
Elsubha.com – Karomah Sayyidi Syekh Ahmad Tijani radhiyallahu ‘anhu (058)
Pada artikel ini, kami mencoba menyebutkan contoh dari karomah yang Allah Swt anugerahkan kepada Sayyidi Syaikh Abul ‘Abbas Ahmad At-Tijany Ra.- Aku pun ridho kepada beliau dan semoga kita pun mendapat keridhoan beliau.-
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra enggan menalqinkan wiridan thariqah Tijaniyyah kepada As-Sayyid Ahmad Banûnah, 39 kecuali sesuai dengan syarat yang beliau berikan, yaitu meninggalkan semua wiridan yang pemah diambilnya dari masyayikh lain.
As-Sayyid Ahmad Banûnah kemudian melakukan shalat qiyam, lalu ia baca semua wiridan yang ia miliki, kemudian meminta kepada Allah Swt agar Allah menampakkan martabat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.
Lalu dia bermimpi, diri Sayyidi Syaikh Ra semakin membesar sampai sangat besar dan menutupi ufuk jagad raya ini dan akhimya iapun bergelantungan di tangan Sayyidi Syaikh Ra dalam mimpi tersebut. Karena kedahsyatan yang luar biasa itu, diapun terbangun dari tidumya.
Setelah itu pula, ia langsung pergi ke zawiyah dan bertanya tentang keberadaan Sayyidi Syaikh Ra, lalu ada yang mengatakan, “Beliau dalam perjalanan ke rumah seseorang, maka ia pun kembali ke rumahnya dan mempersiapkan bekal yang bisa ia makan dalam perjalanan, lalu ia mencari dimana Sayyidi Syaikh Ra berada.
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra berkata kepada salah seorang yang ikut bepergian bersama beliau, “Hendaknya ada salah seorang dari kalian berdiri untuk menemui sahabat kami, dia berada di tengah perjalanan dan tidak tahu tempat dimana kita berada!” Maka ada seseorang yang berdiri dan membawa lelaki tersebut.
Ketika kondisi majelis sudah tenang, As-Sayyid Ahmad Banûnah ingin menceritakan mimpi berkaitan dengan Sayyidi Syaikh Ra dalam pertemuan tersebut, ketika kondisi majelis itu belum kondusif Sayyidi Syaikh Ra menoleh ke arahnya memberikan isyarat agar jangan menyebutkan nama Sayyidi Syaikh Ra yang sebenarnya ada dalam mimpinya. As-Sayyid Ahmad Banûnah berkata, yang kandungan isinya adalah:
“Ada seorang murid yang ber-suhbah dengan banyak Syaikh, ia juga memiliki beragam wiridan yang ia dapatkan dari para masyayikh, lalu ia meminta kepada seorang Syaikh untuk menalqinkan thariqah Syaikh tersebut kepadanya, namun Syaikh tersebut enggan melakukan itu terkecuali dengan persyaratan bahwa ia harus meninggalkan semua wiridan yang ia dapatkan dari masyayikh lain, sang Syaikh tidak mengizinkan dirinya mencampuradukkan wiridan thariqah seperti yang lainnya, sehingga Syaikh tersebut pun tidak mau menalqinkan thariqah beliau kecuali la mau menerima persyaratan tersebut.
Murid itu lalu meminta kepada Allah Swt agar Allah menampakkan martabat Syaikh tersebut. Sang murid pun melihat maqam Syaikh tersebut, yang mana ketika itu dia melihat dzat Syaikh itu memenuhi ufuk alam semesta, kemudian iapun bangun dari tidurnya dan pergi ke Syaikh itu untuk menyanggupi persyaratan yang sudah diberikan (yaitu meninggalkan semua wiridan masyayikh lain, lalu murid ini melihat Syaikh tersebut sedang duduk dengan sahabatnya, maka Sang Syaikh pun mengizinkannya (menalqinkannya wiridan thariqah Tijaniyyah) sebelum mimpi tersebut diceritakan, Syaikh juga melarang murid tersebut agar tidak menyebarluaskan mimpi itu kepada orang lainnya dan sang murid menyampaikan perihal mimpi itu sebelum ia meninggal dunia.”
Sayyidi Syaikh Ra menoleh kepada Sayyid Ahmad Banûnah lalu menalqinkannya thariqah, iapun mengikuti segala petunjuk Sayyidi Syaikh Ra, ia menyembunyikan mimpi itu sampai Sayyidi Syaikh Ra meninggal dunia. Sayyidi Ahmad Banûnah pun kemudian sakit menjelang wafatnya, ketika ia beranggapan bahwa kehidupan sudah mustahil lagi adanya, ia pun menceritakan mimpi tersebut kepada orang-orang yang ada di sekitarnya.
As-Sayyid Ahmad Banûnah merupakan orang yang senantiasa mencari-cari wali Allah dan gemar ber-tabarruk dengan orang sholeh serta orang yang jadzab, sehingga dari kegemarannya itu ia banyak memiliki wiridan. Oleh karena itu, Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra memberikan syarat khusus baginya agar ia meninggalkan semua wiridan yang dimiliki.
