nabi Adam As hingga sampai ke Maryam, dan darinyalah muncul nabi ‘Isa As.

Permulaan penciptaan diawali dengan menyebut sisi dzakar (lelaki) dan diakhiri dengan menyebut sisi untsa (wanita). Lalu setelah ragam martabat kenabian sempurna dan berjalan di alam ini, Allah munculkan pada alam ini sisi yang global; yaitu munculnya Nabi Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Muthallib bin Hasyim sebagai nabi dan utusan Allah; juga sebagai penutup nabi dan utusan Allah Swt.

Jika engkau sudah tahu ini, maka engkau juga perlu tahu, bahwa sisi ruhani para wali Allah pun terbagi menjadi dua:

Pertama, wali Allah yang meminta madad dari ruh Nabi Muhammad Saw secara khusus, bukan dari sisi dimana ruhnya para nabi dan utusan Allah meminta madad, sosoknya adalah ruhaniyat-nya para wali Allah al Muhammady al Jami’i. Sisi ini ditutup oleh Syaikh Akbar; Muhyiddin Ibnu ‘Araby. Dengan sandaran ini dapat dikatakan, bahwa dihadapan para wali ini tidak ada yang lain kecuali Nabi Muhammad Saw, hal ini seperti yang penah dinukil oleh Ibnu Fayid dan ulama semisal beliau.

Kedua, wali yang meminta madad dari ruhnya Nabi Muhammad Saw tetapi dengan perantara ruhaninya salah seorang nabi. Sisi ruhaninya nabi inilah yang bersambung dengan ruhaninya sang wali tersebut dalam menyampaikan kucuran ilâhiyyah dari ruh a’zham dari hadhrah azali-nya Allah Swt. Inilah sisi ruhaninya para wali Allah al Muhammady ghair jâmi, yang nanti ditutup oleh Imam Mahdi.

Kami telah paparkan ragam sisi ruhaninya para nabi dan ruhaninya para wali, maka kini kami akan jelaskan ragam sisi ruhaninya anak keturunan nabi Adam As dan juga hewan. Maka kami katakan: Sisi ruhani selain para nabi As dan para wali, yaitu keturunan nabi Adam As dan juga hewan sungguh mereka meminta madad dari an-nafs al kulli (jiwa yang utuh); yang dalam syari’at kerap disebut dengan lauh mahfuzh dan bukan dari ruh a’zham (ruhnya Nabi Muhammad Saw) juga bukan dari ruh lain. An-nafs al kulli merupakan salah satu jalan ruhaniyah-nya para nabi dan wali, yang mereka gunakan kala memohon madad dari ruh a’zham, ruhaninya Nabi Muhammad Saw, sehingga mereka bisa melihat ruh selain mereka dan juga ruhnya hewan, bahkan bisa jadi para wali Allah ini pun mampu memberitahukan perkara ruhnya sebagian anak keturunan nabi Adam As, juga terkait dengan kondisi jiwa (ahwal) mereka dan perkara mereka sehingga sesuai dengan apa yang para wali beritahukan; yaitu perkara yang turun dari lauh mahfuz dan belum dihapus. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَمْحُوْا اللّٰهُ مَا يَشَآءُ وَيُثْبِتُ ۚ وَعِنْدَهٗۤ اُمُّ الْكِتٰبِ
yam-hullohu maa yasyaaa-u wa yusbit, wa ‘ingdahuuu ummul-kitaab

“Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki. Dan di sisi-Nya terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuz).”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 39)

Penjelasan mengenai ini sangat panjang dan kami anggap penjelasan diatas sudah cukup. Wallahu a’lam. (Selesai sudah perkataan Sayyidi Abdul Ghani An-Nabulisi).

Aku (penulis) pun juga melihat perkataan ulama lain yang menunjukkan, bahwa martabat kewalian khatmiyyah yang pernah diterima oleh Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby merupakan martabat yang tetap dan akan terus ada. Diantara wali Allah yang juga mendapatkan martabat tersebut adalah Shafiyyuddin al Qasysyāsyi al Madani seorang ulama pada abad ke-11.

Sumber : BUKU KUPAS TUNTAS MAQAM KHATMIYYAH & KHATMIYYAH SAYYIDI SYAIKH AHMAD AT-TIJANI RA (NAHJ AL HIDAYAH FI KHATM AL WILAYAH) SYAIKH AL ‘ALLAMAH SAYYIDI AHMAD SUKAIRIJ AT-TIJANY