
Elsubha.com – Adab Murid Tijany : Adab Murid Kepada Muqaddam Thariqah At-Tijaniyyah
Adab seorang ikhwan terhadap Syaikhnya ada banyak: Pertama, mencintai Syaikh/muqaddam dengan tulus, kecintaan yang tidak bercampur dengan sikap munafik. Mencintai Syaikh setelah mencintai Allah Swt dan rasul-Nya. Meyakini kewalian dan keabsahan beliau dalam berkhidmah pada hadrah Allah, dimana beliau adalah sosok yang Arifbillah. Perkataan ini perlu dipastikan ada sebelum seorang murid bertalqin.
Sedangkan jika sang murid melanggar syarat mancintai Syaikh ini setelah talqin, maka ini menunjukkan sikap munafik dan juga berpaling dari Allah, terkecuali jika ada perkataan, perbuatan seorang Syaikh/muqaddam yang menafikan kehormatan agama Islam dan pondasinya, maka jika ini kondisinya sang ikhwan malah tidak boleh berada pada posisi dimana ia melanggar dan menyelisihi syariat. Jika sang muqaddam mengaku wali atau memiliki derajat Quthbaniyyah, maka dia adalah pendusta dan dajjal, sang murid tidak boleh melegitimasi kebatilan tersebut. Jika tidak, maka diapun akan ikut berdosa dan mendapatkan jatah kesesatan tersebut.
Diantara adab murid kepada Syaiknya adalah melaksanakan perintah beliau dan menjauhi larangannya dengan syarat bahwa perintah dan larangannya masih dalam batasan syari’at.
Didalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, disebutkan bahwa Mu’adz bin Jabal Ra berkata, “Wahai Rasulallah, bagaimana pendapatmu jika pada kami ada pemimpin yang tidak mengindahkan sunnah mu, tidak melaksanakan perintahmu, apa yang baginda perintahkan terkait perkara mereka?” Rasulullah Saw bersabda,
لَا طَاعَةَ لِمَنْ لَمْ يُطِعِ اللَّهَ
“Tidak ada ketaatan bagi orang yang belum menaati Allah.” (HR. Ahmad; dan Abu Ya’la)
Diriwayatkan dari Abu ‘Atabah Al Khulani, dia berkata: Rasulullah Saw bersabda,
لَا تُحَرِّجُوْا أُمَّتِي ثَلَاثَ مَرَّاتٍ اللَّهُمَّ مَنْ أَمَّرَ أُمَّتِي بِمَا لَمْ تَأْمُرَهُمْ بِهِ أَوْ آمُرُهُمْ فَإِنَّهُمْ مِنْهُ فِي حِلِّ
“Janganlah kalian melukai ummatku -beliau sebutkan ini sebanyak tiga kali-; Ya Allah barangsiapa yang memerintah kan ummatku dengan perkara yang belum kami perintahkan pada mereka, maka sungguh mereka terbebas dari itu. ” (HR. Ath-Thabrani dalam Musnad Asy-Syamiyylin.)
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, “Sungguh akan ada pada kalian pemimpin yang mengajak pada As-Sunnah seperti ini. Andai kalian meninggalkannya, mereka menjadikannya seperti ini. Andai kalian meninggalkannya, mereka datang dengan membawa bencana yang besar. ” (HR. Ath-Thabrani)
Diriwayatkan dari ‘Umar bin Hashin secara marfu, “Tidak ada ketaatan pada makhluk dalam kemaksiatan pada Allah.” (HR. Al Hakim; Ahmad dalam Al Musnad Ini merupakan hadits yang masyhur)
Maka seorang murid tidak boleh menaati para pembuat kebatilan, tetapi dia harus menaati Ahlul Haq dan beradab baik kepada mereka.
Diantara adab murid kepada Syaikhnya: mengutamakannya dengan segala sesuatu. Sikap kita mengutamakan Syaikh bukanlah perkara mungkar yang dilarang seperti yang diyakini oleh sebagian orang-orang bodoh. Agama kita; agama Islam memerintahkan kita untuk mengutamakan sesuatu, baik yang diutamakan adalah seorang Syaikh atau bukan.
Sikapmu mengutamakan Syaikh memiliki keistime waan tersendiri, hal ini nampak dari kaedah tasawuf yang sudah terkenal; tentang sikap ihsan, setiap kali sikap ihsan ini datang dari orang yang tedekat, maka itu akan lebih utama dan mulia.
Seorang murid yang jujur jiwanya menjadikan Syaikhnya lebih dekat pada dirinya daripada setiap orang yang ada terkecuali Allah dan rasul-Nya. Sebab seorang Syaikh terkadang ditaati pada perkara syari’at yang tidak ditaati oleh kedua orang tua murid. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاِ نْ جَاهَدٰكَ عَلٰۤى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَا حِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖ وَّا تَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَا بَ اِلَيَّ ۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُ نَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
wa ing jaahadaaka ‘alaaa ang tusyrika bii maa laisa laka bihii ‘ilmung fa laa tuthi’humaa wa shoohib-humaa fid-dun-yaa ma’ruufaw wattabi’ sabiila man anaaba ilayy, summa ilayya marji’ukum fa unabbi-ukum bimaa kungtum ta’maluun
“Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beri tahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
(QS. Luqman 31: Ayat 15)
Sementara jika orang tua mengajak anaknya dengan ajakan yang menafikan ilmu, ma’rifat dan tauhid, maka ikhwan tidak perlu menjawab ajakan tersebut apalagi ikhwan sampai menuruti ajakan tersebut, tetapi ikhwan harus taat pada Syaikh dan ustadznya dalam ajakan kebaikan yang berupa ajakan pada ilmu, pada ma’rifat dan pada tauhid serta ragam perkara agama yang dibutuhkannya. Perkara tidak menuruti ajakan orangtua yang menafikan ilmu, ma’rifat dan tauhid, maka ini tidak termasuk ke dalam kategori durhaka pada orang tua jika memang ajakan orang tua itu menafikan hukum Allah Swt. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
مَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِهٖۤ اِلَّاۤ اَسْمَآءً سَمَّيْتُمُوْهَاۤ اَنْـتُمْ وَ اٰبَآ ؤُكُمْ مَّاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ بِهَا مِنْ سُلْطٰنٍ ۗ اِنِ الْحُكْمُ اِلَّا لِلّٰهِ ۗ اَمَرَ اَ لَّا تَعْبُدُوْۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ ۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ وَلٰـكِنَّ اَكْثَرَ النَّا سِ لَا يَعْلَمُوْنَ
maa ta’buduuna ming duunihiii illaaa asmaaa-ang sammaitumuuhaaa angtum wa aabaaa-ukum maaa angzalallohu bihaa ming sulthoon, inil-hukmu illaa lillaah, amaro allaa ta’buduuu illaaa iyyaah, zaalikad-diinul-qoyyimu wa laakinna aksaron-naasi laa ya’lamuun
“Apa yang kamu sembah selain Dia, hanyalah nama-nama yang kamu buat-buat, baik oleh kamu sendiri maupun oleh nenek moyangmu. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang hal (nama-nama) itu. Keputusan itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
(QS. Yusuf 12: Ayat 40)
Ayat diatas menetapkan bagi kita bahwa perkara hukum adalah milik Allah Swt semata, tidak ada satu makhluk pun yang bisa ikut campur didalamnya.
Diantara adabnya seorang murid terhadap Syaikhnya adalah senantiasa menjaga perjanjian thariqah dan rahasia diri kepada Syaikhnya, tidak mencari-cari kesalahan beliau, sebab beliaupun adalah manusia biasa yang tidak ma’shum dan juga bukan tuhan. Terkadang beliau ber-ijtihad pada suatu perkara dan ijtihad-nya benar, bahkan terkadang ijtihad-nya juga salah, maka apa yang benar itu dari Allah dan yang salah itu dari syaithan dan rongrongan jiwa, namun beliau tetap mendapat pahala atas ijtihad-nya itu, jika memang kondisi yang terjadi adalah seperti apa yang kami gambarkan.
Diantara adab murid lainnya kepada Syaikhnya adalah tidak menyebutkan ragam hal yang berkaitan dengan musuh atau orang yang membenci beliau, sebab bisa jadi beliau merasa terluka ketika mendengar perkataan tersebut dan hati beliau terkotori.
Diantara adabnya seorang murid terhadap Syaikhnya adalah senantiasa bersama beliau pada semua perkara, meski semua ahli kebatilan membenci beliau. Maka jangan sampai sang murid berpaling dari kecintaan pada beliau dan senantiasa menghormati beliau serta tetap percaya dengan kehormatan beliau dari sisi yang nampak (yang berupa perbuatan) maupun sisi bathin (yang tersimbol pada kecintaan diri pada beliau).
Sang murid harus meyakini bahwa adab yang dia tonjolkan adalah adab yang diridhai Allah dan rasul-Nya, sehingga jika tidak demikian maka diapun tidak akan melakukannya.
Niatkan pula dalam hati bahwa adabmu kepada Syaikhmu itu adalah dalam rangka menunaikan perintah syari’at dengan menonjolkan akhlak yang baik. dia harus mensimbolkan cinta karena Allah dan membenci karena Allah, menghormati orang lain sesuai derajatnya, membenci orang yang dibenci syaikhnya lantaran kebatilan yang dia lakukan dan mencintai orang yang dicintai Syaikhnya lantaran kebenaran yang dia lakukan. Diapun tidak boleh membenci kaum muslimin yang tidak mau masuk ke dalam thariqahnya. Yang perlu dia ketahui adalah bahwa ada nash yang memerintahkan kita untuk memcintai semua kaum muslimin meski berbeda mazhab dan tingkatannya, sebab banyak kaum muslimin yang terpleset dari hal ini sehingga mereka beranggapan bahwa kelompoknya lebih istimewa dari yang lainnya, seolah-olah mereka bukanlah satu agama dan satu kitab dengan kelompok tersebut dan ini tidak diperbolehkan dalam Islam.
Jangan engkau hiraukan tingkah laku orang-orang bodoh dan ragam ungkapan yang ingin mencela karena mereka sejatinya bukanlah orang yang memiliki keimanan yang sempuma, sebab seorang mukmin yang memiliki keimanan sempurna bukanlah orang yang suka mencela, melaknat orang lain, buruk akhlak dan kotor perkataannya. Dia seharusnya malah mampu menyelamatkan muslim lain dari keburukan tangan dan lisannya, tetangganya merasa nyaman dengan keberadaannya, sebab sosok seperti ini yakin bahwa, “Mencela seorang muslim adalah bentuk kefasikan sementara membunuhnya adalah kekufuran.”
Diantara adab seorang murid kepada gurunya adalah mempercayai berita yang datang dari sang guru dan tidak mendustainya serta bersikap penuh praduga ketika berita tersebut bersebrangan dengan pola keilmuan guru yang telah diketahui.
Tidak mendustakan berita yang datang dari beliau baik ketika serius maupun ketika bercanda, sebab itu bisa menjatuhkan sang guru dari pandangan Allah Swt
Diantara adab seorang murid pada Syaikhnya adalah tidak menyembunyikan perkara yang tidak menimbulkan kemudharatan dan tidak mengabarkan perkara yang tidak penting bagi beliau, tidak pula mengabarkan pada beliau perkara yang tidak nyaman untuk beliau dengar seperti celaan musuh beliau atau celaan orang yang ingkar terhadap beliau. Sang murid harus mengabarkan perkara yang dia telah niatkan kuat, seperti dia ingin melakukan perjalanan tertentu, atau keinginan kuatnya untuk menikah atau ragam perkara yang terkait dengan syari’at agama yang dianjurkan dan membawa manfaat. Sang murid hendaknya melaksana-kan perintah dari sang guru, meskipun kadang kala perintah itu menyelisihi para pakar fikih madzhab tetapi masih selaras dengan Al Qur’an dan As-Sunnah. Sebab, masyarakat membangun kontur keberagamaan mereka dengan mengikatkan diri dengan madzhab fikih yang ada. Masyarakat berpegang teguh pada madzhab yang ada sesuai dengan dalil syar’i yang benar, dengan kondisi mereka mengetahui bahwa mengikuti langkah ulama merupakan perkara yang diperbolehkan dalam agama, dan bukan perkara yang wajib secara nalar maupun syari’at, sebagaimana perkara ini dijelaskan panjang lebar dalam buku-buku ushul fikih. robub
Diantara adab murid kepada Syaikhnya (gurunya) adalah berupaya dengan apapun yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan guru selagi tidak bertentangan dengan perintah syari’at. Sang guru tidak perlu dilebihkan dari yang lainnya, baik orang ora yang memiliki derajat lebih tinggi atau yang memiliki derajat yang lebih rendah dari beliau, sebab sikap takabbur itu bagian dari dosa besar. Artinya menempatkan posisi beliau haruslah secara proporsional sesuai dengan maqam yang beliau miliki.
Diantara adab murid kepada Syaikhnya (gurunya) sangatlah banyak yang muaranya adalah bahwa sang guru itu lebih berhak memperoleh kebaikan dibanding dengan diri sang murid, sang murid menyakini ini sesuai dengan pengetahuan dirinya bahwa perilaku demikian adalah akhlak terpuji yang diajarkan dalam agama, dimana setiap muslim harus berbuat baik pada yang lainnya. Inilah semua adab antara murid dengan guru suluk.
Sedangkan bagi muqaddam yang mentalqinkan thariqah, maka beliau patut ditaati selain dengan ketaatan diatas. Seorang murid sudah seyogyanya berakhlak baik sesuai dengan batasannya, tidak keluar dari batasan keseimbangan dalam menilai dan berakhlak sampai keluar dari kebiasaan umum yang berlaku di masyarakat, seperti yang kita saksikan hari ini.
Sementara adab duduknya seorang murid di hadapan para Syaikh adalah kebalikan dari apa yang sering kami lihat pada sebagian murid; mereka duduk dalam posisi seperti orang mati, sebab ini bukanlah bagian dari Sunnah Nabi Saw bahkan ini juga bukan ajaran agama. Cek kembali buku kami yang berjudul Mizanut-Tafawut bainat-Tawadhu’ wat-Tamawut, aku telah jelaskan disana tentang posisi duduk seperti ini dengan kondisi duduk yang mensimbolkan orang yang khusyuk menyimak pelajaran atau ragam pembelajaran dari Rasulullah Saw.
Diantara adab murid kepada Syaikhnya (gurunya) adalah berbicara setelah diizinkan oleh beliau. Berbicara seperlunya sehingga tidak membuat beliau bosan, tidak mengajak beliau memikirkan suatu perkara mendalam, sehingga menjadi beban pikiran beliau. Meminta nasehat kepada beliau ketika bermusyawarah tentang suatu perkara.
Diantara adab murid kepada Syaikhnya (gurunya) adalah tidak memata-matai aib ikhwan lain untuk diadukan kepada beliau agar terjadi fitnah diantara mereka dengan Syaikh (guru). Tidak diperbolehkan pula sang guru menanyakan aib sebagian ikhwan lainnya. Sebab ketika ‘Utban bin Malik menyebutkan keburukan Malik bin Dakhsyim dihadapan Nabi Saw, yang saat itu ada sebagian kaum anshar, maka Nabi pun tidak sepakat dengan apa yang dikatakan oleh ‘Utban bin Malik dan malah bersabda,
إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ
“Sungguh Allah Swt telah mengharamkan jasad orang yang pernah mengucapkan, ‘Tiada Ilah yang patut disembah melainkan Allah’, yang itu tulus ikhlas karena mengharap ridha Allah untuk tersentuh api neraka.”
Ini merupakan pengajaran Nabi Saw bagi umatnya. Begitu pula dengan peristiwa hadisul ifki, dimana Shafwan bin Mu’aththal menyebutkan perihal buruk tentang ‘Aisyah, beliau tidak marah dan tidak pula mendendam. Nabi Saw tidak menoleh pada ucapan tersebut, bagi beliau Saw cukup meyakini keimanan lelaki tersebut dan terbebasnya lelaki itu dari tuduhan.
Contoh diatas memberikan pelajaran bahwa soerang Syaikh tidak boleh memata-matai muridnya, tidak mencari-cari kesalahan sang murid dan tidak membenarkan begitu saja berita yang diberitahukan orang lain mengenai muridnya itu. Sang guru boleh saja menerima berita tersebut yang lalu ditanyakan kembali kepada yang bersangkutan mengenai kebenarannya; jika sang murid mengakuinya, maka sang guru memerintahkannya untuk bertobat, beristighfar dan melakukan ragam perkara yang sudah selazimnya dilakukan. Jika sang murid meminta maaf atas perbuatan tersebut, maka sang guru harus memaafkannya.
Diantara adab kepada Syaikhnya adalah tidak bertengkar dengan murid gurunya dan tidak membenci mereka, tetapi seharusnya dia mencintai mereka lantaran mereka adalah orang-orang yang dicintai oleh gurunya dengan berupaya memuliakan mereka; ber-tabarruk dengan mereka, mengasihi mereka, mengasihi anak-anak kecil, kalangan lemah dan fakir dan memberikan kelebihan harta serta mendahulukan urusan mereka daripada urusan diri sendiri dalam harta, kehidupan, pakaian bahkan tempat duduk di shaff shalat yang pertama, sebab menilai mereka lebih pantas untuk itu daripada dirinya.
Yang bukan bagian dari adab seorang murid kepada Syaikh (gurunya) adalah menilai gurunya sempuma seperti seorang rasul dan para nabi Allah As. Sebab yang perlu dicatat adalah bahwa keyakinan yang tidak dikuatkan dengan dasar dari Al Qur’an dan As-Sunnah, maka itu batil dan akan menjadi bumerang bagi sang murid. Sebab semua orang akan bertanggung jawab atas semua perkataan, perbuatan dan keyakinannya.
Seorang muqaddam tidak boleh menampakkan karomah atau perkara diluar jangkauan nalar manusia yang dimilikinya; yaitu perkara yang tidak digiring pada pemahaman bahwa itu adalah perkara khusus yang Allah Swt berikan kepada beliau.
Diatas kami katakan, “Yang bukan bagian dari adab seorang murid kepada Syaikh (gurunya) adalah menilai gurunya sempuma seperti seorang rasul dan para nabi Allah.” Yang kami maksudkan bukan pada perkara “menyerupai mereka dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah serta ittiba.” Para sahabat senantiasa berupaya menyerupai shalatnya Rasulullah Saw dan ragam perkara lainnya, tetapi diantara para sahabat tidak ada yang menyatakan bahwa maqam-ku menyerupai magam-nya Rasulullah Saw. Sebab tidak ada nabi setelah beliau. Maka perkara ini perlu dipahami sisi persamaannya agar tidak gagal paham. Jika bukan karena permintaan penanya agar aku tidak mengulasnya dengan panjang lebar, oleh karena itu aku paparkan ragam ayat dan hadits dalam perkara ini agar ikhwan dapat kembali mempelajarinya, sehingga mereka tahu kadar adab dalam thariqah At-Tijaniyyah dan keterkaitannya dengan Al Qur’an dan As-Sunnah.
Masih banyak lagi adab yang telah kami ulas pada buku “Al Futuhah Al Ahmadiyyah fi Adab Al Murid ma’a Syaikhit-tarbiyyah.” Begitu juga komentar kami atas nasehat yang pernah disampaikan oleh guru kami di kediaman beliau pada tahun 1390 Η.
Ada adab salah yang dituliskan dalam buku ulama generasi belakangan, yang tidak boleh dilakukan lantaran menyelisihi syari’at, diantaranya adalah memerintah murid agar menaati Syaikh (gurunya) meski perbuatan itu menyelisihi syari’at. Maka kata-kata yang seperti ini merupakan kata batil, yang mengucapkannya berdosa. Sebab surga dan neraka adalah milik Allah dan bukan milik syaikh tersebut.
Diantara adab yang salah lainnya adalah seorang murid meyakini kekhususan yang hanya dimiliki oleh syaikh (gurunya) dalam masalah syari’at; seperti beliau menghalal kan yang haram dan juga menggugurkan beberapa perkara wajib dalam syari’at; perkara inipun batil, sebab setelah nabi Saw tidak ada satupun manusia yang mempunyai kekhususan ini, bahkan sufi sejati kondisinya jauh dari hal ini. Orang yang memasukkan perkara ini ke dalam thariqah adalah para musuh yang tidak senang dengan thariqah. Kami pun tidak menafikan bahwa pemahaman seorang Syaikh lebih mendalam dalam perkara syari’at dibanding muridnya, namun hal ini tidak sampai Syaikh tersebut membuat syari’at baru, ragam hukum baru yang bertentang-an dengan Al Qur’an dan As-Sunnah. Aku melihat masih ada orang yang tidak suka jika aku paparkan realita ini, tetapi inilah pertanda bahwa yang bersangkutan belum berlapang dada dalam agama Islam ini, dimana bagianya tidak ada keuntungan kecuali setelah dia menerima harta, jika tidak demikian, maka kecintaanmu kepada beliau akan sia-sia.
Sya ‘ir-ku dalam perkara ini:
الْعِلْمُ مَا صَحَّ لِلْمُخْتَارِ نِسْبَتُهُ # وَمَا سِوَاهُ فَلَا تَحْفِلْ بِهِ أَبَدًا
فَالْزَمْ فِدْيَتَكَ أَخْبَارًا تُنِيْرُ لَهُ # طَرِيقَةَ الْحَقِّ تَزْدَدْ فِي الهُدَى رُشْدَا
وَمَنْ تَرَاهُ إِلَى الْأَرَاءِ مُتَّبَعًا # فَاحْذَرْهُ لِلدِّيْنِ مَهْمَا كَانَ مَا اعْتَقَدَ
وَلَا تُجَادِلْ عَلَى التَّحْكِيمِ ذَا شَطَطَ # فَلَيْسَ مُتَّبِعُ الْهَادِي كَمَنْ جَحَدَا
وَلَسْتُ أَدْعُوْا إِلَى مَا لِلْعَقْلِ يُنْتِجُهُ # مِنَ الْخَيَالَاتِ صَرْفًا ضِدُّ مَا وَرَدَ
فَكَمْ أَثَارُ الْهَوَي فِي النَّاسِ مُعْضِلَةً # تُدَمِّرُ الْمُدُنَ لَا تُبْقِي بِهَا أَحَدَا
لَكِنْ دَعْوَتِي لِلْوَحْيِ الْمُوَضّحِ لِلْوَحْيِ # الْمُنَزَّلِ مِمَّنْ رَبُّ الْوَرَى عَضْدَا
تِلْكَ نُوْرُهَا فِي كُلِّ مُشْكِلَةٍ # يَجْلُوْ غَشَاوَةَ قَلْبٍ قَصْدُهُ اتَّحَدَا
وَاللَّهِ أَرْجُوْهُ تَوْفِيقًا يَسْهَلُ لِى # سُلُوْكَ مَنْهَجٍ عَبْدٍ وَأَحْتَهِدَا
Ilmu itu tidak benar penisbatannya kecuali bagi orang yang terpilih # selain mereka maka jangan engkau gembira dengan itu
Lazimkanlah pengorbanannmu untuk senantiasa mendapatkan berita (informasi) yang dapat menerangi # jalan kebenaran, sehingga petunjuk hidayahmu semakin bertambah
Orang yang kau lihat pemikirannya diikuti # berhati-hatilah dengannya dalam perkara agama meski sesuai dengan apa yang diyakini
Janganlah engkau berdebat ketika dalam peradilan #sebab orang yang senantiasa mengikuti Allah sang pemberi petunjuk berbeda dengan orang yang ingkar
Aku tidak menyerumu pada hasil penalaran akalku # yang berupa ragam khayalan sebagai pemalingan ragam hal yang bertentangan dengan apa yang sudah digariskan
Berapa banyak bekas hawa yang menyesatkan # ia mampu menghancurkan kota tanpa ada satu orang pun tersisa Akan tetapi yang aku ajak engkau pada wahyu yang menjelaskan wahyu # yang diturunkan pada sosok yang mengokohkan Rabb-nya manusia
Itulah yang cahayanya menerangi setiap kesukaran # yang mencerahkan gelapnya kalbu nan bertujuan untuk kokoh dalam persatuan
Hanya kepada Allah lah aku memohon taufik-Nya # yang memudahkanku bersuluk pada manhajnya seorang hamba dan juga berijtihad.
