You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Kebersamaan Dengan Tuhan

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Kebersamaan Dengan Tuhan

Telah disebutkan dalam penjelasan tentang akidah sufi, bahwa mereka mengimani setiap pernyataan yang menisbatkan Al Haq Swt kepada Dzat-Nya sendiri tanpa memerlukan cara, bukan dengan cara yang telah diketahui pada makhluk. Sebagaimana Dzat-Nya tidak serupa dengan satu pun dari beberapa dzat yang ada, maka sifat-Nya juga tidak serupa dengan satu pun dari sifat-sifat makhluk dan perbuatan-Nya juga tidak serupa dengan perbuatan makhluk. Ini adalah keyakinan yang telah disepakati, keyakinan yang tidak diperselisihkan diantara kaum muslimin.

Kami telah jelaskan bahwa apabila suatu perbuatan dinisbatkan kepada Al Haq, maka perbuatan itu tidak membutuhkan masa. Apabila perbuatan itu dinisbatkan kepada makhluk, maka di dalamnya ada masa sekarang dan masa yang akan datang. Namun apabila itu dinisbatkan kepada Al Haq, maka masa itu hilang dari-Nya, baik masa sekarang ataupun masa yang akan datang, karena masa itu dinisbatkan kepada Pencipta masa. Jadi, perbuatan Al Haq itu adalah kehendak mutlak yang bersifat azali, abadi dan tanpa dibatasi oleh suatu masa.

Demikian juga dengan masalah posisi, apabila itu dinisbatkan kepada Al Haq, maka posisi itu hilang dari-Nya, karena Al Haq Swt Pencipta posisi dan tempat, sehingga Dia ada tanpa tempat, sebelum adanya tempat. Al Haq Swt Maha Mulia dari sifat yang berubah-ubah dan berganti-ganti, sehingga Al Haq Swt tidak akan kehilangan kesempurnaan sampai Dia memanfaatkan kesempurnaan itu dari wujud-nya beberapa makhluk,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

سُبْحٰنَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ 
sub-haana robbika robbil-‘izzati ‘ammaa yashifuun

“Maha Suci Tuhanmu, Tuhan Yang Maha Perkasa dari sifat yang mereka katakan.”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 180)

Apabila engkau mendengar firman Allah Swt,

ءَاَمِنْتُمْ مَّنْ فِى السَّمَآءِ اَنْ يَّخْسِفَ بِكُمُ الْاَ رْضَ فَاِ ذَا هِيَ تَمُوْرُ 
a amingtum mang fis-samaaa-i ay yakhsifa bikumul-ardho fa izaa hiya tamuur

“Sudah merasa amankah kamu, bahwa Dia yang di langit tidak akan membuat kamu ditelan bumi ketika tiba-tiba ia terguncang?”
(QS. Al-Mulk 67: Ayat 16)

Maka asal kata “فِى ” itu, jika itu dinisbatkan kepada sesuatu yang bisa saja memiliki posisi, maka kata “فِى ” memiliki makna posisi. Namun jika ia dinisbatkan kepada Dzat yang tidak mungkin memiliki posisi, maka kata “فِى ” itu tidak memiliki makna posisi, sehingga kata “فِى” memiliki makna yang disucikan lagi pantas untuk Dzat yang disucikan lagi Maha Suci (Allah Swt).

Apabila engkau mengetahui bahwa Dzat Al Haq Swt itu bukan berupa jism dan tidak pula menyerupai beberapa jism dalam semua sifat-sifat-Nya, maka engkau meyakini bahwa Dzat itu bukan berarti jism, tetapi ia memiliki arti lain yang pantas untuk Dzat Yang Maha Suci. Engkau juga mengetahui bahwa sabda Rasulullah Saw,

يَنزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلِّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا

“Setiap malam, Tuhan kami akan turun ke langit dunia,” dan firman Allah Swt,

وَّجَآءَ رَبُّكَ وَا لْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا 
wa jaaa-a robbuka wal-malaku shoffang shoffaa

“dan datanglah Tuhanmu; dan malaikat berbaris-baris,”
(QS. Al-Fajr 89: Ayat 22)

Bahwa turun dan datang itu sesuai dengan sifat ketuhanan yang jauh dari sifat turun dan datang yang diketahui dari jism-jism yang lain (makhluk).

Diantara manusia ada yang menetapkan bagi Al Haq Swt sifat untuk sesuatu yang memiliki jasmani, seperti menetapkan sifat hulul (bersemayam) dan jism kepada-Nya. Sedangkan terkait ulama kaum muslimin tentang kekufurannya. Mereka juga orang yang menetapkan itu, maka tidak ada perbedaan pendapat meyakini bahwa Al Haq Swt itu menempati setiap tempat, sebagaimana air yang menempati aliran dan ruh yang menempat jasad. Ini adalah kesesatan yang nyata. Al Haq Swt ada sebelum adanya sesuatu tanpa adanya tempat, Dia ada sebagaimana adanya, yang disucikan dari sifat berubah-ubah dan berganti-ganti, serta disucikan dari sifat menempati sebuah tempat atau memiliki jasad atau menyatu dengan makhluk.

Kelompok yang lain, ada yang ingin menyucikan-Nya dari pendapat teersebut, lalu mereka menyifati-Nya diatas setiap sesuatu dengan sifat jasmani, sehingga mereka menggiring-Nya dalam sebuah posisi bagian semesta ini, lalu mereka pun terperangkap dalam pendapat yang membuat mereka berlari untuk menghindarinya, kemudian mereka mengatakan, “Fulan itu berada di atas setiap sesuatu dengan dzatnya dan bersama setiap sesuatu dengan ilmunya.” Apakah ilmunya itu berpisah dari dzatnya dan apakah pernyataan, “dengan dzatnya” itu terdapat dalam sebuah ayat dari Kitabullah atau hadits Rasulullah Saw? Sungguh hal itu tidak terdapat di dalam keduanya, lantas mengapa mereka bertaklid kepada anggapan itu dalam hal akidah? Apakah dalam akidah diperbolehkan bertaklid?

Pada dasarnya, dalam perkara itu mereka tidak memastikan bahwa Al Haq disucikan dari sifat jasmani. Seandainya mereka menyucikan-Nya dari sifat jasmani, tentu semua ketetapan jasmani itu gugur dari khayalan mereka.

Penjelasan tentang perkara itu adalah, jika engkau memastikan bahwa sifat fauqiyah Dzat itu berada di atas Arasy, yaitu sifat fauqiyah yang telah diketahui bersama, seperti apa yang telah kita saksikan, maka engkau tidak melakukan apapun, kecuali engkau mengaitkan antara sifat fauqiyah itu dengan sifat datang dan turun yang dinisbatkan kepada Al Haq Swt dalam Al Qur’an dan As-Sunnah, sehingga engkau mengatakan, bahwa datang dan turun itu sebagaimana datang dan turun yang telah kita ketahui bersama pada apa yang telah kita saksikan (sehari-hari).

Apabila Dia datang dan turun, maka adakalanya engkau mengatakan, bahwa Dia senantiasa memiliki sifat fauqiyah yang telah diketahui bersama (dalam keseharian), berarti engkau telah menafikan sifat turun yang telah lumrah diketahui, karena tidak ada sesuatu dari beberapa jism yang ada (makhluk) di atas sesuatu, lalu dia turun namun dia tetap berada di atas sifat fauqiyah-nya, sehingga seakan-akan engkau mengatakan, “Dia turun namun tidak turun.” Pernyataan ini adalah pernyataan yang memadukan antara dua sifat yang berlawanan dan ini tidak mungkin terjadi; atau engkau menetapkan kedatangan yang hakiki yang telah lumrah diketahui (dalam keseharian), berarti engkau menghilangkan dari-Nya sifat fauqiyah yang telah lumrah diketahui.

Jadi, apabila engkau menakwilkan “datang dan turun,” kemudian engkau berpendapat dengan sifat fauqiyah yang telah lumrah diketahui (dalam keseharian), maka engkau telah membuka keburukan dirimu sendiri. Apabila engkau menakwilkan sifat fauqiyah itu kemudian berpendapat dengan kedatangan yang telah lumrah diketahui (dalam keseharian), maka engkau telah membuka keburukan dirimu sendiri.

Kontroversi itu selalu ada pada orang yang mengira bahwa sifat fauqiyah Allah Swt adalah sifat fauqiyah makhluk dan dia menafikan dari-Nya sifat fauqiyah ketuhanan yang tidak menyerupai bentuk sifat fauqiyah makhluk; dia mengira bahwa kedatangan itu adalah seperti cara kedatangan yang terjadi pada makhluk dan menafikan dari-Nya sifat kedatangan ilahiah (ketuhanan) yang disucikan. Ini adalah kesesatan yang nyata, ini menyerupai pernyataan orang-orang kafir yang kontroversial, “Tiga itu adalah satu ditambah satu dan ditambah satu, yaitu tiga dalam waktu yang sama.”

Kami tidak tahu apa yang telah menutupi akal mereka sehingga mereka memahami nash-nash tersebut dengan sifat fauqiyah yang disamakan dengan sifat fauqiyah makhluk, padahal syari’at dan akal telah menafikan itu. Disamping orang-orang yang membahas tentang materi -bahkan kelompok Atheis-, pada awalnya mereka mengubah-ubah pendapat tentang jism yang bersifat materi, kemudian mereka mengembalikannya kepada asal tanpa jism. Sebagian dari mereka ada yang menetapkan, bahwa ether (istilah pakar ilmu alam) adalah separuh dari materi. Jadi, orang-orang yang beriman lebih utama untuk meninggalkan pemahaman, bahwa Al Haq itu berupa benda yang memiliki fisik.

Datang yang bersifat fauqiyah dan kebersamaan yang bersifat mâddiyyah (materi) adalah keadaan yang memiliki cara, sedangkan non materi itu tidak memiliki cara. Ini adalah akidah salafiyyah yang shahih.

Lantas mengapa mereka tidak menisbatkannya kepada sifat fauqiyah yang disucikan lagi berbeda dengan sifat fauqiyah-nya makhluk, sementara agama kita memiliki beberapa nash yang menunjukkan demikian?

Demikian juga dengan kedatangan dan yang lainnya. Dengan hal itu, mereka akan keluar dari kontroversi yang menjadi tanda-tanda kelemahan dalam berfikir. Agama kita adalah satu-satunya agama yang terlepas dari kondisi yang saling bertentangan dan menjatuhkan (satu sama lainnya).

Hakikat pengetahuan dalam hal itu adalah, bahwa Al Haq Swt tidak memiliki jism, sehingga apa yang dinisbatkan kepada-Nya tidak bersifat jasmani, yaitu sifat fauqiyah yang tidak bersifat jasmani, “turun” yang tidak bersifat jasmani, “datang” yang tidak bersifat jasmani dan “kebersamaan” yang tidak bersifat jasmani.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَّا للّٰهُ مِنْ وَّرَآئِهِمْ مُّحِيْطٌ 
wallohu miw warooo-ihim muhiith

“padahal Allah mengepung dari belakang mereka (sehingga tidak dapat lolos).”
(QS. Al-Buruj 85: Ayat 20)

Pengepungan yang ada pada hal baru (yaitu; makhluk) itu adalah seperti pagar yang mengelilingi sesuatu yang dilindungi, sementara pengepungan ilahiah disucikan dari keserupaan dengan pengepuangan yang terjadi pada makhluk.

Kedekatan Al Haq dengan hamba-hamba-Nya itu adalah sebuah keniscayaan, sebagaimana firman Allah Swt, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ ۖ وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ
wa laqod kholaqnal-ingsaana wa na’lamu maa tuwaswisu bihii nafsuh, wa nahnu aqrobu ilaihi min hablil-wariid

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
(QS. Qaf 50: Ayat 16)

Dia lebih dekat dengan mereka daripada diri mereka sendiri, karena Dia-lah yang mengatur mereka, mereka tidak berkehendak, kecuali Dia berkehendak. Dia-lah yang mengatur mereka sesuai dengan yang Dia kehendaki. Mereka tidak memiliki daya dan kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Yang dimaksud dengan kedekatan ini adalah kedekatan yang disucikan dari sifat-sifat kedekatan makhluk.

Maha Suci Engkau dimana pun Engkau berada. Maksudnya, dimana pun Engkau berada tanpa tempat dan dimana pun Engkau berada sebagaimana Engkau berada serta tanpa tempat. Hadits At-Tirmidzi yang menyebutkan, bahwa Rasulullah Saw pernah ditanya, “Dimanakah Rabb kita sebelum Dia menciptakan makhluk-Nya?” Beliau menjawab, “Dia ada di ‘Amâ” Redaksi kata, “Al ‘Amâ`”merupakan sesuatu yang ghaib, ulama salaf menafsirkan, “Maksudnya, tidak ada sesuatu pun yang bersama-Nya”. Hadits tersebut sesuai dengan beberapa hadits shahih lainnya, sehingga dalam hal ini tidak ada perpaduan antara dua hal yang berlawanan dan bertentangan.

Sebagian orang yang bodoh dan tersesat berkata, “Adakalanya Dia (Allah Swt) berada di dalam semesta atau berada di luarnya.” Orang bodoh yang berdusta atas nama Tuhannya mengira, bahwa apabila dia menafikan kedua keadaan itu secara bersamaan, berarti dia menyifati-Nya dengan ketiadaan (‘adam). Ini adalah puncak dari kebodohan, mereka meyakini bahwa Al Haq miliki jism. Hal tersebut adalah bentuk kesesatan.

Sedangkan kami menafikan keluar-Nya dari semesta ini seperti keluarnya sesuatu yang bersifat jasmani dan kami menetapkan bagi-Nya sifat fauqiyah ilahi, kedekatan ilahi dan pengepungan ilahi yang disucikan dari beberapa contoh yang bersifat jasmani dengan semua sifat-sifatnya, seperti menempati, menyatu, masuk, berpisah, tempat dan jarak. Karena Dzat-Nya disucikan dari sifat jasmani dan beberapa hal yang berkaitan dengannya, sehingga sifat-Nya pun disucikan dari semua itu.

Kami menyerahkan masalah ini kepada Allah Swt secara nyata dan kami memasrahkan kepada-Nya secara totalitas, tidak seperti pemasrahan orang-orang munafik yang mengharamkan taklid dalam beberapa cabang agama, namun mereka sendiri bertaklid dalam masalah akidah kepada kaum yang tidak segan-segan melakukan perselisihan dalam beberapa cabang agama.

Mereka adalah orang-orang yang menampakkan pemasrahan secara dusta, mereka menutupi keyakinan mereka tentang tajsim yang bersifat watsani (keberhalaan), dimana agama Islam datang untuk menghilangkannya.

“Barangsiapa yang tidak menghilangkan pengaruh tajsim dari hatinya, maka tanda-tanda keberhalaan senantiasa berada dalam dirinya. Padahal Al Haq Swt tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya dari berbagai sisi.”

Kami beriman kepada apa yang Allah Swt turunkan sesuai dengan maksud dan tujuan Allah Swt. Demikianlah akidah ulama salafush-shâlih dan meyakini hal tersebut tanpa kaif (bagaimana atau cara) dan tanpa tasybih (penyerupaan dengan makhluk).

Sumber : BUKU SUFI MENGGAPAI ILAHI (AHL AL HAQQ AL ‘ARIFUNA BILLAAH) SYAIKH MUHAMMAD AL HAFIZ AT-TIJANY AL MISHRI