
Elsubha.com – Muqaddam Tijany : Ketulusan Muqaddam dan Bebasnya Murid Thariqah At-Tijaniyyah Dalam Suluk
Thariqah At-Tijaniyyah berbeda dengan thariqah lainnya, sebab thariqah kita thariqah yang satu dengan guru tunggal; yaitu Syaikh Ahmad At-Tijany Ra. Maka murid Tijany senantiasa tersambung dengan Syaikh Ahmad At-Tijany Ra hanya dengan bertalqin wiridan dari muqaddam yang memiliki izin yang benar dalam me-nalqin.
Ketersambungan ini tidak memiliki pengaruh apapun kecuali jika memenuhi ragam persyaratan; baik muqaddam yang me-nalgin maupun murid yang di-talqin. Izin thariqah ini terkadang bentuknya hanya berupa ijazah yang tertulis, terkadang juga dibarengi dengan madad nurani yang mampu menguatkan ruh sang murid, dimana ijazah ini tidak terpisah dari hakekat ijazah yang sebenarnya, sebagaimana pernah dinyatakan oleh Syaikh Ahmad At-Tijany Ra:
“Allah memberikan perhatian khusus pada seorang hamba dengan perhatian yang tidak diketahui asal muasal-nya, bahkan tidak bisa dinalar tatacara khususnya, indra sang murid pun tidak merasakan apa-apa; bahkan kehendak dan keinginannya pun tidak dapat mengkontrol ini; maksudnya adalah kondisi ini tidak ada campur tangan usaha sang murid.”
Syaikh Ahmad At-Tijany Ra melanjutkan: “Akan tetapi ini terjadi lantaran adanya sisi tajalli ilahi, dimana semua itu Allah yang berperan, dengan kekuatan Allah, pada hadrah Allah dan dengan berpaling dari selain Alllah;” inilah yang dimaksud dengan ma’rifat yang hakiki. Kemudian Allah menganugerahinya kucuran cahaya qudsi-Nya, yang membuatnya bisa membedakan secara sempurna dan merinci ragam martabat hakekat ilahiyyah lengkap dengan semua hukum dan perangkatnya. Kondisi inilah yang disebut dengan ‘al baga’ at-tâm wa shawul kamil. Kondisi awalnya disebut juga dengan, al fana al kamil wal mahwul kamil. Sang murid tidak dapat sampai pada kondisi al baga ini kecuali setelah fana sebelumnya, sesuai dengan dasar dan kaidahnya. ” (Jawahirul Ma’ani, vol. 2, hal. 95.)
Sayyidi ‘Ali Harazim Ra pernah berkata, “Muqaddam yang mensifati diri dengan sifat ini, maka ia dibenarkan menampakkan diri di hadapan banyak orang, dimana para murid bisa mengikutinya, menjalankan perintah dan menjauhi apa yang beliau larang dan tidak menentang beliau walaupun hanya dengan kalbunya. Jika sang murid telah melakukan ini, niscaya sang muqaddam akan memohon kepada Allah Swt agar mengaruniakan sang murid dengan futuh akbar dengan perantara Syaikh Ahmad At-Tijany Ra selaku suri tauladan dalam berthariqah. Orang yang tidak meminta futuh di luar jalur ini, maka akan tertolak.”
Dinukilkan dari Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, bahwa beliau pernah berkata, “Ketahuilah, bahwa futuh dan wushul kepada Allah Swt dalam lingkup ma’rifat, tidaklah berhasil kecuali ditangan orang-orang yang telah memiliki izin khusus. Ketika izin khusus ini tidak dimiliki, maka tidak akan ada futuh dan wushul kepada Allah, yang ada hanyalah jerih payah yang tak kunjung berbuah hasil. Begitu pula orang yang bermodalkan bacaan ragam buku tasawuf kemudian dia bersuluk menuju Allah; mengambil amalan, bersandar pada ragam buku saja, maka usahanya ini hanya akan berbuah lelah saja, dia tidak mendapatkan wushul dalam dunia ma’rifat pada Allah Swt, tetapi tetap mendapat kan nilai pahala bergantung pada keikhlasannya dalam beribadah.
Oleh karena itu siapapun muqaddamnya, ia harus tahu kadar dirinya dari penjelasan diatas, dia tidak boleh menjadi perantara diantara sang murid dengan Allah, atau memutus ikatan sang murid dengan Syaikh Ahmad At-Tijany Ra lantaran berharap apa yang dimiliki oleh sang murid Tijany.
Sayyidi An-Nazhifi pernah berkata, “Kondisi buruk yang terjadi pada seorang muqaddam thariqah At-Tijaniyyah adalah merampok dan menjauhkan ikhwan yang dia talqin dari thariqahnya dengan cara mendapatkan khidmah gratis dari mereka; baik itu lantaran sang ikhwan malu atau melakukan itu karena terpaksa. Juga menggiring mereka untuk memenuhi syahwat jiwa dan hawa nafsu syaithan. Juga membebani ikhwan dengan tugas keuangan meski hanya dengan bahasa tubuh, yang tujuannya menyembunyi kan diri dari tujuan sebenarnya. Jika ada ikhwan yang tidak mau melaksanakannya sang muqaddam akan berkata buruk dan bersikap buruk kepada ikhwan itu. Sungguh naif kondisi ini- Inna lillahi wa inna ilaihi roji’ûn.” Sementara Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَيٰقَوْمِ لَاۤ اَسْــئَلُكُمْ عَلَيْهِ مَا لًا ۗ اِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ وَمَاۤ اَنَاۡ بِطَا رِدِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ۗ اِنَّهُمْ مُّلٰقُوْا رَبِّهِمْ وَلٰـكِنِّيْۤ اَرٰٮكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُوْنَ
wa yaa qoumi laaa as-alukum ‘alaihi maalaa, in ajriya illaa ‘alallohi wa maaa ana bithooridillaziina aamanuu, innahum mulaaquu robbihim wa laakinniii arookum qoumang taj-haluun
“Dan wahai kaumku! Aku tidak meminta harta kepada kamu (sebagai imbalan) atas seruanku. Imbalanku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang yang telah beriman. Sungguh, mereka akan bertemu dengan Tuhannya, dan sebaliknya aku memandangmu sebagai kaum yang bodoh.”
(QS. Hud 11: Ayat 29)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ ۗ وَاِ نْ تُؤْمِنُوْا وَتَتَّقُوْا يُؤْتِكُمْ اُجُوْرَكُمْ وَلَا يَسْـئَــلْكُمْ اَمْوَا لَكُمْ
innamal-hayaatud-dun-yaa la’ibuw wa lahw, wa ing tu-minuu wa tattaquu yu-tikum ujuurokum wa laa yas-alkum amwaalakum
“Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau. Jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu, dan Dia tidak akan meminta hartamu.”
(QS. Muhammad 47: Ayat 36)
اِنْ يَّسْئَــلْكُمُوْهَا فَيُحْفِكُمْ تَبْخَلُوْا وَيُخْرِجْ اَضْغَا نَكُمْ
iy yas-alkumuuhaa fa yuhfikum tabkholuu wa yukhrij adhghoonakum
“Sekiranya Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu (agar memberikan semuanya) niscaya kamu akan kikir, dan Dia akan menampakkan kedengkianmu.”
(QS. Muhammad 47: Ayat 37)
Gambaran ini kini nyata di akhir zaman ini, para ikhwan telah dijauhkan dari hekekat berthariqahnya, para akhwat telah dimanfaatkan dan ikhwan telah dikuasai.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَا لَتْ رَبِّ اِنِّيْ وَضَعْتُهَاۤ اُنْثٰى ۗ وَا للّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ ۗ وَ لَيْسَ الذَّكَرُ كَا لْاُ نْثٰى ۚ وَاِ نِّيْ سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَاِ نِّيْۤ اُعِيْذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ
fa lammaa wadho’at-haa qoolat robbi innii wadho’tuhaaa ungsaa, wallohu a’lamu bimaa wadho’at, wa laisaz-zakaru kal-ungsaa, wa innii sammaituhaa maryama wa inniii u’iizuhaa bika wa zurriyyatahaa minasy-syaithoonir-rojiim
“Maka ketika melahirkannya, dia berkata, “Ya Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan.” Padahal Allah lebih tahu apa yang dia lahirkan, dan laki-laki tidak sama dengan perempuan. “Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak-cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 36)
Bahkan beliaupun berkata dengan mengutip di dalam ‘Awâriful Ma’arif. “Diantara adab seorang Syaikh (muqaddam) adalah terlepasnya diri dari harta murid dan khidmah nya, mengasihi sang murid karena Allah, sebab sang muqaddam mendapatkan mandat dari Allah Swt sehingga seharusnya memberikan manfaat dan meng-arahkan sang murid dengan tulus ikhlas karena Allah Swt, sebab apa yang diberikan muqaddam (berupa ilmu) itu merupakan shadaqah yang paling utama. Telah diriwayat-kan dalam sebuah riwayat,
مَا تَصَدَّقَ مُتَصَدِّقُ بِصَدَقَةٍ أَفْضَلَ مِنْ عِلْمٍ يَبْتُهُ فِي النَّاسِ
Tidaklah ada sedekah yang disedekahkan yang lebih utama daripada ilmu yang disebarluaskan pada manusia.
Allah Swt pun pernah mewanti-wanti prihal keikhlasan dan patutnya menjaga diri dari hal yang melenceng,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِـوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَآءً وَّلَا شُكُوْرًا
innamaa nuth’imukum liwaj-hillaahi laa nuriidu mingkum jazaaa-aw wa laa syukuuroo
“(sambil berkata), “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu.”
(QS. Al-Insan 76: Ayat 9)
Maka tidak seyogyanya seorang muqaddam meminta sedekah sebagai sebuah imbalan, kecuali karena beliau menyampaikan suatu ilmu dari Allah, sehingga beliau bisa menerima belas kasihan dari sang murid, atau lantaran kemaslahatan yang berbalik kepada sang murid, atau sang murid berkhidmah kepada muqaddam yang nantinya memberikan kemaslahatan kembali kepada murid, sebagai balasan yang mahal atas peran beliau.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فِى الدُّنْيَا وَا لْاٰ خِرَةِ ۗ وَيَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الْيَتٰمٰى ۗ قُلْ اِصْلَا حٌ لَّهُمْ خَيْرٌ ۗ وَاِ نْ تُخَا لِطُوْهُمْ فَاِ خْوَا نُكُمْ ۗ وَا للّٰهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِ ۗ وَلَوْ شَآءَ اللّٰهُ لَاَ عْنَتَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
fid-dun-yaa wal-aakhiroh, wa yas-aluunaka ‘anil-yataamaa, qul ishlaahul lahum khoiir, wa ing tukhoolithuuhum fa ikhwaanukum, wallohu ya’lamul-mufsida minal-mushlih, walau syaaa-allohu la-a’natakum, innalloha ‘aziizun hakiim
“tentang dunia dan akhirat. Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang anak-anak yatim. Katakanlah, “Memperbaiki keadaan mereka adalah baik!” Dan jika kamu mempergauli mereka, maka mereka adalah saudara-saudaramu. Allah mengetahui orang yang berbuat kerusakan dan yang berbuat kebaikan. Dan jika Allah menghendaki, niscaya Dia datangkan kesulitan kepadamu. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 220)
Maka ayat ini berkaitan dengan prihal pengakuan diri, “Menyerahlah maka engkau akan selamat, sibukkanlah dirimu, niscaya engkau meraup banyak kebaikan dan hati-hatilah jangan berlebihan karena engkau bisa menyesal kemudian.”
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ كُلٌّ يَّعْمَلُ عَلٰى شَا كِلَتِهٖ ۗ فَرَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ اَهْدٰى سَبِيْلًا
qul kulluy ya’malu ‘alaa syaakilatih, fa robbukum a’lamu biman huwa ahdaa sabiilaa
“Katakanlah (Muhammad), “Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing.” Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 84)
Terkait dengan perkataan Syaikh Ahmad At-Tijany Ra agar muqaddam menjauhi perkara duniawi, ini karena timbangan berdakwah pada Allah adalah mencukupkan diri dari harta yang ada di tangan orang yang didakwahi, inilah rukun yang paling besar bagi para muqaddam, bahkan yang wajib adalah tidak tamak dengan harta yang ada pada murid; yaitu dengan cara mengkorek-korek harta apa saja yang dimiliki ikhwan. Jika sang muqaddam masih tamak dengan harta yang dimiliki ikhwan, maka kala itu ia sedang diuji dengan ujian yang besar, oleh karenanya hendaknya ia segera kembali pada Allah Swt dan memohon pada-Nya agar Allah mengangkat ujian tersebut dengan terus ber-mujahadah mengelak dari perkara itu, sembari terus mengingat-ingat pesan Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, ‘Allah yang Maha memberi dan Maha menghalangi.. Namun jika jiwanya kalah bahkan beliau sampai meminta-minta, maka ketahuilah bahwa dia telah menyia-nyiakan timbangan dalam berthariqah dan dia telah durjana.”
Aku (Syaikh Ibrahim Shaleh Al Husaini) katakan: Ketahuilah, bahwa mayoritas muqaddam dalam thariqah ini senantiasa berpegang pada adab ini, sehingga mereka (para muqaddam) tidak meminta harta dari muridnya untuk dirinya atau untuk keluarganya kecuali segelintir orang yang telah mendapatkan ijazah taqdim dan mengambil corak berthariqah dari buku-buku, meski ia mampu menjelaskan ragam celetukan nyeleneh para sufi tetapi ia tidak memahami eksistensi berthariqah. Sementara orang yang Allah Swt anugerahi bisa ber-suhbah dengan Syaikh yang kamil, maka ia akan memiliki adab yang baik, niat yang tulus dalam mengikuti beliau dengan senantiasa berpegangan pada timbangan syari’at. Orang ini akan selamat dari penyakit yang parah ini.”
Syaikh An-Nazhifi pernah berkata, “Telah terjadi kerusakan pada orang yang menggantikan para masyayikh (anak keturunan Syaikh Ra) atau juga yang lainnya ketika mereka menginginkan harta (duniawi) sang murid padahal kondisi sang murid tidak menyukai itu.” Hal ini sesuai dengan realita yang terjadi di lapangan, naudzubillahi min dzalik. An-Nazhifi meneruskan, “Orang yang berbaur dengan semisal mereka, niscaya terkena penyakit parah ini; yaitu bagi para muqaddam yang menjadikan wiridan thariqah Tijaniyyah sebagai jaring dan umpan.”
Aku (Syaikh Ibrahim Shaleh Al Husaini) katakan: Bahwa semua ulasan diatas hanya bagi orang-orang yang mengaku-ngaku muqaddam dalam thariqah At-Tijaniyyah. Sebab semua muqaddam Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, dimanapun kamu temui, hidayah mereka adalah hidayah nya Nabi Saw, mereka seyogyanya menerima siapapun yang datang kepadanya tanpa memandang apa yang dimiliki ikhwan tersebut. Para muqaddam yang kami suhbahi, mereka semua ada pada maqam ini. Kemudian sang murid pún seyogyanya memperbaiki niatan ketika memberikan hadiah kepada syaikh (muqaddamnya) atau kepada ikhwan lainnya atau juga kepada orang lain secara umum, dengan berkeyakinan, bahwa yang memberi itu adalah Allah, dia hanyalah perantara sampainya nikmat yang sedikit tersebut; juga senantiasa ingat bahwa syaikhnya (muqaddamnya) adalah perantara dia menuju Allah Swt dalam prihal keimanan dan keyakinan, juga perantara dirinya menuju Allah Swt dalam kebaikan apapun. Lebih khusus dari itu, ia pun harus yakin bahwa muqaddamnya akan menerima hadiah dan kelak akan memberikannya kepada yang lebih berhak menerimanya. Singkat kata, seorang murid Tijany haruslah paham seluk-beluk berinfaq, dia tahu bahwa harta yang ada di tangannya itu adalah amanah, pemilik sebenarnya adalah Allah dan (Allah)lah yang lebih Dermawan, yang memberi kepada orang yang lebih berhak sesuai haknya.
Syaikh An-Nazhifi berkata:
مَا أَفْلَحَ مَنْ أَفْلَحَ إِلَّا بِصُحْبَةِ مَنْ أَفْلَحَ # وَمَا فَسَدَ مَنْ فَسَدَ إِلَّا بِصُحْبَةِ مَنْ فَسَدَ
اِخْتَرْ لِصُحْبَتِكَ مَنْ أَطَاعَ # إِنَّ الطَّبَاعَ تَسْرِقُ الطَّبَاعَ
“Tidaklah untung orang yang beruntung kecuali ia bersuhbah dengan orang yang beruntung, # juga tidaklah rusak orang yang rusak (buruk) kecuali lantaran bersuhbah dengan orang yang rusak (buruk).
Pilihlah orang taat yang kau suhbahi # sungguh tabiat seseorang akan mencuri tabiat lainnya.”
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَهُمْ يَقْسِمُوْنَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۗ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَّعِيْشَتَهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَـتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
a hum yaqsimuuna rohmata robbik, nahnu qosamnaa bainahum ma’iisyatahum fil-hayaatid-dun-yaa wa rofa’naa ba’dhohum fauqo ba’dhing darojaatil liyattakhiza ba’dhuhum ba’dhong sukhriyyaa, wa rohmatu robbika khoirum mimmaa yajma’uun
“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”
(QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 32)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لٰكِنِ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا نُزُلًا مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗ وَمَا عِنْدَ اللّٰهِ خَيْرٌ لِّلْاَ بْرَا رِ
laakinillaziinattaqou robbahum lahum jannaatung tajrii ming tahtihal-an-haaru khoolidiina fiihaa nuzulam min ‘ingdillaah, wa maa ‘ingdallohi khoirul lil-abroor
“Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, mereka akan mendapat surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya sebagai karunia dari Allah. Dan apa yang di sisi Allah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 198)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاِ ذْ قُلْتُمْ يٰمُوْسٰى لَنْ نَّصْبِرَ عَلٰى طَعَا مٍ وَّا حِدٍ فَا دْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِۢتُ الْاَ رْضُ مِنْۢ بَقْلِهَا وَقِثَّـآئِهَا وَفُوْمِهَا وَعَدَسِهَا وَ بَصَلِهَا ۗ قَا لَ اَتَسْتَبْدِلُوْنَ الَّذِيْ هُوَ اَدْنٰى بِا لَّذِيْ هُوَ خَيْرٌ ۗ اِهْبِطُوْا مِصْرًا فَاِ نَّ لَـکُمْ مَّا سَاَ لْتُمْ ۗ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَا لْمَسْکَنَةُ وَبَآءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ ۗ ذٰلِكَ بِاَ نَّهُمْ كَا نُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰ يٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيّٖنَ بِغَيْرِ الْحَـقِّ ۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَا نُوْا يَعْتَدُوْنَ
wa iz qultum yaa muusaa lan nashbiro ‘alaa tho’aamiw waahiding fad’u lanaa robbaka yukhrij lanaa mimmaa tumbitul-ardhu mim baqlihaa wa qissaaa-ihaa wa fuumihaa wa ‘adasihaa wa basholihaa, qoola a tastabdiluunallazii huwa adnaa billazii huwa khoiir, ihbithuu mishrong fa inna lakum maa sa-altum, wa dhuribat ‘alaihimuz-zillatu wal-maskanatu wa baaa-uu bighodhobim minalloh, zaalika bi-annahum kaanuu yakfuruuna bi-aayaatillaahi wa yaqtuluunan-nabiyyiina bighoiril-haqq, zaalika bimaa ‘ashow wa kaanuu ya’taduun
“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata, “Wahai Musa! Kami tidak tahan hanya (makan) dengan satu macam makanan saja maka mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia memberi kami apa yang ditumbuhkan bumi, seperti sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah.” Dia (Musa) menjawab, “Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik? Pergilah ke suatu kota, pasti kamu akan memperoleh apa yang kamu minta.” Kemudian, mereka ditimpa kenistaan dan kemiskinan dan mereka (kembali) mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 61)
فَمَنْ كَانَ هَكَذَا فَدَعْهُ فَإِنَّه # مُرِيدٌ وَشَيْطَانٌ مُضِلُ الْخَلَائِقِ
Barangsiapa yang kondisinya seperti ini maka tinggalkanlah sesungguhnya # dia adalah murid dan syeithan penyesat manusia.
Catatan Penting:
Aku pernah mendengar dari orang yang saya percayai, dia berkata: “Aku pernah membuat janji dengan salah seorang cucu Syaikh Ra yang terkenal dengan keilmuan dan kebaikannya, bahwa suatu ketika ia datang ke negeri kami dan orang-orang pun berkumpul untuknya ditempat yang kerap disebut dengan “Ma’ruf Asy-Syaikh”, namun kenyataannya disana orang-orang mengkerdilkan nya dan juga mengucilkannya, sampai-sampai beliau mendo’akan penduduk negeri itu dengan neraka wail, dengan kebinasaan, dengan tidak berkembang, tidak ada kebaikan dan tidak ada keberkahan didalamnya. Kemudian datang padaku dengan kondisinya yang seperti itu, bertepatan aku sedang membaca kitab Shahih Al Bukhari, diapun berkata, “Sampai dimana bacaanmu hai fulan?” Saya pun berkata, “Nabi Daud memakan dari buah kerja tangannya;” seraya menjelaskan hadits tersebut, dengan demikian beliau pun terkejut, tertegun dan kembali sadar dari kelalaiannya, dan kembali menerima kebaikan dari orang lain.
Didalam kitab Al ‘Uhûd Al Muhammadiyyah disebutkan, “Tidak diragukan lagi bagi orang yang mengaku sebagai Syaikh (Muqaddam) dalam sebuah thariqah haruslah menampakkan keacuhannya terhadap dunia dan meninggal kan makanan lezat; meninggalkan baju yang bagus, meninggalkan kasur yang tebal dan meninggalkan kendaraan bermerek, hal tersebut agar tidak diikuti oleh orang-orang yang mengikutinya, yang membuat mereka binasa, sebab mereka tidak lagi bisa berpikir berapa sedekah yang bisa diberikan dengan penampilan beliau yang seperti itu. Sebab bisa jadi mereka mendustai apa yang dia ajak ketika mereka melihat perbuatan yang bertentangan dengan perkataan mereka. Seorang Syaikh haruslah lebih banyak begadang malam dibandingkan muridnya, paling banyak lapar, sedikit candaan dan banyak bersedekah, hal tersebut agar dia menjadi sosok imam yang diikuti perbuatannya. Sementara jika Syaikh (muqaddam) tersebut lebih banyak tidur, lebih banyak makan hingga perutnya buncit, dia lebih banyak bercanda dan paling sedikit bersedekah dan melakukan kebaikan, maka para murid akan melihat diri mereka dalam kemudharatan, dengan demikian kepemimpi-nannya tidaklah dibenarkan, ia akan ditolak dari martabat syaikh dan pengakuannya dengan hal tersebut menjadi gugur tanpa adanya bukti.
Syaikh Zarruq pernah berkata, “Jika engkau melihat ada orang yang mengaku-ngaku sebagai Syaikh (muqaddam) dengan modus lima hal ini, maka jauhi dia; Pertama, pro total kepada pemerintah atau kontra total dengan pemerintah; kondisi pertama dia perlu dicurigai dan kondisi kedua sebab dia telah melakukan perkara yang tidak berguna. Kedua, nafsunya lebih dominan, dimana dia senantiasa mentakwilkan demi syahwat dan kepentingan dirinya. Ketiga, memperbanyak perbendaharaan duniawi dengan bergumul bersama mereka serta mengikti jejak langkah mereka, kecuali ini atas dasar kucuran anugerah Allah. Keempat, cinta kekuasaan, tandanya adalah dengan meminta dukungan dari orang lain untuk dirinya pada perkara diluar perkara agama dan tidak menampakkan perkara syari’at. Kelima, Obral perkataan sembari mencerca teman dan saingannya dalam thariqah, yang ujungnya agar orang memuji dirinya.”
Aku (Syaikh Ibrahim Shaleh Al Husaini) berkata: Betapa besar timbangan thariqah yang disebutkan Syaikh Zarruq, diantara sebab terbesar gambaran sifat diatas adalah bersandar pada nasab keturunan dengan kondisi bodoh akan ragam ilmu syari’at dan ilmu hakekat, serta mencukupkan diri mengambil ajaran tasawuf dari buku tanpa merujuk kembali kepada para pakarnya atau tidak men-suhbahi para pakar untuk bisa mengejawantahkan hakekat jadzab tanpa bersuluk. Orang yang tidak men-suhbahi orang yang ‘Arifbillah untuk memastikan ragam martabat kamal al baqa’, maka ia belum pantas menjadi orang yang akan memberikan bimbingan thariqah, sekalipun dia mengaku-ngaku atau orang lain mengakui untuk dirinya. Oleh karena itu, para pembesar thariqah memberikan persyaratan adanya ijazah yang sempurna setelah sebelumnya ber-suhbah sekian waktu agar yang bersangkutan bisa mendapatkan futuh yang langsung diberikan Allah, tanpa diawali dengan usaha dan ikhtiyar diri. Inilah yang sejak awal dibahas oleh Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pada pembahasan awal, bahasan ini hanya untuk orang yang percaya saja, sedangkan orang yang menentang pembahasan diatas, maka baginya nasehat sudah tidak berguna lagi, sebab Allah Swt ingin menyesatkan ia.
Disebutkan dalam kitab Durarul Ghawash, “Aku bertanya tentang orang-orang yang bertujuan mengajak bersuluk orang-orang fakir di Mesir, dengan kondisi yang bersangkutan bodoh akan hukum syari’at, apakah ini menciderai perangainya?” Beliau menjawab, “lya, tidak seyogyanya Al Faqir menampakkan diri didalam thariqah kecuali ia piawai dengan ilmu syari’at; baik yang berkenaan dengan sisi global, sisi penjelasan, sisi nâsikh mansûkh, sisi khas dan ‘Âm, dimana ketika dia ada pada suatu kelompok masyarakat, maka masyarakat tersebut akan merasa cukup dengan keilmuan yang dia miliki.
Jika ia belum sampai pada taraf ini, maka ia belum termasuk rijal yang kamil, ia belum boleh menampakkan diri dalam thariqah. Dirinya seperti kondisi pelajar yang mengajarkan orang awam ragam perkara agama yang nampak sementara sebenarnya di dalam thariqah dia belum mumpuni, sebab perkara thariqah merupakan perkara ghaib yang tidak dapat diketahui oleh panca indera. Inilah yang membedakan seorang faqir dari ahli fikih; yaitu seorang faqir akan menguasai ragam hukum syari’at dan mengetahui ragam rahasia di dalamnya. Wallahu a’lam.”
Perkara diatas juga berkaitan dengan sisi keutamaan seseorang yang memiliki pengetahuan agama yang dalam, ketika ia ditanya tentang banyak Syaikh yang menampakkan diri; mereka duduk di zawiyah-zawiyah mereka tanpa adanya izin (ijazah) dari guru-guru mereka; Beliau menjawab, “Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ يٰۤـاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَا لَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَآءٍۢ بَيْنَـنَا وَبَيْنَكُمْ اَ لَّا نَـعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْــئًا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَا بًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِ نْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَ نَّا مُسْلِمُوْنَ
qul yaaa ahlal-kitaabi ta’aalau ilaa kalimating sawaaa-im bainanaa wa bainakum allaa na’buda illalloha wa laa nusyrika bihii syai-aw wa laa yattakhiza ba’dhunaa ba’dhon arbaabam ming duunillaah, fa ing tawallau fa quulusy-haduu bi-annaa muslimuun
“Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama yang lain tuhan-tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling, maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang muslim.””
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 64)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْۤ اَدْعُوْۤا اِلَى اللّٰهِ ۗ عَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَاۡ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ ۗ وَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَاۤ اَنَاۡ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
qul haazihii sabiiliii ad’uuu ilalloh, ‘alaa bashiirotin ana wa manittaba’anii, wa sub-haanallohi wa maaa ana minal-musyrikiin
“Katakanlah (Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.””
(QS. Yusuf 12: Ayat 108)
Wassalamu’alaikum… wahai para syaikh yang bermunculan pada abad ke 10 ini, yang membuat majelis tanpa adanya izin ilahi (tidak adanya isyarat dari Allah), ucapan selamat bagimu sebagai sunahnya Islam yang wujudnya keridhaan. Aku mohon pada Allah agar Allah membantu kalian untuk senantiasa dapat menggapai maqam iman atau maqam semisalnya di zaman ini, zaman yang mana makanan harus diperoleh dengan mempertaruhkan nyawa. Ketahuilah bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang mampu menasehati dirinya, Allah Swt tidak memberikan nasehat pada yang lainnya; diapun menjaga kehormatan dirinya untuk tidak makan di rumah ikhwan dalam acara hajatan biasa, dia tidak mengumpulkan banyak orang yang kemudian dia beri makan mereka untuk merendahkan mereka, dia tidak melengkapi makan malam bersama para ikhwan kecuali dia beli sendiri.”
Sayyidi Ibrahim Al Matbuli Ra pemah berkata, “Demi Allah, Setiap faqir (salikin menuju Allah) yang tidak memakan makanan orang yang memberinya, maka akan memberikan keberkahan pada yang bersangkutan sepanjang tahun, tetapi jika ia memakannya, maka ia akan menanggung bala tahun itu. Sungguh jiwa kalian kini merongrong untuk menjadikan kalian orang yang terkenal; mengatakan ragam perkara yang kalian bukan ahlinya, kalian menganggap baik ragam kondisi jiwa yang menampakkan sisi syaithan dan ragam perkara yang ujungnya berupa dugaan dan khayalan dengan perantara istidraj. Allah butakan kalbu kalian dari jalan hidayah dan condongkan jiwa kalian pada jalan kedurjanaan sampai itu nampak pada wajah kalian. Maka sadarlah wahai ikhwan sebelum kalian hancur, bertobatlah pada Allah Swt daripada memakan makanan yang haram dan mengandung syubhat. Bekerja dan makanlah dari hasil jerih payah tangan kalian, jangan kalian makan dari agama kalian, sembunyikan diri kalian sampai Allah mendesakmu untuk muncul; baik itu dengan perintah Rasulullah Saw secara yaqzhah dan musyafahah, atau dengan izin dari seorang ‘Arifbillah yang telah mengetahui seluk beluk thariqah. Ketahuilah, bahwa orang yang menantang ragam sifat Rububiyyah-Nya Allah untuk hawa-nya dan qana’ah dengan apa yang nampak pada sisi yang nampak dan tersembunyi dari dirinya; berupa percakapan, ragam pengetahuan, ragam kasyaf, pandang-an, bisikan jiwa dan sifat syeithan, maka Allah tidak memiliki kepentingan padanya. Kami memohon perlindungan kepada Allah dari kesesatan setelah ma’rifat, dan dari pengingkaran setelah adanya keimanan, tiada daya dan upaya melainkan dari Allah semata.
Aku (Syaikh Ibrahim Shaleh Al Husaini) berkata: Inilah yang disebutkan oleh Syaikh Asy-Sya’rani terkait fuqara diabad ke-10, beliaulah yang menggambarkannya secara langsung tentang orang yang mengaku-ngaku ahli dalam thariqah pada setiap zaman dan di tempat manapun.
