
Elsubha.com – Nafa`is dan Asrar : Seputar Himmah dan Ragam Perkara Di Luar Nalar
Aku muak dengan orang yang mencintaiku ketika ia menyifatiku dengan ragam sifat yang mengarah pada pujian diri; yaitu lantaran besarnya sifat yang diberikan (padaku); yang tidak sesuai dengan hakikatnya. Dadaku terhimpit ketika mendengar atau melihat itu dalam sebuah surat yang ditujukan padaku lantaran jauhnya jarak aku dengan yang bersangkutan, maka kini aku tidak menolak beragam hal tersebut dengan harapan itu dapat terwujud benar padaku. Karena sungguh lisannya manusia adalah penanya Allah al Haq dan sungguh Allah memang memiliki hamba-hamba, apabila mereka disifati dengan sebuah sifat oleh orang yang tidak tahu kebenarannya, seperti mengatakan, “Wahai orang yang ‘alim,”, maka yang bersangkutan pun akan mendapatkan ilmu atau lain sebagainya dari beragam perkara yang terpuji dan baik. Masalah seperti itu bukanlah masalah yang baru.
Sungguh himmah itu merupakan ragam rahasia yang nyata dan perkara yang tidak bisa dinalar. Semoga Allah memberikan manfaat pada orang yang mencintai kami dengan kecintaan yang tulus dan kami pun memohon pada Allah Swt agar mahabbah mereka pun memberikan manfaat bagi mereka sendiri. (Lihat, Tiján al Ghawani)
Sedangkan ragam perkara yang engkau sebutkan dari ragam perkara yang menghalangi dirimu dan tujuanmu dari ragam amalan akhirat, ketahuilah bahwa sebabnya adalah bercokolnya dalam jiwamu kecondongan untuk senang istirahat dan menebus ragam syahwat yang engkau mampu lakukan. Sungguh ketika jiwamu telah mendengar, bahwa ma’rifat pada Allah dapat terwujud tanpa perlu capek, maka itu menjadikan jiwa condong pada ragam perkara yang mengarah pada hawa seperti bersikap santai. Jikalau saja jiwamu tahu, bahwa maksud dari ma’rifat pada Allah itu adalah perkara yang mau tidak mau engkau dapati perkara itu bagian dari perintah sebuah thariqah yang sudah dikenal banyak orang, dengan bentuknya meninggalkan segala kesenangan untuk memenuhi panggilan jiwa yang berupa mujahadah, karena hanya dengan ber-mujahadah-lah jiwa bertambah menang dengan mendapatkan apa yang diinginkan. Maka ketika jiwamu mendengar bahwa perkara itu bisa terwujud tanpa perlu capek, maka engkau pun tidak dapati yang kau inginkan dari sikap mujahadah dan berpisah dari ragam kesenangan. (Lihat, Tijân al Ghawani)
Sungguh aku takutkan darimu ketika yang kau cari adalah ragam tujuan (aghrad) adalah terputus dari kami. Hal itu terjadi bukan dari sisiku, akan tetapi dari sisimu yang ingin memperbanyak ragam tujuan duniawi. Apabila perkaramu sudah berkepanjangan dan engkau pun tidak melihat sesuatu dari yang kau tuju (dari ragan tujuan duniawi), maka was-was syaithan pun akan menggodamu seraya berkata, ‘Tidak ada lagi yang bisa diharapkan’ dan ‘tidak ada lagi faedah yang aku sukai’, maka hancurlah pengharapan kecilmu pada kami dengan kecintaanmu pada yang lainnya, sehingga kecintaan pun tercerabut dari akarnya. (Ibid)
Sedangkan jika apa yang kau cari adalah jaminan bisa ma’rifat pada Allah, lantaran jiwa yang suci dari percampuran hakekat dengan syariat, maka sungguh perkaranya tidak mau tidak haruslah demikian, sampai engkau pun tidak butuh lagi jaminan ma’rifat tersebut. (Lihat, Tijân al Ghawani)
