You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pendahuluan: Persepsi Mengenai Sufi, Ahlullah dan Wali Allah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Pendahuluan: Persepsi Mengenai Sufi, Ahlullah dan Wali Allah

Pertama, perlu diketahui, ternyata ada banyak orang dalam kehidupan ini yang tidak berbaur dengan para Sufi, tidak mengerti istilah mereka. Bahkan orang-orang tersebut, meski mereka menela’ah kitab para Sufi, namun itu dengan pemahaman yang dangkal, sehingga mereka belum sampai pada hakekat dari perkataan para Sufi tersebut. Oleh karena itu, ada sebagian orang yang mengingkari apa yang mereka dapati seputar wali Allah pada zaman mereka, bahkan mereka pun mengingkari beragam perkara ma’rifat yang Allah Swt tampakkan pada para Sufi, termasuk juga karamah yang nampak jelas didepan mata, Allah Swt memang mengkhususkan para wali-Nya dengan ragam kekhususan dan keistimewaan bahkan keutamaan yang tidak bisa dihitung jari.

Karamah terkecil seorang wali Allah adalah, Allah Swt menguatkannya dengan keistiqamahan diri diantara kaum yang tidak menjaganya, sehingga diantara kaum tersebut, posisi sang wali menjadi penguat datangnya taufik untuk bersuluk dalam thariqah, meski para pendusta wali Allah tidak suka dengan sang wali, namun beliau terus menampakkan sisi kejujuran jiwa, sehingga beliau memiliki tekad kuat yang tidak mereka miliki; sang wali tenggelam dalam ilmu ladunni; ilmu yang tidak dimiliki kebanyakan orang.

Dari sini nampak jelas rahasia, bahwa Allah Swt tidak pernah menjadikan wali-Nya dari kalangan orang yang bodoh, Allah Swt tampakkan ilmu-Nya di hadapan sang wali, sehingga menjadi pijakan syaikh murabbi untuk mengkhususkan seorang hamba dengan apapun yang Allah Swt kehendaki dari sisi keutamaan-Nya, bukan lantaran keberhakan hamba tersebut. Sebab, keutamaan hanya ditangan Allah Swt, Allahlah yang berhak memberikan keutamaan itu kepada yang Dia kehendaki tanpa pertimbangan apapun. Allah jualah yang menjadikan adanya musuh bagi wali-Nya yang memiliki kekhususan tersebut.

Orang yang tidak bisa mengambil manfaat dari wali Allah yang memiliki kekhususan (dari Allah Swt); adalah orang berilmu yang keilmuannya itu menjebak dirinya sehingga dia beranggapan, bahwa hanyadirinyalah yang memiliki ilmu yang benar dan perbuatan yang lebih tepat. Orang yang memiliki kelebihan ilmu seperti ini, dia melihat bahwa dirinya tidak memiliki kekurangan dalam pengetahuan dan pemahaman, sehingga seolah-olah tidak ada orang alim kecuali dia, begitu juga tidak ada wali kecuali dia. Dia memandang orang lain dengan neraca pandangannya sendiri, bahkan ia sampai lupa memandang dirinya, bahwa dirinya tidak menguasai ilmu zhahir terlebih lagi ilmu bathin.

Kondisi orang yang seperti ini terhindar dari keberkahan wali pada zamannya. Jika Allah Swt menghendaki kebaikan untuknya, niscaya Allah akan memberinya hidayah untuk taslim (sikap berserah diri) kepada wali Allah Swt pada ragam perkataan, perbuatan dan seluruh kondisi jiwa mereka. Atau minimal ia malu sehingga tidak mendalami beragam hal yang berkaitan dengan wali Allah, sebagai bentuk kesadaran diri, bahwa dirinya belum bisa sampai pada pengetahuan mereka dan dirinya pun tidak berada pada lingkup yang membuatnya wushul kepada Allah Swt.

Kemudian, orang yang berilmu lagi terhalang dari rahmat Allah serta bodoh itu menggunakan kebodohan nya dalam memahami hakekat makna wali dan tidak pernah mencium semerbak karamah, serta tidak pernah merasakan sisi ma’rifat untuk mengkritik wali Allah. -Kami pun memohon perlindungan kepada Allah Swt agar tidak terhalang dari rahmat-Nya yang mengarah pada su`ul adab kepada wali Allah.-

Kedua, perlu diketahui bahwa ahlullah adalah orang-orang yang beriman akan perkara ghaib, mereka adalah para sahabat nabi dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka (tabi’in); sosok yang Allah tampakkan karamah mereka, merekapun muncul pada zaman Nabi Saw, sewaktu Nabi Muhammad Saw masih hidup. Selain mereka, kebanyakan orang bergumul dengan syahwat hingga sampai pada masa Imam al Junaid al Baghdadi (sang pemimpin kaum Sufi dalam suluk thariqah Ahlullah). Sebelum masa Imam al Junaid al Baghdadi, para sahabat Nabi adalah orang-orang yang memulai suluk ke hadhrah Allah yang kemudian menjadi pijakan generasi setelahnya, mereka inilah yang dikenal dengan sebutan, “Sufi.”.

Istilah “Sufi” sendiri masih memiliki keterkaitan kuat dengan kalbu orang yang mendalaminya, hal ini pun tidak keluar dari batasan As-Sunnah dan juga Al Qur’an serta ragam amaliyah ulama Salafush-shalih. Orang yang mengikuti jejak mereka akan masuk kedalam golongan Ahlullah, dimana kebanyakan manusia tidak menafikan keberadaan orang-orang seperti mereka. Seperti inilah kondisi Sufi yang berlangsung hingga sisi kewalian dibagi-bagi; yaitu terkait sosok yang menempati ragam martabat ke-ma’rifat-an; hasil dari ragam amal shaleh mereka dengan ragam ijtihad yang sempurna; hal ini juga disebutkan sebagai “mazhahir,” yang membutuhkan tajalli-Nya Allah dari sisi al Quds dengan ragam pemberian Allah. Dengan inilah mereka dijuluki wali quthub, wali abdal dan lain sebagainya.

Para wali Allah memiliki ragam martabat khusus, bahkan ada yang martabatnya nampak diantara banyak orang sejauh luasnya pengembaraan sisi ma’rifat mereka pada Allah dan sempurnanya pengejawantahan mereka dengan ragam maqâmât dan ahwal sesuai dengan sisi futuh yang belum pernah dibukakan pada wali yang lain.

Generasi salaf terdahulu tidak memiliki keinginan untuk memunculkan diri dengan ragam hakekat yang mereka miliki, padahal sebenarnya mereka adalah ahlu tashfiyah (orang-orang yang gemar mensucikan jiwa), akan tetapi mustahil mereka menyimpan perkara di zaman sebelumnya untuk generasi belakangan. Ragam amaliyah pensucian jiwa generasi salaf terdahulu sangatlah jelas, hingga bermunculan istilah-istilah baru yang terus berkembang, sehingga perlu kiranya membatasi penamaan Sufi itu sesuai dengan kebutuhannya yang khusus.

Orang yang mengetahui istilah khusus suatu kelompok, itu pertanda ia suka dengan kelompok tersebut. Sementara orang yang ingkar, notabenenya tidak mengetahui seluk-beluk perkara yang ia ingkari. Sebab, orang yang tidak tahu sesuatu biasanya tidak suka dan memusuhi sesuatu itu, dan nyatanya orang-orang yang tidak tahu ahli ilmu biasanya malah menjadi musuhnya, dimana banyak pula ahli ilmu yang nyatanya adalah orang-orang bodoh.

Kami katakan ini untuk orang yang mengaku dirinya adalah ahli ilmu. Sebab, semakin luas cakupan ilmu seseorang, maka akan semakin sedikit orang yang ingkar kepadanya.

Kemudian ketika bermunculan pembagian ragam martabat ke-ma’rifat-an, muncullah pula orang yang mengingkari suatu laqab yang disematkan pada setiap wali Allah, seperti keingkaran terhadap laqab wali quthub, wali abdal. Kemudian perkaranya pun merambah pada maqam khatmiyyah bahkan semakin banyak orang yang ingkar terhadap perkara tersebut; baik mereka adalah orang yang menganggap sesat, orang yang menganggap kufur, orang yang menghina atau bahkan orang yang mengkaburkan makna istilah kaum tersebut. Dalam kenyataannya, mereka semua tidak bersuluk seperti para pendahulu mereka, bahkan kebanyakan mereka (meski kami tidak katakan semuanya), mereka ridha dengan kondisi jiwa mereka yang belum pernah merasakan sisi ma’rifat dan tidak pula pernah bersahabat dengan orang yang telah memiliki sisi ma’rifat tersebut. Dengan demikian, merekapun haram mendapatkan keberkahan dari salah seorang dari pemilik ma’rifat tersebut, karena mereka tidak memiliki kedudukan apa-apa di sisi Allah Swt.

Para wali Allah ibarat pengantin, sang pengantin tidak akan berkumpul kecuali dengan pasangan atau kelompoknya.

Banyak yang salah memahami makna maqam khatmiyyah dan menggiringnya pada makna yang bukan tempatnya, sementara sebenarnya itu adalah lakob khusus untuk sosok yang menempati martabat khusus. Yang dimaksud dengan “Al Khatam” disini bukanlah penutup wali setelahnya, akan tetapi “Al Khatam” disini adalah penutup wali disetiap zaman, seperti sosok pembaharu agama.

Para wali Allah tergolong bagian dari hiasan alam ini, kecuali wali khatam, sebab tidak ada wali setelahnya, inilah alur sang wali khatam dalam setiap martabatnya.

Telah disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ad-Dailami sebagaimana yang dinukil oleh al Munawi dalam kitab Kunûz al Haqâ iq dari Nabi Saw, bahwa Nabi Sw berkata kepada Ali Kw,

أَنَا خَاتِمُ الْأَنْبِيَاءِ وَأَنْتَ يَا عَلِيُّ خَاتِمُ الْأَوْصِيَاءِ

“Aku adalah penutup para nabi dan engkau wahai Ali adalah penutup kalangan pemberi wasiat.”

Wasiat disini adalah wasiat khusus, namun bukan maksudnya tidak ada lagi wali setelah beliau, berbeda dengan Nabi Muhammad Saw; sebagaimana tidak ada nabi setelah beliau; beliau adalah penutup para nabi dan rasul. Orang yang berhukum dengan syari’at beliau Saw, tidaklah keluar dari lingkup kenabian Nabi Muhammad Saw, seperti halnya nabi Isa As, beliau adalah salah satu penutup wali umat ini yang mendapatkan pangkat khatmiyah, setelah beliau tidak ada wali lain selain wali khatam. Sebagaimana yang telah kami isyaratkan dalam pembahasan ini dan kami akan menambahkan penjelasannya nanti.

Nabi Isa As termasuk bagian dari umat ini ketika turun kembali ke bumi. Namun nabi Isa As tidak muncul sebagai nabi, tetapi menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad Saw. Dari sini semakin jelas, bahwa nabi Isa As datang sebagai wali dari umat Nabi Muhammad Saw, meski beliau telah datang lebih dahulu, namun diakhirkan kedatangannya kembali sampai zaman Nabi Muhammad Saw; sosoknya nabi yang beliau ikuti. Nabi Isa As datang kembali dengan menyebarkan panji agama Islam dan menolong pemeluknya.

Zaman munculnya kembali nabi Isa As merupakan simbol kesempurnaan agama Islam seperti pada zaman Nabi Muhammad Saw. Akan tetapi umat zaman ini tidak sampai pada tingkatan sahabat Nabi Muhammad Saw meski memiliki keimanan yang sempurna seperti umat terdahulu, hal ini berlangsung hingga nabi Isa As diangkat dan kekufuran menyelimuti zaman setelahnya, semua perkara ini kembali pada ketentuan Allah Swt.

Jika makna maqam khatam telah engkau pahani dalam istilah kaum Sufi, bahwa ia adalah sosok yang sampai pada martabat wali, kemunculannya sesuai dengan rahasia ilâhiyyah yang ia miliki. Orang yang meyakini sosoknya, tentu tidak lagi ragu akan perkara ini, dan bahwa mereka; para wali khatam inipun memiliki ragam tingkatan sisi ihsan yang berbeda-beda sesuai dengan sisi ma’rifat mereka yang sempurna; yaitu ketika aspek kewalian sisi al Muhammady ini muncul, sehingga tidak mencengangkan jika ada satu wali Allah yang dapat menempati maqam yang dilakobi oleh orang lain dengan lakob yang berbeda, seperti misalnya wali quthub yang juga wali khatam, seorang mujaddid yang juga wali khatam. Sebab, tidak semua pembaharu agama ini adalah wali khatam atau juga wali quthub. Terkadang mereka memiliki lakob lainnya lantaran mereka mendatangkan hal baru dalam keberagamaan yang ada. Seperti inilah setiap martabat yang ada dalam ragam hirarki kewalian hingga martabat al Mahdi; tingkatan sosok yang menempati maqam al Mahdi, para sahabatnya juga memiliki tingkatan yang berbeda-beda hingga diakhir muncul Imam al Mahdi al Muntazhar, kemudian muncul penutup wali yang mutlak; yaitu nabi Isa As.

Selanjutnya akan kami jelaskan mengenai apa yang dimiliki maqam ini, apa kesempurnaan maqam ini daripada maqam wali khatam yang lainnya. Kamipun akan nukilkan perkataan para Sufi yang mendalami perkara ini, kasyaf yang mereka dapatkan, ilmu ladunni yang mereka terima dan sisi kema’rifatan yang didasari oleh amal shaleh. Tidak masalah bagi kami mengulang-ulangi nukilan tersebut yang tak lain gunanya adalah untuk menegaskan makna tertentu. Kami memulai bahasan ini dengan memohon taufik dari Allah Swt.-

Sumber : BUKU KUPAS TUNTAS MAQAM KHATMIYYAH & KHATMIYYAH SAYYIDI SYAIKH AHMAD AT-TIJANI RA (NAHJ AL HIDAYAH FI KHATM AL WILAYAH) SYAIKH AL ‘ALLAMAH SAYYIDI AHMAD SUKAIRIJ AT-TIJANY