You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Nafa`is dan Asrar : Sebagian Karamah Sahabat Nabi

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Nafa`is dan Asrar : Sebagian Karamah Sahabat Nabi

Al Qadhi Abu al Abbas al Qasanthini yang terkenal dengan Ibnu Qanfad, yang mengarang profil tentang Abu Madyan sang wali ghauts, beliau berkata setelah berbicara seputar kewalian dan pembagiannya, berikut karamah dan beragam hukumnya, begini perkataan beliau:

“Andai engkau katakan: Apabila karamah itu menunjukkan sahnya sebuah ibadah, maka tidak ada yang lebih sah dari ibadahnya para sahabat nabi, lantas apakah para sahabat atau salah seorang dari mereka memiliki karamah atau tidak?

Kami katakan: Sebelumnya sudah kami tetapkan bahwa karamah tidaklah menjadi syarat adanya keutamaan, terlebih karamah para sahabat yang tertinggi adalah Allah menyaksikan sisi keadilan jiwa dalam diri mereka dan juga kesaksian Nabi Saw, karena kita tidak perlu lagi mengetahui salah seorang dari mereka atau kami tidak akan lagi mempertanyakan keistiqamahan mereka untuk menggapai keilmuan dengan karamah. Kami katakan: Iya, didalam riwayat al Bukhari, ada dua orang yang keluar dari sisi Rasulullah Saw pada malam yang gelap gulita, dimana tiba-tiba ada cahaya diantara keduanya sampai keduanya berpisah dan cahaya tersebut pun berpisah bersama mereka.

Dalam riwayat al Bukhari juga disebutkan, bahwa ‘Imran bin Hashin pernah diajak bicara oleh malaikat dan Sayyidina ‘Umar bin Khattab pernah memanggil, ‘Wahai sariyatul jabal seraya mengarahkan mereka untuk kembali ke bukit tersebut sebagai tindakan menjauh dari musuh; dimana antara posisi ‘Umar dan juga pasukan tersebut sejauh perjalanan beberapa hari, akhirnya pasukan tersebut pun kembali ke bukit dan selamat dari musuh. Begitu pula perkara tentang ijabahnya do’a para sahabat dan ini sudah banyak diketahui oleh banyak orang.

Terlebih lagi ketika Abu Bakar Ra hendak meninggal dunia, ia pergi ke ‘Ali bin Abi Thalib Ra seraya berkata kepadanya, “Andai aku meninggal dunia, maka mandikan, kafankan dan shalatkanlah aku serta bawa (jasad) aku ke Raudhah Rasulullah untuk meminta izin agar bisa dikuburkan di samping Rasulullah Saw. Andai pintu terbuka tanpa ia dibuka, maka kuburkanlah aku di situ; jika tidak, maka bawalah aku ke pekuburan Baqi’., maka ‘Ali Bin Abi Thalib Ra pun melakukan hal tersebut; datang ke pintu Raudhah seraya berkata, “Wahai Rasulullah, ini Abu Bakar meminta izin untuk dimakamkan di sampingmu,’, maka terbukalah pintu tanpa ada yang membukanya sebagai sebuah bentuk kebaikan dan pemuliaan bagi Abu Bakar ash-Shiddiq Ra.

Begitu juga perkara syaithan yang kabur dan mencari jalan lain saat bertemu dengan ‘Umar bin Khattab Ra, ia berwasiat meminta izin kepada ‘Aisyah Ra untuk bisa dimakamkan juga di samping Rasulullah Saw dan ‘Aisyah Ra pun mengizinkannya.

Dari beragam perkara ini nampak bagiku bahwa hikmah terkait dengan dimakamkannya kedua sahabat tersebut di samping Nabi Saw dan bukan yang lainnya, itu lantaran kedekatan mereka pada hari Kiamat nanti dengan Nabi Saw. Karena sungguh Nabi Saw merupakan sosok awal yang membelah bumi, dan suatu hari pun Nabi Saw keluar, di sebelah kanan ada Abu Bakar dan di sebelah kiri beliau ada ‘Umar, Nabi pun berkata, “Beginilah nanti, aku akan dibangkitkan pada hari Kiamat.

(Lihat, Al ‘Allamah Sayyidi Ahmad bin al Hajj al ‘lyash Sukairi), Tsamrah al Funûn fi Fawa ‘ida Taqirru biha al ‘Uyun.)

Sumber : BUKU NAFA `IS SUKAIRIJIYYAH (AN-NAFA `IS AS-SUKAIRIJIYYAH) SYAIKH AHMAD BIN AL ‘IYASY SUKAIRIJ AT-TIJANY