You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Hadits Budak Perempuan

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Hadits Budak Perempuan

Rasulullah Saw bertanya kepadanya, “Allah itu dimana?” Budak perempuan itu menjawab, “Di langit.” Beliau bertanya lagi, “Aku ini siapa?” Dia menjawab, “Engkau adalah utusan Allah.” Beliau bersabda, “Merdekakanlah dia, karena dia orang yang beriman.”

Redaksi yang disepakati diantara seluruh ulama kaum muslimin dari kalangan Ahlussunnah, baik salaf atau khalaf, bahwa redaksi “Allah itu dimana?” -dengan ketentuan bahwa redaksi itu memang disebutkan demikian, maksudnya bukan berarti Allah Swt itu memiliki tempat dan Rasulullah Saw menanyakan tentang tempat yang diliputi oleh Allah Swt. Sedangkan jika mengartikan kalimat itu sesuai dengan arti asalnya, maka hal itu bathil lagi tertolak.

Karena Allah Swt adalah Pencipta seluruh semesta ini yang di dalamnya terdapat tempat, sementara Dia lebih dahulu dari tempat itu sendiri. Jadi, Dia ada tanpa tempat, sebelum adanya tempat. Dia Maha Agung lagi Maha Suci dari sifat berubah-ubah dan berganti-ganti, sehingga ketika Dia menciptakan tempat, maka Dia telah ada sebagaimana adanya. Dia juga tidak membutuhkan tempat dan makhluk.

Diantara orang-orang kafir ada yang berkeyakinan, bahwa Al Haq Swt duduk di atas Arsy di langit. Redaksi, “duduk” itu sudah diketahui bersama. Para pengikut Isa Al Masih berkata, “Allah Swt mengangkat putra-Nya (ke langit), lalu Dia mendudukkannya di samping-Nya; di atas Arasy.” -Lihatlah Injil-Injil mereka. Apabila engkau bertanya kepada salah seorang diantara mereka, “Dimana Allah?” maka dia akan menjawab, “Di langit.”

Jadi, jelaslah bahwa jawaban “di langit” itu tidak menunjukkan, bahwa dia mengesakan Allah Swt, sehingga dia senantiasa berada dalam kekufurannya sebab berkeyakinan, bahwa Allah Swt memiliki anak. Maha Suci Allah dari apa yang telah dikatakan oleh orang-orang zhalim.-

Perkara yang sudah jelas lagi nyata adalah, Rasulullah Saw menanyakan kepada budak perempuan dengan pertanyaan yang jawabannya berfaidah untuk menafikan kesyirikan. Apabila pertanyaan “dimana Allah” itu bertujuan untuk menanyakan tempat dan jawabnya “di langit,” maka dua hal ini tidak berfaidah untuk menafikan kesyirikan, sehingga kami menetapkan bahwa pertanyaan ini tidak keluar dari Rasulullah Saw dengan tujuan tersebut.

Jika benar pertanyaan “dimana Allah?” itu secara bahasa berarti penentuan Al Ma’bud ([Allah) yang disembah) dan bukan penentuan tempat, maka itulah yang dimaksud dengan pertanyaan ini, sebagaimana orang yang bertanya kepada seorang anak tentang ayahnya, misalnya, “Ayahmu dimana di antara orang-orang itu?” dimana ketika itu dia tidak bermaksud untuk menanyakan tentang tempatnya, tetapi yang dia maksud adalah untuk menunjukkannya, maka jawabannya adalah, “Ini ayahku.”

Diriwayatkan bahwa kelak pada Hari Kiamat, Al Haq Swt akan menyeru, “Mana orang-orang yang menjauhkan tubuhnya dari tempat tidur (karena berdzikir kepada-Ku)?’ Maksud dari pertanyaan ini adalah, “Wahai orang-orang yang menjauhkan tubuhnya dari tempat tidur, kemarilah kalian.” Lalu mereka pun akan berdiri. Jadi, jelas Al Haq Swt tidak menanyakan tentang tempat mereka.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw pernah bertanya kepada Hushain, “Barapakah tuhan yang kau sembah?” Dia menjawab, “Enam di bumi dan satu di langit.” Jadi, perumpamaannya jika ada yang bertanya kepadanya, “Dimana Allah?” Lalu dia menjawab, “Di langit,” dan dia senantiasa berada dalam kekufuran dan kemusyrikannya, maka pertanyaan dan jawaban itu tidak menunjukkan bahwa dia adalah orang yang beriman. Akan tetapi pertanyaan yang jawabannya menunjukkan sisi tauhid adalah seperti yang Rasulullah Saw tanyakan kepada budak perempuan itu, “Siapa tuhanmu?” atau “Siapa yang kau sembah?” lalu dia menjawab, “Allah” atau “Aku menyembah Allah.”

Rasulullah Saw bersabda,

أُمِرْتُ أَنْ أَقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُوْلُوْا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan kalimat, Lâ ilaha illallah.”

Beliau Saw tidak mengatakan, hingga mereka mengucapkan, “Sesungguhnya Allah Swt itu memiliki tempat di langit.”

Beberapa riwayat hadits itu terkadang sesuai dengan redaksinya dan terkadang sesuai dengan makna yang dipahami oleh periwayat. Telah diriwayatkan bahwa budak perempuan itu adalah seorang ‘ajami (non Arab), kemudian jawabannya menggunakan isyarat. Diriwayatkan secara shahih dalam hadits yang lain, bahwa Rasulullah Saw bertanya kepada seseorang yang beliau ingin ketahui keimanannya, dengan menggunakan kalimat, “Siapa tuhanmu?” Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang menentukan tauhid.

Kami yakin bahwa manusia paling fasih yang diberi sifat jawami’il kalim (sedikit bicara sarat makna) tidak mungkin bertanya dengan menggunakan pertanyaan yang dimaksudkan untuk mengetahui dzat bukan menentukan tauhid. sementara beliau bertujuan untuk mengetahui ke-tauhidan budak perempuan itu-Kami membantah orang yang menisbatkan hal tersebut kepada Rasulullah Saw. Kami menganggap bahwa hal itu adalah kesalahpahaman dan buruknya pemahaman.

Imam Ahmad, Abu Daud dan An-Nasa’i meriwayatkan dari Abu Salamah, dari Syarid bin Suwaid Ats-Tsaqafi Ra, bahwa ibunya berwasiat agar dia memerdekakan budak perempuan yang beriman. Lalu Rasulullah Saw menanyakan hal itu, Syarid pun menjawab, “Aku memiliki budak perempuan hitam dari Nubia.” Rasulullah Saw bersabda, “Datangkanlah dia.” (Syarid berkata): Aku pun memanggil budak perempuan itu, lalu dia datang. Beliau bertanya kepadanya, “Siapa tuhanmu?” Dia menjawab, “Allah.” Beliau bertanya lagi, “Siapa aku?” Dia menjawab, “Engkau Rasulullah Saw.” Beliau pun bersabda, “Merdekakanlah dia, karena dia orang yang beriman.” Demikianlah yang diriwayatkan oleh Al Bazzar.

Maka ini pertanyaan dan jawaban yang di dalamnya menentukan tauhid dan juga iman.

Sedangkan pertanyaan Rasulullah Saw kepada budak perempuan itu, “Siapa tuhanmu?” sebagaimana yang disebutkan dalam hadits di atas, dimana sang periwayat meriwayatkan dengan apa yang dia pahami bahwa jawaban itu adalah makna dalam sebuah isyarat, maka para ulama melegalkan periwayatan dengan menggunakan makna yang bisa dipaham; atau beliau Saw bertanya kepada budak perempuan itu, “Dimana tuhanmu?,” maka sesungguhnya pertanyaan ini berkaitan dengan tuhan yang dia sembah, apakah dia menyembah patung-patung yang disembah oleh orang-orang kafir dan aku telah memberitahukan sebelumnya, bahwa budak perempuan itu berbicara dengan menggunakan isyarat.

Jadi, tujuan dari pertanyaan dan jawaban di sini adalah tujuan yang terdapat dalam hadits yang lain, sehingga bisa dipastikan bahwa pertanyaan itu menggunakan redaksi, “dimana,” dan sebagian hadits itu menafsirkan sebagian yang lain.

Pemahaman dan penafsiran untuk sebuah hadits adalah dengan menggunakan hadits manusia yang maksum Saw (maksudnya; Nabi Muhammad Saw) dan bukan dengan pendapat orang-orang yang suka berkelakar dan mengikuti hawa (kecenderungan biologis; hasrat kebinatangan). Sebuah dalil yang jika didalamnya muncul keraguan, maka itu tidak boleh dijadikan sebagai dalil.

Para muhaqqiq sepakat, bahwa asal dalam beberapa riwayat yang disampaikan dengan menggunakan makna implisit adalah riwayat tersebut datang dengan muatan pengertian yang sama meskipun redaksinya berbeda. Nama seorang sahabat yang terdapat dalam riwayat yang menyebutkan, “dimana Allah” masih diperselisihkan.

Apabila sebuah riwayat mengandung beberapa penafsiran, maka tidak boleh mengambil penafsiran kecuali satu penafsiran yang disepakati dan disertai dengan kesempurnaan ilmu serta hikmah.

Berdasarkan hal ini, jelaslah bahwa pengambilan dalil dengan riwayat ini, yaitu bahwa Allah Swt itu memiliki tempat atau Dia berada di satu arah, maka itu adalah dalil dari buruknya pemahaman serta ketidak-pahaman dirinya tentang Allah Swt dan juga Rasulullah Saw. Dalil ini jelas keliru, sementara jika menjadikan ini sebagai dalil, maka yang bersangkutan patut terkena kritik.

Sumber : BUKU SUFI MENGGAPAI ILAHI (AHL AL HAQQ AL ‘ARIFUNA BILLAAH) SYAIKH MUHAMMAD AL HAFIZ AT-TIJANY AL MISHRI