You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Thariqah At-Tijaniyyah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Thariqah At-Tijaniyyah

Thariqah At-Tijaniyyah merupakan thariqahnya Maulana Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra; yang merupakan thariqah ilmu, ma’rifat dan ikhlas. Banyak kalangan ulama terkemuka dan menjadi sandaran pemikiran Islam mengamalkan thariqah ini. Thariqah ini terdiri dari dua wiridan (pagi dan sore), wazhifah dan hailalah. Selain ini, yang terkandung dalam beberapa buku thariqah tersebut adalah bagian dari pembahasan tasawuf dan bukan pembahasan thariqah, inilah yang kami nukil dari semua ulama thariqah ini.

Syaikh Ahmad bin Al Iyasyi Sukairij pernah mengatakan: “Maulana Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra telah meyakini bahwa kemudian hari akan ada orang yang berdusta mengatasnamakan beliau dari kalangan orang-orang yang membual lagi memiliki pemikiran yang bertentangan terkait Ahlullah. Maka Syaikh Ahmad At-Tijany Ra membebaskan diri dari semua perkara yang dinisbatkan pada beliau yang melanggar syari’at, sehingga beliau berkata, ‘Jika kalian mendengar sesuatu dariku, maka timbanglah itu dengan neraca syari’at, apa yang cocok amalkan dan apa yang bertentangan lemparkanlah itu (tinggalkan)’.”

Jika hal ini sudah jelas bagimu; baik engkau tergolong orang yang meyakini atau malah yang mengkritisi, maka tidak diragukan lagi engkaupun tidak akan menerima bualan yang dinisbatkan kepada Syaikh Ahmad At-Tijany Ra yang membebaskan diri dari ragam tuduhan ini; baik engkau sendiri yang mengklarifikasi bahwa perkataan ini dinukil dari beliau atau dinukilkan orang lain dari beliau; baik yang menukil golongan orang yang cinta pada beliau atau golongan orang yang memusuhi beliau; baik yang disebutkan bahwa perkataan tersebut disadur dari ragam kitab thariqah beliau atau yang lainnya atau perkataan tersebut tersebar luas diantara sahabat beliau atau orang lainnya, maka beliau telah berlepas diri dari perkataan itu; perkataan yang menyelisihi perkara syari’at; baik berupa perkataan, tindakan maupun kondisi jiwa.

Kemudian Syaikh Ahmad Sukairij berkata dalam Jinayah Al Muntasab, “Jika para muqaddam dalam thariqah At-Tijaniyyah yang senantiasa berpegang teguh pada manhaj-nya menjelaskan kepada orang yang ingin masuk ke dalam thariqah ini, bahwa ragam amalan selain wiridan lazim pagi dan sore, wazhifah dan hailalah merupakan amalan yang tidak lazim dikerjakan bagi seorang murid, niscaya bentuk pengingkaran terhadap thariqah At-Tijaniyyah ini pun akan sima. Orang-orang yang membenci thariqah ini pun tidak lagi senang lantaran tidak adanya hal yang dapat mereka kritik.

Jika engkau telah mengetahui perkara ini, maka semua perkataan orang-orang yang memusuhi thariqah Tijany; yang mengatakan bahwa akidah orang-orang Tijany terkadang dinisbatkan pada akidah Bathiniyyah, terkadang dinisbatkan kepada akidah Imamiyyah, terkadang ada juga yang lain, yang melantangkan kata-kata kufur, yang menyandarkan kata-kata tersebut pada tuduhan orang Nashrani atau Orientalis dan juga Yahudi. Maka aku (Syaikh Shalih Ibrahim Al Husaini) katakan kepada mereka yang pantas kukatakan bahwa semua itu adalah perkara bathil lagi dusta, ragam prasangka tersebut terlahir dari minimnya cahaya keimanan dalam diri orang tersebut, dimana sebelumnya engkau telah tahu bahwa thariqah itu adalah berkaitan dengan wiridan, bukan yang lain.

Syaikh Ahmad Sukairij juga pernah berkata dalam Thariq Manfa’ah. Maksud kedua: Tentang peringatan bagi sang murid agar tidak lazim mengikuti syaikhnya dalam perbuatan, perkataan dan ahwal beliau kecuali jika Syaikh menyuruh melakukannya. Dengan hal ini, maka kami belum pernah mendengar dari guru kami Syaikh Ahmad At-Tijany Ra bahwa beliau memerintahkan sahabat beliau dan orang-orang yang mengambil thariqah dari beliau, agar mereka mengikuti semua perkataan, perbuatan dan semua ahwal (kondisi jiwa) yang keluar dari madzhab yang empat dan akidah yang benar, akan tetapi yang sampai pada kami adalah bahwa keutamaan yang telah ditetapkan oleh Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, maka itu merupakan sisi keutamaan Allah Swt, itu juga sesuai dengan apa yang dijanjikan oleh Rasulullah Saw, yang bisa diraih oleh orang yang telah diberi izin membaca ragam wiridannya; baik wiridan (pagi dan sore), wazhifah dan dzikir hailalah sesuai dengan persyaratan yang berlaku, bukan yang lainnya.

Bangunan dasar thariqah ini adalah melaksanakan wiridan lazimah setelah berupaya melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya sesuai dengan kemam-puan diri, baik dalam kondisi sepi atau ramai. Menjalankan shalat wajib dengan memenuhi ragam syaratnya serta berupaya senantiasa fokus dalam setiap gerakannya. Selebihnya dari perkara ini merupakan keutamaan Allah yang disesuaikan dengan kemampuan diri sang murid dalam ber-mujahadah dalam ibadah dan memiliki niat yang ikhlas serta jujur dalam mu’amalahnya kepada Allah dan juga manusia. Mengosongkan diri dari setiap perbuatan yang buruk, menghiasi diri dengan ragam perkara baik; yaitu ragam perkara yang diwasiatkan oleh Syaikh Ahmad At-Tijany Ra kepada sahabatnya, sehingga mereka tidak merasa aman dari makar Allah. Beradabnya seseorang kepada Allah sesuai dengan kadar kuatnya cahaya dalam diri.

Syaikh Ali Khawwash pernah berkata, “Orang yang beranggapan bahwa dia sudah beradab dihadapan Allah Swt tanpa adanya perantara guru atau Rasulullah Saw, maka dia telah berakhlak buruk pada Allah Swt dan suluknya tidak sempurna, berbeda dengan orang yang beradab kepada Allah Swt dengan menyaksikan adanya perantara-perantara, maka suluknya akan terus berjalan. Hal ini menandakan sisi kecintaan sang murid kepada syaikhnya layaknya magnet yang menarik seseorang untuk meningkat pada ragam martabat berikutnya..” Perkataan diatas pun menunjukkan bahwa orang yang menghormati syaikh, maka diapun akan mendapatkan kucuran bantuan ruhani yang melimpah, dimana kehormatan Syaikh adalah bagian dari kehormatan Allah. Al Hatimi berkata:

مَا حُرْمَةُ الشَّيْخِ إِلَّا حُرْمَةَ اللَّهِ # فَقُمْ بِمَا أَدَبًا لِلَّهِ بِاللَّهِ

“Tidaklah kecuali kehormatan syaikh itu adalah bagian dari kehormatan Allah # maka laksanakanlah itu dengan beradab kepada Allah.”

Untuk itu perkaranya harus benar bisa dipastikan bahwa itu dari Syaikh atau dari seorang wali agar seorang murid bisa benar-benar mempercayainya. Kemudian sang murid ini tidak terputus dari thariqah kecuali dia melanggar perjanjian terkait perkara yang belum diizinkan dalam wiridan lazim, kecuali dia mengambil thariqah itu secara musyafahah (bertatap muka) dengan cara ber-talaqqi, atau dengan perantara seorang muqaddam yang telah ditaqdim oleh muqaddam sebelumnya dengan izin muqayyad atau mutlaq. Seorang murid pun tidak terputus madad-nya kecuali adanya kekurangan; seperti dirinya murtad. Ragam penjelasan ini pun ada dalam buku-buku thariqah, silahkan rujuk kembali bagi orang yang ingin mengkajinya.

Aku katakan (Syaikh Ibrahim Shalih Al Husaini):

Ragam persyaratan yang dipaparkan oleh Syaikh Ahmad Sukairij, bahwa seorang murid terputus dari thariqah At-Tijaniyyah lantaran tiga sebab:

Pertama, meninggalkan wiridan secara keseluruhan setelah mengambilnya.

Kedua, mencampuradukkan wiridan thariqah At-Tijaniyyah dengan wiridan thariqah lainnya

Ketiga, berziarah kepada wali-wali Allah dengan tujuan ber-istimdad.

Ragam persyaratan ini tidak ada kaitannya dengan apa yang dikutip oleh mereka dari ragam buku-buku yang berlabel thariqah, dimana kita telah ketahui bahwa ragam buku ini merupakan buku ilmiah yang dapat diambil manfaatnya bagi orang yang menginginkannya. Tidak ada seorang pun yang bisa menyusun kembali dan menisbatkan ini kepada Tijany, kecuali jika memang digiring kepada makna yang telah dikenal oleh pengamal thariqah At-Tijaniyyah dan telah diketahui secara pasti, kecuali jika memang penulisnya adalah pendusta; suka memanipulasi lagi zhalim, dimana semua yang mereka tuduhkan akan kembali kepadanya.

Jika engkau telah mengetahui hakekat thariqah At-Tijaniyyah, dimana ia terdiri hanya tiga wiridan, maka tidak ada gunanya apa yang dikatakan oleh orang yang hanya mengaku-ngaku lagi bodoh.

Untuk menjelaskan pembahasan ini, kami akan suguhkan pembahasan yang dituliskan oleh Maulana Syaikh Ibrahim bin Al Hajj Abdullah Inyâs yang menjawab pertanyaan orang-orang yang mengkritik, tujuannya tak lain agar hakekat thariqah At-Tijaniyyah ini tersingkap jelas, bahwa thariqah At-Tijaniyyah ini senantiasa memiliki keterkaitan dengan Al Qur’an dan As-Sunnah, yaitu seperti yang tertera dalam kitab Mathrab As-Sâmi’în wan-Nâzhirin: “Kitab ini diberikan oleh Syaikh Islam Maulana Al Hajj Ibrahim bin Al Hajj ‘Abdullah Inyas Al Kulkhi. Beliau menuliskan ijazah secara lengkap yang mencakup thariqah, hakekat dan syari’at. (Lihat bab akhir dari kitab ini).

Sumber : BUKU NAHJUL HAMID RAGAM KEWAJIBAN BAGI MUQADDAM DAN MURID (NAHJUL HAMID FIMA YAJIBU ‘ALAL MUQADDAMI WAL MURIID) SYAIKH IBRAHIM AL HUSAINI AT-TIJANY