You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Yang Ada Hanya Allah Swt, Tidak Ada Yang Lain

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Yang Ada Hanya Allah Swt, Tidak Ada Yang Lain.

Seluruh yang ada, selain Allah Swt adalah makhluk yang wujudnya ada setelah sebelumnya tidak ada, dimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَللّٰهُ خَا لِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۙ وَّ هُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ وَّكِيْلٌ
allohu khooliqu kulli syai-iw wa huwa ‘alaa kulli syai-iw wakiil

“Allah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 62)

Sekalipun akal manusia terus berpikir akan keberadaan hal yang baru itu di masa lampau, maka setiap pemikiran itu akan bermuara dari ketiadaan. Semua rentetan pemikiran ini juga akan berujung pada ketiadaan, oleh karenanya selazimnya ada Dzat yang menjadikannya ada, baik dalam bentuk kelompok maupun secara individu;- Dzat yang tidak terkekang dengan zaman atau waktu.

Telah diriwayatkan secara shahih dalam sabda Nabi Saw, dari hadits Imran bin Hashin Ra,

كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ

“Dialah Allah dan tak ada yang lainnya”

كَانَ اللَّهُ وَلَا شَيءٌ مَعَهُ

“Dialah Allah dan tidak ada yang bersama dengan-Nya”

كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ قَبْلَهُ

“Dialah Allah dan tidak ada suatu (makhlukpun) sebelumnya”

Beragam riwayat ini terdapat dalam Ash Shahihaini dan Sunan.

Beberapa riwayat hadits di atas, apabila diriwayatkan dengan maknanya, maka seyogyanya diarahkan pada satu makna yang mencakup semuanya, walaupun lafazhnya berbeda-beda Riwayat yang menyatakan, “Dan tidak ada (suatu makhluk apapun) sebelum-Nya,” merniliki dua sisi pandang: Salah satu sisinya, cocok dengan beberapa riwayat lainnya apabila tidak ada sesuatu (apapun) selain-Nya, tidak pula bersama-Nya dan tidak juga ada sebelum-Nya. Maka tidak sah secara ilmiah apabila kita mengambil sisi lainnya, karena itu tidak sesuai dengan beberapa riwayat yang shahih.

Orang yang berargumen dengan riwayat

أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ

“Engkaulah yang Awal (Pertama), maka tidak ada sesuatu apapun sebelum-Mu,”

Pandangan ini kiranya cukup jauh dari pembahasan awal. Sebab riwayat ini juga mengandung dua sisi pandang. Oleh karenanya, tidak boleh menguatkan hal yang belum pasti dengan hal yang belum pasti lainnya; dimana sebenarnya hal tersebut sejatinya tidak keluar dari koridor riwayat yang shahih tadi. Maka kewajiban kita adalah menggiring hal itu pada makna yang sesuai dengan sisi syari’at itu sendiri, yaitu dengan memberikan argumentasi yang jelas (sharih) pada hal yang masih belum pasti kebenarannya (muhtamal).

Disebutkan dalam riwayat Imam Ahmad bin Hanbal pada Al Musnad ,

كَانَ اللَّهُ قَبْلَ كُلِّ شَيْئٍ

“Dialah Allah sebelum segala sesuatunya (ada).”

Siapapun yang mengambil salah satu sisi yang belum pasti (muhtamal) keberadaannya, lalu kemudian meninggalkan sisi lainnya, maka ia telah melanggar dan keluar dari kode etik ilmiah, ia berdalil dengan mengikuti hawa (kecenderungan biologis; hasrat kebinatangan), ia berada pada jalan orang-orang yang menyeleweng dari kebenaran. Mereka mengambil sisi yang telah di-tarjih-kan pada perkara yang belum pasti, mereka juga meninggalkan sisi teks yang sudah jelas tidak ada keraguan di dalamnya dan juga yang belum pasti; dimana ini sebenarnya membantu tercapainya hal yang dimaksud dan juga mampu menyingkirkan hal yang masih belum pasti keberadaannya.

Kondisi ini terjadi apabila tidak ada lagi sumber hadits selain yang dinukilkan oleh para sahabat ini, lantas bagaimana kini, yaitu jika hadits tersebut memiliki sumber lain yang jelas dan hanya memiliki satu sisi pandang saja?!

Disebutkan dalam riwayat Baridah Ra,

كَانَ اللَّهُ وَلَا شَيْءٌ غَيْرُهُ

“Allahlah dan tidak ada sesuatu pun selain-Nya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Al Hakim dan Ibnu Abi Syaibah. Riwayat ini memberikan penjelasan pada kita tentang maksud hal di atas dengan penjelasan yang mampu menghilangkan dugaan orang-orang yang salah dan pembuat bid’ah, hal tersebut juga mampu membuang keraguan bagi orang yang mempelajari hadits yaitu dengan mengedepankan apa yang bersumber dari Rasullullah Saw daripada apa yang datangnya dari hawa (kecenderungan biologis; hasrat kebinatangan). Beliau tidak pernah bermain-main dengan suatu sabda, tidak juga mengikuti hal yang syubhat serta meninggalkan hukum yang telah jelas dipaparkan. -Kita semua memohon pelindungan kepada Allah Swt dari rongrongan hawa (kecenderungan biologis; hasrat kebinatangan). Kita semua memohon kepada Allah Swt pengampunan dan ‘Afiyah (selamat dari segala fitnah).-

Hal yang jelas tampak dari semua riwayat yang telah disebutkan di atas yang merupakan hal yang telah ditetapkan-adalah, bahwa para sahabat Ra telah mampu memahami beberapa perkara dari hadits Nabi Saw;

“Bahwa Allah Swt adalah Pencipta segala sesuatu. Allah Swt telah ada sebelum segala sesuatu dan tidak ada Dzat selain-Nya, juga tidak ada sesuatu apapun yang ada bersama-Nya saat itu.”

Tidak ada seorang sahabat Nabi Saw pun yang menafikan hal ini dari segi apapun. Allah Swt telah memberikan pemahaman kepada para sahabat, dimana mereka telah mendengar sabda Nabi Saw secara sempurna, mereka sangat memperhatikan dan memikirkan hal tersebut, mereka adalah orang-orang yang amanah. Begitu juga keadaan para generasi salaf yang merupakan generasi yang terbaik.

عَنْ أَبِي رَزِينِ الْعُقَيْلِي، قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ خَلْقَهُ؟ قَالَ: كَانَ فِي عَمَاءٍ مَا تَحْتَهُ هَوَاءٌ وَمَا فَوْقَهُ هَوَاءٌ، وَخَلَقَ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ

Diriwayatkan dari Abu Razîn Al Uqaili, ia berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullah, Dimana Tuhan kami, Allah Swt sebelum Dia menciptakan makhluk?” Rasulullah Saw bersabda, “Dia berada di ‘Amâ’, di bawahnya ada udara dan di atasnya juga udara. Dia menciptakan singgasana-Nya di atas air.”

Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dengan sanad hasan. Dia berkata: Ahmad berkata: Yazid berkata: Al ‘Amâ maksudnya adalah tidak ada yang bersama dengan-Nya.

Cukup kiranya engkau berpegang teguh pada pendapat At-Tirmidzi dan Ahmad bin Hanbal, yang keduanya merupakan Imam Ahlussunnah. Dimana guru Ahmad adalah Yazid bin Harun, seorang periwayat yang dijadikan hujjah.

Disebutkan dalam riwayat Ahmad,

ثُمَّ خَلَقَ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ

“Kemudian Dia menciptakan singgasana-Nya setelah itu.”

Ini merupakan penjelasan akan makna firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

وَ هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ فِيْ سِتَّةِ اَ يَّا مٍ وَّكَا نَ عَرْشُهٗ عَلَى الْمَآءِ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا ۗ وَلَئِنْ قُلْتَ اِنَّكُمْ مَّبْعُوْثُوْنَ مِنْۢ بَعْدِ الْمَوْتِ لَيَـقُوْلَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْۤا اِنْ هٰذَاۤ اِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ
wa huwallazii kholaqos-samaawaati wal-ardho fii sittati ayyaamiw wa kaana ‘arsyuhuu ‘alal-maaa-i liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amalaa, wa la-ing qulta innakum mab’uusuuna mim ba’dil-mauti layaquulannallaziina kafaruuu in haazaaa illaa sihrum mubiin

“Dan Dialah yang menciptakan langit dan Bumi dalam enam masa, dan ‘Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Jika engkau berkata (kepada penduduk Mekah), “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan setelah mati,” niscaya orang kafir itu akan berkata, “Ini hanyalah sihir yang nyata.””
(QS. Hud 11: Ayat 7)

Singgasana dan air merupakan dua makhluk Allah Swt. Dimana sifat Qudrah Allah Swt mampu menciptakan singgasana, air dan udara pada waktu yang bersamaan.

Kiranya sangat jelas bagimu akan kebenaran yang nyata secara akal dan naql. Inilah keyakinan semua ulama salaf. Selain dari pemahaman ini adalah pemahaman orang-orang bodoh dan menyesatkan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمُ الْحَـقُّ ۚ فَمَا ذَا بَعْدَ الْحَـقِّ اِلَّا الضَّلٰلُ ۚ فَاَ نّٰى تُصْرَفُوْنَ
fa zaalikumullohu robbukumul-haqq, fa maazaa ba’dal-haqqi illadh-dholaalu fa annaa tushrofuun

“Maka itulah Allah, Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka mengapa kamu berpaling (dari kebenaran)?”
(QS. Yunus 10: Ayat 32)

Dunia ini telah dipenuhi oleh orang-orang yang tidak paham akan hal ini- mereka mempersuram taklid dan orang-orang yang bertaklid dalam hal furu’iyyah dalam fikih, sementara orang orang yang bertaklid- mereka bertaklid dengan buruk dalam masalah akidah. Hal itu dapat kami buktikan; jika engkau bertanya kepada orang yang kau anggap pintar tentang keyakinannya bahwa Allah Swt, dialah Dzat yang tunggal, wujud-Nya benar-benar ada dengan sendirinya, bahwa keberadaan-Nya lebih dahulu dari semua makhluk, dimana pada masa azali tiada satu makhluk pun selain Dia; kelak orang itu akan tahu dan mengakui hal ini. Namun jika engkau katakan kepadanya, bahwa ada seseorang yang berkata, “Sungguh ada suatu dzat yang ada bersama-Nya pada masa azali,” dia kelak akan ragu atas apa yang kau utarakan.

Bisa jadi dia meyakini hal tersebut hanya dengan penyebutan hal-hal yang mampu menggelincirkan seseorang, hal ini pun dengan kesadaran dirinya bahwa ia bukanlah orang yang ma’shum Berapa banyak orang salaf terdahulu yang juga salah, bahkan para khalifah Ar-Rasyidîn Ra sekalipun, namun mereka sulit sekali menyalahkan seseorang, bahkan terkadang hal yang mereka yakini kebenarannya, itu bertolak belakang dengan apa yang diyakini para sahabat Rasulullah Saw, yang termasuk orang-orang yang mendapat hidayah, begitu juga para salafush-shalih, Apakah lantas mereka ini terhormat? Demi Allah, sungguh tidak!.

Kami telah beriman dengan apa yang datang pada kami tentang Allah Swt, yang sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah Swt. Kami juga beriman dengan apa yang datang dari Rasulullah Saw, bahwa jismiyyah-Nya (perwujudan Dzat Allah Swt), bukan bergantung pada makna yang berdasarkan imajinasi, gambaran dan dugaan belaka.

Apapun yang terlintas pada hatimu tentang gambaran Dzat yang Maha Agung, maka itu adalah hal yang tidak benar. Allah Swt berbeda dengan apa yang kau gambarkan!.

Terkait bahwa Dzat Allah Swt dekat, hal adalah kebenaran dalam pikiran orang-orang yang berakal. Mungkin hal termudah bagi seorang mukmin dalam membuang semua imajinasi dan dugaan yang tidak benar adalah, bahwa setiap mukmin yang memiliki iman yang benar, dia yakin bahwa Allah Swt adalah Pencipta tempat dan waktu dan segala sesuatu yang ada. Wujud-Nya Allah Swt tidak ada yang mendahului. Allah Swt ada dimana tidak ada waktu dan tempat. Dan Allah Swt masih tetap sama seperti sediakala setelah menciptakan waktu, tempat dan segala sesuatu yang ada, tidak ada yang berubah. Dzat-Nya terbebas dari kungkungan waktu, tempat dan segala apa yang ada.

Telah kami sebutkan bahwa independennya wujud Allah Swt sebelum penciptaan makhluk, dari kungkungan tempat, waktu, dimensi tempat, dimensi waktu adalah akidah para sahabat Rasulullah Saw dan semua ulama salafush-shâlih. Dimana hal inilah yang telah ditetapkan dengan akal sehat. Selain akidah ini adalah hal dusta yang tidak memiliki sandaran; baik dari akal maupun naql, maka jangan engkau melirik pendapat ini.

Sementara terkait bagaimana Allah Swt menciptakan makhluk? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

مَاۤ اَشْهَدْتُّهُمْ خَلْقَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَلَا خَلْقَ اَنْفُسِهِمْ ۖ وَمَا كُنْتُ مُتَّخِذَ الْمُضِلِّيْنَ عَضُدًا
maaa asy-hattuhum kholqos-samaawaati wal-ardhi wa laa kholqo angfusihim wa maa kungtu muttakhizal-mudhilliina ‘adhudaa

“Aku tidak menghadirkan mereka (Iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan Aku tidak menjadikan orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 51)

Maksud dari ayat ini adalah keumuman lafazh Tuhan yang paling suci, terkait masalah penciptaan dan penganugerahan, dimana Allah Swt mampu akan segala sesuatu.

Sebagaimana manusia, jika ia menginginkan sesuatu pada kepemilikannya yang khusus. Maka, keinginanmu dalam kepemilikanmu yang khusus inilah gambaran kecil yang mampu dijadikan hujjah bagimu dalam hal keimanan, yaitu dengan terlaksananya keinginan Dzat yang Tunggal dengan segala kesempurnaan yang la miliki dimanapun berada.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّمَاۤ اَمْرُهٗۤ اِذَاۤ اَرَا دَ شَیْئًـا اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
innamaaa amruhuuu izaaa arooda syai-an ay yaquula lahuu kung fa yakuun

“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.”
(QS. Ya-Sin 36: Ayat 82)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَسُبْحٰنَ الَّذِيْ بِيَدِهٖ مَلَـكُوْتُ كُلِّ شَيْءٍ وَّاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
fa sub-haanallazii biyadihii malakuutu kulli syai-iw wa ilaihi turja’uun

“Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya kamu dikembalikan.”
(QS. Ya-Sin 36: Ayat 83)

Sumber : BUKU SUFI MENGGAPAI ILAHI (AHL AL HAQQ AL ‘ARIFUNA BILLAAH) SYAIKH MUHAMMAD AL HAFIZ AT-TIJANY AL MISHRI