
Elsubha.com – Nafa`is dan Asrar : Tatacara Berdzikir Isim Al Lathif Dalam Jumlah Bilangan yang Besar
Diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra tentang tata cara berzikir isim “al Lathif” dengan jumlah yang besar yaitu 116.487.
Tatacaranya adalah:
Engkau shalat sunah 2 rakaat dengan niat hajat saat takbiratul ihram, lalu setiap raka’at membaca surah al Fatihah 4 kali dan ayat luthuf berikut:
Ayat Pertama:
لَا تُدْرِكُهُ الْاَ بْصَا رُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْاَ بْصَا رَ ۚ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ
laa tudrikuhul-abshooru wa huwa yudrikul-abshoor, wa huwal-lathiiful-khobiir
“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 103)
Ayat Kedua:
وَرَفَعَ اَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوْا لَهٗ سُجَّدًا ۚ وَقَا لَ يٰۤاَ بَتِ هٰذَا تَأْوِيْلُ رُءْيَايَ مِنْ قَبْلُ ۖ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّيْ حَقًّا ۗ وَقَدْ اَحْسَنَ بِيْۤ اِذْ اَخْرَجَنِيْ مِنَ السِّجْنِ وَجَآءَ بِكُمْ مِّنَ الْبَدْوِ مِنْۢ بَعْدِ اَنْ نَّزَغَ الشَّيْطٰنُ بَيْنِيْ وَبَيْنَ اِخْوَتِيْ ۗ اِنَّ رَبِّيْ لَطِيْفٌ لِّمَا يَشَآءُ ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ
wa rofa’a abawaihi ‘alal-‘arsyi wa khorruu lahuu sujjadaa, wa qoola yaaa abati haazaa ta-wiilu ru-yaaya ming qoblu qod ja’alahaa robbii haqqoo, wa qod ahsana biii iz akhrojanii minas-sijni wa jaaa-a bikum minal-badwi mim ba’di an nazaghosy-syaithoonu bainii wa baina ikhwatii, inna robbii lathiiful limaa yasyaaa, innahuu huwal-‘aliimul-hakiim
“Dan dia menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana. Dan mereka (semua) tunduk bersujud kepadanya (Yusuf). Dan dia (Yusuf) berkata, “Wahai ayahku! Inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku. Sungguh, Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”
(QS. Yusuf 12: Ayat 100)
Ayat Ketiga:
اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً ۖ فَتُصْبِحُ الْاَ رْضُ مُخْضَرَّة ً ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ
a lam taro annalloha angzala minas-samaaa-i maaa-ang fa tushbihul-ardhu mukhdhorroh, innalloha lathiifun khobiir
“Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah menurunkan air (hujan) dari langit sehingga bumi menjadi hijau? Sungguh, Allah Maha Halus, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 63)
Ayat Keempat:
يٰبُنَيَّ اِنَّهَاۤ اِنْ تَكُ مِثْقَا لَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْ فِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَ رْضِ يَأْتِ بِهَا اللّٰهُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ
yaa bunayya innahaaa ing taku misqoola habbatim min khordaling fa takung fii shokhrotin au fis-samaawaati au fil-ardhi ya-ti bihalloh, innalloha lathiifun khobiir
“(Luqman berkata), “Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha Halus, Maha Mengetahui.”
(QS. Luqman 31: Ayat 16)
Ayat Kelima:
وَا ذْكُرْنَ مَا يُتْلٰى فِيْ بُيُوْتِكُنَّ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ وَا لْحِكْمَةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ لَطِيْفًا خَبِيْرًا
wazkurna maa yutlaa fii buyuutikunna min aayaatillaahi wal-hikmah, innalloha kaana lathiifan khobiiroo
“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu). Sungguh, Allah Maha Lembut, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 34)
Ayat Keenam:
اَللّٰهُ لَطِيْفٌ بِۢعِبَا دِهٖ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَآءُ ۚ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيْزُ
allohu lathiifum bi’ibaadihii yarzuqu may yasyaaa, wa huwal-qowiyyul-‘aziiz
“Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia Maha Kuat, Maha Perkasa.”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 19)
Ayat Ketujuh:
اَ لَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ ۗ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ
alaa ya’lamu man kholaq, wa huwal-lathiiful-khobiir
“Apakah (pantas) Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Maha Halus, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Mulk 67: Ayat 14)
Kemudian sebelum ruku’ engkau membaca, “Ya Lathif sebanyak 9 kali, kemudian saat ruku membaca “Ya Lathif 10 kali, lalu ketika bangkit dari ruku membaca “Ya Lathif 10 kali, ketika bersujud membaca “Ya Lathif 10 kali lalu setelah bangun dari ruku membaca “Ya Lathif 10 kali begitu juga pada sujud yang kedua membaca “Ya Lathif 10 kali.
Saat berdiri untuk rakaat kedua sebelum membaca surah Al Fatihah membaca “Ya Lathif 10 kali, begitulah selanjutnya pada rakaat kedua seperti yang saat pertama kecuali jika engkau membaca sesuatu setelah membaca surah dan sebelum rukuk engkau membaca “Ya Lathif pula cukup untuk membaca “Ya Lathif” sebelum membaca surah dan terakhir setelah bangkit dari sujud yang kedua untuk duduk tasyahhud, maka membaca “Ya Lathif sebanyak 10 kali, sehingga dari seluruhnya berjumlah hitungan adad shaghir.
Kemudian dilanjutkan dengan membaca isim “Ya Lathif” yang sebelumnya didahului dengan shalawat nabi sebanyak 10 kali dengan shalawat Fatih atau dengan shalawat apapun, namun dengan shalawat Fatih itu lebih utama. Selanjutnya engkau mengulangi dzikiran tersebut 7 kali dalam 7 hari. Setelah engkau mengucap salam (tanda keluar dari shalat), maka ucapkanlah shalawat pada nabi setelah sebelumnya membaca surah al Fatihah sebanyak 10 kali seperti tatacara sebelumnya.. Lalu dilanjut mengucapkan do’a berikut:
يَا لَطِيفُ الْطُفْ لِي فِي قَضَائِكَ وَاقْسِمْ لِي مِنْ جَزِيْلِ بِرِّكَ وَالآئِكَ
“Wahai Dzat yang Maha lembut, lembutkan ketentuanmu bagiku dan bagikanlah untukku dari besarnya kebaikan dan karuniamu.”
Engkau bisa lakukan ini setiap hari sampai 7 hari dengan syarat berada dalam satu majelis dan juga satu waktu kalah berkhalwat selain shalat dua rakaat, maka tidaklah engkau melakukan shalat itu kecuali pada hari pertamanya saja lalu pada hari berikutnya engkau langsung memulai dzikiran dengan membaca surah al Fatihah, shalawat atas nabi hingga selesai. Lalu setelah hari ketujuh engkau mengucapkan do’a berikut sebanyak tiga kali:
اللَّهُمَّ إِنِّي تَبَرَّأْتُ مِنْ حَوْلِي وَقُوَّتِي وَأَيْقَنْتُ بِحَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ، فَأَرِنِي عَجَائِبَ صُنْعِ لُطْفِكَ وَغَرَائِبَ حِكْمَتِكَ وَأَتَيْنِي بِفَرَجِ مِنْ عِنْدِكَ كَمَا فَرَجْتَ عَلَى نَبِيِّكَ سَيِّدِنَا يُوْسُفَ الصِّدِّيقِ بِجَاهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
“Ya Allah sungguh aku membebaskan diri dari daya dan kekuatanku, aku telah percaya dengan daya dan kekuatan-Mu, maka tunjukkanlah padaku beragam sisi keajaiban perbuatan luthuf-Mu dan asingnya hikmah-Mu. Datangkanlah padaku kelapangan dari sisi-Mu sebagaimana Engkau lapangkan nabi-Mu; Yusuf As dengan jah Sayyidina Muhammad Saw dan keluarga beliau; dengan rahmatmu wahai Dzat yang Maha Pengasih lagi Penyayang.”
Inilah tata cara ketika engkau ingin mengamalkan nya seorang diri dalam waktu 1 minggu. Apabila engkau ingin mengemalkannya dengan cara membagi-bagikan bacaan tersebut pada tujuh orang dengan jumlah yang tak lebih dari itu, maka hendaknya mereka mengedepankan satu orang untuk shalat sendirian dengan shalat, sebagaimana yang telah disebutkan diatas dan dengan tata cara meniatkan sebagai perwakilan darinya dan orang yang berdzikir isim Ya Lathif dikala takbiratul ihram. Kemudian setelah salam ia membaca surah Al Fatihah satu kali dan bershalawat kepada Nabi 10 kali, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya dengan satu lisan, kemudian setiap dari orang-orang tersebut berzikir menyebut isim “Ya Lathif” sejumlah 7 ‘adad Al Kabir. Setelah seluruhnya membaca, mereka pun berkumpul bersama seraya membaca do’a tadi,
اللَّهُمَّ إِنِّي تَبَرَّأْتُ مِنْ حَوْلِي وَقُوَّتِي وَأَيْقَنْتُ بِحَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ، فَأَرِنِي عَجَائِبَ صُنْعِ لُطْفِكَ وَغَرَائِبَ حِكْمَتِكَ وَأَتَيْنِي بِفَرَجِ مِنْ عِنْدِكَ كَمَا فَرَجْتَ عَلَى نَبِيِّكَ سَيِّدِنَا يُوْسُفَ الصِّدِّيقِ بِجَاهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
“Ya Allah sungguh aku membebaskan diri dari daya dan kekuatanku, aku telah percaya dengan daya dan kekuatan-Mu, maka tunjukkanlah padaku beragam sisi keajaiban perbuatan luthuf-Mu dan asingnya hikmah-Mu. Datangkanlah padaku kelapangan dari sisi-Mu sebagaimana Engkau lapangkan nabi-Mu; Yusuf As dengan jah Sayyidina Muhammad Saw dan keluarga beliau; dengan rahmatmu wahai Dzat yang Maha Pengasih lagi Penyayang.”
Tidak mengapa ketika salah seorang sudah menyelesaikan jumlah bacaan isim tersebut turut membantu saudaranya yang lain dengan isyarat tanpa bicara, tidak mengapa pula berbicara untuk sempurnanya bilangan (menyebutkan kurangnya berapa).
Aku pun mendapati dalam catatan Sayyidi Al Habib tentang tata cara berzikir “Ya Lathif dengan jumlah 116.487, Yaitu dimulai dengan 7, lalu 80, setelahnya 400, berikutnya 16. 000, lalu terakhir 100. 000. Setiap selesai dari jumlah jumlah tersebut mengucapkan do’a berikut:
اللَّهُمَّ يَا لَطِيفٌ يَا خَبِيْرُ يَا خَلَّاقُ يَا خَالِقُ أَغِثْنَا وَالْطُفْ بِنَا فِي قَضَائِكَ السَّابق
“Ya Allah yang Maha lembut lagi Maha Mengetahui, wahai Dzat Yang Maha mencipta, wahai Dzat Yang Maha Pencipta, tolonglah kami berikanlah sisi luthuf-Mu pada kami dalam perkara yang telah Engkau tentukan pada masa lalu.”
Kemudian setiap lengkap bacaan sejumlah 1000 engkau mengucapkan,
اللَّهُمَّ إِنَّكَ سَمَّيْتَ نَفْسَكَ اللَّطِيفُ وَأَنَا عَبْدُكَ الضَّعِيفُ وَسَيِّدُنَا مُحَمَّدٍ نَبِيِّكَ الشَّرِيفُ، كَيْفَ يَخَافُ الضَّعِيفُ مِنَ اللَّطِيفِ وَالشَّرِيفِ
“Ya Allah sungguh engkau telah menamai Dzat-Mu dengan al Lathif dan aku adalah hamba-Mu yang lemah dan penghulu kami Muhammad adalah nabi-Mu yang mulia lantas Bagaimana seorang yang lemah takut dari Dzat Allah al-Lathif dan asy-Syarif.”
Didalam do’a disebutkan dengan menggunakan ‘Ya Annida (minimal itu pun ada pada awal perkataan yang tujuannya untuk menolak kemudaratan dan mengharap sesuatu. (Lihat, Nail al Armani.)
