You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Nafa`is dan Asrar : Asma Allah yang Luhur

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Nafa`is dan Asrar : Asma Allah yang Luhur

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra berkata, “Beragam asma yang dibutuhkan alam yang tanpanya alam tidak ada, ia juga merupakan asma yang dicari oleh orang yang ‘Arifbillah, ini merupakan asma yang luhur, dimana orang yang mengetahui ilmu berkaitan dengan seluk-beluk Dzat Allah dan apa yang diinginkan oleh Allah serta perkara penghujungnya; apakah itu baik atau buruk, serta menetapnya di alam akhirat. Dari sini engkau telah ketahui, bahwa seluruh benda terkecil di alam semesta ini memiliki isim, begitu juga seluruh bagian dari alam semesta ini juga memiliki isim pada tiap benda terkecilnya.”

Lalu Sayyidi Syaikh Ahmad at-Tijany Ra melanjutkan, “Apabila pembesar wali Allah ingin ber-tawajjuh dengan salah satu bagian dari alam semesta ini, ia akan ber-tawajjuh pada Allah dengan isim al khash (isim Allah yang khusus), maka bagian dari alam ini akan datang padanya meskipun terpaksa.

Begitu juga askarah isim (kumpulan isim isim Allah) yang keluar dari nama-nama alam ini. Maka dalam tawajjuh-nya seorang pembesar wali Allah, ia seperti ragam isim alam ini, yang merupakan perkara tersembunyi, yang sebagiannya tidak disebutkan kepada orang secara umum.

Aku katakan: Beragam Asma’ al ‘Aliyat (yang luhur) itu bukanlah Asmaul Husna menurut para sufi. Andai beragam Asma tersebut secara hakikat adalah luhur bahkan itu menjadi kehendak, maka Allah lah yang paling mengetahui beragam asma yang cocok dengan asma lainnya yang nâzil. Karena segala sesuatu memiliki isim nazil (nama turunan). Tidak ada seseorangpun yang pengetahuannya sampai tentang asma tersebut kecuali dengan menguatkan aqidah af alnya Allah Swt.

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra lanjut berkata: Sungguh seorang yang Arifbillah menjadi satu dari beragam huruf Dzat (Allah). Dikatakan pada beliau, ‘Sungguh huruf itu adalah Dzat dan seorang yang Arifbillah adalah dzat, lantas bagaimana bisa seorang yang Arifbillah menyatakan itu merupakan satu Dzat?

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra menjawab, ‘Maknanya adalah, bahwa seorang yang Arifbillah bisa ber-tasharruf dengan dzatnya seperti halnya sebuah huruf dan bukan berarti bahwa orang yang Arifbillah itu adalah inti dari huruf tersebut. Dikatakan kembali kepada beliau, ‘Lantas mengapa orang yang ‘Arifbillah tidak ber-tasharruf dengan beragam asma yang luhur dan kelompok asma (askarah asma ‘) tersebut?

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra kembali menjawab, ‘Mengenai beragam asma yang luhur, tidak ada yang mengetahuinya kecuali seorang wali al Fard al Jâmi, sedangkan kelompok asma dan yang lainnya dari asma Allah, maka ini dapat diketahui oleh orang yang ‘Arifbillah, akan tetapi lantaran rasa malu mereka dari Allah Swt untuk meminta sebuah hajat dengan asma Allah, sang wali pun tidak melakukan itu, tetapi ketika ia menginginkan sebuah hajat, maka ia memfokuskan himmah dirinya untuk menggapai hal itu sehingga apa yang diinginkannya pun terwujud’.”

Apabila ujian sangat berat itu datang dan membuatmu terhimpit, maka datanglah pada Allah dan berdirilah pada posisimu di pintu luthufNya serta pintalah pada Allah Swt dari kesempurnaan luthufNya untuk mengatasi perkara yang membuatmu terhimpit dan menghilangkan ujian tersebut. Sering-seringlah merendah kan diri di hadapan Allah Swt dan hendaknya itu datang darimu dengan kalbu yang kosong dari ragam kesibukan, seperti kondisinya seorang wanita tua yang hanya memiliki satu anak dan anak tersebut ingin dipinta oleh orang; dimana ia ber-tawassul pada Allah dan juga dengan perantara manusia untuk menyingkap kondisinya, karena pada kondisi tersebut yang terpikirkan hanyalah anaknya sang ibu, ia tidak lagi menoleh pada beragam perkara dunia dan akhirat. Orang yang berada pada posisi ini dan mampu mengosongkan kalbunya pada Allah ketika datangnya beragam ujian dan cobaan yang sesuai dengan batasan dirinya, dimana ia memohon pada Allah dengan isim-Nya “al-Lathif” agar memampukan dirinya, maka Allah pun akan segera memberikan solusi dalam waktu terdekat. Jika tidak demikian, maka solusi perkaranya pun tidak seperti ini.

Sumber : BUKU NAFA `IS SUKAIRIJIYYAH (AN-NAFA `IS AS-SUKAIRIJIYYAH) SYAIKH AHMAD BIN AL ‘IYASY SUKAIRIJ AT-TIJANY