You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Nafa`is dan Asrar : Kedua Orang Tua Nabi Saw Hidup Kembali Hingga Kami Beriman Padanya

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Nafa`is dan Asrar : Kedua Orang Tua Nabi Saw Hidup Kembali Hingga Kami Beriman Padanya

Dikutip dari kitab ad-Durr an-Nafis karya al ‘Allamah Abu al Abbas Sayyidi Ahmad bin Abdul Hay al Halabi, beliau meriwayatkan dari hadits Aisyah Ra tentang hidupnya kedua orang tua Nabi Saw sampai mereka beriman pada Nabi Saw.

As-Suhaili menjelaskan dalam Syarah Sirah dan juga al Khatib dalam kitab as-Sabiq Wallâhiq, ad-Daruquthni dan Ibnu Asakir dalam Ghara `ib Malik, al Baghawi dalam tafsirnya, al Muhib ath-Thabari dalam Khalashah as-Siyar serta para ulama kenamaan lainnya dimana mereka menjadikan hadits ini yaitu hadits mengenai perkara hidupnya kedua orang tua Nabi Saw sebagai hadits yang me-nasikh hadits-hadits sebelumnya lantaran hadits ini datangnya belakangan, mereka tidak memperdulikan ke-dhaifan hadits tersebut, karena hadits dha ‘if pun dapat diamalkan dalam fadhilah amalan dan manaqib (kisah baik orang terdahulu), maka dari pentingnya hal ini sebagian ulama ada yang menggubah sya’ir berikut:

وَابْنُ طَلَاعِ رُوِيَ أَنَّ أَحْمَدَ # أَتَى أَبَوَيْهِ فِي مَقَابِرٍ مَكَّةَ

فَأَحْيَاهُمَا رَبُّ الْعِبَادِ فَأَمَنَّا # بِهِ ثُمَّ عَادَا فِي ضَرِيحٍ وَتُرْبَةٍ

كَذَا السُّهَيْلِيُّ جَاءَ يَرْوِيْهِ بَعْدَهُ # لِدِى الرَّوْضِ شَرْحِ السَّيْرَةِ النَّبَوِيَّةِ

كَذَا السُّيُوطِي اخْتَارَ ذَا الْقَوْلِ بَعْدَهُ # فَطَالِعْ نُصُوْصَ الْقَوْمِ تَظْفَرُ بِمَنِيَّةٍ

“Dan sungguh Ibnu Tholaq telah meriwayatkan bahwa sungguh Ahmad # mendatangi kedua orang tuanya di pekuburan Makkah

Maka Allah Rabbul ‘Ibad menghidupkan keduanya dan keduanya pun beriman dengan Nabi Saw # kemudian keduanya kembali ke dalam kuburan dan tanah

Begitu juga as-Suhaili datang seraya meriwayatkan setelahnya # didalam kitab Raudh yang merupakan Syarah dari Sirah an-Nabawiyyah

Begitu pula as-Suyuthi memilih perkataan ini setelahnya, maka teliti kembali nash kaum niscaya akan beruntung.”

Al Hafizh Syamsudin Nashiruddin ad-Dimasqi menyenandungkan sya’ir:

حَبَا اللَّهُ النَّبِيَّ مَزِيدَ فَضْلٍ # عَلَى فَضْلٍ وَكُلِّ بِهِ رَءُوْفًا

فَأَحْيَ أَمَّهُ وَكَذَا أَبَاهُ # لإِيْمَانٍ بِهِ فَضْلًا لَطِيفًا

فَسَلِّمْ فَالْقَدِيرُ بِذَا قَدِيرٌ # وَإِنْ كَانَ الْحَدِيْثُ بِهِ ضَعِيفًا

(Lihat, al ‘Allamah Sayyidi Ahmad bin al Hajj al ‘lyashi Sukairij, Tsamrah al Funün fi Fawa ‘ida Tagirru biha al ‘Uyun.)

“Allah memberikan tambahan keutamaan pada Nabi # di atas keutamaan yang lain dan dengan beliaulah semuanya disayangi

Maka Allah menghidupkan Ibu beliau, begitu juga Ayah beliau # untuk beriman kepadanya sebagai sebuah keutamaan yang lembut

Maka berserahlah Dzat Allah yang Maha Mampu tentu mampu melakukan itu # meskipun hadits itu lemahan.

Sumber : BUKU NAFA `IS SUKAIRIJIYYAH (AN-NAFA `IS AS-SUKAIRIJIYYAH) SYAIKH AHMAD BIN AL ‘IYASY SUKAIRIJ AT-TIJANY