
Elsubha.com – Nafa`is dan Asrar : Mengeraskan Suara Saat Berdzikir
Kutipan dari kitab Nubdzah al Mukhtashirah fi Raddi ‘ala Man Yaruddu ‘ala Auliya `i Allah al Khiyarah Karya al Faqih al Hajjuji.
Diriwayatkan dari Al Bukhari dan Muslim dari riwayat Ibnu Abbas Ra, Iya berkata,
أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Sungguh mengeraskan suara saat berdzikir ketika orang-orang telah selesai dari shalat maktubiah itu ada pada masa Rasulullah Saw.”
Dzikir khafi adalah dzikiran yang tersembunyi dari malaikat pencatat, bukan berdzikir dengan suara lirih, di mana dzikiran ini pun khusus untuk Nabi Saw dan juga orang yang menjadikan beliau sebagai suri tauladan. Apabila ada orang yang berdzikir dalam kondisi sedang berkumpul banyak orang, maka mereka memiliki hak untuk mengeraskan suara. Namun apabila dia berdzikir sendirian, atau bagian dari orang-orang khusus, maka yang paling utama pada haknya adalah berdzikir dengan suara lirih. Sementara jika yang berdzikir orang awam, maka berdzikir dengan mengeraskan suara pada haknya adalah perkara yang lebih utama.
Ibnu Hajar al Asqalani pernah berkata, “Orang yang mengatakan, bahwa mengeraskan suara saat berdzikir adalah perkara bid’ah tidaklah benar, karena perkara tersebut telah diriwayatkan secara shahih dari hadis Ibnu Abbas Ra; yaitu hadits diatas (Sungguh mengeraskan suara saat berdzikir ada pada masa Rasulullah ketika orang-orang telah menyelesaikan shalat maktubah).
Kedua, bahwa makna yang biasa dimutlakkan sebagai “berjoget” maksudnya adalah condong ke kanan dan ke kiri tanpa berlari, tanpa tepuk tangan, bahkan perbuatan mengharuskan adanya kekhusyuan, maka ini merupakan perkara yang boleh dilakukan dan tidak mengapa, inilah yang dimaksud oleh para ulama yang mengatakan bolehnya perkara tersebut.
Begitu pula yang dinukil oleh pengarang Al Bughyah yang menunjukkan, bahwa berdzikir dengan gambaran tersebut boleh dilakukan. Beliau pun mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan “berjoget” itu adalah condongnya badan ke kanan dan kekiri. Inilah yang menjadi pendapat pengamal thariqah khalwatiyyah.
“Semoga Allah mengangkatmu dari dzikir dengan adanya ke-ghoflah-an diri menuju dzikir dengan adanya kesadaran diri dan orang yang berdzikir dengan adanya kesadaran diri menuju dzikir dengan adanya kehadiran kalbu dan orang yang berzikir dengan adanya kehadiran kalbu menuju dzikir dengan adanya sisi ghaibah dari Dzat yang didzikiri.”ира
Didalam hadits Nabi Saw disebutkan,
إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Apabila aku telah perintahkan kalian dengan sebuah perintah, maka lakukanlah perintah itu sesuai dengan kemampuan kalian.”
Dikatakan pada Abu Usman: “Sungguh kami berdzikir namun kalbu kami tidak menemukan kemanisan dari dzikiran tersebut,” maka beliau pun berkata, “Pujilah Allah yang telah menghiasi salah satu dari anggota tubuh kalian untuk taat padanya.”
Sebagian orang yang Arifbillah berkata, “Berjalanlah menuju Allah dengan hati yang pecah dan janganlah kalian lihat sisi sebuah kesehatan, karena menunggu kesehatan tersebut adalah perkara zhalim, di mana meminta taufik Allah, hakikatnya adalah taufik itu sendiri.”
As-Suhruwardi meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai pada Nabi Saw, beliau menceritakan dari Rabb-nya, “Apabila perkara yang dominan ada pada hambaku adalah sibuk dengan-Ku, maka Aku akan jadikan keinginannya ada dalam mengingat-Ku, kerinduan-Ku adalah kerinduannya, Aku pun akan angkat hijab antara Aku dan dirinya, dia pun tidak akan lupa ketika manusia lupa.”
Perkataan mereka (para wali Allah) seperti perkataan para nabi, mereka adalah para pahlawan hakiki, mereka adalah orang-orang yang apabila Allah ingin beri cobaan dan adzab pada penduduk bumi, kemudian mereka berdzikir mengingat-Nya, Allah pun palingkan adzab tersebut dari mereka.
