
Elsubha.com – Nafa`is dan Asrar : Tujuh Sahabat Nabi Dari Barbar
وَقَدِّمْ بِأَقْصَى الْعَرَبِ سَبْعَةُ أَجِلَّةٍ # لهُمْ رَتْبَةٌ عُلْيَا عَلَى أَهْلِ ذَا الْقِطْرِ
بِصُحْبَةِ خَيْرِ الْخَلْقِ خَصُّوْا وَقَدَّمُوا # بِمَغْرِبنَا طُرًّا عَلَى كُلِّ ذِي قَدَرٍ
فَذَاكَ ابْنُ شِمَاسٍ وَنَحْلِهِ صَالِحٌ # برْسَمِينَ عَبْدُ اللَّهِ أَدْنَاسٍ ذُو السِّرِّ
بَخَابِيَةٌ عِيْسَى وَيَعْلَى بْنُ وَاطِلٍ # سَعِيدُ مَنْ يَبْقَى فِي الْمَلَا طِيبَ الذِّكْرِ
بِهِمْ فَخَرْتُ رَجَاجَةً وَهُمُ الْآلِي # أَتَوْ مُصْطَفَى الرَّحْمَنِ فِي صُحْبِهِ الْعِزَّ
فَرَدَّ سَلَامَ الْقَوْمِ بِاللُّغَةِ الَّتِي # بِهَا سَلِّمُوا وَالسَّرُّ مِنْهُ لَهُمْ يُسْرَى
تَأَدَّبْ بِتَقْدِيمُ الصَّحَابَةِ وَاغْتَنِمْ # زِيَارَتَهُم تَحْطَى بِمَأْدَبَةِ الْأَجْرِ
وَأُهْدِيَ صَلَاةً لِلْحَبِيْبِ مُحَمَّدٍ # تَلَاهَا سَلَامٌ عَرَّفَهُ طِيبَ النَّشْرِ
“Di penghujung Arab ada tujuh sahabat mulia yang dikedepankan # mereka memiliki derajat yang tinggi bagi penduduk daerah tersebut
Dengan modal bersahabat dengan paling baik yang makhluk, mereka dikhususkan dan dikedepankan di kota Maghrib kami dari semua yang memiliki kedudukan Yaitu Ibnu Simas dan anak beliau Shaleh, Bersamin; Abdullah Adnas yang memiliki sirr.
Bakhabiyah Isa dan Ya’la Bin Wathil # Said bin Yabqa yang biasa disebutkan dengan perangai baik oleh banyak orang
Dengan merekalah aku bangga nan gembira # mereka adalah keluargaku mereka mendatangi nabi dengan bersuhbah
Beliau menjawab salam kaum tersebut dengan bahasa # yang dengannya membawa keselamatan dimana sirr dari beliau terus mengalir pada mereka
Beradablah dengan mendahulukan para sahabat dan manfaatkanlah # menziarahi mereka engkau pun akan mendapatkan hidangan pahala
Dan berikanlah shalawat (rahmat) untuk kecintaanku Muhammad, yang beriringan dengan keselamatan yang membawa kebaikan yang menyerbak.”
Aku katakan: Nukilan kitab tersebut dari tulisan tangan Sayyidi Ahmad Sukairij, yang maknanya adalah Siapakah Rasulullah? Beliau Saw pun menjawab dengan maknanya “Saya,” lalu Nabi bersabda, “Kemarilah.”
Mengenai Sayyidi Abu Bakar Bin Simas Ra, beliau dikuburkan di tepian pantai Sayazhimah di kota Ayit Isa, sehingga dikatakan anak keturunannya adalah Isa. Kuburan beliau terkenal, tempatnya bernama Aqramud. Anak beliau bernama Shaleh dikuburkan dalam satu liang yang sama.limom grut Abd
Sedangkan Sayyidi Rasmin, kuburan beliau ada di bukit Hadid di kota Sayazhimah. Sementara Sayyidi Abu ‘Abdillah Adnas, kuburan beliau berada di kota Iltawa`.
Lain halnya dengan Sayyidi Ya’la Bin Wathil, kuburan beliau berada di Ribath; Syakir al Ma’mûrah. Beliau adalah ayah dari Sayyidi Syakur yang dinisbatkan sebagai walinya kota Ribath. Banyak orang di sekitaran Merakesy pergi ke Ribath pada malam 27 Ramadan demi menghadiri khataman Qur’an bersama, dimana kita pun tahu bahwa perjalanan antara kota Ribath dengan Maroko sejauh perjalanan satu hari.
Sayyidi Sa’id bin Abi Yabqa, kuburan beliau berada di awal masuk kota Syayazhimah, yang terkenal dengan pekuburan Tamayiz. Kemudian Sayyidi Isa Bukhabiyah, kuburan beliau berada di penghujung lembah Tansif dekat dengan pekuburan Sayyidi ‘Abdullah Adnas Ra.
Mereka bertujuh ini sudah masyhur di kalangan banyak orang, sehingga menjadi tujuan untuk berziarah dari segala penjuru dalam berbagai musim di setiap tahunnya, terlebih ketika musim semi, para peziarah pun sangat banyak sehingga penghuni zawiyah Rajrajah menerima mereka sebagai tamu dengan penuh penghormatan sampai saat ini.
Penisbatan ungkapan sebagai sahabat nabi pada mereka telah tersebar luas dari lisan ke lisan khususnya pada penduduk Rajrajah dan yang lainnya. Sehingga tidak dikatakan bagaimana bisa sahabat nabi sampai ke negara tersebut, karena negara yang telah disebutkan diatas, juga merupakan negara yang baru ada, dimana setelah diutusnya Nabi Saw, para sahabat pergi ke kota tersebut demi menjaga tradisi leluhur bersama orang-orang yang nisbatnya kepada nabi Isa As, bahkan para sahabat pun memberikan kabar gembira untuk mereka dengan pengutusannya Nabi Saw sesuai dengan yang mereka yakini sejak zaman dulu hingga saat ini. Wallahu a’lam.
Telah tersebar luas bagi penduduk bahwa bukit yang menjadi penghalang antara negeri mereka dan padang pasir Maghrib ada tiga makam para nabi: Salah satunya adalah nabi Danial di kota Takmat, tempat ini sudah terkenal bagi penduduk Sus, sehingga saat ini mereka kerap bershalat istisqa di tempat tersebut ketika terjadi kering kerontang, Bahkan mereka pun meminta kesembuhan dengan washilah tanah tersebut. Mereka pun datang ke tempat itu demi beragam hajat mereka, dimana keluar dari kaki bagian kuburan tersebut mata air deras yang mampu memberikan manfaat bagi penduduk Takmat seluruhnya.
Disebutkan bahwa ada sebagian orang zhalim yang memagari kuburan beliau dengan sesuatu yang tidak pantas, maka keluarlah api dari kuburan tersebut hingga membakarnya dan juga membakar beberapa orang yang datang bersama orang tersebut dengan tak kurang dari 1000 pohon kurma yang terbakar di kota tersebut. Wallahu a’lam.
Yang kedua nama beliau adalah Sayyidi Walkanas, kuburannya ada di puncak bukit yang terletak di antara lembah Asafin, tempat tersebut pun telah dikenal bagi penduduk sekitar, dihormati dan menjadi tempat untuk berziarah, tidak ada penduduk yang tinggal di sekitaran kuburan tersebut. Orang yang ingin tinggal di sekitaran kuburan tersebut, maka dia pun akan segera binasa.
Yang ketiga namanya adalah Syanawil, kuburan beliau ada di kota Tamadlat, luar dari bukit yang telah disebutkan di atas; di sisi padang pasir. Di sana terdapat jejak sebuah kota besar, bahkan dikatakan bahwa kota tersebut dibangun tidak lama.
Di dekatnya ada kuburan Maulay ‘Abdullah bin Idris, dikatakan bahwa penyebab masuknya para nabi ke negeri Maghrib, yaitu bahwa Raja Bukhtanshir kerap membunuh para nabi, sehingga para nabi pun pergi dengan berlayar, dimana angin pun meniup mereka ke kota Ribath, lalu mereka pun mengarah ke arah kiblat.
Sehingga tidaklah dikatakan bahwa Negeri Magrib belum pernah dimasuki oleh seorang nabi, baik perkataan tersebut adalah perkataan yang tidak benar dan jika toh benar perkataan tersebut, maka dikatakan bahwa perbukitan tersebut bukanlah bagian dari negeri Maghrib, akan tetapi bagian dari padang pasir yang tanpa bukit mengelilinginya itulah yang disebut sebagai Maghrib.
مُشِيْنَاهَا خَطَّى كَتَبَتْ عَلَيْنَا # وَمَنْ كَتَبَتْ عَلَيْهِ خَطَّى مَشَاهَا
وَأَرْزَاقٌ لَنَا مُتَفَرَّقَاتٍ # فَمَنْ لَمْ يَأْتِهِ حَقًّا أَتَاهَا
ومَنْ كَانَتْ مَنِيَّتُهُ بِأَرْضِ # فَلَيْسَ يَمُوْتُ فِي أَرْضِ سِوَاهَا
Orang yang membenci kami tentang Maghrib, # wajib kami benci dan orang yang telah kami benci, iapun nista.
Keberadaan para nabi merupakan rezeki tersendiri bagi kani, # maka orang yang belum mendapat pencerahan kebenaran, dia pun tidak akan menziarahi kuburan tersebut.
Orang yang meninggal dunia pada suatu bumi, maka la tidak wafat di bumi selain itu.
Seyogyanya engkau menjauhkan diri dari beragam berita tersebut, bukan lantaran penisbatan sahabat bagi mereka yang tujuh itu, bukan pula lantaran di kuburannya para nabi yang telah disebutkan pada tempat-tempat di atas tadi, bahkan diwajibkan bagi kita untuk berserah diri atas beragam permasalahan tersebut, seraya mengagung-kan kuburan yang telah disebutkan di atas sebagai bentuk penghormatan yang pantas bagi mereka. Jika bukan lantaran adanya anggapan tentang sahabat nabi, maka berita tersebut pun tidak akan tercemar, tersebar dan santar, lantaran ditakutkan terjadi beragam perkara negatif dan bala yang besar. Berlindung pada Allah Swt dari su’ul adab yang menggiring pada kekufuran.
Ada seorang menuliskan sya’ir berikut:
أَعْدَى الْأَعَادِي إِلَيْكَ مَنْ تُوَاصِلَهُ # مِنْكَ الْأَيَادِي وَلَا يَزَالُ يُؤْذِيْكَ
يَأْتِيكَ فِي صُورَةِ الْمُحِبِّ وَهُوَ لَهُ # قَلْبٌ يَوَدُّ مَتَى تَلَقَّاهُ يُرْدِيْكَ
“Musuh yang paling buruk adalah orang kau raih tangannya tetapi ia masih saja menyakitimu
Sang musuh datang dengan gambaran orang yang cinta, kalbu bungah kala bertemu orang yang kau ingini.”
Aku pernah bertanya kepada Sayyidi Muhammad el Radhi Ganun tentang waktu kebersamaan tujuh orang sahabat di atas bersama Rasulullah, beliau menjawab padaku, “Mayoritas riwayat menyebutkan, bahwa mereka pernah bersama Nabi Saw selama satu bulan, di tengah waktu tersebut mereka mempelajari shalat fardhu, mandi, wudhu dan juga mempelajari beragam perkara dari sahabat yang utuh yang mampu berbicara dengan bahasa mereka seperti Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab dan Ali Kw.
rab Aku pun pernah bertanya tentang murid dari sahabat tersebut dari karangan tabi’in dan tabi’ tabi’in; siapa mereka dan dimana profil mereka,? Beliau menjawab padaku, bahwa berkaitan dengan keilmuan ini, belum pernah ada yang menuliskan, tidak adanya perhatian khusus untuk menuliskan sejarah dan profil keshalehan mereka dan ini yang amat disayangkan terjadi.
