
Elsubha.com – Maqam Khatmiyyah Dalam Pandangan Sufi
Ketahuilah, bahwa maqam khatmiyyah itu bermacam-macam. Pada setiap zaman ada maqam khatmiyyah-nya. Akan tetapi sempurnanya maqam tersebut hanya ada pada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.
Orang-orang yang ‘Arifbillah telah banyak memperbicangkan maqam khatmiyyah dengan pembahas-an yang terkait dengan Syaikh Akbar; Muhyiddin Ibnu ‘Araby dan ulama lain yang mengaku mendapatkan maqam khatmiyyah. Kami akan nukilkan secara global maupun terperinci dalam pembahasan ini.
Kami telah menelaah kitab Manâhil ash-shafâ fi Manâqib Ali al Wafa karya Syaikh Badrudin Hasan bin ‘Ali bin Muhammad al Awdhi al Badri pada biografi al Arifbillah Sayyidi Muhammad Wafa. Karya ini merupakan perbendaharaan penting nan berharga bagi Syaikh Abul As’ad al Kattani. Kami pun meminta kepada Sayyid Muhammad Abu Bakar at-Tathwani untuk menukilkan pada kami apa yang dicatatkan didalamnya.
“Perlu diketahui bahwa wali khatam yang hakiki itu ada dua: Pertama, wali khatam dengan kewalian umum; yaitu nabi Isa As; beliau turun kembali ke bumi dengan maqam wali khatam kubra (maqam wali khatam yang paling besar); yaitu sejak zamannya nabi Adam As hingga akhir kewalian nabi Isa As sebagai simbol penghormatan bagi Nabi Muhammad Saw. Kewalian umum pada setiap umat ditutup dengan rasul yang diikuti, begitu juga kalangan malaikat yang juga ditutup dengan turunnya beliau (nabi Isa As) pada waktu yang telah dijanjikan.
Kedua, wali khatam al Muhammady al Khash (yang khusus); yaitu maqam yang hanya dimiliki oleh pewaris Nabi Saw yang paling agung dari sisi al Muhammady yang datang pada tahun 800-an setelah haji wada’nya Nabi Muhammad Saw. Yaitu ketika Allah Swt menciptakan satu jenis manusia dan menjadikannya penampakan tajalli Asma dan sifat-Nya Allah Swt yang paling sempurna. [Pokok dari sifat Allah Swt adalah sifat Dzat; Hayat, Ilmu, Irâdah, Qudrah, as-Sam’u, al Bashar dan al Kalam. Sifat pokok adalah Dzat yang berdiri dengan sifat-sifat tersebut, sebab Dzat yang mampu melakukan apapun lagi Maha memilih adalah Dzat yang disifati dengan semua itu (yaitu Allah), begitu juga sifat, yang keindahan dan kejelasannya juga kembali pada pokok sifat tersebut).
Allah Swt telah memberikan contoh berkaitan dengan sifat ini; yang pokok adalah as-Sab’u al Matsâni wa al Qur’an al Azhîm dan munculnya Sayyidul awwalin wal akhirin (Nabi Muhammad Saw) dalam firman-Nya,
وَلَـقَدْ اٰتَيْنٰكَ سَبْعًا مِّنَ الْمَـثَا نِيْ وَا لْـقُرْاٰ نَ الْعَظِيْمَ
wa laqod aatainaaka sab’am minal-masaanii wal-qur-aanal-‘azhiim
“Dan sungguh, Kami telah memberikan kepadamu tujuh (ayat) yang (dibaca) berulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung.”
(QS. Al-Hijr 15: Ayat 87)
Ayat ini menunjukkan perkara yang Allah Swt khususkan pada Nabi Muhammad Saw berupa ragam sifat diatas.
Nabi Muhammad Saw disifati dengan redaksi, “Matsâni,” karena kekhususan yang Allah Swt beri dan condong kepada hamalah ‘arsy, maka sisi tajalliyât tersebut pun muncul berkat Nabi Muhammad Saw. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَّا لْمَلَكُ عَلٰۤى اَرْجَآئِهَا ۗ وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمٰنِيَةٌ
wal-malaku ‘alaaa arjaaa-ihaa, wa yahmilu ‘arsya robbika fauqohum yauma-izing samaaniyah
“Dan para malaikat berada di berbagai penjuru langit. Pada hari itu delapan malaikat menjunjung ‘Arsy (singgasana) Tuhanmu di atas (kepala) mereka.”
(QS. Al-Haqqah 69: Ayat 17)
Lalu kekhususan yang Allah Swt beri itu condong pula pada tujuh perintah langit, maka dari sisi tajalliyat itu muncul kecondongan tersebut. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَقَضٰٮهُنَّ سَبْعَ سَمٰوَا تٍ فِيْ يَوْمَيْنِ وَاَ وْحٰى فِيْ كُلِّ سَمَآءٍ اَمْرَهَا ۗ وَزَ يَّـنَّـا السَّمَآءَ الدُّنْيَا بِمَصَا بِيْحَ ۖ وَحِفْظًا ۗ ذٰلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِ
fa qodhoohunna sab’a samaawaating fii yaumaini wa auhaa fii kulli samaaa-in amrohaa, wa zayyannas-samaaa-ad-dun-yaa bimashoobiiha wa hifzhoo, zaalika taqdiirul-‘aziizil-‘aliim
“Lalu diciptakan-Nya tujuh langit dalam dua masa dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing. Kemudian, langit yang dekat (dengan bumi), Kami hiasi dengan bintang-bintang, dan (Kami ciptakan itu) untuk memelihara. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui.”
(QS. Fussilat 41: Ayat 12)
Kemudian kekhususan yang Allah Swt beri itu juga condong pada nabi Adam As, pada nabi Nuh As, pada nabi Ibrahim As, pada nabi Musa As, pada nabi Dawud As, pada nabi Sulaiman As dan kemudian pada nabi Isa As. Setiap dari mereka menampakkan diri dengan gambaran sifat tajalli-Nya Allah Swt. Begitu juga dengan wali quthub, ada zaman tertentu dimana mereka menampakkan perkara tersebut, lalu nampaklah pada Nabi Muhammad Saw, dimana inilah hari berkumpulnya pokok sifat Allah Swt dan keteraturan perkara-Nya.
Selanjutnya kekhususan yang Allah Swt beri ini pun condong pada umat Nabi Muhammad Saw dengan cara diatas, seperti yang diisyaratkan dalam hadits Nabi Saw pada hari kurban; hari haji wada’,
إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ
“Sungguh waktu setahun itu berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah Swt ciptakan langit dan bumi.”
Maknanya adalah seperti yang tertera dalam kitab Mafatihi Khazainil ‘Aliyyah; “Satu bulatan itu akan berakhir pada titik awalnya, maka jika zaman al Muhammady ini telah habis masanya, maka akan ada putaran baru yang melanjutkan itu.
Disebutkan pula:
يَبْعَثُ اللَّهُ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ رَجُلًا يُحْيِ بِهِ هَذَا الدِّيْنِ
“Allah akan senantiasa mengutus seorang lelaki pada setiap seratus tahun, dengannya Allah menghidupkan kembali agama ini.” Lelaki inilah sang wali quthub.
Disebutkan pula dalam sebuah hadits,
يَبْعَثُ اللَّهُ كُلَّ وَلِيِّ عَلَى قَلْبِ نَبِيِّ
“Allah senantiasa mengutus setiap wali atas qalbu seorang nabi.”
Ulul ‘Azmi dari kalangan para nabi merupakan wali quthub dan mereka berjumlah tujuh orang, dimana Nabi Muhammad-lah yang kedelapannya. Maka begitu juga pangkat wali quthub, mereka ada tujuh orang dan yang kedelapan adalah wali quthub yang bermartabat kalbunya khatam; Nabi Muhammad Saw. Setiap mereka memiliki kurun waktu seratus tahun dari hitungan 360 hari dalam setahun. Nah, kedelapan inilah sang wali khatam yang hakiki; pewaris sisi al Muhammady, dimana pada umat ini tidak ada sosok kedelapan lainnya; yang mampu menghidupkan agama ini dengan sisi khusus pada setiap seratus tahun. Yang kedelapan ini berpangkat kalbunya penutup wali quthub dari kalangan nabi dan kedelapan lainnya pun berpangkat lain.
Aku (penulis) pernah belajar kepada sebagian ‘Arifbillah, mereka enggan memberikan penjelasan lebih rinci mengenai perkara ini. Ada yang memberitahuku bahwa guru kami inilah (Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra) penyempurna yang kedelapan ini, perkara ini banyak aku dengar dari orang-orang yang ‘Arifbillah.
Terkait pernyataan Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby, dalam kitab “al Farusy,” berikut rangkaian penyebutan nama dan lakob wali khatam. Ada yang bertanya, mengapa engkau buat itu pada kitab al Farusy dan bukan pada al ‘Arusy? Beliau berkata, “Kitab al ‘Arusy itu merupakan karya Syaikh Muhammad Wafa, didalamnya disebutkan penegasan bahwa beliau (Syaikh Muhammad Wafa) adalah wali khatam hakiki, ruh beliau telah ditata sebelum beliau keluar (muncul) pada waktu tertentu.
Aku (penulis) pun memohon kepada Allah Swt agar bisa membaca kitab al Farusy, sehingga akupun bisa menyebutkan apa yang ada di dalamnya, kemudian ketika aku masih penasaran dengan pembahasan wali khatam, dengan takdir Allah Swt pulalah, aku dipertemukan dengan kitab Futûhât al Makkiyyah, aku temukan didalamnya bahwa Syaikh Akbar; Muhyiddin Ibru ‘Araby menunjukkan pembahasan wali khatam dalam banyak tempat dari kitab tersebut; juga pada kitab ‘Unaqa Maghrib, isinya berupa informasi yang jelas dan informasi yang perlu ditakwilkan; juga dalam kitab Nafâ is al Irfân min Anfâs ar-Rahmân karya guru kami; kitab yang paling jelas memaparkan tentang wali khatam, perkara itu juga dijelaskan dalam catatan beliau yang diberi judul al Hajj al Akbar, yang menjelaskan bahwa maqam wali khatam itu khusus untuk beliau.
Ketika aku kembali merujuk kitab Futûhât al Makkiyyah dan beberapa kitab lainnya, aku bermimpi bahwa beliau (wali khatam) berada di sebuah zawiyah dan maqam beliau nampak begitu jelas, para ulama ilmu zhahir dan bathin melazimi beliau seperti halnya seseorang melazimi Imam Asy-Syafi’i dan Sayyidi Ahmad al Badawi, maka aku semakin yakin bahwa hal tersebut lantaran maqam beliau yang bisa mengumpulkan ilmu zhahir dan ilmu bathin serta melingkupi ulama terdahulu dan ulama belakangan dari kalangan ulama zhahir dan ulama bathin, inilah hakekat sang wali khatam.”
Setelah aku selesaikan tulisan risalah ini, aku juga menemukan ragam isyarat wali khatam dalam kitab Mafâtih Khazain al ‘Aliyyah dan al Minah al llâhiyyah, bahkan aku dapati kalimat yang sangat jelas, yang nanti wajib aku sebutkan dalam buku ini setelah sebelumnya aku ber-tawajjuh kepada pemilik maqam ini serta ber-istikharah pada Allah Swt, hingga aku melihat perkara yang sebenarnya tidak pantas untuk dituliskan lantaran takut ada orang yang akan ingkar dengan apa yang aku tuliskan; bahwa sebenarnya perkara ini bukanlah bagian dari akidah penting dari agama, juga bukan bagian dari perkara yang perlu ditampakkan agar kenyataannya dijaga betul-betul, maka aku katakan: Dalam kitab Nafâ ‘is al Irfân disebutkan: “Hakekat hari-harinya Allah adalah berupa penampakan mataharinya sisi tajalliyât Allah beserta terang benderangnya cahaya tersebut.”
Redaksi, “Hari”, dari sisi bahasa adalah sebuah ungkapan untuk waktu mulai terbit sampai tenggelamnya matahari; maksudnya adalah terkait dengan cahaya yang menggantikan kegelapan malam; dengan cahaya itulah mata dapat melihat dan bisa mengarah ke arah mata air serta melihat ragam penampakan alam. Dalam hal ini, anak keturunan nabi Adam As adalah penampakan dari akal yang terpenuhi cahaya dan pengetahuan sisi ma’rifat, dengannya manusia mengetahui ragam tingkatan para nabi As serta membedakan ragam hakekat dengan setiap kekhususan-nya.
Diantara makna “Hari-hari-Nya Allah,” adalah para nabi dan utusan Allah serta para wali dan orang-orang yang ‘Arifbillah, dimana dengan sisi ma’rifat, mereka mampu mengarahkan pikiran mereka pada Dzat Allah Swt. Ketika “hari-hari-Nya Allah,” ada tujuh, maka Allah Swt perumpamakan dengan as-Sab’u al Matsâni. Merekalah ragam simbol tajalli sifat Dzat Allah; yaitu sifat al Hayah, al Ilmu, al Qudrah, al Irâdah, as-Sam’u, al Bashar dan al Kalam.m
Redaksi, “Al Qur’an al ‘Azhîm dan juga ragam penampakan tajalli Dzat-Nya Allah,”[dalam ayat yang sedang kita bahas ini (Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَـقَدْ اٰتَيْنٰكَ سَبْعًا مِّنَ الْمَـثَا نِيْ وَا لْـقُرْاٰ نَ الْعَظِيْمَ
wa laqod aatainaaka sab’am minal-masaanii wal-qur-aanal-‘azhiim
“Dan sungguh, Kami telah memberikan kepadamu tujuh (ayat) yang (dibaca) berulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung.”
(QS. Al-Hijr 15: Ayat 87)] ia disebut sebagai asma (ragam nama Allah) berikut sifat yang melaziminya. Perkara ini turun pada hamalah ‘arasy, condong kembali dan turun pada tujuh perintah langit, dimana Allah Swt mewahyukan pada setiap langit tentang perkaranya, lalu condong lagi dan turun pada nabi Adam As, nabi Nuh As, nabi Ibrahim As, nabi Musa As, nabi Dawud As, nabi Sulaiman As, nabi Isa As, kemudian nampak pada Nabi Muhammad Saw.
Setelah perkaranya teratur, Al Qur’an al ‘Azhim dan juga ragam penampakan tajalli Dzat-Nya Allah ini condong pada umat ummi (yang tidak bisa membaca dan menulis) dan agama al Ahmadiyyah (Islam), sehingga Allah Swt mengutus pada setiap 100 tahun seorang tokoh yang menghancurkan sisi ke-ummian (tidak bisa membaca) pada umat tersebut. Inilah hakekat maqam quthbâniyyah yang sampai tahun 800-an hijriyah, lalu nampaklah khatmu as-sab’ul matsani yang juga pengatur ragam hakekatnya. -Selesai.- Paparan ini menunjukkan bahwa pangkat wali khatam dikhususkan dengan ragam keistimewaan tersebut.
Dinukil dari al Minah al Ilahiyyah, bahwa setiap wali Allah Swt sejak zamannya hingga hari Kiamat mengambil dariku, baik awal maupun akhir kewalian mereka. Dalam riwayat lainnya disebutkan, bahwa sosok wali yang lalu, ia berasal dariku. Sosok wali generasi terakhir pun mengambil dariku.
Warid ini memiliki makna diantaranya adalah bahwa sosok wali khatam ini telah sampai pada puncak tertinggi pewaris sisi al Muhammady, dan beliau adalah penutup wali, sebagaimana diisyaratkan pengarang kitab Unaqa Maghrib fi Khatm al Wilayah wa Syams al Maghrib dalam kitabnya:
وَعِنْدَ فَنَاءِ خَاءِ الزَّمَانِ وَذَالَهُ # عَلَى فَاءِ مَدْلُوْلِ الْكُرُوْرِ يَقُوْمُ
“Ketika batas akhir zaman sirna, dan berjalan dengan cepat menunjuk datangnya sang pengganti (kewalian).”
Perkara ini juga ditunjukkan dengan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra,
أَنَا أَكْثَرُ الْأَوْلِيَاءِ إِتَّبَاعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Akulah wali yang paling banyak diikuti di hari Kiamat.”
Maksudnya adalah, sebagaimana Nabi Muhammad Saw sang penutup para nabi, paling banyak diikuti dari kalangan nabi dan wali Allah pada hari Kiamat, maka martabatku sesuai dengan qalbu beliau Saw.
Perkataan ini tentu menunjukkan perkara khusus bagi maqam yang paling terkenal, sebagaimana yang dikatakan dalam kitab al Hajj al Akbar.
لَبَّيْتُ فُؤَادِي فِي سَبِيْلِ مَحَجَّتِي # تَحِبُّ قُلُوْبُ الْأَحِبَّةِ حَنَّتْ
وَلَمَّا تَحَلَّى الْحَقُّ فِيْهِ لِوَجْهِهِ # تَوَجَّهْتِ الْأَرْوَاحُ مِنْ كُلِّ وِجْهَةِ
هَلُمُوا فَاِذْنُ اللهِ إِذَنْ مُعْلِنَا # وَقَدْ هَامَتِ الْأَلْبَابُ فِيْهِ فَلَبَّتْ
وَسَارَتْ لَهُ الْأَسْرَارُ سِرًّا بِسِرِّهِ # وَطَافَتْ بِهِ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَحُقَّتْ
Kupanggil kalbuku untuk berhaji #kalbu para pecinta memang rindu untuk berhaji
Disaat tajalli-nya Allah Al Haq menjuntai # maka semua ruh datang dari segala arah
Maka berkumpullah, izin Allah sudah diumumkan # dimana hati telah terbuka dan memanggil-manggil (untuk melaksanakan itu)
Ragam rahasiapun tetap menjadi rahasia dengan rahasia-Nya # dimana As-Sab’ul matsani pun berthawaf menaungi rahasia itu.
Dalam Futûhâh al Makkiyyah disebutkan: Perlu diketahui, bahwa paling agungnya pewaris (Nabi Muhammad Saw) adalah pemilik maqam khatmaini; salah satunya lebih agung dari yang lainnya. Pertama, maqam yang dengan sosoknya Allah Swt tutup kewalian secara mutlak. Kedua, maqam yang dengannya Allah Swt tutup kewalian sisi Al Muhammady.
Wali khatam mutlak adalah nabi Isa As, beliau memiliki sisi kewalian mutlak pada zaman umat ini, diri beliau terhalang dengan syari’at dan risalahnya Nabi Muhammad Saw, sehingga beliau turun di akhir zaman sebagai pewaris dan juga wali khatam, tidak ada sisi kewalian setelah beliau.
Sementara wali khatam sisi al Muhammady, sosoknya yang berasal dari Arab, beliau ada pada zaman ini, akupun telah berkumpul dengannya pada tahun 595 H. Akupun melihat tanda yang Allah Swt sembunyikan dari kebanyakan hamba Allah dan Dia tampakkan padaku. Dia berada di kota Fess. Akupun melihat cap penutup kewalian dari beliau. Akupun melihat bahwa beliau diuji dengan banyaknya orang yang ingkar terhadap beliau terkait ragam asrar ilmu ketuhanan. -Redaksi inilah yang dituliskan Syaikh Abdul Wahhab asy-Sya’rani dalam kitab al Yawâqît wa al Jawahir. Hal yang menunjukkan kebenaran itu adalah ungkapan dalam kitab al Hajj al Akbar
تَفَانَيْتُ عَيْنِي فِي فِنَاءِ فُنُوْنِهِ # فَأَفْنَى تَفَانِيْهِ تَفْتَنُّ فَنِيَّتِي
فَأَثَرَنِي بِالْإِرْثِ مِنْ مَاءٍ سُوَرِهِ # وَمِيْرَاثُهُ يَشْرِى عَلَى كُلِّ ثَرْوَةِ
وَفِي الْإِرْثِ مَأْثُورٌ لِمِثْلِي خَبَايَةٌ # وَأَنِّي بِهِ اسْتَأْثَرْتُ مِنْ بَيْنِ إخْوَتِي
Penglihatanku sina pada kesirnaannya # maka akupun fana dengan kefanaan beliau hingga aku diuji dengan kefana `anku
Sehingga beliau pun meninggalkan bekas dari air gambaran (maqam) beliau # dimana warisan beliau senantiasa terus mengalir pada setiap warisan (yang ada)
Dalam hal warisan, apakah orang sepertiku mendapatkan bagiannya # dimana dengan warisan ini aku lebih diunggulkan diantara saudaraku.
Yaitu kondisinya mendapatkan warisan; warisan khusus di kalangan orang-orang yang ‘Arifbillah. Hal ini menunjukkan keunggulan sosoknya dalam warisan sisi al Muhammady.
Perkara yang cocok dengan apa yang telah diutarakan oleh orang-orang yang ‘Arifbillah padaku saat aku ber-mudzakarah dengan mereka terkait maqam khatmiyyah adalah, bahwa perkara wali khatam merupakan urusan Allah Swt, oleh karenanya Allah Swt pun tutupi sosoknya meski yang bersangkutan sudah meninggal dunia; meski sisi kema’rifatannya luas, sosoknya terhormat, memiliki hujjah yang kuat lagi maqam-nya dicemburui banyak orang. Allah Swt tampakkan lewat anak beliau; bahkan engkau mungkin sering mendengar seseorang berkata, “Wahai Sayyidi Muhammad Wafa`.” Tetapi kebanyakan orang berkata, “Wahai Sayyidi Ali Wafa, ini adalah rumahnya Sayyidi Ali Wafa.” Dan juga perkataan lainnya, seperti matahari, ketika ia menutupi mata hati; mata, ketika ia mampu memandang guna memastikan sebuah lingkaran secara utuh. Kiaskanlah ini pada cahaya Allah, pada rembulan yang purnama, ia nampak jelas diantara gugusan bintang. Oleh karena itu, Allah Swt memberitakan tingginya sosok beliau dan tidak mengungkap sosoknya, dimana Allah Swt selanjutnya memberikan hidayah dengan cahaya-Nya pada suatu malam di akhir zaman nanti dengan cahaya kema’rifatan. Meski perumpamaan ini pun berlebihan lantaran tersisipi rasa cinta, maka kecintaan itupun akan bertambah padamu.
Dalam Futûhât al Makkiyyah disebutkan, “Sedangkan mengenai khatmul wilayah al muhammadiyah (penutup kewalian sisi al Muhammady), itu adalah penutup kewalian khusus sisi al Muhammady yang nampak, maqam-nya masuk ke dalam hukum penutup wali; nabi Isa As dan yang lainnya; seperti nabi Ilyas As, nabi Khidir As dan setiap wali Allah dari umatnya Nabi Muhammad Saw.
Nabi Isa As meski beliau adalah penutup wali, namun sosok beliau tertutupi sang wali khatam sisi al Muhammady, dimana engkaupun sudah tahu informasi: “Penutup kewalian sisi al Muhammady berada di Fess, Maroko pada tahun 570 H. Allah Swt mengenalkan aku padanya dan memberitahuku ciri-ciri, nama dan kedudu kan beliau dari Rasulullah seperti ibarat rambut dari tubuh,”
Masih ada beberapa perkataan yang sama bahkan serupa dengan perkataan diatas dalam berbagai kitab yang tidak perlu lagi dinukil. Sementara apa yang aku nukil dari Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby adalah, bahwa sosok wali khatam ini telah Allah ayomi; jika maknanya benar, bahwa ruh beliau dibentuk dengan bentuk khusus sebelum muncul secara jasad dan Allah Swt bimbing ia, sebagaimana ruh sebagian masyayikh yang masih membimbing para murid setelah kematian dan menampakkan diri dengan gambaran yang khusus. Inilah hukum pewaris sisi al Muhammady yang khusus. Sungguh ruh generasi terdahulu maupun generasi yang akan datang setelah beliau Saw dari kalangan para nabi dan para wali memohon madad dari Nabi Muhammad Saw, bahkan mereka bisa melihat Nabi Muhammad Saw secara yaqzhah dalam gambaran yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi jiwa yang melihat dan yang cocok dengan maqam tarbiyah dari sisi Jama-Nya Allah atau sisi Jalal Nya Allah Swt.
Perkara yang menunjukkan kebenaran perkataan diatas adalah, perkataan Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby dalam Unaqa Maghrib.
“Aku melihat penutup wali-Nya Allah Swt pada kedudukan imam yang dikelilingi dengan kejujuran. Allah singkapkan bagiku rahasia nasab beliau, akupun diperintah untuk mengecup tangan beliau, beliau diapit Abu Bakar ash-Shiddiq dan ‘Umar al Faruq, bersandingan dengan Nabi Muhammad Saw, beliau meminta madad agar diberi izin sekedar mampu mendengar hingga mendapatkan talaqqi izin (dari Nabi Muhammad Saw), bendera kedatangannya telah berkibar, jalan setapak beliau bersinar terang-benderang, dengan semua itulah beliau memunculkan diri, dimana orang yang memusuhi beliau terkoyak seperti halnya orang yang mengenakan pakaian yang sudah usang.”
Kemudian perkataan itupun menarikku tenggelam pada ungkapan ulama generasi awal dan generasi akhir yang menyuguhkanku gambaran kekonsistenan beliau. Gambaran sosok beliau bisa mengungguli wali lainnya dalam sisi keimanan, kelembutan, hal itupun membuatku mabuk seraya merayuku dengan rayuan yang sangat halus dengan perkataan, ‘Pakaikanlah aku surban hukum. Akulah wali khatam, tidak ada wali khatam al Muhammady setelahku, tidak ada pula pengemban (risalah) al Mahdi setelah kematianku, perputaran inipun akan sirna dimana para wali generasi akhir akan mengikuti wali generasi awal, begitu juga perkara yang tidak aku sebutkan, maka berbaik sangkalah bahwa itu perkara yang baik dan jangan engkau tanya berita tentang perkara itu lagi.
Ketika kalbu ini berbisik tentang rahasia sosoknya, dimana kemudian muncullah matahari saat akan tenggelam dengan cahayanya yang terang, beliaupun mengambil alih majelis tersebut dan masuklah Abul Abbas dan seorang sahabatnya, namun beliau pergi setelah mengetahui perkara sosok wali khatam tersebut. Setelah itupun tidak ada lagi catatan yang tersisa kecuali cuatan yang warid kepadanya atau darinya.”
Perkara yang menunjukkan makna “at-Turbi ar-Rühi,” yaitu perkataan guru kami terkait penyaksian ini:
فَأَبْنَاءُ رُوْحِي رُوْحُ كُلِّ مُنَبًا # وَأَرْبَابُهَا فِي حِجْرَ حِجْرِى تَرَبَّتْ
Maka anak-anak ruhku adalah ruhnya setiap tumbuhan # dimana pemiliknya ada di buaian, yang pada buaiankulah ia terdidik.
Gambaran diatas adalah sisi ma’rifat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra akan kondisi jiwa Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby, dan itu seperti ma’rifat-nya seorang ayah pada anak-anaknya.
Perkataan beliau yang terdapat dalam al Minah karya Ibnu ‘Araby dan juga kitab Ibnu Sab’în, dimana keduanya melakukan suluk bersamaan melalui thariqah menuju sebuah orbit yang disebut dengan orbit yang melengkung, ia berputar-putar namun tidak jua sampai pada titik akhirnya.
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra juga pernah mengatakan, “Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby itu memiliki pengetahuan yang baik tentang jalan masuknya jin, maka ketika jin hendak merasukinya, Ibnu ‘Araby memabukkan diri sebelum jin masuk ke dalam tubuhnya dan melakukan perbuatan ingkar.
Dalam kitab Mafâtih Khaza in al ‘Aliyyah disebutkan: “Ketika gambaran sisi al Muhammady ber-tajalli dengan sifat Rububiyyah dan menampakkan ragam tingkatan dan keberadaan manusia dari kacamata hikmah dengan perkara yang belum pernah ditampakkan sebelumnya kepada manusia pada zaman ini, maka itupun dapat terjadi dengan izin Allah Swt. Sebab makhluk tidak bisa ber-tajalli pada yang lainnya di zaman itu dengan sifat tajalli yang melingkupi sisi makhluk (yang mendapat luapan) al Muhammady ini. Oleh karena itu, beliau mengutip firman Allah Swt,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَا جَعَلْنَاۤ اَصْحٰبَ النَّا رِ اِلَّا مَلٰٓئِكَةً ۖ وَّمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ اِلَّا فِتْنَةً لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا ۙ لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ وَيَزْدَا دَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِيْمَا نًا وَّلَا يَرْتَا بَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ وَا لْمُؤْمِنُوْنَ ۙ وَلِيَقُوْلَ الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ وَّا لْكٰفِرُوْنَ مَا ذَاۤ اَرَا دَ اللّٰهُ بِهٰذَا مَثَلًا ۗ كَذٰلِكَ يُضِلُّ اللّٰهُ مَنْ يَّشَآءُ وَيَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَمَا يَعْلَمُ جُنُوْدَ رَبِّكَ اِلَّا هُوَ ۗ وَمَا هِيَ اِلَّا ذِكْرٰى لِلْبَشَرِ
wa maa ja’alnaaa ash-haaban-naari illaa malaaa-ikataw wa maa ja’alnaa ‘iddatahum illaa fitnatal lillaziina kafaruu liyastaiqinallaziina uutul-kitaaba wa yazdaadallaziina aamanuuu iimaanaw wa laa yartaaballaziina uutul-kitaaba wal-mu-minuuna wa liyaquulallaziina fii quluubihim marodhuw wal-kaafiruuna maazaaa aroodallohu bihaazaa masalaa, kazaalika yudhillullohu may yasyaaa-u wa yahdii may yasyaaa, wa maa ya’lamu junuuda robbika illaa huw, wa maa hiya illaa zikroo lil-basyar
“Dan yang Kami jadikan penjaga neraka itu hanya dari malaikat; dan Kami menentukan bilangan mereka itu hanya sebagai cobaan bagi orang-orang kafir, agar orang-orang yang diberi kitab menjadi yakin, agar orang yang beriman bertambah imannya, agar orang-orang yang diberi kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu; dan agar orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (berkata), “Apakah yang dikehendaki Allah dengan (bilangan) ini sebagai suatu perumpamaan?” Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Dan tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri. Dan Saqar itu tidak lain hanyalah peringatan bagi manusia.”
(QS. Al-Muddassir 74: Ayat 31)
Maka pahamilah ini!. Inilah kondisi wali Allah pada setiap zaman.
Jika engkau melihat sosok wali khatam ini, maka kenalilah ia, lazimkanlah dirinya dan manfaatkanlah waktumu seoptimal mungkin untuk melaziminya. Wallahu a’lam.-“
Dalam halaman lainnya, beliau mengatakan, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰ نَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَ يْتَهٗ خَا شِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ۗ وَتِلْكَ الْاَ مْثَا لُ نَضْرِبُهَا لِلنَّا سِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ
lau angzalnaa haazal-qur-aana ‘alaa jabalil laro-aitahuu khoosyi’am mutashoddi’am min khosy-yatillaah, wa tilkal-amsaalu nadhribuhaa lin-naasi la’allahum yatafakkaruun
“Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.”
(QS. Al-Hasyr 59: Ayat 21)
Ini merupakan wahyu bayyani, wahyu yang memberikan penjelasan.
Jika kondisinya memang demikian, maka perlu diketahui bahwa kalimat yang paling agung, paling besar serta paling tinggi adalah kalimatnya Rabb al Wujud (Allah) yang turunannya adalah sisi wali khatam al Ahadiyyah, sebab inilah makna sebenarnya. Inilah kalimat yang telah diwahyukan ke bumi dengan wujud kelahiran yang bertepatan pada hari Kamis 3 Dzulhijjah tahun 702 H, dimana bumi pun bergoncang lantaran kelahiran beliau persis seperti kondisi sedang dilaksanakannya shalat led pada hari itu, hal ini pula seperti yang sudah diberitakan oleh Allah Swt pada surah yang kerap disebut dengan surah al Mubasysyirah (Surah az-Zalzalah).
Allah Swt jadikan surah tersebut setara dengan separuh Al Qur’an, juga sebagaimana beliau Saw memperumpamakan diri beliau seperti sebuah bata rumah kenabian. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِذَا زُلْزِلَتِ الْاَ رْضُ زِلْزَا لَهَا
izaa zulzilatil-ardhu zilzaalahaa
“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat,”
(QS. Az-Zalzalah 99: Ayat 1)
وَاَ خْرَجَتِ الْاَ رْضُ اَثْقَا لَهَا
wa akhrojatil-ardhu asqoolahaa
“dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya,”
(QS. Az-Zalzalah 99: Ayat 2)
وَقَا لَ الْاِ نْسَا نُ مَا لَهَا
wa qoolal-ingsaanu maa lahaa
“dan, manusia bertanya, “Apa yang terjadi pada bumi ini?””
(QS. Az-Zalzalah 99: Ayat 3)
يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ اَخْبَا رَهَا
yauma-izing tuhaddisu akhbaarohaa
“Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya,”
(QS. Az-Zalzalah 99: Ayat 4)
بِاَ نَّ رَبَّكَ اَوْحٰى لَهَا
bi-anna robbaka auhaa lahaa
“karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) padanya.”
(QS. Az-Zalzalah 99: Ayat 5)
يَوْمَئِذٍ يَّصْدُرُ النَّا سُ اَشْتَا تًا ۙ لِّيُرَوْا اَعْمَا لَهُمْ
yauma-iziy yashdurun-naasu asytaatal liyurou a’maalahum
“Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok, untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya.”
(QS. Az-Zalzalah 99: Ayat 6)
فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗ
fa may ya’mal misqoola zarrotin khoiroy yaroh
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”
(QS. Az-Zalzalah 99: Ayat 7)
وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ
wa may ya’mal misqoola zarroting syarroy yaroh
“Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”
(QS. Az-Zalzalah 99: Ayat 8)
Yang jika kita hitung memiliki jumlah hisab jumali 725. Alhamdulillah, maka pahamilah perkara ini.
Dalam lembaran lainnya, beliau mengatakan: Allah Swt menjelaskan dalam Al Qur’an dengan lisan al Muhammady yang mencakup seluruh perkara kewalian,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَمْ يَقُوْلُوْنَ افْتَـرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا ۚ فَاِ نْ يَّشَاِ اللّٰهُ يَخْتِمْ عَلٰى قَلْبِكَ ۗ وَيَمْحُ اللّٰهُ الْبَا طِلَ وَيُحِقُّ الْحَقَّ بِكَلِمٰتِهٖۤ ۗ اِنَّهٗ عَلِيْمٌ بِۢذَا تِ الصُّدُوْرِ
am yaquuluunaftaroo ‘alallohi kazibaa, fa iy yasya-illaahu yakhtim ‘alaa qolbik, wa yam-hullohul-baathila wa yuhiqqul-haqqo bikalimaatih, innahuu ‘aliimum bizaatish-shuduur
“Ataukah mereka mengatakan, “Dia (Muhammad) telah mengada-adakan kebohongan tentang Allah.” Sekiranya Allah menghendaki niscaya Dia kunci hatimu. Dan Allah menghapus yang batil dan membenarkan yang benar dengan firman-Nya (Al-Qur’an). Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala isi hati.”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 24)
Sungguh jika Allah Swt berkehendak, Allah bisa saja memunculkanmu dengan hukum wali khatam yang sisi ruhnya mencakup semua makhluk termasuk kalbumu, yang berdiri tegak dengan menyandang pangkat penutup para nabi nan mencakup semua makhluk, ini sebagai pembeda simbol kewalianmu yang menyandang maqam kalbunya seorang nabi.
Tidakkah mereka tahu bahwa Allahlah yang menentukan untuk menampakkan perkaranya, inilah sebenarnya hakekat wali khatam, sosok yang senantiasa berdiri dengan hujjah yang memberikan penjelasan gamblang, sehingga dapat diterima oleh banyak orang. Beliau inilah sosok yang diberi wasiat dengan pangkat tersebut. Sedangkan malaikat, ia merupakan gambaran dari ragam hukum Allah yang Maha bijaksana. Hanya kepada Allah kita kembalikan perkara wali khatam.-
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah berkata:
أَزَلْتُ بِمَعْنَى الْعِلْمِ صُوْرَةَ عَقْلِهِ # فَأَطْلَقْتُ عَقْلِي مِنْ عَوَائِقَ نَقْلِهِ
وَأَبْدَيْتُ سِرَّ اللَّهِ سِرًّا لِأَهْلِهِ # أُنَاجِي نَحِيًّا مِنْ حَاجَةِ جَهْلِهِ بِتَأْصِيْلِ تَفْصِيْلِ لِتَوْصِيْلِ وَصْلَةٍ
Aku telah hilangkan gambaran akal dengan makna ilmu # akupun bebaskan akalku dari ragam hambatan penukilannya
Aku beberkan rahasia Allah yang merupakan rahasia bagi pemiliknya # Akupun memohon pertolongan agar selamat dari kebodohannya dengan perincian asalnya guna menyambungkan sesuatu.”
Apa yang telah aku tuliskan, itu hanya sekedar mengingatkan bahwa Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby Ra pernah bertemu dengan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.
Disebutkan dari Manâhil ash-shafâ yang aku juga nukilkan di sini secara langsung, demikian redaksinya:
“Sayyidi Ali Wafa pernah diminta agar menjelaskan suatu bait dari sya’ir Ta-nya ayah beliau dan beliau mengatakan, “Aku tidak tahu maksudnya apa, sebab itu menggunakan bahasa non arab yang tidak kita gunakan.” Beliau menjawab seperti ini meski beliau sang penutup wali Allah.
Disebutkan dalam al Minah: Aku mendengar Abul Ghonâ im berkata terkait perkataan Sayyidi Abdul Qadir al Jilani :
أَفَلَتْ شُمُوسُ الْأَوَّلِينَ وَشَمْسُنَا أَبَدًا طُوْلَ الْمَدَى لَا تَغْرِبُ
“Matahari generasi awal terbenam # sementara matahari kami ada sepanjang masa tak pernah tenggelam.”
Beliau mengatakan, “Aku memandang bahwa yang dimaksud adalah hadhrah ini, dimana mereka (para wali Allah) adalah mataharinya.” Beliau pun kembali berkata dengan menukil perkataan Imam Asy-Sya’rani: “Maqam khatmiyyah ini telah diakui oleh sekelompok orang dari kalangan Ash-Shiddiqin. Yang jelas, bahwa setiap zaman ada wali khatam-nya.”
Telah disebutkan sebelumnya, bahwa ‘Arifbillah ketika telah berada pada barzakh ketiga dari alam barzakh-nya insan kamil, yang menempati maqam yang disebut sebagai khatmiyyah. Dari hal inilah dapat diketahui, bahwa sisi khatmiyyah ini tidak terikat dengan zaman tertentu. Gambaran barzakh ini, jika dimaksudkan dengan maqam khatmiyyah, maka definisinya benar.
Diantara yang mengakui maqam tersebut adalah Sayyidi ‘Ali, yang bersaksi akan kewalian khatam sang ayah dengan mengatakan:
أَنَا قُطْبُ الْوُجُودِ مِنْ غَيْرِ شَكٍّ # وَإِمَامُ الْوَرَى لِأَهْلِ زَمَانِي
وَزَمَانِي زَمَانُ جَمْعِ مُحِيْطٍ # قَدْ تَنَاهَى بِهِ وُفُوْدُ الْمَعَانِي
إِنْ تَنَاهَى الْحِجَابُ عَنْ عَيْنِ كَشْفِي # شَاهِدُ السِّرِّ غَيْبُهُ فِي بَيَانِي
فَاطْرَحِ الْكَوْنَ عَنْ عُيُؤْنِكَ وَالْحُوْ # نُقْطَةَ الْغَيْرِ إِنْ أَرَدْتَ تراني
“Aku adalah wali quthub alam ini tanpa diragukan lagi # akupun imamnya manusia bagi zamanku
Zamanku ini adalah zaman penghimpunan lagi menyeluruh # dimana ragam makna itu tidak pernah habis dengan sosoknya
Andai hijab tak pernah habis dari mata kasyafku # penyaksian rahasia keghaiban itu ada pada penjelasan-Ku
Buanglah alam ini dari pandangan matamu # hapuskanlah titik al ghair (selain Allah) jika kau ingin lihat Aku.”
