You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Adab Murid Tijany : Adab Sesama Ikhwan Thariqah At-Tijaniyyah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Adab Murid Tijany : Adab Sesama Ikhwan Thariqah At-Tijaniyyah

Adab sesama ikhwan thariqah At-Tijaniyyah sangatlah banyak, namun kami fokuskan pada empat perkara penting, akan tetapi sebelum kita bahas hal tersebut, alangkah baiknya kita pahami dahulu apa yang dimaksud dengan ikhwan dalam istilah para sufi:

Ikhwan menurut terminologi sufi adalah orang yang bersama-sama mengikutimu dalam keyakinan, perkataan dan perbuatan. Inilah asal pengertiannya, namun tidak masalah jika perkara yang bisa masuk ke dalam pengertian ini berbeda-beda, tetapi intinya adanya kebersamaan (keikut sertaan). Maka orang yang suluk bersamamu dalam thariqah ini adalah ikhwan. Pengertian yang lebih dekat dari itu; ikhwan adalah orang-orang yang berkumpul bersamamu dalam satu wadah thariqah; bisa juga diartikan dengan orang yang membuatmu berkumpul dengan mereka; pada setiap waktu dan tempat dan juga Syaikh (guru). Oleh karena itu, ikhwan (saudaramu) ini haruslah engkau cintai dengan kecintaan tulus karena Allah Swt semata. Orang yang mencintai orang lain lantaran yang bersangkutan adalah orang yang bersama-sama beribadah dalam agamanya Allah, maka diapun tergolong orang yang mencintai karena Allah, begitu pula orang yang mencintai syaikh (gurunya) lantaran beliau mengenalkanmu kepada Allah, maka beliau termasuk orang yang mencintai Allah.

Barangsiapa yang mencintai orang yang mampu menyelesaikan perkara dunianya; baik dia memenuhi kebutuhan makan dan minum; atau memberinya baju atau tempat tinggal serta mempermudah untuk bisa konsisten beribadah serta ber-tawajjuh kepada Allah, maka dia orang yang mencintai Allah. Begitu pula orang yang yang mengerjakan kebaikan, jika niatkan kebaikannya itu karena Allah, kemudian dia mengerjakan kebaikan tersebut dengan keyakinan bahwa yang bersangkutan termasuk orang yang dicintai Allah, maka orang ini pun tergolong orang yang cinta pada Allah. Jika seorang wanita cinta pada suaminya lantaran sang sami menjaga dan membantunya untuk bisa meluangkan waktu beribadah pada Allah dengan mengatur urusan rumah tangga, maka ini juga termasuk gambaran cinta pada Allah Swt.

Orang yang mencintai ulama atau Syaikh (guru) lantaran keilmuan yang bisa dia petik dan berguna bagi kehidupannya, maka orang ini cinta kepada ilmu; jika kecintaan ilmu ini ditujukan untuk menggapai akhirat, maka dia tergolong orang yang cinta pada Allah. Jika engkau cinta seseorang lantaran dirinya bersama denganmu dalam satu madzhab yang diyakini, diridhoi oleh Allah dan tidak cinta padanya lantaran kepentingan dirinya, gambaran dirinya atau lantaran nilai manfaat yang engkau dapatkan darinya, tetapi murni hanya cinta karena Allah semata, maka inilah yang sejatinya disebut sebagai ikhwan (saudara). Nah, ikhwan ini memliki tingkatan yang berbeda-beda sesuai dengan guru yang membantu suluk, tempat dan ragam permasalahan yang dihadapi. Tetapi yang perlu diingat, bahwa ikhwan (saudara) ini juga memiliki ragam hak yang tidak boleh diluputkan.

Ikhwan itu terbagi menjadi tiga bagian:

1. Ikhwan yang levelnya ada diatasmu dan engkau tau bahwa level dia ada diatasmu. Jika demikian, maka engkau harus beradab dan berkhidmah, hal ini dapat mendekatkanmu pada Syaikhmu jika ini ditujukan tulus ikhlas karena Allah.

2. Ikhwan yang selevel denganmu dalam keilmuan dan ahwal jiwa; jika demikian maka engkau harus memperlakukannya seperti dia memperlakukanmu, hanya engkau berupaya selalu bisa memberikan haknya dan tidak meminta apapun dari hakmu.

3. Ikhwan yang levelnya dibawahmu; jika ini kondisinya maka engkau harus bersikap lemah lembut, sikap ihsan dan mengayomi. Engkau harus melihat ikhwan dengan pandangan ini agar engkau terhindar dari kehancuran diri. Jika murid Syaikh (gurumu) ada yang seperti kami paparkan, maka engkau harus memperlakukan mereka dengan porsi yang sesuai dengan level diri mereka.

Adab ini harus engkau aplikasikan kepada orang mukmin secara umum. Allah Swt telah menjadikan sesama mukmin sebagai ikhwan dalam firman-Nya,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Orang-orang yang beriman itu sesungguhnya bersaudara, (Qs. Al Hujurât [49]: 10); tidak ada perlakuan yang berbeda antara lelaki dan perempuan, orang yang merdeka dan budak, anak kecil maupun orang dewasa. Ada hadits Nabi Saw perihal budak dan tuannya,

إِخْوَانُكُمْ خَوَلُكُمْ جَعَلَهُمُ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ

“Ikhwan kalian adalah kerabat kalian, Allah jadikan mereka dibawah penguasaan kalian. “

Keimanan itu memliki ragam cabang yang beragam; yang paling agung adalah wujud kecintaan yang tulus, darisinilah beragam perbuatan baik dan benar itu muncul. Jika engkau telah cinta pada Nabi Saw dan ditanya terkait sunnah beliau, maka engkaupun akan belajar; ketika sudah mengetahui ragam sunnah beliau, engkau lantas mengamal kannya dan tidak mempedulikan pendapatmu atau pendapat orang lain terkait sunnah Nabi Saw tersebut.

Imam Ahmad dan Abu Bakar bin Abu Syaibah meriwayatkan dalam pembahasan Iman dari jalur ‘Isa bin ‘Ashim, dia berkata: ‘Adi bin ‘Adi yang merupakan pekerjanya ‘Umar bin Abdul Aziz di Jazirah menceritakan padaku ketika itu, dia berkata: “Umar bin Abdul Aziz menulis surat untuknya; ‘Amma ba’du, sungguh iman itu memiliki ragam kewajiban, syari’at, batasan dan sunahnya, siapa yang melengkapi semua itu, maka keimanannya telah sempuma dan siapa yang belum melengkapinya, maka keimanannya pun belum sempurna. Jika toh aku masih hidup nanti, kelak kujelaskan pada kalian agar kalian bisa pelajari, namun andai aku mati, maka aku rindukan persahabatan kalian semua. (Al Bukhari mengomentari hadits ini dan men-shahih-kannya).

Dalam hadits lain disebutkan,

أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ الْحُبُّ فِي اللَّهِ وَالْبُغْضُ فِي اللَّهِ

“Paling utamanya amal perbuatan adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah. ” (HR, Abu Daud dari riwayat Abu Dzar)

Dalam hadits lain disebutkan,

أَفْضَلُ الإِيمَانِ أَنْ تُحِبَّ اللَّهِ، وَتُبْغِضَ اللَّهِ، وَتُعْمِلَ لِسَانَكَ فِي ذِكْرِ اللَّهِ، وَأَنْ تُحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ، وَتَكْرَهَ لَهُمْ مَا تَكْرَهُ لِنَفْسِكَ، وَأَنْ تَقُولَ خَيْرًا أَوْ تَصْمُتَ

“Paling utamanya keimanan adalah engkau mencintai karena Allah, lisanmu dijadikan senantiasa berdzikir pada Allah, engkau mencintai orang lain seperti halnya engkau mencintai diri sendiri, engkau membenci mereka seperti halnya engkau membenci diri sendiri, dan agar engkau berkata baik atau (lebih baik) diam.” (HR. Ath-Thabrani dari riwayat Mu’adz bin Anas Ra)

Dalam hadits lain juga disebutkan,

رَأْسُ الْعَقْلِ بَعْدَ الإِيمَانِ بِاللَّهِ التَّوَدُّدُ إِلَى النَّاسِ

“Pokoknya akal setelah beriman pada Allah Swt adalah cinta kepada manusia (orang lain). ” (HR. Ath-Thabrani dalam Al Kabir dari riwayat Abu Hurairah)

Dalam hadits lain juga disebutkan,

مَنْ أَحَبَّ اللَّهِ وَأَبْغَضَ اللَّهِ وَأَعْطَى اللَّهِ وَمَنَعَ اللَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الإِيْمَانَ

“Barangsiapa yang cinta karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, melarang karena Allah, maka dia telah melengkapi keimanannya. ” (HR. Abu Daud; Adh-Dhiya dalam Ahadits Al Mukhtarah dari riwayat Abu Umamah Ra dan Al Balhaqi dalam Syu’ab Al Iman dari riwayat Abu Umamah Al Bahili)

Didalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Anas secara marfu’disebutkan,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah sempuma iman salah seorang diantara kalian sampai dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya.” (HR. Al Bukhari dalam Shahih-nya)

Dalam riwayat lainnya juga disebutkan,

وَلِجَارِه مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“sampai dia mencintai saudaranya yang muslim itu seperti dia mencintai kebaikan untuk dirinya sendiri. ” (HR. Abu Ya’la dalam Musnad Abu Ya’la)

Didalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Anas secara marfu’disebutkan,

ثَلَاثَ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبُّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا اللَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Ada tiga orang yang ketika ini ada, maka ia akan menemui nikmatnya keimanan; ‘Allah dan rasuul-Nya menjadi sosok yang dia cintai dari yang lainnya; dia mencintai seseorang, tidak mencintainya kecuali karena Allah dan dia benci untuk kembali pada kekufuran sebagaimana dia benci dilemparkan ke dalam neraka. ” (HR. Al Bukhari dalam Shahih-nya)

Dalam hadits lain disebutkan,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُزَحْزِحَ عَنِ النَّارِ، وَيَدْخُلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَيَأْتِي إلى النَّاسِ مَا يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ

“Barangsiapa yang ingin diangkis dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka hendaknya ketika ajal datang dia bersaksi bahwa tiada ilah yang patut disembah melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya; dia pun memberikan apa yang orang lain suka ketika diberi.” (HR. Ath-Thabrani)

Diriwayatkan dari Khalid bin Abdillah bin Yazid bin Asal Al Qasri Ad-Dimasyqi, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Nabi Saw bersabda kepada kakeknya,

أَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ

“Cintailah manusia (orang lain) dengan apa yang engkau suka bagi dirimu.”

Dalam riwayat lain, dia berkata: Ayahku menceritakan padaku dari kekekku, bahwa ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda padaku, ‘Apakah engkau suka surga? Aku jawab, ‘iya’, beliau bersabda,

أَحِبْ لِأَخِيكَ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ

“Cintailah saudaramu apa yang dengan apa yang engkau suka bagi dirimu. ” (HR. Ath-Thabrani; Al Hasyimi berkata, ‘Para periwayatnya merupakan periwayat yang tsigat. Aku katakan: Memang seperti itu, akan tetapi Khalid bin Abdullah tidak mengamalkan hadits ini sebab berkaitan dengan nawashib. Ibnu Ma’in berkata tentangnya, ‘Lelaki buruk yang mendukung All’. Adz-Dzahabi berkata, ‘Dia lelaki terpercaya tetapi nashibi dengan membenci kezhaliman’. Aku berkata: Dia terbunuh pada tahun 126 H)

Diriwayatkan dari Salim bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Al Khaththab, dari ayahnya secara marfu’,

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَخُونُهُ وَلَا يَنْسَاهُ فِي مُصِيبَةٍ نَزَلَتْ بِهِ

“Seorang muslim adalah saudara muslim yang lainnya, dia tidak boleh menghina, mengkhianati dan tidak melupa kannya kala mushibah menimpanya. ” (HR. Ath-Thabrani dan Al Haitsami dalam Majmu’ Az-awa ‘id wa Manba’ Al Fawa ‘id.)

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, ia berkata,

لِلْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتُّ بِالْمَعْرُوفِ: يُسَلِّمُ عَلَيْهِ إِذَا لَقِيَهُ، وَيُجِيبُهُ إِذَا دَعَاهُ، وَيُشَمِّتُهُ إِذَا عَطَسَ، وَيَشْهَدُهُ إِذَا مَاتَ، وَيَنْصَحُ لَهُ بِالْغَيْبِ، وَيُحِبُّ لَهُ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Bagi seorang muslim atas muslim lainnya memiliki enam kewajiban untuk melakukan kebaikan; memberi salam kepadanya jika berjumpa, menjawab pangilannya jika dia memanggil, ber-tasymit ketika bersin, menyaksikannya ketika dia meninggal dunia, menasehatinya ketika dalam kondisi ghaib (tidak menetap) dan mencintainya dengan apa yang disukai oleh dirinya. ” (HR. Ath-Thabrani, ia berkata: Abu Ja’far tidak me-marfu kan hadits ini kepada Al Fara, yang me-marfu-kannya adalah Abu Ishaq, tetapi didalam sanadnya tidak terdapat nama Abu Ishaq; para periwayatnya adalah orang-orang yang tsiqah.)

عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ قَالَ: أَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَنْ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَرْحَمُوا، قَالُوا : كُلُّنَا رَحِيمٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ : إِنَّهُ لَيْسَ بِرَحْمَةِ أَحَدِكُمْ صَاحِبَهُ، وَلَكِنَّهَا رَحْمَةَ النَّاسِ رَحْمَةَ الْعَامَّةِ

Diriwayatkan dari Abu Musa Al Asy’ari, dai berkata: dia mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Sekali-kali kalian tidaklah dikatakan beriman sampai kalian saling mengasihi,” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulallah, semua kami adalah penyayang,” beliau bersabda, “Itu bukanlah rahmat salah seorang diantara kalian pada temannya, tetapi rahmat manusia dan rahmat secara umum.” (HR. Ath-Thabrani, dimana para periwayatnya merupakan periwayat shahih, ini yang dikatakan oleh Al Hattsami)

عَنْ عَبْدُ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ مَرْفُوْعًا : الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لا يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ، مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِمَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar secara marfu “Seorang muslim merupakan saudara muslim lainnya; dia tidak boleh menzhaliminya, tidak boleh menyerahkannya. Orang yang memenuhi kebutuhan saudaranya, niscaya Allah memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa yang meringankan penderitaan seorang muslim, niscaya Allah akan meringan-kan deritanya di hari Kiamat kelak. Barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim, niscaya Allah menutupi aibnya di hari Kiamat. ” (HR. Al Bukhari; Muslim; Abu Daud, An-Nasa’i dan At-Tirmidzi)

Ikatan antara sesama orang mukmin terikat kuat dengan rangkaian hadits-hadits diatas; yaitu ikatan yang membuahkan kecintaan, sikap tolong menolong, sikap kesepahaman, sikap mencari kebaikan dan sisi ihsan yang banyak serta menolak segala keburukan, mushibah dan kehancuran. Maka yang wajib bagimu adalah saudaramu melihatmu dalam kondisi yang menyenangkan, melapang kan hati dan menerangi kalbu, jangan sampai engkau memusuhi saudaramu lantaran harta dan kehormatan jiwa. Oleh karena itu, semua ini engkau lakukan demi ukhuwwah Islamiyyah.

Diriwayatkan dari Anas secara marfu,

انْصُرْ أَحَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا ، قَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُوْمًا، فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا؟ قَالَ: تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ

“Tolonglah saudaramu dalam kondisi ia zhalim atau dizhalimi,” Para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulallah, ini ini kami tolong ia saat dizhalimi, bagaimana kami menolongnya ketika ia berbuat zhalim? Beliau bersabda, “Engkau ambil posisi diatas tangannya (mencegahnya berbuat zhalim). ” (HR. Al Bukhari, Muslim dan At-Tirmidzi)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ نْ طَآئِفَتٰنِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اقْتَتَلُوْا فَاَ صْلِحُوْا بَيْنَهُمَا ۚ فَاِ نْۢ بَغَتْ اِحْدٰٮهُمَا عَلَى الْاُ خْرٰى فَقَا تِلُوا الَّتِيْ تَبْغِيْ حَتّٰى تَفِيْٓءَ اِلٰۤى اَمْرِ اللّٰهِ ۚ فَاِ نْ فَآءَتْ فَاَ صْلِحُوْا بَيْنَهُمَا بِا لْعَدْلِ وَاَ قْسِطُوْا ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ
wa ing thooo-ifataani minal-mu-miniinaqtataluu fa ashlihuu bainahumaa, fa im baghot ihdaahumaa ‘alal-ukhroo fa qootilullatii tabghii hattaa tafiii-a ilaaa amrillaah, fa ing faaa-at fa ashlihuu bainahumaa bil-‘adli wa aqsithuu, innalloha yuhibbul-muqsithiin

“Dan apabila ada dua golongan orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zalim terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah (golongan) yang berbuat zalim itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 9)

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَ صْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَا تَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
innamal-mu-minuuna ikhwatung fa ashlihuu baina akhowaikum wattaqulloha la’allakum tur-hamuun

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 10)

Diriwayatkan dari Abu Musa Al Asy’ari secara marfu,

الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا، وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ

“Seorang mukmin untuk mukmin lainnya ibarat bangunan yang sebagiannya menguatkan sebagian lainnya,”
kemudian beliau menyatukan antara jari-jemari beliau. (HR. Al Bukhari, Muslim dan At-Tirmidzi)

Bahkan bagi kaum muslimin di jalananpun memiliki haknya. Didalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri secara marfu, dia berkata,

إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطَّرْقَاتِ، فَقَالُوا: مَا لَنَا بُدٌ، إِنَّمَا هِيَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا، قَالَ: فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا، قَالُوا: وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ؟ قَالَ: غَضُ الْبَصَرِ وَكَفُ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Janganlah kalian duduk di pinggir jalan,” para sahabat berkata, “Kami tidak dapat meninggalkan majelis, sesungguhnya itu adalah majelis kami untuk ngobrol disana?” Rasulullah Saw bersabda, “Jika kalian berat meninggalkan majelis tersebut, maka kalian harus memberi hak jalan,” para sahabat berkata, “Lantas apa hak jalan tersebut?,” Rasulullah Saw bersabda, “Menundukkan pandangan, tidak mengganggu, menjawab salam, amar ma’ruf nahi mungkar. (HR. Al Bukhari, Muslim dan Abu Daud)

عَنِ الْمَعْرُورِ بْنِ سُوَيْدٍ قَالَ: لَقِيتُ أَبَا ذَرٌ بِالرَّبَذَةِ وَعَلَيْهِ حُلَّةٌ وَعَلَى غُلَامِهِ حُلَّةٌ، فَسَأَلْتُهُ عَنْ ذَلِكَ، فَقَالَ: إِنِّي سَابَبْتُ رَجُلًا فَعَيَّرْتُهُ بِأُمِّهِ، فَقَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا ذَرِّ، أَعَيَّرْتَهُ بِأُمِّهِ ۚ إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيْكَ جَاهِلِيَّةٌ، إِخْوَانُكُمْ خَوَلُكُمْ جَعَلَهُمُ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ، فَمَنْ كَانَ أَخُوهُ تحتَ يَدِهِ فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ، وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ، وَلَا تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ، فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ فَأَعِينُوهُمْ

Diriwayatkan dari Al Ma’rur bin Suwaid, dia berkata, “Aku melihat Abu Dzarr Al Ghifari mengenakan kalung, pelayannya pun mengenakan kalung, akupun bertanya tentang itu dan dia berkata, ‘Sungguh aku pernah mencela seseorang, lalu ia mengadukanku kepada Nabi Saw, Nabi Saw bersabda, Apakah mencelanya dengan mencela ibunya? Sungguh engkau orang yang didalam dirimu ada sifat jahiliyah, sungguh ikhwanmu adalah tanggunganmu, Allah jadikan ia dibawah kekuasaanmu. Maka barangsiapa yang saudaranya ada di bawah tanggungannya, maka hendaknya ia memberinya makan sebagaimana engkau makan, memberinya pakaian seperti yang engkau pakai, jangan membebaninya diluar batasan, Jika engkau mem bebaninya di luar batas kemampuannya, maka bantulah ia. ” (HR. Al Bukhari dan Muslim. Aku katakan: Al Ma’rur bertemu Abu Dzar di Zubdah, tempat dimana Abu Dzar menjadi Qadhi di akhir hayat beliau. Zubdah sendiri adalah sebuah tempat di pedesaan, yang jarak antara pedesaan tersebut ke kota sejauh 3 mill; tempat yang biasa dikunjungi Abu Dzar pada masa Nabi Saw. Cacian dalam hadits tersebut antara Abu Dzar dan Bilal; yaitu Abu Dzar berkata, “Wahai anak hitam”. Dalam sebagian riwayat disebutkan, “Tidak ada keutamaan antara anak putih dan anak hitam kecuali dengan barometer ketakwaan diri.”)

Aku sudah banyak memaparkan beragam atsar diatas yang mengokohkan ikatan ukhuwah diantara kaum muslimin dan khususnya pengamal thariqah. Nanti akan kita lanjutkan pembahasan ini dalam empat bahasan; yaitu:

1. Engkau wajib menjaga kehormatan saudaramu.

2. Menasehati ikhwan dengan cara mengajarkan yang masih bodoh, menunjukkan jalan yang baik bagi yang masih sesat, mengokohkan orang-orang yang lemah.

3. Bersikap tawadhu’, menerima saran mereka, bersikap proporsional, berkhidmah pada mereka sesuai kemampuan diri, mengerjakan ragam perbuatan bersama mereka, perhatian terhadap kebutuhan mereka,

4. Meyakini sisi kewalian, kesempurnaan, kejernihan dan keutamaan para ikhwan tanpa melihat kekurangan mereka. Demikian penjelasannya:

Pertama, engkau wajib menjaga kehormatan saudaramu, ketika dia ada maupun sedang tidak ada. Engkau tidak boleh meng-ghibah-nya, tidak boleh menyebutkan keburukan atau kekurangannya.

Engkaupun tidak boleh membanding-bandingkan antar murid satu muqaddam dengan murid muqaddam yang lain, tidak boleh pula menisbatkan kesempurnaan bagi sebagian ikhwan dan menisbatkan kekurangan pada sebagian ikhwan lainnya. Engkau pun tidak boleh mengatakan, ‘Si fulan itu belum merasakan suatu sisi ma’rifat, tidak boleh pula mengatakan, ‘Si fulan tidak akan pernah sama sekali mencium semerbak bau sisi ma’rifat itu’.

Engkaupun tidak boleh mengatakan, ‘Si fulan keimanannya kuat dan si difulan keimanannya lemah’, si fulan memiliki maqam yang tinggi dan si fulan memiliki maqam yang rendah, atau menyebutkan beragam aib lainnya, sebagai mana engkau pun tidak boleh menyebutkan perkara yang dibencinya; baik ketika dia ada maupun ketika sedang tidak ada. Inilah yang seyogyanya dilakukan pada ikhwan, muridnya, keluarganya, kerabatnya; yaitu menyebutkan kebaikan yang enak didengar.

Engkaupun tidak boleh memata-matai, mencari rahasia dan kondisi jiwanya dan ragam perkara yang tersembunyi dari ikhwan, tidak boleh juga membuka dan menyebarluaskan rahasianya jika dia mempercayaimu perihal rahasia tersebut. Menahan diri untuk tidak menyampaikan cercaan dan caci makian orang terhadap nya, sebab orang yang membeberkan itu sama halnya orang yang ikut menyakiti yang bersangkutan. Karena pada hakekat engkau tidak merasa tersakiti kecuali dari orang yang menyampaikannya itu padamu. Oleh karena itu, akupun acuh pada setiap orang yang menukilkan padaku perkataan orang yang suka mengadu domba atau perkataan orang yang hasud padaku, atau pada sebagian orang yang aku cintai atau sahabatku. Akupun yakin jika seseorang itu pintar dan memiliki akal yang sempurna, dia tidak akan memberitahukan perkataan batil orang padaku dan pada orang-orang yang kucintai.

Engkaupun tidak boleh menyebarluaskan rahasia saudaramu dalam thariqah ini, meskipun pernah terjadi permusuhan antara dia dengan dirimu. Sebab itu termasuk dalam niatan buruk dan tabiat diri yang buruk. Sebagaimana engkau menahan diri untuk tidak menyampaikan keburukan dalam kondisi saudaramu ada dan tidak ada; engkau pun wajib datang padanya dengan senang hati, menyampaikan berita yang menyenangkan; baik berupa pujian, ungkapan syukur atau bahkan ungkapan yang dapat melebihkan dirinya daripada dirimu.

Semua yang telah kusebutkan diatas merupakan ragam adab yang harus sesuai dengan Al Qur’an dan As-Sunnah, tidak dibenarkan saling tolong-menolong kecuali pada perkara baik dan mengarah pada ketakwaan. Di dalam Al Qur’an disebutkan,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَآئِرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَـرَا مَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَۤائِدَ وَلَاۤ آٰ مِّيْنَ الْبَيْتَ الْحَـرَا مَ يَبْـتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرِضْوَا نًا ۗ وَاِ ذَا حَلَلْتُمْ فَا صْطَا دُوْا ۗ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰ نُ قَوْمٍ اَنْ صَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَـرَا مِ اَنْ تَعْتَدُوْا ۘ وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَا لتَّقْوٰى ۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِ ثْمِ وَا لْعُدْوَا نِ ۖ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَا بِ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu laa tuhilluu sya’aaa-irollohi wa lasy-syahrol-harooma wa lal-hadya wa lal-qolaaa-ida wa laaa aaammiinal-baital-harooma yabtaghuuna fadhlam mir robbihim wa ridhwaanaa, wa izaa halaltum fashthooduu, wa laa yajrimannakum syana-aanu qoumin ang shodduukum ‘anil-masjidil-haroomi ang ta’taduu, wa ta’aawanuu ‘alal-birri wat-taqwaa wa laa ta’aawanuu ‘alal-ismi wal-‘udwaani wattaqulloh, innalloha syadiidul-‘iqoob

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban), dan Qalaid (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam; mereka mencari karunia dan keridaan Tuhannya. Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 2)

Disebutkan dalam beberapa hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfu’,

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ، وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَكُونُوا إِخْوَانًا

“Janganlah kalian berprasangka, sebab prasangka adalah paling bohongnya pembicaraan, janganlah kalian tajassus dan jangan tahassus, janganlah kalian saling menghasud, saling marah dan saling membelakangi, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”

(Tajassus secara bahasa berarti mencari informasi dari orang lain. Sedangkan Tahassus adalah mencari tahu informasi dengan panca Indra sendiri; kemudian kedua istilah ini digunakan untuk mencari tahu aib seseorang. Dikatakan Informan karena la mencari aib untuk orang lain.)

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ

“Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya; dia tidak menzhaliminya, tidak mengkerdilkannya dan tidak mengejeknya.”

بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

“Cukuplah seseorang dari keburukan; yaitu dia mengejek saudaranya yang muslim. Setiap muslim bagi muslim lainnya diharamkan hartanya, darahnya dan kehormatannya.”

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sungguh Allah tidak melihat pada jasad kalian dan tidak pula pada gambaran kalian, akan tetapi Dia melihat pada kalbu dan amal perbuatan kalian.

التَّقْوَى هَا هُنَا التَّقْوَى هَا هُنَا التَّقْوَى هَا هُنَا

Takwa ada disini, takwa ada disini, takwa adanya disini (seraya menunjuk ke dada bagian kiri). (HR. Al Bukhari pada beberapa bagian dari pembahasan Adab dalam Shahih beliau (Shahih Al Bukhari).)

Hadits-hadits diatas memberikan kepastian pada kita tentang tidak bolehnya seseorang mencari aib saudaranya hanya karena prasangka buruk. Hadits diatas pun menegaskan bahwa prasangka adalah perkataan yang paling dusta. Hadits diatas pun menyampaikan tidak bolehnya mencari-cari tahu rahasia dan aib seseorang atau mem beritahukan kepada yang lainnya.

Hadits diatas juga menyampaikan tidak bolehnya berangan-angan hilangnya beragam nikmat yang berupa ilmu, pengetahuan, akhlak, kebiasaan dan lain sebagainya. Yang termasuk sikap hasud adalah engkau menyembunyi kan pujian orang kepada saudaramu dan tidak menampak kan kebencianmu pada orang yang patut dibenci, dendam dan pemutusan tali silaturahmi antara dirimu dengan yang bersangkutan; artinya adalah menjauhi sikap saling membenci dengan berupaya menjauhi ragam penyebabnya dan tidak membelakangi.

Imam Malik pernah berkata, “Yang aku maksud dengan membelakangi tak lain adalah membenci Islam dan menolak dengan ragam penolakan.” Kukatakan, “Yang termasuk dalam hal ini adalah menolak dengan hati dan membelakangi/tidak menghargai sisi kebaikannya.”

Hadits diatas pun menyampaikan agar kita tidak memutuskan tali silaturahmi ukhuwwah Islamiyyah dan keimanan. Sudah seyogyanya dia menampakkan sisi kasih sayang, sisi rahmat, sisi nasehat dan ketersambungan antara satu dengan yang lainnya. Hadits diatas juga menyampaikan tidak boleh menzhalimi dan mengkerdilkan saudaranya.

Hadits diatas pun menyampaikan bahwa perkara buruk adalah ketika engkau mengejek saudaramu. Hadits diatas pun menegaskan bahwa seorang muslim haram bagi muslim lainnya; haram hartanya, darahnya dan kehormatan nya. Hadits diatas pun merupakan dalil yang menunjukkan wajibnya menjaga hak dan kewajiban.

Hadits diatas pun menjelaskan tempat pandangan Allah pada hamba-Nya; yaitu kalbu. Juga bahwa dengan adanya pertengkaran, maka hal ini tidak patut membuat orang melebihkan dirinya daripada orang lain; tetapi yang terpenting adalah adanya ragam perbedaan tingkatan kalbu dalam kejernihan, kebersihan, rasa takut dan ma’rifat pada Allah.

Ketakwaan diri merupakan bentengnya ragam keutamaan, maka orang yang paling bertakwa adalah orang yang paling utama dan dialah tempat pandangan Allah dari makhluk-Nya, sebab kalbunya adalah tempat yang Allah Swt pandang dengan pandangan rahmat. Seperti inilah Rasulullah Saw mengarahkan para sahabatnya terdahulu, jejak inilah yang diikuti oleh para sufi.

Dalam thariqah inipun engkau tidak boleh memiliki dua wajah, sebab ini adalah khianat dalam thariqah. Jika ada, maka itu pertanda rapuhnya adab thariqah dari dalam dirimu. Sebab, selain dia muraqabah Allah, diapun muqarabah yang lainnya; inilah yang menjadikannya memiliki dua sisi wajah.

Al Khathib Al Baghdadi meriwayatkan dalam Tarikh Al Kabir dari Abu Nu’aim Al Hafiz, dari Abu ‘Ali Isa bin Muhammad Al Jarîhi, dia berkata: Ahmad bin Yahya bin Tsa’lab berkata, “Aku ingin sekali bertemu dengan Ahmad bin Hanbal, maka akupun pergi mendatanginya, ketika aku masuk ke dalam rumahnya, dia (Ahmad bin Hanbal berkata), “Apa yang kau lihat?” Aku menjawab, “Pada nahwu dan bahasa arab (padahal Imam Ahmad piawai dalam hadits dan fikihnya), maka dia pun menyenandungkan sya’ir:

إِذَا مَا خَلَوْتَ الدَّهْرَ يَوْمًا فَلَا تَقُلْ # خَلَوْتُ وَلَكِنْ قُلْ عَلَيَّ رَقِيبٌ

فَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ يَغْفِلُ مَا مَضَى # وَلَا أَنَّ مَا يَخْفَى عَلَيْهِ بِغَيْبٍ

لَهَوْنًا عَنِ الْأَيَّامِ حَتَّى تَتَابَعْتَ # ذُنُوْبَ عَلَى أَثَارِهِنَّ ذُنُوْبٌ

فَيَا لَيْتَ أَنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ مَا مَضَى # وَيَأْذَنُ فِي تَوْبَاتِنَا فَتُوْبُ

“Jika engkau tidak pernah mengasingkan diri sehari saja, maka jangan kau katakan # ‘Aku telah mengasingkan diri’, tetapi katakanlah, ‘ada yang memantauku’

Jangan kau anggap Allah lalai akan perkara yang telah lampau # dan juga jangan menganggap apa yang kau sembunyikan itu menghilang

Berhati-hatilah engkau mengarungi hari-hari ini sampai engkau mampu mencari # sisa-sisa dosa mereka

Ohh sekiranya Allah mengampuni yang telah lampau # dan mengizinkan untuk kami bertobat, sehingga kami pun bisa bertobat.

Dua bait paling atas maksudnya adalah bahwa kelalaian manusia dari muraqabah Allah yang menyebabkan dirinya terjerumus pada kesalahan ini.

Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah secara marfu’,

تَجِدُ مِنْ شِرَارِ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ اللَّهِ ذَا الْوَجْهَيْنِ الَّذِي يَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَحْهِ وَهَؤُلَاءِ بِوَحْهِ

“Pada hari Kiamat kelak kalian akan temui orang-orang buruk disisi Allah yang memiliki dua wajah, yang datang pada sekelompok orang dengan satu wajah dan pada kelompok lain dengan wajah lainnya.” (HR. Al Bukhari; Muslim dan Abu Daud)

Paling sedikitnya nilai ukhuwah antara dirimu dan murid gurumu adalah engkau memperlakukan mereka dengan hal yang engkau sukai jika diperlakukan. Tidak diragukan lagi bahwa engkaupun suka jika diperlakukan seperti ragam penjelasan yang aku sebutkan pada buku ini.

Maka mulailah dari dirimu yang memperlakukan mereka dengan akhlak yang baik. Thariqah sarat dengan akhlak dan adab yang baik. Jika engkau telah memenuhi hal ini, maka segalanya pun akan baik.

Diantara hak saudaramu dalam thariqah adalah engkau tidak melaporkan aduan orang lain tentang saudaramu kepada guru sehingga sang guru memperhatikan hal tersebut dan meminta saudaramu untuk sadar diri.

Namun tidak mengapa jika engkau memang memiliki niatan ikhlas dalam melpaorkan perkara tersebut dan tidak bertujuan menyebarkan fitnah dan kerusakan; jika tidak maka perbuatan ini masuk ke ranah meng-ghibah orang, dimana dalam syari’at ghibah adalah perkara yang diharamkan, lantas bagaimana dengan perkara memakan daging para wali Allah? Dan nyatnya Allah Swt tidak memiliki wali kecuali mereka; yaitu orang-orang mukmin, yang bertakwa, yang konsisten dengan petunjuk Al Qur’an dan As-Sunnah meskipun tidak nampak ragam karomah pada mereka.

Dalam hadits qudsi disebutkan,

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيْذَنَّهُ

“Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku tabuh genderang perang dengannya. Tidaklah seorang hamba mendekat pada-Ku dengan perkara yang paling Aku cintai dari apa yang telah kuwajibkan baginya, hamba-Ku masih saja mendekat pada-Ku dengan perkara sunah sampai Aku cinta padanya. Apabila Aku telah mencintainya, Akulah yang menjadi pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatan yang dia gunakan untuk melihat, tangannya yang dia gunakan untuk memegang, kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. Andai dia meminta pada-Ku pasti Aku beri, andai dia memohon perlindungan pada-Ku pasti Aku lindungi dia. ” (HR. Al Bukhari dari riwayat Abu Hurairah.)

Mereka adalah para wali Allah; beriman pada Allah serta meng-Esakan-Nya, mendekat pada Allah dengan amalan wajib yang paling dicintai Allah; shalat, puasa, sedekah, haji dan berjihad. Merekapun terus mendekat pada Allah dengan amalan sunah sampai Allah cinta pada mereka. Ketika Allah telah mencintai mereka, Allah patrikan mereka dalam ketaatan pada Allah, sehingga tidak ada lagi maksiat dan pelanggaran yang mereka lakukan. Mereka inilah ikhwan yang kecintaan mereka patut kita dapatkan. Semoga Allah senantiasa menunjukkan kita perkara yang terbaik.

Kedua, menasehati ikhwan dengan cara mengajarkan yang masih bodoh, menunjukkan jalan yang baik bagi yang masih sesat, mengokohkan orang-orang yang lemah meski ia harus menempuh perjalanan ke tempat yang bersangkutan. Sebab, diantara mereka ada yang baru memulai jalan suluk dan ada juga yang sampai pada akhir perjalanan suluk; diantara mereka juga ada orang-orang yang kuat dan orang-orang yang lemah. Dia harus memperlakukan setiap dari mereka dengan cara yang sesuai dengan martabatnya. (Lihat Syarh Al Hikam Al ‘Athaiyyah karya Ibnu ‘Ajibah; lihat pula Ihya Ulûmuddin karya Al Ghazali). Yang perlu engkau ketahui adalah bahwa mengaplikasikan adab ini termasuk amalan yang paling utama nan memiliki keistimewaan tersendiri.

Diriwayatkan dari Haritsah bin Wahb Al Khuza’i secara marfu,

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ : كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعَّفٍ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ، أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ : كُلُّ عُتُلٌ حَوَّاظٌ مُسْتَكْبِرٍ

“Maukah kalian kuberitahu penghuni surga; yaitu setiap orang yang tunduk pada Allah lagi menghinakan dirinya di hadapan Allah, jika ia bersumpah pasti Allah penuhi. Maukah kalian kuberitahukan penduduk neraka; setiap orang yang bergelimang dalam kebatilan, yang menumpuk harta lagi pelit dan sombong. ” (HR. Al Bukhari; Muslim; At-Tirmidzi; An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Maka penghuni surga adalah orang yang merendahkan diri, yang sering dihina lantaran kebodohan mereka; merekalah orang lemah yang jiwanya tenang dengan Allah, sehingga jika mereka bersumpah akan sesuatu, Allah pasti mengabulkannya; diantara orang yang memiliki maqam ini adalah Al Bara bin Malik serta orang-orang yang Allah anugerahkan maqam ini dengan perantara do’anya Rasulullah Saw; Sa’ad bin Abi Waqash misalnya, dimana Rasulullah Saw bersabda, “Ya Allah, ijabahlah do’anya dan tepatkanlah lemparannya.” Maka tidaklah Sa’ad berdo’a kecuali Allah Swt mengabulkan do’anya. Begitu pula Al ‘Ala Al Khadhrami dan para sufi pun banyak yang memiliki maqam ini.

Sedangkan penghuni neraka; mereka adalah orang yang keras hati, banyak makan dan minum, senantiasa mengumpulkan harta lagi pelit, berjalan dengan petantang-petenteng lagi sombong. Maka orang-orang yang lemah secara penampilan, mereka inilah yang sebenarnya orang-orang yang kuat dalam batin mereka; secara kasat mata mereka adalah orang yang fakir tetapi secara batin mereka adalah orang-orang kaya di hadapan Allah; mereka rela meninggalkan kelebihan dunia mereka untuk akhirat mereka. Oleh karena itu, ketika kita bermu’amalah dengan orang/ikhwan yang seperti ini seyogyanya kita memperhati kan adab meski engkau lebih pintar darinya. Menempuh perjalanan menziarahi mereka termasuk amalan yang paling utama, sebab syaratnya surga adalah saling mencintai dan menyayangi.

Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah secara marfu’disebutkan,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوْا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَفَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

“Demi jiwaku yang ada dalam genggaman-Nya, kalian tidaklah akan masuk surga sampai kalian beriman, tidaklah kalian beriman sampai kalian saling mencintai (karena Allah); maukah kalian kutunjukkan sesuatu yang jika kalian kerjakan, kalian akan saling mencintai (sesama manusia)?; sebarkanlah ucapan salam diantara kalian. ” (HR. Muslim; Abu Daud dan At-Tirmidzi.)

Ketika engkau menasehati dan mengajarkan mereka dengan lembut; engkau juga harus menutupi aibnya, menjaga rahasianya, sebab disebutkan dalam yang diriwayatkan oleh ‘Ugbah bin ‘Amir secara marfu’,

مَنْ رَأَى عَوْرَةً فَسَتَرَهَا كَانَ كَمَنْ أَحْيَا مَوْءُودَةً

“Barangsiapa yang melihat aib lantas menutupinya, maka dia sepertihalnya orang yang menghidupkan kembali bayi yang dikubur hidup-hidup.” (HR. Abu Daud dan An-Nasa ‘I)

Jika mereka (wali Allah) ini menampakkan rahasianya padamu, maka jangan sekali-kali engkau menyingkap dan menyebarluaskannya, tetapi perbaiki perkara yang rusak dan sempurnakanlah kekurangan mereka secara lembut, sebagaimana tertera dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud seraca marfu’,

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِطَعَانٍ، وَلَا لَمَّانٍ، وَلَا فَاحِشٍ، وَلَا بَذِيْءٍ

“Seorang mukmin bukanlah oang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan pula orang yang keji (buruk akhlaknya) dan bukan pula orang yang jorok omongannya. ” (HR. At-Tirmidzi, dimana beliau menilainya hasan, Al Hakim dimana beliau men-shahih-kannya.)

Dalam menasehati mereka engkau layaknya konsultan bagi mereka, hal ini sebagaimana telah disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Ra secara marfu’,

الْمُسْتَشَارُ مُؤْتَمَنٌ

“Konsultan itu terpercaya. ” (HR. At-Tirmidzi dan Abu Daud.)

Pembelajaran dengan cara ini menambah kuat tumbuhnya kecintaan dan persatuan diantara sessama ikhwan, hal ini sebagaimana tertera dalam hadits An-Nu’man bin Basyir secara marfu’,

تَرَى الْمُؤْمِنِينَ فِي تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطْفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Engkau melihat orang-orang mukmin dalam kasih sayang, kecintaan, kelemahlembutan mereka seperti halnya tubuh yang satu; apabila salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka akan membuat sekujur tubuh merasakan begadang dan panas.” (HR. Al Bukhari dan Muslim.)

Disebutkan pula dalam hadits yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amru secara marfu’,

إِنَّ مِنْ خَيْرِكُمْ أَحْسَنُكُمْ خُلُقًا

“Sungguh yang baik diantara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ خُلَقًا

“Sungguh orang pilihan diantara kalian adalah yang memiliki akhlak paling baik. ” (HR. Al Bukhari dan yang lainnya.)

Diriwayatkan dari ‘Adi bin Hatim secara marfu’,

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

“Takutlah kalian dari api neraka walaupun dengan memberikan kurma yang sedikit, jika tidak, maka bisa dengan ucapan yang baik. ” (HR. Al Bukhari dan Muslim.)

Diantara adabmu pada maqam ini adalah engkau mempercayai semua yang ikhwan kabarkan, juga pada semua yang mereka perintahkan dan arahkan, hal ini sesuai dengan sabda Nabi Saw yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Mas’ud secara marfu’,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصَّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا. وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Hendaknya kalian berkata jujur, sesungguhnya kejujuran itu menunjukkan pada kebaikan dan sungguh kebaikan itu menunjukkan pada surga. Seseorang masih saja berlaku jujur dan berupaya untuk selalu jujur sampai Allah mencatatnya sebagai orang yang jujur. Janganlah kalian berdusta, sungguh kedustaan itu menunjukkan pada kedurjanaan, sungguh kedurjanaan menunjukkan pada neraka. Seseorang masih saja berdusta dan selalu berdusta sampai Allah mencatatnya sebagai pendusta.” (HR. Al Bukhari; Muslim; Abu Daud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan redaksi hadits yang panjang.)

Apabila ada perbuatan yang mengundang kemarahanmu, maka engkau harus bisa menahan diri dan menata kondisi jiwamu, hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah secara marfu’,

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya saat marah. ” (HR. Al Bukhari; Muslim dan Abu Daud.)

Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfu’ disebutkan,

أَنَّ رَجُلًا زَارَ أَخَا لَهُ فِي قَرْيَةٍ أُخْرَى، فَأَرْصَدَ اللَّهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا، فَقَالَ لَهُ : أَيْنَ تَذْهَبُ ؟ قَالَ: أَزُورُ أَخَا لِي فِي اللهِ فِي قَرْيَةِ كَذَا وَكَذَا ، قَالَ : هَلْ لَهُ عَلَيْكَ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا ؟ قَالَ: لَا ، وَلَكِنَّنِي أَحْبَبْتُهُ فِي اللَّهِ، قَالَ: فَإِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكَ: أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ

“Sungguh ada seorang lelaki yang menziarahi saudaranya di sebuah desa, ditengah perjalanan Allah mengirimkan padanya malaikat. Ketika malaikat datang padanya, malaikat berkata, “Engkau ingin kemana?”, lelaki itu menjawab, “Aku ingin mengunjungi saudaraku di desa ini,” Malaikat berkata, “Apakah engkau punya nikmat yang akan kau beri?’ lelaki itu menjawab, “Tidak, kecuali aku cinta sadaraku karena Allah,” Malaikat berkata, “Sungguh aku adalah utusan Allah kepadamu, sungguh Allah telah cinta padamu sebagaimana engkau cinta saudaramu karena Allah. ” (HR. Muslim)

Disebutkan pula dalam hadits ‘Ubâdah yang diriwayatkan secara marfu’,

حَقَّتْ مَحَبَّنِي لِلْمُتَحَايِّينَ فِيَّ، وَحَقَّتْ مَحَبَّنِي لِلْمُتَوَاصِلِينَ فِيَّ، وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ، وَحَقَّتْ مَحَبَّنِي لِلْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ

“Kecintaan-Ku terpatrikan pada orang-orang yang mencintai-Ku, Kecintaan-Ku terpatrikan pada orang-orang yang senantiasa menyambung tali silaturahmi karena-Ku, Kecintaan-Ku terpatrikan pada orang-orang yang mengerahkan hartanya karena-Ku. ” (HR. Al Hakim dalam Mustadrak-nya)

Dalam sebagian riwayat ‘Ubadah terkait hadits ini Allah Swt berfirman (dalam hadits qudsi),

قَدْ حَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلَّذِيْنَ يَتَحَابُّوْنَ مِنْ أَجْلِي، وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلَّذِيْنَ يَتَصَافُوْنَ مِنْ أَجْلِي، وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلَّذِينَ يَتَزَاوَرُونَ مِنْ أَجْلِي، وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلَّذِينَ يَتَبَاذَلُونَ مِنْ أَجْلِي، وَحَقَّتْ محَبَّتِي لِلَّذِينَ يَتَنَاصَرُونَ مِنْ أَجْلِي

“Kecintaan-Ku telah terpatrikan bagi orang-orang yang saling mencintai lantaran Aku, kecintaan-Ku telah terpatrikan bagi orang-rang yang mensucikan diri lantaran-Aku, kecintaan-Ku telah terpatrikan bagi orang-orang yang saling mengunjungi lantaran Aku, kecintaan-Ku telah terpatrikan bagi orang-orang yang mengerahkan hartanya lantaran Aku, kecintaan-Ku telah terpatrikan bagi orang-orang yang saling tolong menolong lantaran Aku” (HR. Ahmad; Ath-Thabrani dalam tiga redaksi hadits; Al Hakim, dimana la menilainya shahih.)

Dengan seperti inilah engkau mengunjungi mereka guna memberbaiki yang salah dan mengokoh kan kembali tujuan mereka; engkau melakukan ini tak lain hanya mengharap ridho Allah Swt. Jika toh nampak perkara yang jelas kurang dari mereka, maka janganlah engkau marah, engkau harus bersikap lemah lembut, memberikan nasehat dan petunjuk sampai hati mereka lentur. Jangan pula engkau berbicara dengan mereka kecuali dengan kata-kata yang sesuai dengan kadar pemahaman dan pengetahuan mereka. Terimalah alasan yang mereka kemukakan, sebab disebutkan dalam hadits marfu’,

مَنِ اعْتُذِرَ إِلَيْهِ فَلَمْ يَقْبَلْ لَمْ يَرِدْ عَلَى الْحَوْضِ

“Barangsiapa diberi alasan, lalu dia tidak menerimanya, maka dia tidak masuk ke dalam haud.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al Ausath.)

Dalam riwayat lain dari ‘Aisyah disebutkan,

وَمَنِ اعْتَذَرَ إِلَى أَخِيهِ الْمُسْلِمِ مِنْ شَيْءٍ بَلَغَهُ عَنْهُ فَلَمْ يَقْبَلْ عُذْرَهُ لَمْ يَرِدْ عَلَى الْحَوْضِ

“Barangsiapa yang memberikan alasan kepada saudaranya yang muslim dari sesuatu perkara (yang terjadi) dengan cara menyampaikannya dan dia tidak menerimanya, dia tidak masuk ke dalam haudh. ” (HR. Ath-Thabrani)

Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari ‘Ubadah secara marfu,

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلُّ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيْرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا

“Bukan dari umatku orang yang tidak menghormati yang lebih tua, menyayangi yang muda dan mengetahui hak orang yang alim diantara kami. ” (HR. Ath-Thabrani, sanadnya hasan.)

Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas secara marfu’,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَفِّرِ الْكَبِيرَ، وَيَرْحَمِ الصَّغِيْرَ وَيَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ، وَيَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ

“Bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang tua, menyayangi yang muda, memerintah pada perkara yang ma’ruf dan mencegah diri dari yang mungkar. ” (HR. Ahmad; Al Bazzar dengan redaksi semisal; Ath-Thabrani dengan redaksi ringkas, dengan menambah redaksi, “dan mengetahui hak kami.”)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik secara marfu’,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَفِّرِ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَّغِيْرَنَا

“Bukan bagian dari kami orang yang tidak menghormati orang tua kami dan menyayangi yang muda kami. ” (HR. Abu Ya’la; Ath-Thabrani dalam Al Ausath dengan tambahan redaksi, “Bersaudara dan suka mengunjungi.”)

Semua hadits diatas merupakan dalil tentang adab dalam syari’at, engkau hanya perlu mengamalkannya. Wallahul muwaffiq.

Ketiga, bersikap tawadhu’, menerima saran mereka, bersikap proporsional, berkhidmah pada mereka sesuai kemampuan diri, mengerjakan ragam perbuatan bersama mereka, perhatian terhadap kebutuhan mereka, menjawab pertanyaan mereka dengan lembut, mentolerir kesalahan dan kealpaan mereka, hal ini sebagaimana pernah dijelaskan oleh Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.

Rasulullah Saw pun senantiasa tawadhu’ dan tidak sombong, beliau sering duduk lama dengan kaum fakir dari kalangan orang-orang mukmin dan orang-orang yang lemah, beliau menyambut mereka dengan suka cita, beliau makan dan minum bersama mereka, beliau pun banyak melakukan aktifitas bersama mereka yang dapat mengokoh kan tali ikatan cinta pada hati mereka. Beginilah Ahlullah sejak zaman sahabat Nabi Saw hingga hari Kiamat, mereka inilah orang-orang fakir dan lemah yang merupakan hamba-hamba Allah yang dicintai.

Al Hafiz Abu Nu’aim meriwayatkan dengan sanadnya dari ‘Abdullah bin Umar bin Al Khaththab, dia berkata: Umar pernah berjalan bersama Mu’adz, dan Mu’adz menangis, Umar pn bertanya, “Apa yang membuat mu menangis wahai Mu’adz?” Mu’adz menjawab, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda,

أَحَبُّ العِبَادِ إِلَى اللهِ تَعَالَى : الأَنْقِيَاءُ الْأَخْفِيَاءُ الَّذِينَ إِذَا غَابُوْا لَمْ يُفْتَقَدُوْا وَإِذَا شَهِدُوا لَمْ يُعْرَفُوْا أُوْلَئِكَ هُمْ أَئِمَّةُ الهُدَى وَمَصَابِيحُ الْعِلْمِ

Hamba-hamba Allah yang paling Dia cintai adalah orang-orang yang bertakwa, yang tersembunyi; mereka lah orang-orang yang ketika mereka tidak hadir, tidak dicari keberadaannya; ketika mereka ada, merekapun tidak dikenal, mereka inilah imamnya hidayah dan lentera ilmu.”

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

سَاَ صْرِفُ عَنْ اٰيٰتِيَ الَّذِيْنَ يَتَكَبَّرُوْنَ فِى الْاَ رْضِ بِغَيْرِ الْحَـقِّ ۗ وَاِ نْ يَّرَوْا كُلَّ اٰيَةٍ لَّا يُؤْمِنُوْا بِهَا ۚ وَاِ نْ يَّرَوْا سَبِيْلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلًا ۚ وَّاِنْ يَّرَوْا سَبِيْلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلًا ۗ ذٰلِكَ بِاَ نَّهُمْ كَذَّبُوْا بِاٰ يٰتِنَا وَكَا نُوْا عَنْهَا غٰفِلِيْنَ
sa ashrifu ‘an aayaatiyallaziina yatakabbaruuna fil-ardhi bighoiril-haqq, wa iy yarou kulla aayatil laa yu-minuu bihaa, wa iy yarou sabiilar-rusydi laa yattakhizuuhu sabiilaa, wa iy yarou sabiilal-ghoyyi yattakhizuuhu sabiilaa, zaalika bi-annahum kazzabuu bi-aayaatinaa wa kaanuu ‘an-haa ghoofiliin

“Akan Aku palingkan dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku) orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar. Kalaupun mereka melihat setiap tanda (kekuasaan-Ku) mereka tetap tidak akan beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak (akan) menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menempuhnya. Yang demikian adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lengah terhadapnya.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 146)

Sedangkan orang-orang yang pantas menyombong kan diri di muka bumi ini dengan alasan yang benar, mereka adalah orang-orang yang ridha menjadikan Allah sebagai tuhan, Islam sebagai agama dan Nabi Muhammad Saw sebagai nabi dan utusan Allah; orang-orang yang Allah lapangkan hati mereka untuk Islam, Allah terangi akal mereka dengan petunjuk keimanan, ruh mereka mencair lantaran rindu dan cinta untuk berjumpa dengan Allah, dimana tangan mereka memiliki kuatnya dalil keimanan; sungguh mereka ini layak untuk sombong; bukan sombong kepada makhluk dan hamba Allah, akan tetapi sombong kepada fitnah dunia, gemerlapnya dunia, ragam cobaan di dunia dan sombong pada rongrongan dan tipu daya syaithan. Barangsiapa yang pada pagi harinya bersaksi bahwa dia tidak memiliki Rabb kecuali Allah, tidak memiliki raja kecuali Allah, tidak memiliki ilah kecuali Allah, tidak memiliki Dzat yang dicinta kecuali Allah, kekurangan dirinya tidak menutupinya dari menyaksikan kesempurnaan Rabbnya, kekurangannya pun tidak memangkasnya untuk menyaksikan kedekatan pada-Nya; dengan demikian dia pantas sombong kepada dunia ini sebagai ungkapan syukur kepada Allah; senang dengan anugerah dan pemberian-Nya.

Rabi’ah Al ‘Adawiyyah pernah melihat sebagian orang shaleh yang jalannya berlagak sombong, diapun terkejut akan hal itu. Orang sholeh tersebut pun berkata: “Mengapa aku tidak melakukan itu, sementara aku pada pagi ini memiliki Rabb, dan aku menjadi hamba-Nya.”

(Yang diinginkan dari gambaran ini adalah di dalam kalbunya ada keceriaan dan kebahagiaan lantaran dia menjadi hamba-Nya Allah. Allah lah Rabbnya dan dia adalah hamba-Nya. Maka pantaslah jika dia berjalan dengan berlagak sombong, dimana dia menyaksikan hari raya dalam ruh, akal, kalbu dan jiwanya. Sungguh perasaan ini tidak ada yang dapat mengelaknya dan pasti kondisi jiwanya tetap proposional; inilah syahadah (penyaksian); inilah kebahagia-an; inilah gambaran orang-orang yang ‘Arifbillah, dan pertanda orang-orang yang telah wushul pada Allah; Maka terkait dengan orang-orang seperti ini kita harus tawadhu’ dan lemah lembut pada mereka ketika kita temui mereka).

Perlu diketahui bahwa tawadhu’ bukannya menampakkan kekhusyuan dengan tidak bersuara, diam layaknya orang mati, mencium bumi atau sujud; semua ini keluar dari batasan tawadhu’, dia ini melakukan perkara ingkar yang patut kita ingkari. Seorang mukmin memang seharusnya tawadhu’ namun tanpa adanya penyimpangan dari bentuk tawadhu sebenarnya, kami berusaha memberikan pemahaman kepada mereka mengenai tawadhu’ yang benar namun mereka menolak dan berdalih mengikuti generasi pendahulu mereka.

Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mengingkari orang yang mencium tanah yang ada disekitarnya bahkan menganggap kufur perbuatan itu, karena itu bentuk sujud pada selain Allah, maka kamipun senantiasa memohon hidayah Allah Swt untuk kami dan ikhwan semua. Engkau wahai ikhwan, sungguh engkau tidak dapat mengaplikasikan ragan adab tersebut sampai engkau meyakini bahwa semua ikhwan memiliki sisi kewalian dan kedekatan diri dengan Allah; juga sampai engkau mengakui bahwa mereka (para ikhwan) memiliki keutamaan dibandingkan dirimu sebagaimana kebiasaan orang-orang shaleh terdahulu.

Dalam beberapa hari ini ada detikan jiwa yang tiba-tiba membuatku bersedih, hal itu karena aku melihat amal shaleh dan ketaatanku berkurang, ketika aku buka Al Qur’an, ketika aku mendapat ayat-ayat adzab, aku merasa bahwa akulah orang yang lebih pantas mendapatkan ancaman Allah dan ketika aku mendapati ayat adzab, maka seolah-olah aku adalah orang yang paling jauh, yang bisa mendapatkan nikmat tersebut, orang yang sering putus asa. Gangguan ini menyelimuti aku sepanjang malam hingga aku tidak makan pada waktu itu. Namun ketika hari semakin malam dalam kondisiku yang seperti itu, tiba-tiba ada kebahagiaan mendalam yang datang padaku, aku merasa nyaman, aku bertarung dengan diri sendiri apakah aku harus mengkaji kitab ataukah harus melakukan shalat. Ketika kondisinya demikian, tiba-tiba ada kondisi jiwa lain yang datang padaku, memerintahkanku untuk mencari penyebab kebahagiaan tadi itu bisa muncul, sehingga pupuslah keinginanku untuk mengkaji kitab dan malah teringat dengan orang-orang yang meninggalkan shalat dan orang-orang yang meremehkan shalat, akupun teringat akan ragam hadits tentang rahmatnya Allah, akupun katakanı pada diriku, bahwa tidak diragukan lagi bahwa aku lebih baik dari pada mereka yang meninggalkan shalat dan bergelimang syahwat, dengan demikian aku temui bahwa yang menyebabkan aku bahagia adalah aku terbawa oleh angan-angan. Segera aku sadar dari hal tersebut dan aku tahu bahwa kondisiku yang lebih baik dari mereka (orang-orang yang meninggalkan shalat) termasuk sifat sombong diriku, jika bukan karena Allah lekas beri aku tobat, niscaya aku sudah binasa dan segala amalanku akan sima begitu saja. Syaithan mengarahkanku pada kondisi jiwa diatas dengan menggiring pemikiranku untuk memuncul kan hadits nabi Saw, “Janganlah salah seorang diantara kalian melihat pada orang yang ada diatasnya (kondisinya), dan hendaknya dia melihat pada orang yang ada di bawah (kondisinya).”

Dirikupun terpedaya dan menyatakan bahwa tidak boleh melihat pada amalan orang-orang yang memiliki maqam yang tinggi dari kalangan orang-orang shaleh dan ahli ibadah, dimana yang diperbolehkan adalah melihat pada amalannya orang yang amalannya dibawahmu, sebab disanalah sisi rahmatnya Allah itu berada, berdalih dengan hadits, “Ada tujuh golongan yang Allah naungi mereka…diantaranya adalah pemuda yang giat ibadah pada Allah.” Hampir saja aku terlena dengan hal ini, tetapi Allah masih senantiasa mengirimkan sinyal kasih sayangnya padaku sehingga akupun tahu bahwa keberadaan hadits-hadits diatas tentang ragam nikmat duniawi dan bukan pada kondisi diriku itu. Jika kita memandang akhirat, maka seyogyanya memandang pada orang yang memiliki maqam dan kondisi jiwa yang lebih tinggi dari kita. Sedangkan terkait dengan ragam nikmat duniawi, maka seyogyanya kita melihat pada orang yang memiliki nasib dibawah kita agar kita senantiasa bisa bersyukur pada Allah Swt dan jangan sekali-kali kita melihat pada orang yang memiliki nasib lebih baik dari diri kita sebab itu akan mengotori keyakinanmu dan membuatmu lupa akan ragam nikmat Allah yang telah Dia berikan, sehingga engkau mengingkarinya.

Keempat, meyakini sisi kewalian, kesempurnaan, kejernihan dan keutamaan para ikhwan tanpa melihat kekurangan mereka. Ketika engkau belum berkeyakinan itu, maka engkau belum bisa memperlakukan mereka dengan perlakuan yang diridhai Allah dan rasul-Nya, engkaupun tidak dapat menyaksikan kesempurnaan dan kejernihan jiwa mereka. Semua ikhwan merupakan orang-orang Islam yang beriman, mereka semua telah menjalankan ragam kewajiban dan menjauhi ragam perkara yang dilarang; baik itu perkara yang syubhat maupun perkara yang haram, bahkan mereka pun senantiasa menambahkan dengan ragam amaliyah yang sunah dan senantiasa ingat akhirat, mereka meninggalkan dunia dengan hati dan akal mereka. Jika toh ada kekurangan dari mereka itu sama seperti mereka dalam kondisi sakit yang segera pulih dan dapat kembali melakukan ragam amal perbuatan. Mereka inilah wali-walinya Allah dalam Islam, dimana seorang wali tidak disyaratkan memiliki karomah dan menampakkan ragam keajaiban seperti yang disangka oleh orang-orang yang tidak mangetahuinya; inilah sifat mereka, sehingga engkaupun harus yakin akan kesempurnaan, keutamaan mereka. Jika engkau telah bisa meyakini kesempurnaan dan kewalian mereka, maka engkau wajib melakukan dua hal ini:

1. Berupaya seoptimal mungkin melakukan ragam perkara yang mereka sukai dengan tulus ikhlas karena Allah semata, maka pada sisi ini tidak ada lagi kemunafikan, penghinaan dan hanya cari muka.

2. Tidak menyakiti mereka, sebab orang yang menyakiti walinya Allah bisa diperangi.

Al Bukhari dan Abu Nu’aim dalam Al Hilyah meriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, dia berkata: Rasulullah Saw bersabda,

إِنَّ اللّٰهَ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ: مَنْ آذَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَفْضَلَ مِنْ أَدَاءِ مَا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبَ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبُّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِمَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، فَلَئِنْ سَأَلَنِي عَبْدِي أَعْطَيْتُهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيْذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسٍ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَكْرَهُ إِسَاءَتَهُ أَوْ مَسَاءَتَهُ

“Sungguh Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Orang yang menyakiti wali-Ku, maka aku telah izinkan dia untuk diperangi. Tidaklah hamba-Ku mendekat pada-Ku dengan suatu perkara yang lebih utama daripada melakukan perkara yang telah Kuwajibkan untuknya. Masih saja hamba-Ku mendekat pada-Ku dengan perkara sunah, hingga Aku mencintai nya dan ketika Aku sudah mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatan yang dia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memegang, menjadi kaki yang dia gunakan untuk berjalan. Andai dia meminta pada-Ku, pasti aku beri permintaannya. Andai ia memohon perlindungan dari-Ku pasti Aku melindunginya. Aku tidak pernah ragu melakukannya apapun sebagaimana keraguan-Ku dengan jiwa seorang mukmin; dia membenci kematian dan Aku tidak mau menyakitinya.” (Redaksi hadits ini milik Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya).

Abu Nu’aim pun meriwayatkan dengan sanadnya dari riwayat ‘Aisyah secara marfu’ kepada Nabi Saw tentang apa yang diriwayatkan dari Rabbnya ‘Azza wa jalla, beliau bersabda,

مَنْ أَذَى لِي وَلِيًّا فَقَدِ اسْتَحَلَّ مُحَارَبَتِي

“Orang yang menyakiti wali-Ku, maka dia telah menabuh genderang perangi dengan-Ku.”

Diriwayatkan pula dengan sanad beliau dari Ibnu “Umar, dia berkata: “Umar mendapat Mu’adz bin Jabal sedang duduk menangis di area mimbar Rasulullah Saw, ‘Umar berkata, ‘apa yang membuatmu menanggis?’ Mu’adz menjawab, ‘Yang membuatku menangis adalah sesuatu yang pernah aku dengar dari Rasulullah Saw, beliau pernah bersabda,

إِنَّ يَسِيرَ الرِّيَاءِ شِرْكٌ، وَإِنَّ مَنْ عَادَى اللَّهِ وَلِيًّا فَقَدْ بَارَزَ اللَّهُ بِالْمُحَارَبَةِ

Sungguh riya yang sedikitipun itu adalah perbuatan syirik dan sungguh orang yang memusuhi wali-Ku, maka Allah secara terang-terangan mengajaknya berperang, ” (HR. Al Balhaqi dalam Syu’ab Al Iman, Abu Nu’aim dalam Hilyah-nya)

Al Hafiz Abu Nu’aim berkata: Para wali Allah memiliki ciri-ciri yang nampak, tanda jelas yang dapat diketahui, bahkan orang shaleh, orang yang mati syahid dan para nabi cemburu ingin mendapatkan maqam ini.

Diriwayatkan dengan sanad beliau dari ‘Umar bin Al Khaththab terkait pertanda wali Allah yang dapat disaksikan, dia berkata: Rasulullah Saw bersabda,

إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ لَأُنَاسًا مَا هُمْ بِأَنْبِيَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمُ الأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِمَكَانِهِمْ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَالَ رَجُلٌ: مَنْ هُمْ وَمَا أَعْمَاهُمْ لَعَلَّنَا تُحِبُّهُمْ، قَالَ: قَوْمٌ يَتَحَابُّوْنَ بِرَوْحِ اللَّهِ عَزَّوَجَلَّ مِنْ غَيْرِ أَرْحَامٍ بَيْنَهُمْ وَلَا أَمْوَالٍ يَتَعَاطُوْنَهَا بَيْنَهُمْ، وَاللَّهِ إِنَّ وُجُوْهَهُمْ لَنُوْرٌ وَإِنَّهُمْ لَعَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُوْرٍ، لَا يَخَافُوْنَ إِذَا خَافَ النَّاسُ وَلَا يَحْزَنُوْنَ إِذَا حَزِنَ النَّاسُ، ثُمَّ قَرَأَ : اَ لَاۤ اِنَّ اَوْلِيَآءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ 

“Sungguh diantara hamba-hamba Allah ada sekelompok manusia, mereka bukan kalangan para nabi, bukan pula kalangan orang-orang yang mati syahid, pada hari Kiamat para nabi dan syahid cemburu pada mereka lantaran posisi mereka dari Allah Swt, seseorang berkata, ‘Siapa mereka? lantas apa amalan mereka, semoga kami mencintai mereka’, Rasulullah Saw bersabda, ‘Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai dengan ruh-Nya Allah tanpa adanya tali kasih dan juga harta yang bisa saling mereka berikan. Demi Allah sungguh wajah-wajah mereka bercahaya, sungguh mereka berada diatas mimbar-mimbar dari cahaya, mereka tidak takut disaat manusia lainnya takut, mereka tidak bersedih kala manusia lainnya bersedih, Kemudian Rasulullah Saw membacakan ayat, “Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Yunus 10: Ayat 62).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَ لَاۤ اِنَّ اَوْلِيَآءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ 
alaaa inna auliyaaa-allohi laa khoufun ‘alaihim wa laa hum yahzanuun

“Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”
(QS. Yunus 10: Ayat 62)

Diriwayatkan pula dari ‘Amru bin Al Jamuh, dia berkata: sungguh Rasulullah Saw bersabda,

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِنَّ أَوْلِيَائِي مِنْ عِبَادِي وَأَحِبَّائِي مِنْ خَلْقِي الَّذِينَ يُذْكَرُونَ بِذِكْرِي، وَأُذْكَرُ بِذِكْرِهِمْ

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Sungguh para wali-Ku dari hamba-hamba-Ku dan orang-orang yang paling Kucintai dari ciptaan-Ku, mereka adalah orang-orang yang senantiasa berdzikir dengan mengingat-Ku dan Aku pun ingat pada mereka.

Diriwayatkan dari Ibnu Sa’id Ra, dia berkata: Rasulullah Saw pernah ditanya siapakah wali Allah?” Rasulullah Saw menjawab,

الَّذِينَ إِذَا رُؤُوا، ذُكِرَ اللَّهُ تَعَالَى

“Yaitu orang-orang yang jika dilihat, membuat Allah Azza wa Jalla disebut.”

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, dari Nabi Saw, bahwa beliau pernah bersabda,

إِنَّ اللَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ ضَنَائِنُ مِنْ عِبَادِهِ يُغْذِيْهِمْ فِي رَحْمَتِهِ وَيُحْيِيهِمْ فِي عَافِيَتِهِ، إِذَا تَوَفَّاهُمْ إِلَى جَنَّتِهِ، أُوْلَئِكَ الَّذِيْنَ تَمُرُّ عَلَيْهِمْ الْفِتَنَ كَقَطْعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ وَهُمْ مِنْهَا فِي عَافِيَةٍ

“Sungguh Allah memiliki hamba-hamba yang tidak pernah Dia tinggalkan; Dia memberi mereka makan dalam rahmat-Nya; menghidupkan mereka dalam kondisi ‘Afiyah; Jika Dia mematikan mereka, Dia mematikan mereka untuk menuju surga-Nya; mereka adalah orang-orang yang kerap menjalani fitnah yang pahit, layaknya seperti potongan malam yang gelap, sementara mereka tetap dalam kondisi afiyah dalam menjalaninya.”

Aku katakan (Syaikh Ibrahim Shalih Al Husaini): Jika engkau mau mentadabburi ragam hadits diatas dengan kesadaran penuh, maka engkau akan temui dirimu di tengah-tengah kalangan wali Allah, kapan saja engkau berada dikalangan orang-orang muslim yang shaleh. Sebab inilah ragam ciri orang-orang shaleh yang tidak lagi membutuhkan karomah atau perkara diluar nalar manusia. Persaudaraan karena Allah; maka tidak dipungkiri lagi bahwa mereka inilah wali-walinya Allah Swt meski derajat kedekatan mereka kepada Allah Swt berbeda-beda, namun ini tidak menafikan hukum asal aspek kewalian. Sebab hukum asal kewalian seseorang ini ada pada setiap orang yang beriman dengan kadar cahaya keimanan yang berbeda-beda sesuai dengan perbedaan cahaya keimanan dan amaliyah orang tersebut.

Kadar kewalian setiap manusia sesuai dengan kadar keimanannya. Engkau tidak perlakukan mereka sesuai dengan sisi kewaliannya, sebab engkau tidak mengetahui hal itu secara yakin, sehingga engkau perlakukan mereka berdasarkan sisi kewalian mereka. Jika engkau telah melakukan ragam adab yang wajib bagimu dalam memperlakukan mereka, maka kebodohanmu atas ragam tingkatan dan martabat mereka sama sekali tidak memudharatkanmu.

Adab ini kiranya telah dipahami oleh murid-murid Tijany yang memiliki kecintaan yang tulus dalam rangka mengikuti ragam perkara umum yang telah disampaikan oleh Syaikh Ahmad At-Tijany Ra; yaitu senantiasa menjaga ikatan cinta bagi semua umat Islam dan sesama ikhwan. Benar pulalah yang disampaikan oleh Syaikh Ahmad At-Tijany Ra bahwa diantara syarat sebuah wiridan adalah senantiasa menyambung tali silaturahmi dengan semuanya; tepatnya adalah antara kalian dan sesama ikhwan thariqah yang saling menziarahi karena Allah, saling menyambung tali silaturahmi karena Allah, saling memberi makan karena Allah dengan tidak menyusahkan yang bersangkutan.

Bahkan Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah berkata dalam kesempatan lainnya, “Hendaknya kalian saling berwasiat dengan kesabaran, hendaknya kalian berwasiat dengan sisi rahmat-Nya Allah, jangan sampai ada seseorang diantara kalian meremehkan hak ikhwan; baik untuk mendapatkan kecintaan, atau menolak perkara buruk ataupun menolong saat melihat ikhwan dalam kesulitan. Sungguh orang yang Allah uji dengan menyia-nyiakan hak ikhwan, sejatinya dia diuji dengan menyia-nyiakan hak ilahiyyah, Allah akan melindungi seorang hamba, selagi hamba tersebut melindungi saudaranya.”

Telah diriwayatkan dengan shahih dari Nabi Saw, bahwa beliaupun merasa tersakiti ketika para sahabat beliau disakiti.

Ketahuilah bahwa ini berlaku secara umum bagi semua kaum muslimin. Sebab orang yang menyakiti siapa saja orang yang dinisbatkan kepada Nabi Saw; baik lantaran sisi agama atau juga sisi nasab, maka orang tersebut sejatinya telah menyakiti nabi Saw. Setiap muslim yang bermisbat pada Nabi dengan sebab yang paling kuat; yaitu agama; dimana agamalah yang pada hari Kiamat Allah angkat; hari dimana Allah putuskan semua nasab dan sebab.

Dalam hadits shahih yang diriwayatkan dari Mus’ab bin Sa’d bin Abi Waqqash, dia berkata: Sa’id merasa bahwa dirinya memiliki kelebihan dibanding orang lain dibawahnya, maka Nabi Saw bersabda,

هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ

“Apakah kalian senantiasa ditolong dan diberi rezeki, terkecuali lantaran orang-orang yang lemah diantara kalian.”

Dalam sebagian riwayat yang terdapat pada beberapa kitab Sunan, yang diriwayatkan dari Sa’ad, bahwa dia merasa memiliki kelebihan dibanding sahabat lain dibawahnya; maka Rasulullah Saw bersabda,

إِنَّمَا نَصَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلاصِهِمْ.

“Sungguh Allah menolong umat ini hanya dengan orang-orang lemah dari kalangan mereka; yaitu dengan do’a, shalat dan keikhlasan mereka.

Dalam riwayat Abu Nu’aim disebutkan:

يُنْصَرُ الْمُسْلِمِينَ بِدُعَاءِ الْمُسْتَضْعَفِينَ

“Kaum muslimin itu ditolong dengan do’anya orang-orang yang lemah.”

Dalam riwayat lain yang mengarah pada sisi mursal, tetapi muatan kontennya menunjukkan bahwa Mus’ab mendengar riwayat ini dari ayahnya; hal ini telah dipastikan oleh Al Isma’ily dari jalur periwayatan Mu’adz bin Hânî: Muhammad Thalhah menceritakan kepada kami, dia mengatakan hadits ini dari Mush’ab bin Sa’ad dari ayahnya, dia berkata, ‘Rasulullah Saw bersabda,

هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ ؟

“Apakah kalian ditolong dan diberi rezeki… terkecuali lantaran keberadaan orang-orang lemah diantara kalian?.”

Al Hafiz Ibnu hajar dalam Fath Al Bari mengatakan: Perlu diketahui bahwa sebenarnya Sa’ad tidak melihat dirinya lebih unggul daripada orang-orang mukmin yang lemah dalam perkara akhirat, sekalipun dia memang tergolong orang yang mubadzir. Aku kira dia hanya melihat dirinya itu mendapatkan jatah harta perang yang lebih lantaran keberanian dan upaya kerasnya dalam menghalau musuh, sehingga dia mengira bahwa lelaki pemberanilah yang layak mendapatkan jatah lebih dari orang yang tidak sepertinya, inilah perkara yang ditunjukkan dengan kata “Lebih” yang diriwayatkan oleh Abdurrazzaq bin Hammam, dari jalur periwayatan Makhul: Sa’ad berkata, ‘Wahai Rasulullah; bagaimana pandangan baginda terhadap lelaki yang menjaga kaumnya dan menolong para sahabatnya; apakah jatahnya sama dengan jatah yang lainnya?.”

Inilah yang disampaikan oleh Al Hafiz Ibnu Hajar Al Asqalani, oleh karena itu yang dimaksudkan dalam riwayat diatas adalah keinginan Sa’ad mendapatkan jatah lebih dari harta rampasan perang, sehingga Nabi Saw mengajarkan nya, bahwa jatah peperangan adalah sama, sekalipun orang yang berani, dia memang memiliki kelebihan dalam keberaniannya, maka orang yang lemah pun memiliki kelebihan dalam do’a dan keikhlasan mereka.

Al Muhallab berkata, “Nabi Saw mengharuskan Sa’ad agar bersikap tawadhu’ dan menafikan keunggulan diri dari yang lainnya serta tidak mengejek seorang muslim dalam kondisi apapun.”

Aku berkata (Syaikh Ibrahim Shalih Al Husaini): Hadits diatas jelas menunjukkan unggulnya orang-orang yang lemah dalam Islam dan membantah orang-orang yang mengingkari unggulnya orang-orang yang lemah lagi mengaku-ngaku dengan kedustaan bahwa Allah menyamakan keberkahan dan keunggulan setiap manusia dengan cara meletakkan beberapa ayat dan hadits tentang kesetaraan bukan pada tempatnya. Meski demikian, engkau masih harus menghormati dan memuliakan, sebab tanpa diragukan lagi, mereka adalah para walinya Allah Swt; jika engkau paham benar apa yang dimaksud dengan walinya Allah, dimana mereka tidak memiliki karomah dan ragam perkara diluar nalar manusia, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang beriman, yang bertakwa, yang senantiasa menyembunyikan amal perbuatan, yang memiliki jiwa bebas.

Disaat Bilal dan Shuhaib berkata kepada Abu Sufyan disaat dia lewat dihadapan keduanya, “Pedang Allah tidak akan mengambil jatah musuh Allah.” Maka Abu Bakar mencemooh keduanya dengan dalih bahwa Abu Sufyan itu adalah pemuka kaum yang diperintahkan oleh Rasulullah Saw agar dia bisa kembali kepada kaumnya dan membuat perdamaian. Maka Abu Sufyan pun kembali kepada kaumnya meminta maaf dan kaumnya memaafkan dia.

Inilah sisi yang paling jelas menggambarkan ketawadhuan para pembesar wali Allah terhadap orang yang level kewaliannya dan maqam-nya dibawahnya. Dalam hadits shahih yang diriwayatkan dari Sa’ad bin Ibrahim dari ayahnya; Ibrahim; bahwa ‘Abdurrahman bin ‘Auf Ra membawa makanan sementara dia sedang berpuasa, dia berkata: “Mus’ab bin Umair terbunuh, dia lebih baik dariku, dia dikafankan dengan selendang yang jika ditarik menutupi wajahnya, kedua kakinya terlihat dan jika kedua kakinya ditutupi, maka kepalanya akan terlihat dan aku bisa melihatnya. Dia berkata: Hamzah terbunuh dan dia lebih baik dariku, kemudian dunia dihamparkan untuk kami atau dia mengatakan: Kami diberikan bagian dari dunia, kami takut kebaikan kami dipercepat kemudian menjadikan kami menangis sampai kami tidak makan.

Az-Zain bin Munir Al Maliki berkata: Dari kisah Abdurrahman dapat kita ambil faedah; mengutamakan orang yang fakir daripada orang kaya, mengutamakan ibadah daripada bekerja, oleh karena itu dia tidak makan karena dia sedang berpuasa.

Aku katakan (Syaikh Ibrahim Shalih Al Husaini): Hadits diatas menggambarkan sisi ketawadhuannya yang nampak terlihat pada orang yang levelnya dibawahnya, sebab dia pun termasuk salah satu dari sepuluh orang yang mendapatkan berita gembira masuk suurga (Al mubasyyirin bil jannah). Dalam hadits diataspun terlihat gambaran penyaksian dirinya terhadap Allah Swt dan rasa takutnya terhadap istidraj dan makar ilahi. Dia menyangka bahwa ragam nikmat yang dia miliki telah dia syukuri dengan optimal adalah ujian yang terkadang bisa memutus dirinya dari Allah Swt lantaran harta dan kedudukan yang dimiliki sebelum masa Islam, maka tidak diragukan lagi bahwa ini adalah ragam akhlak dan adab yang wajib diikuti oleh para wali Allah pada setiap zaman. Jangan engkau katakan lantas siapa orang yang bisa seperti Mush’ab dan Hamzah hingga aku bisa gauli mereka dengan gambaran mu’amalah ini. Baiklah aku setuju bahwa di zaman ini tidak ada orang yang semisal mereka selama lebih dari 1280 tahun, atau semenjak wafatnya sahabat Mush’ab bin ‘Umair tahun 110 H, akan tetapi apakah engkau seperti Abdurahman bin ‘Auf hingga engkau minta diperlakukan seperti perlakuan terhadap mereka?

Perlu engkau ketahui bahwa para wali Allah pada setiap zamannya adalah orang-orang shaleh yang beriman, maka perlakukanlah orang shaleh yang beriman di zamanmu ini dengan perlakuan diatas niscaya engkau akan mendapatkan pahala yang melimpah dan keberkahan yang tidak akan habis. Setiap amal perbuatan manusia bergantung pada niatnya dan setiap orang akan diganjar sesuai niatnya, dimana paling utamanya orang shaleh di setiap zaman adalah para ulama rabbani dan pemimpin mereka.

Ibnu Uyainah berkata: Sebagian pakar fikih berkata: Dikatakan bahwa ulama itu ada tiga: Orang yang alim dengan perintah Allah, orang yang alim kepada Allah, dan orang yang alim kepada Allah dan perintah Allah. Orang yang alim terhadap perintah Allah, dia orang yang mengetahui As-Sunnah dan tidak takut pada Allah. Sedangkan orang yang alim kepada Allah, dia takut pada Allah dan tidak mengetahui As-Sunnah. Sementara orang yang alim kepada Allah dan perintah-Nya, dia mengetahui As-Sunnah dan takut pada Allah, inilah yang dipanggil dengan nama yang besar di langit. (HR. Abu Nu’alm dari jalur periwayatan ‘Ali bin Khasyram darinya.)

Sufyan berkata: Paling utamanya ilmu adalah ilmu tentang Allah dan ilmu tentang perintah Allah. Apabila seorang hamba alim kepada Allah dan alim terhadap perintah Allah, maka itu sudah cukup. Seorang hamba tidak menggapai nikmat yang lebih utama dari ilmu kepada Allah dan ilmu terhadap perintah Allah. Seorang hamba tidak mendapatkan cobaan yang lebih dahsyat daripada bodoh kepada Allah dan bodoh terhadap perintah Allah.”

Aku katakan (Syaikh Ibrahim Shalih Al Husaini): Sufyan mengkategorikan, ada orang yang alim kepada Allah dan orang yang alim kepada Allah dan juga terhadap perintah Allah. Mengenai yang pertama; dia termasuk orang-orang yang takut, dimana rasa takutnya ini menghalanginya dari berbuat maksiat dan ragam pelanggaran. Yang kedua; dia takut pada Allah dengan penuh keilmuan lantaran sisi ma’rifat-nya pada Allah; dia adalah wali Allah, cinta padanya bagian dari kecintaan pada Allah, taat padanya pada perkara yang baik termasuk bagian dari ketakwaan diri kepada Allah, bernisbat padanya termasuk bemisbat pada Allah Swt.

Orang yang melazimkan diri dengan ragam persyaratan dalam bergumul dengan para wali Allah, ini dapat melatih diri untuk dapat memikul perkara yang tidak disukai lagi sulit. Engkau seharusnya menyambung tali silaturahmi orang yang memutuskannya lantaran adanya perkara tersembunyi yang nampak padamu, perkara yang terkadang tidak kau anggap perkara aib, jangan engkau perlakukan dengan serupa, sebab thariqah ini terdiri dari akhlak dan juga adab. Dalam sebuah hadits disebutkan,

صِلْ مَنْ قَطَعَكَ، وَأَعْطِ مَنْ حَرَمَكَ، وَاعْفُ عَمَّنْ ظَلَمَكَ

“Sambunglah orang yang memutuskan tali silaturahmi, berilah orang yang tidak memberi padamu, maafkan orang yang menzhalimimu.”

Inilah keistimewaan terbesar dari akhlak yang baik. Pembicaraan seputar bab ini sangatlah luas. Singkatnya; engkau harus beradab kepada sesama ikhwan secara umum. Orang yang disalahkan oleh Syaikh, terkadang ikhwan menjauhinya, sampai terjadi perdamaian antara dirinya dan juga syaikh. Sedangkan orang yang disalahkan oleh ikhwan, maka sangat susah dia menjauhi sikap adil Syaikh. Sementara ragam perkara batin, urusannya kita serahkan pada Allah Swt. Lihatlah dirimu wahai saudaraku sebelum kejadian serupa menimpamu, banyak orang yang bersahabat dengan Syaikh dan para wali Allah tanpa adab, maka mereka pun hanya mendapatkan perkara yang memudharatkan dalam hal agama dan dunianya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَعَلَى اللّٰهِ قَصْدُ السَّبِيْلِ وَمِنْهَا جَآئِرٌ ۗ وَلَوْ شَآءَ لَهَدٰٮكُمْ اَجْمَعِيْنَ
wa ‘alallohi qoshdus-sabiili wa min-haa jaaa-ir, walau syaaa-a lahadaakum ajma’iin

“Dan hak Allah menerangkan jalan yang lurus, dan di antaranya ada (jalan) yang menyimpang. Dan jika Dia menghendaki, tentu Dia memberi petunjuk kamu semua (ke jalan yang benar).”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 9)

Wahb bin Munabbih pernah berkata: Sungguh Allah berfirman kepada Musa, “Sungguh seorang hamba tidak berhias untuk-Ku dengan hiasan yang lebih mengena daripada sikap zuhud di dunia, sungguh itu pakaian orang-orang yang bertakwa. Mereka memakai pakaian yang menandakan ketenangan jiwa dan kekhusyuan, ada bekas sujud di wajah mereka, merekalah benar-benar para wali-Ku. Jika kalian temui mereka, rendah dirilah pada mereka dan hinakan kalbu dan lisanmu. (HR. Ibnu Abi Hatim secara panjang lebar.)

Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah berkata dalam Jawahir. “Hendaknya kalian saling berwasiat dengan kesabaran, hendaknya kalian berwasiat dengan sisi rahmat-Nya Allah, jangan sampai ada seseorang diantara kalian meremehkan hak ikhwan; baik untuk mendapatkan kecintaan atau menolak perkara buruk ataupun menolong saat melihat ikhwan dalam kesulitan. Sungguh orang yang Allah uji dengan menyia-nyiakan hak ikhwan, sejatinya dia diuji dengan menyia-nyiakan hak ilahiyyah. Allah akan melindungi seorang hamba, selagi hamba tersebut melindungi saudaranya.”

Bahkan Syaikh Ahmad At-Tijany Ra memasukkan perkara diatas menjadi persyaratan thariqah beliau, ketika ada ikhwan yang merupakan salah satu dari walinya Allah, dia akan diuji dengan menyia-nyiakan hak mereka (para wali Allah) dengan perkara yang lebih besar dari itu; yaitu menyia-nyiakan hak ilahiyyah, dimana tidak diragukan lagi dia akan binasa, sesuai dengan firman Allah Swt,

يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْاِ نْسَا نُ مَا سَعٰى 
yauma yatazakkarul-ingsaanu maa sa’aa

“yaitu pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya,”
(QS. An-Nazi’at 79: Ayat 35)

وَبُرِّزَتِ الْجَحِيْمُ لِمَنْ يَّرٰى
wa burrizatil-jahiimu limay yaroo

“dan neraka diperlihatkan dengan jelas kepada setiap orang yang melihat.”
(QS. An-Nazi’at 79: Ayat 36)

فَاَ مَّا مَنْ طَغٰى 
fa ammaa mang thoghoo

“Maka adapun orang yang melampaui batas,”
(QS. An-Nazi’at 79: Ayat 37)

وَاٰ ثَرَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا 
wa aasarol-hayaatad-dun-yaa

“dan lebih mengutamakan kehidupan dunia,”
(QS. An-Nazi’at 79: Ayat 38)

فَاِ نَّ الْجَحِيْمَ هِيَ الْمَأْوٰى 
fa innal-jahiima hiyal-ma-waa

“maka sungguh, nerakalah tempat tinggalnya.”
(QS. An-Nazi’at 79: Ayat 39)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَقَدْ خَا بَ مَنْ دَسّٰٮهَا 
wa qod khooba mang dassaahaa

“dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
(QS. Asy-Syams 91: Ayat 10)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّاۤ اَنْذَرْنٰـكُمْ عَذَا بًا قَرِيْبًا ۙ يَّوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدٰهُ وَيَقُوْلُ الْـكٰفِرُ يٰلَيْتَنِيْ كُنْتُ تُرٰبًا
innaaa angzarnaakum ‘azaabang qoriibay yauma yangzhurul-mar-u maa qoddamat yadaahu wa yaquulul-kaafiru yaa laitanii kungtu turoobaa

“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (orang kafir) azab yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, “Alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah.””
(QS. An-Naba’ 78: Ayat 40)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَنْ تَقُوْلَ نَفْسٌ يّٰحَسْرَتٰى عَلٰى مَا فَرَّطْتُّ فِيْ جَنْبِۢ اللّٰهِ وَاِ نْ كُنْتُ لَمِنَ السّٰخِرِيْنَ 
ang taquula nafsuy yaa hasrotaa ‘alaa maa farrottu fii jambillaahi wa ing kungtu laminas-saakhiriin

“agar jangan ada orang yang mengatakan, “Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang mengolok-olokkan (agama Allah),””
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 56)

Penyia-nyiaan merupakan bala bagi orang kafir dan musyrikin serta semua orang yang menyesal ketika penyesalan tidak berguna lagi. Maka jagalah ragam hak wali Allah dari ikhwanmu. Jangan sampai engkau ter-hijab dari penyaksian sisi rahasia mereka.

Diantara syarat terbesar dalam thariqah At-Tijaniyyah adalah menghormati para wali Allah secara mutlak, meyakini keutamaan yang mereka miliki dan mempercayai ragam karomah mereka; ini adalah madzhabnya Ahlussunnah. Terkait larangan Syaikh Ahmad At-Tijany Ra agar tidak menziarahi mereka (wali Allah), hal ini bukan lantaran beliau menghinakan mereka atau meremehkan mereka, akan tetapi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menjaga kemaslahatan murid tarbiyah dalam thariqah At-Tijaniyyah.

Orang yang ‘Arifbillah telah sepakat bahwa murid tarbiyah hanya punya satu guru, dia tidak dapat mengambil manfaat ketika ada keraguan dalam dirinya antara syaikh ini dan itu. Allah Swt telah membuat ragam sifat syaikh yang berbeda-beda, luapan cahaya yang memiliki kekuatan berbeda-beda, hal ini akan mengganggu kalbu sang murid yang tidak tulus hanya pada satu syaikh. Sisi keikhlasan yang sempunalah yang membuat dirinya siap mengambil ragam asrar ilahiyyah dan anwar rabbani. Maka jika demikian kondisinya, fokus pada satu Syaikh itu lebih utama.

Sedangkan menziarahi para wali Allah dengan niatan menyambung tali silaturahmi karena Allah, atau menziarahi kuburan mereka untuk mengambil pelajaran, berdzikir dan mendo’akan mereka, maka perkara ini telah disepakati kebolehannya, dalilnya adalah apa yang tertera didalam As-Sunnah, tidak ada seorang pun yang mengharamkannya. Dalam thariqah tidak ada syarat yang menyelisihi Al Qur’an dan As-Sunnah.

Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah berkata, “Jika kalian mendengar sesuatu dariku, maka timbanglah itu dengan neraca syari’at; apa yang cocok amalkan, dan apa yang menyelisihi tinggalkanlah.” Ini merupakan timbangan yang sangat detail yang Syaikh Ahmad At-Tijany Ra tetapkan bagi thariqah beliau, maka hendaknya semua perkataan yang bertentangan dikembalikan kepada kaidah agung tersebut.

Ada satu kaidah yang dipaparkan pada kami, yang darinya terbangunlah semua hukum, yaitu bahwa tiada yang bisa memberikan hukum kecuali Allah dan Rasul-Nya. Juga semua hukum dan fatwa para ulama menjadi baik ketika disandarkan pada Al Qur’an dan As-Sunah. Gambaran ini jelas menunjukkan bahwa Syaikh Ahmad At-Tijany Ra berpegang teguh pada As-Sunnah dan mengajak untuk mengamalkannya.

Sumber : BUKU NAHJUL HAMID RAGAM KEWAJIBAN BAGI MUQADDAM DAN MURID (NAHJUL HAMID FIMA YAJIBU ‘ALAL MUQADDAMI WAL MURIID) SYAIKH IBRAHIM AL HUSAINI AT-TIJANY