
Elsubha.com – Ketika Ada Hasud Dalam Kalbu
Seorang shaleh dari daerah Syingqith pernah menziarahi kami, dimana dia termasuk orang yang selalu membaca Al Qur’an, suatu ketika orang shaleh ini pernah menziarahi seorang ‘alim yang mengingkari thariqah, lelaki ini berkata kepadanya, “Wahai fulan, engkau ini orang ‘alim dan shaleh, mengapa engkau tidak merasa cukup dengan Al Qur’an saja dan meninggalkan wiridan thariqah?” Maka orang shaleh itu berkata lelaki itu, “Engkau juga termasuk orang shaleh, bukankah wiridan thariqah itu adalah Al Qur’an atau apa yang diperintahkan oleh Al Qur’an? Lafazh jalalah, “La ilaha illallah” merupakan kalimat yang paling utama di dalam kitabullah, dimana ia merupakan bacaan dzikir dan juga Al Qur’an pada satu waktu, begitu juga dengan kalimat istighfar yang merupakan hal yang diperintahkan oleh Al Qur’an untuk dilakukan; begitu juga dengan shalawat kepada Nabi Muhammad Saw yang juga merupakan hal yang diperintahkan oleh Al Qur’an dan itu semua tidak membuat kami lalai dari kitabullah dan juga Sunnah Rasulullah Saw. -segala puji bagi Allah Swt atas nikmat tersebut.-“
Orang shaleh itu berkata lagi kepadanya (orang ‘alim), “Mengapa engkau tidak langsung saja mengambil dzikiran itu dari Al Qur’an, sehingga engkau bisa saja menentukan dzikiran sesukamu?”
Orang ‘alim itu menimpali pernyataan orang shaleh tersebut, “Kenapa aku harus mengambilnya sendiri, sementara aku telah mengambil wiridan itu dari orang yang telah mengambilnya dari Al Qur’an dan As-Sunnah, sehingga orang tersebut mendapatkan pahala lantaran menunjukkan seseorang pada kebaikan dan aku mendapatkan pahalanya mengamalkan dan tentu pahalaku tidak sedikit pun yang akan berkurang!. Serta hal tersebut (mengambil wiridan langsung dari Al Qur’an dan As-Sunnah) bukanlah hal yang diwajibkan bagiku. Akan tetapi yang aku heran adalah pilihanmu itu (yang langsung mengambil wiridan dari Al Qur’an dan As-Sunnah), sementara aku percaya dengan amalannya itu, maka apakah ada rasa iri hati padamu jika Allah Swt memberikan pahala pengajaran dan pahala memberikan petunjuk pada hal yang baik kepada seorang Syaikh?”
Orang shaleh itu menjawab, “Engkau benar.”
Dari percakapan tersebut dapat kita simpulkan, bahwa wiridan thariqah tidak lain berupa perkara yang telah diizinkan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya. Sementara selain hal ini, maka para guru dan pengikut mereka tidaklah bersalah, sebab Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَآئِرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَـرَا مَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَۤائِدَ وَلَاۤ آٰ مِّيْنَ الْبَيْتَ الْحَـرَا مَ يَبْـتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرِضْوَا نًا ۗ وَاِ ذَا حَلَلْتُمْ فَا صْطَا دُوْا ۗ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰ نُ قَوْمٍ اَنْ صَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَـرَا مِ اَنْ تَعْتَدُوْا ۘ وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَا لتَّقْوٰى ۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِ ثْمِ وَا لْعُدْوَا نِ ۖ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَا بِ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu laa tuhilluu sya’aaa-irollohi wa lasy-syahrol-harooma wa lal-hadya wa lal-qolaaa-ida wa laaa aaammiinal-baital-harooma yabtaghuuna fadhlam mir robbihim wa ridhwaanaa, wa izaa halaltum fashthooduu, wa laa yajrimannakum syana-aanu qoumin ang shodduukum ‘anil-masjidil-haroomi ang ta’taduu, wa ta’aawanuu ‘alal-birri wat-taqwaa wa laa ta’aawanuu ‘alal-ismi wal-‘udwaani wattaqulloh, innalloha syadiidul-‘iqoob
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban), dan Qalaid (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam; mereka mencari karunia dan keridaan Tuhannya. Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidil haram mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 2)
