
Elsubha.com – Nafa`is dan Asrar : Sebab Sayyidi Muhammad Al Hajjuji Masuk Dalam Thariqah
Terkait dengan hal ini Sayyidi Muhammad Al Hajjuji pernah menuliskan dalam kitab Nail al Murad sebagai berikut:
Sejak aku kecil Allah membuat aku suka menziarahi para wali-wali pilihan. Sungguh aku memuji Allah lantaran memberikan padaku berupa kecintaan yang sempurna dan kepercayaan yang bagus, maka aku pun tidak menoleh pada orang yang menilai negatif, takut masuk ke dalam peringatan yang disebutkan dalam hadits shahih dari Nabi Saw, bahwa Nabi Saw pernah bersabda:
يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : مَنْ عَادَ لِي وَلِيًّا فَقَدْ أَذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ
Allah berfirman, “Orang yang memusuhi wali-Ku, maka aku telah tabuh genderang perang dengannya.” maksudnya adalah, mengumumkan pada mereka bahwa sungguh Aku (Allah) pun memeranginya maksudnya adalah, sungguh Akulah (Allah) yang membinasakannya, ini pernah dikatakan oleh al Fakihani.
Aku pun banyak berdzikir pada Allah Swt khususnya di saat aku mendengar ada dzikiran khusus untuk melihat Baginda Nabi Saw, maka aku pun segera mengamalkannya. Sehingga aku pun suka melakukan beragam perkara nafilah sampai aku ber-nadzar pada diriku untuk membaca shalawat sebanyak 100 juta dengan shighat shalawat Fatih, 5 kali menghantamkan Al Qur’an, membaca hizib saifi 100 kali serta menghadiahkan seluruh bacaan itu kepada ruh penghulunya alam semesta sebagai simbol kerinduan, kecintaan terhadap sisi jamal al Muhammadi, seraya mencoba merasakan nikmatnya menyebut nama beliau yang mulia, juga sebagai simbol memohon diturunkannya rahmat ketika nama beliau disebutkan. Aku pun memenuhi janji nadzar-ku itu dengan keutamaan yang diberikan oleh Allah yang Maha Perkasa lagi Mulia.
Aku pun berharap pada Allah untuk masa depan agar mengaruniakanku dengan amalan shaleh yang membuat-Nya ridha padaku, dengan tulus ikhlasnya amalanku untuk-Nya.
Aku pun tidak suka dengan orang-orang pelaku maksiat sampai suatu ketika aku melakukan sebuah kemaksiatan dan mencium bau yang tidak enak pada diriku seraya rasa takut senantiasa menemaniku bahkan sering kali aku menangis dan merendah diri pada Allah seketika aku mohon tobat pada Allah Swt.
Ketika aku sampai pada usia dewasa, aku pun masuk kota Qurawiyyin dengan tujuan menimba ilmu. Pembesar kerabatku banyak yang melarangku untuk berbaur dengan banyak orang karena dengan berbaur tersebut, mereka dominan melakukan dosa dan juga kotoran.
Diantaranya adalah aku pernah bermimpi melihat Nabi Saw berada di masjid ‘Uqbah bin Shawal di Fess, aku melihat beliau sedang berwudhu’ dengan air yang berada di halaman masjid tersebut, kemudian beliau menunjukku untuk menjadi imam dalam shalat; tidak tahu apakah itu shalat Zhuhur atau Ashar, tetapi yang pasti bahwa itu adalah shalat pada siang hari, ketika itu terdetiklah perkataan Abu Bakar ash-Shiddiq yang Nabi persilakan untuk menjadi imam shalat beliau Saw.
Mimpi tersebut pun membuatku berharap dari keutamaan-Nya agar mengaruniakanku berjumpa dengan Nabi Saw dalam kondisi yaqzhah, sebagai bentuk kepercayaanku pada hadits yang datang dari Nabi Saw, bahwa beliau bersabda:
مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَسَيَرَانِي فِي الْيَقَظَةِ وَلَا يَتَمَثَلُ الشَّيْطَانُ بِي
“Barangsiapa yang telah melihatku dalam mimpi niscaya dia pun akan melihatku dalam kondisi yaqzhah, dimana syaithan tidak bisa menyerupaiku.
(HR. Al Bukhari; Muslim; Abu Dawud dari riwayat Abu Hurairah.)
