
Elsubha.com – Ahl Al Haq (Sufi)
Orang alim terbagi menjadi dua kategori; yang mukmin dan yang kafir, mari kita tinggalkan bahasan orang alim yang kafir dan mengulas prihal orang mukmin. Orang mukmin pun bisa dibedakan menjadi dua; yang mengerjakan shalat dan yang meninggalkan shalat. Mari kita tinggalkan bahasan terkait orang yang tidak mengerjakan shalat dan kita ulas tentang orang-orang yang selalu menjaga shalatnya. Anggap saja dari orang yang menjaga shalatnya, bahwa ada orang-orang yang shalatnya itu bisa menjaga dirinya dari kemungkaran dalam perkara ushuliyah dan juga furu’iyyah, sebab shalat adalah cahaya yang Allah Swt hidayahkan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Ini adalah maqam tobat; maqam pertama dalam rangkaian perjalanan menuju Allah Swt. Dan jika ini bukan kebiasaan mereka (kaum sufi), lantas kebiasaan siapa?
Ada banyak perkara yang dinisbatkan kepada suatu kaum, dimana ragam perkara ini dibuat oleh orang-orang yang adil, sehingga mereka pun membuat karangan yang berisikan ragam perkara dusta yang dinisbatkan pada kaum sufi, dimana Nabi Saw pun banyak didustai. Terkait perkata ini, semua orang mukmin tidaklah bersalah sampai kelihatan belangnya (kedustaan tersebut).
Perkara yang sudah banyak diketahui, bahwa suatu kaum banyak dirusak dengan beragam perkara yang dinisbatkan dan dimasukkan ke dalam buku mereka, bahkan ada sebuah buku yang dinisbatkan pada kaum tertentu, tetapi sebenarnya tidak ada satu kalimat pun dari buku tersebut yang pernah mereka lontarkan. Kami tidak pernah mengetahui adanya hal batil, yang benar bersumber dari kaum sufi.
Sedangkan mengenai perkara ijtihad, dimana perbedaan pendapat di dalamnya merupakan hal yang lumrah dan diperbolehkan, mereka pun leluasa menggunakan perbedaan pendapat tersebut seperti umat Islam lainnya.
Terkait beragam perkara yang disebutkan, bahwa itu dari kaum sufi seperti perkara ittihad atau hulul atau tajsid atau mengutamakan selain Al Qur’an daripada Al Qur’an itu sendiri atau juga fanatik dengan martabat yang mereka miliki atau juga berupa perkara yang keluar dari syari’at, maka perkara tersebut merupakan perkara yang sepele.
Kebenaran sudah jelas dan terbukti adanya. Maka orang yang berakidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang telah disepakati oleh para ulama; akidah yang sudah diketahui oleh orang yang awam dan juga orang khusus, yang lalu akidah ini diamalkan dengan asas akidah dasarnya, maka Allah swt pun mengucurkan keutamaan kepadanya. Lalu Allah Swt berikan karunia padanya berupa menjadi orang yang dicintai, seperti yang Allah dan Rasul-Nya sebutkan, maka ia termasuk orang yang diberi hidayah oleh Allah Swt dan ia inilah ahlul haq (sufi) yang sebenarnya. Sementara orang yang tidak berakidah demikian atau dirinya belum beramal dengan akidah tersebut, maka ia jauh dari tipe mereka (kaum sufi).
Maka, kita sepakat dengan beragam kaidah tersebut (akidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang telah disepakati oleh para ulama), dimana Allah Swt telah memerintahkan kita untuk berusaha optimal dalam mengaplikasikan ragam kaidah tersebut, sebagaimana yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ جَآءَكُمْ فَا سِقٌ بِۢنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْۤا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا بِۢجَهَا لَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuuu ing jaaa-akum faasiqum binaba-ing fa tabayyanuuu ang tushiibuu qoumam bijahaalating fa tushbihuu ‘alaa maa fa’altum naadimiin
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 6) – maksudnya mengkroscek kembali setiap perkara.-
Hal yang sudah disepakati bersama adalah, bahwa orang-orang yang mengingkari kaum sufi, mereka sebenarnya tidak memiliki dalil apa-apa. Sebab, para sufi merupakan orang-orang yang selalu haus akan perkara syari’at. Mereka adalah orang paling utama yang selalu bersama Allah Swt dan Rasul-Nya, hidayah dan cahaya ilahi selalu menyertai mereka. Mereka inilah pewaris para nabi yang sesungguhnya.
