You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Ketunggalan Dzat, Kalamullah dan Qadar Allah Swt

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Ketunggalan Dzat, Kalamullah dan Qadar Allah Swt

Dialah Allah Swt yang tunggal, tiada yang menyamai dalam ketunggalan-Nya; baik dalam dzat, sifat dan tindakan-Nya, tidak ada yang dikenal dengan hal ini kecuali Dia. Jika saja sesuatu yang dapat dihitung itu tidak diketahui batasan terluasnya, lantas bagaimana dapat diketahui sesuatu yang tidak terbatas tersebut?

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَا تُدْرِكُهُ الْاَ بْصَا رُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْاَ بْصَا رَ ۚ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ
laa tudrikuhul-abshooru wa huwa yudrikul-abshoor, wa huwal-lathiiful-khobiir

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 103)

Maksudnya adalah sebuah penglihatan yang meliputi seluk beluknya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وُجُوْهٌ يَّوْمَئِذٍ نَّا ضِرَةٌ 
wujuuhuy yauma-izin naadhiroh

“Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri.”
(QS. Al-Qiyamah 75: Ayat 22)

اِلٰى رَبِّهَا نَا ظِرَةٌ 
ilaa robbihaa naazhiroh

“Memandang Tuhannya.”
(QS. Al-Qiyamah 75: Ayat 23)

Telah diriwayatkan secara shahih dari Rasulullah Saw tentang orang-orang mukmin yang melihat Tuhan mereka. Pengetahuan yang menafikan adalah pengetahuan selain dengan cara melihat seperti yang telah diakui oleh banyak orang, maka mungkin saja orang tersebut benar-benar melihat-Nya, narnun tidak meliputi keseluruhannya, hal itu bukanlah penglihatan yang berlaku pada jasad manusia. Kita telah meyakini bahwa firman Allah Swt dan sabda Rasulullah Saw benar adanya, sesuai dengan hal yang pantas bagi kesempurnaan Dzat Allah yang Maha Suci, tanpa adanya penyerupaan dan juga tanpa menanyakan bagaimanakah itu bisa terjadi. Maha Suci Engkau wahai Allah sebagaimana Engkaulah yang memuji diri-Mu sendiri, dimana kamipun tidak dapat menghitung pujian tersebut.

Firman Allah Swt benar adanya, begitu juga madzhab kaum sufi yang merupakan madzhab para salafush-shalih, yang menyatakan bahwa Dzat Allah Qadim dan tidak tercipta. Jika ada orang yang beranggapan bahwa Dzat Allah itu hadits yang menyerupai semua hukum makhluk yang hadits, maka ia adalah orang sesat yang tidak mengikuti madzhab salaf.

Terkait dengan fitnah pernyataan, “Al Qur’an itu diciptakan,” yang digemborkan oleh Ibnu Abi Daud memang benar keberadaannya. Orang yang berakal tidak ragu lagi menyatakan, bahwa Imam Ahmad sampai terkena pukulan lantaran ia tidak menyatakan hal tersebut.

Sementara terkait dengan firman Allah Swt,

مَا يَأْتِيْهِمْ مِّنْ ذِكْرٍ مِّنْ رَّبِّہِمْ مُّحْدَثٍ اِلَّا اسْتَمَعُوْهُ وَهُمْ يَلْعَبُوْنَ 
maa ya-tiihim ming zikrim mir robbihim muhdasin illastama’uuhu wa hum yal’abuun

“Setiap diturunkan kepada mereka ayat-ayat yang baru dari Tuhan, mereka mendengarkannya sambil bermain-main.”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 2)

Maksudnya adalah, bahwa Al Qur’an tersebut hal yang baru bagi mereka, mereka belum pernah diajarkan yang seperti itu, bahkan mereka pun tidak mengetahui yang semisal Al Qur`an sejak dari ayah mereka. Sedangkan jika ada orang yang menganggap bahwa Al Qur’an adalah sesuatu yang baru bagi Dzat Allah Swt, maka ia termasuk orang yang merugi.

Ada orang yang tidak memahami dengan baik bertanya, “Bagaimana bisa Allah Swt mengabarkan tentang suatu kaum yang sejatinya keberadaan mereka belum ada kala itu?” Maka untuk menjawab pertanyaan ini sungguh sangat mudah, yaitu apa engkau tidak mengetahui khabar yang tsabit, bahwa Al Qalam itu sudah mencatat semua yang akan terjadi sampai Hari Kiamat dari Rasulullah Saw? (HR. At-Tirmidzi dan yang lainnya).

Bukankah dialog yang akan Allah Swt firmankan dengan Nabi Musa dan para nabi lainnya sudah dicatatkan sebelum penciptaan manusia? Maka tentu tidak diragukan lagi bahwa hal tersebut sudah ada di alam zhahir yang ada dalam catatan Al Lauh, yang sebelumnya hal ini ada dalam keghaiban di alam batin, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Swt. Maka seyogyanya kita serahkan seluk-beluk pengetahuan tersebut hanya kepada Allah Swt.

Sedangkan terkait dengan Al Qadar (ketetapan Allah Swt), maka keimanan mereka terkait hal itu adalah keimanannya para sahabat Nabi yang tidak membatalkan hujjah-Nya Allah Swt, dimana pembebanan syari’at bagi mereka benar adanya. Semua umat Islam mulai dari Jabbariyyah, Mu’tazilah dan juga Ahlussunnah sepakat akan hal ini, dimana pembebanan syari’at tetap tidaklah gugur -sesuai beragam syarat yang telah ditetapkan oleh syari’at kecuali orang-orang kafir yang sudah keluar dari agama Islam.

Sifat Qadar, Iradah dan Qudrah tidak diragukan lagi bahwa itu sesuai dengan ilmu pada masa azali, yang tidak menafikan sisi ilmiah dan juga pembebanan syari’at bagi semuanya. Jika ada perbedaan diantara umat Islam dengan segenap kelompoknya, maka perbedaan ini tidak menyentuh ranah pembebanan diri dengan syari’at itu sendiri, akan tetapi hal ini haruslah berdiri di atas pembebanan syari’at. Perbedaan yang ada sejatinya tidaklah menjadi titik permasalahan, bahwa orang yang berpendapat adanya pembebenan diri dengan syari’at secara yakin, maka iapun akan mengetahui bahwa dirinya menjadi terbebani dengan syari’at, dimana pembebanan diri dengan syari’at adalah benar adanya dan tentu itu dibangun dengan beragam pondasi, jika demikian adanya, maka kondisinya tidaklah membahayakan diri orang tersebut.

Umat Islam pun sepakat adanya pembebanan diri (taklif dengan syari’at. Maka tidak lagi diragukan bahwa orang yang meyakini hal tersebut namun tidak mengetahui penyebabnya, maka ia tergolong orang yang selamat dalam pandangan semua orang, yang kita kembalikan pada keilmuan yang merupakan rahasia taufik Allah Swt, diantara kurangnya keilmuan yang kita miliki. Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama bahwa kemungkinan masih ada beragam hakikat yang jika kita telaah kembali, maka kita pun akan mencarikan dalil untuk itu, dimana akal yang sempurna tentu tidak akan menjadikan peluang untuk mencarikan dalil itu sebagai hal yang mustahil adanya, dimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَبَدَاَ بِاَ وْعِيَتِهِمْ قَبْلَ وِعَآءِ اَخِيْهِ ثُمَّ اسْتَخْرَجَهَا مِنْ وِّعَآءِ اَخِيْهِ ۗ كَذٰلِكَ كِدْنَا لِيُوْسُفَ ۗ مَا كَا نَ لِيَأْخُذَ اَخَاهُ فِيْ دِيْنِ الْمَلِكِ اِلَّاۤ اَنْ يَّشَآءَ اللّٰهُ ۗ نَرْفَعُ دَرَجٰتٍ مَّنْ نَّشَآءُ ۗ وَفَوْقَ كُلِّ ذِيْ عِلْمٍ عَلِيْمٌ
fa bada-a bi-au’iyatihim qobla wi’aaa-i akhiihi summastakhrojahaa miw wi’aaa-i akhiih, kazaalika kidnaa liyuusuf, maa kaana liya-khuza akhoohu fii diinil-maliki illaaa ay yasyaaa-alloh, narfa’u darojaatim man nasyaaa, wa fauqo kulli zii ‘ilmin ‘aliim

“Maka mulailah dia (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala (tempat minum) raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami mengatur (rencana) untuk Yusuf. Dia tidak dapat menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendakinya. Kami angkat derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas setiap orang yang berpengetahuan ada yang lebih mengetahui.”
(QS. Yusuf 12: Ayat 76)

Sumber : BUKU SUFI MENGGAPAI ILAHI (AHL AL HAQQ AL ‘ARIFUNA BILLAAH) SYAIKH MUHAMMAD AL HAFIZ AT-TIJANY AL MISHRI