
Elsubha.com – Prolog dalam Kitab Nahj al Hidayah fi Khatm al Wilayah
Mari kita senantiasa memuji Allah Swt, sebab Dialah yang pantas dipuji. Tak lupa pula kita bersyukur kepada-Nya atas ragam nikmat yang telah Allah berikan pada kita sebelum dan setelah kehidupan ini.
Shalawat dan salam semoga tercurah untuk sosok yang menjadi perantara sampainya kucuran madad hadhrah Allah kepada para hamba-Nya; yaitu penghulu dan tuan kita Muhammad Saw; [pemuja Allah yang paling mulia dan lagi layak dipuji dari kalangan makhluk-Nya]; beliaulah penolong kebenaran dengan cara yang benar dan penunjuk pada jalan yang lurus;] yaitu dengan shalawat yang mana Allah Al Haq senantiasa mengenalkan kita akan haqqa qadrihi wa miqdarihil azhim, dengan beliaulah kita diberikan mahkota penerimaan dalam kehidupan, sehingga kita senantiasa mendapatkan kenikmatan bisa melihat wajah Allah Swt yang Agung. Semoga shalawat dan salam pun tercurahkan kepada sanak keluarga dan para sahabat Nabi (dimana mereka adalah orang-orang baik), serta para tabi’in yang mengikuti jejak kebaikan mereka.
Semoga Allah senantiasa ridha kepada Ahlullah yang menarik tangan para murid suluk untuk masuk ke dalam hadhrah Allah nan suci dan mengenalkan mereka kepada Allah, sehingga Allah Swt melihat mereka dengan pandangan ridha lantaran tulusnya kecintaan mereka kepada Allah Swt.
Diantara tanda kebahagiaan seorang hamba adalah adanya rasa cinta kepada Allah Swt, tulus dalam ketaatan pada-Nya, memiliki kemampuan untuk senantiasa bersyukur atas ragam nikmat yang dianugerahkan, serta senantiasa bisa mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan cara mencintai orang yang dicintai Allah (Ahlullah) dan menjauhi orang yang dibenci oleh-Nya. Madal och
Sungguh para wali Allah akan senantiasa ditolong di dunia dan akhirat, sesuai dengan sabda Nabi Saw, te
مَنْ عَادَ لِي وَلِيًّا فَقَدْ أَذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ
“Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku telah tabuh genderang perang dengannya,”
Hadits ini menyatakan dengan tegas, bahwa Allah Swt akan memerangi orang-orang yang memusuhi wali-Nya di dunia dan akhirat.
وَلَيْسَ بِنَاجٍ لَا مَحَالَةَ مَنْ غَدًا # مُحَارِبُهُ هَيْهَاتَ وَاللَّهِ طَالِبُهُ
“Tak diragukan lagi, orang yang memusuhi mereka # berhati-hatilah sebab Allah lah yang kelak memerangi.”
Cukuplah kita mengambil pelajaran baik dari para wali Allah; terutama dalam hal mereka menjalankan ragam perintah yang Allah Swt wajibkan bagi mereka; Orang yang mampu melaksanakan ragam perintah Allah Swt, ia pun masuk ke dalam kategori wali Allah. Sebab, ragam perkara wajib merupakan perkara paling utama yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt, bahkan tidaklah ia terus menambahkannya dengan ragam perkara sunah/nafilah sampai Allah Swt mencintainya, hal tersebut tidaklah dilakukan kecuali dia adalah orang yang cinta kepada Allah Swt.
Kecintaan seorang hamba kepada Allah ada beberapa macam: Yang paling tinggi adalah seorang hamba menjadi sosok yang dicintai oleh Allah Swt, dimana pendengaran dan penglihatan hamba tersebut dikontrol oleh Allah Swt yang senantiasa ada di sisinya.
Rasulullah Saw pun telah memberikan petunjuk kepada kita terkait penjelasan makna cinta yang hakiki dalam sabda beliau,
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ نَفْسِهِ، وَوَالِدِهِ، وَوَلَدِهِ، وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tdaklah sempurna iman salah seorang diantara kalian sampai dia menjadikanku lebih dicintainya daripada dirinya, kedua orang tuanya, anaknya bahkan pada seluruh umat.”
Hal ini tentu sangat beralasan, sebab dengan “mengikuti” sosoknya, maka kecintaan kita pun akan mengakar. Pada hakekatnya orang yang cinta sudah pasti ta’at pada yang dicintainya. Bahkan Nabi Muhammad Saw pun telah mengajak manusia untuk cinta pada Allah Swt dengan cara mengingatkan kita dalam sebuah hadits beliau Saw,
أَحِبُّوا اللَّهَ لِمَا يَغْدُوكُمْ مِنْ نِعَمِهِ
“Cintailah Allah lantaran ragam nikmat yang telah Dia berikan kepada kalian.”
Gambaran kecintaan diatas tertuju pada orang yang benar mengaku mencintai Allah, bahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَا تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
qul ing kungtum tuhibbuunalloha fattabi’uunii yuhbibkumullohu wa yaghfir lakum zunuubakum, wallohu ghofuurur rohiim
“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 31)
Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan,
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ
“Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari pada apa yang telah Aku wajibkan padanya. Dan seorang hamba masih saja mendekat pada-Ku dengan ragam perkara sunah sampai Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, Aku akan menjadi pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar.”
Dengan demikian, maka tidak ada kenikmatan bagi wali Allah yang lebih utama daripada Allah yang mengurus beragam perkara hamba tersebut, bahkan Dia akan memerangi orang yang memusuhi hamba tersebut; dimana Allah telah menjadi pendengarannya, penglihatannya, menjadi tangan dan kakinya.
Terkait dengan hal ini, para ulama memberikan penjelasan makna hadits: Pertama, membiarkan maknanya tetap demikian dengan berserah diri kepada Allah Swt akan maksud hadits tersebut, serta mensucikan Dzat-Nya dari ragam sifat seperti hulal, ittihad dan sifat lainnya yang tidak pantas untuk Allah tanpa adanya penakwilan. Kedua, menggiring makna yang ditunjukkan riwayat hadits diatas, bahwa sang hamba masih saja mendekatkan diri dengan perkara nafilah/sunah, hingga Allah cinta padanya, bahkan itu bisa membuatnya lebih mencintai Allah Swt dari apapun, dirinya tenggelam dalam ibadah pada Allah Swt. Ada lagi penakwilan makna lainnya. namun semua itu kembali pada kemampuan hamba dalam ta’at kepada Allah Swt, yang hakekatnya dia adalah walinya Allah Swt.
Sisi kewalian itu beragam, sesuai yang diistilahkan para pakar, yang tentu dengan nama khusus yang memberikan ciri khas sosok yang menempati suatu maqam; sehingga ada yang menyebutkan; ini wali nujaba’, ini wali nuqaba’, ini wali abdal, ini wali quthub, ini wali ghauts dan semacamnya.
Sebenarnya ada riwayat hadits yang menegaskan maqam para wali, namun ada ulama yang menyatakan bahwa hadits tersebut dha’if, bahkan sebagian ulama menilai hadits tersebut sebagai hadits maudhu’, oleh karena itu kamipun tidak suguhkan di sini.
Ragam keilmuan Islam baru muncul setelah abad pertama, tak lain tujuannya adalah untuk membeda-bedakan ragam pembahasan, mengenalkan ragam benda dengan namanya yang khusus. Nah, jika ada orang yang mengingkari perkara diatas, tentu dia adalah orang yang kolot.
Kecintaanku pada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra memanggilku untuk mengupas tuntas makna maqam khatmiyyah, yang telah dikemukakan oleh Syaikh karni; sang wali Quthub Rabbani wal Fard ash-Shamdani; Sayyidina wa Maulana Ahmad At-Tijany Ra -Semoga Allah berkenan memberikan tegukan air kecintaan beliau pada hadhrah al Muhammadiyyah pada kita dan semua orang yang mencintai beliau dalam frame kecintaan Nabi Saw pada Hadhrah al Qudsiyyah.-
Mengenai maqam khatmiyyah dan katmiyyah; Ada sebagian orang yang mengingkari keberadaan maqam khatmiyyah, ada juga yang menisbatkan maqam tersebut kepada wali lain, bahkan ada juga yang menempatkan maqam ini pada posisi yang tidak tepat. Oleh karena itu, aku akan menjawab beragam permasalahan tersebut dalam buku yang kuberi judul Nahj al Hidayah fi Khatm al Wilayah, seraya memohon kepada Allah Swt agar Dia memasukkan kami (penulis) ke dalam lingkaran kewalian khusus, dimana orang yang memperolehnya adalah orang yang beruntung. Sebab hakekatnya mereka adalah wali Allah Swt sesuai dengan firman-Nya,
اَ لَاۤ اِنَّ اَوْلِيَآءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
alaaa inna auliyaaa-allohi laa khoufun ‘alaihim wa laa hum yahzanuun
“Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”
(QS. Yunus 10: Ayat 62)
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَا نُوْا يَتَّقُوْنَ
allaziina aamanuu wa kaanuu yattaquun
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa.”
(QS. Yunus 10: Ayat 63)
لَهُمُ الْبُشْرٰى فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰ خِرَةِ ۗ لَا تَبْدِيْلَ لِـكَلِمٰتِ اللّٰهِ ۗ ذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
lahumul-busyroo fil-hayaatid-dun-yaa wa fil-aakhiroh, laa tabdiila likalimaatillaah, zaalika huwal-fauzul-‘azhiim
“Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung.”
(QS. Yunus 10: Ayat 64)
