
Elsubha.com – Para Arifin Mendapat Amalan Dari Allah Dan Rasul-Nya
Terkait para ‘Arifin mengambil wiridan dari Allah Swt, maksudnya adalah mereka mengambilnya dari kitabullah, para ‘Arifin mengambil dari Rasulullah Saw, maksudnya mereka mengambil dari Sunnah beliau yang berupa hadits atau mereka mengambilnya dari ilham yang bisa terjadi pada diri wali Allah yang sesuai dengan syari’at.
Terkait mengambil suatu amalan dari Rasulullah Saw, maka mimpi mereka itu benar adanya sesuai dengan redaksi nash yang jelas (terkait melihat Nabi Muhammad Saw dalam mimpi atau secara sadar). Para ulama sepakat, bahwa memang ada ragam ilmu yang dikhususkan bagi para nabi saja, sehingga para wali Allah pun tidak memiliki bagian akan ilmu ini, dimana ada juga ragam ilmu yang diperuntukkan bagi wali Allah, dengan cara Allah mengilhamkan itu kepadanya. Maka hanya orang bodohlah yang masih memperdebatkan perkara tersebut, sementara As-Sunnah dipenuhi dengan beragam dalil yang menunjukkan ilham bagi para wali Allah itu bisa terjadi.
Semua yang diriwayatkan dari Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra atau dari orang shaleh lainnya, maka hal tersebut tidak mungkin masuk pada ranah kenabian. Maka orang alim manapun yang sudah mengetahui beragam istilah yang biasa dipakai oleh ulama Ahlussunnah, ia juga sudah banyak berinteraksi dengan para sufi, maka ia pun tidak ragu lagi untuk menggiring makna hadits tersebut pada makna “pemberian Allah untuk para wali-Nya dalam lingkup kewalian.”
Sedangkan pernyataan seseorang yang ‘Arif billah, “Kalbuku menceritakan dari Rabbku,” maksudnya adalah dari ilham yang didalamnya tidak memiliki keterkaitan dengan unsur nubuwwah dan risalah, pernyataan demikian haruslah dihadapkan kepada syari’at. Lantas apa yang membuat kalian menggiring makna pernyataan tersebut kepada makna yang buruk, sementara pernyataan itu bisa digiring kepada makna yang baik dan bukan malah digiring kepada makna yang buruk.
Sungguh sesat ketika menggiring makna yang Allah turunkan pada suatu kaum kepada makna diluar pemahaman kaum tersebut. Orang-orang yang berdusta telah meletakkan beberapa ayat Al Qur’an bukan pada tempatnya, mereka telah berdusta kepada Allah Swt dan Rasul-Nya.
Sedangkan tentang masalah turunnya malaikat dengan membawa perintah dan larangan; diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Ra, dia berkata: Rasulullah Saw bersabda,
إِنَّ لِلشَّيْطَانِ لَمَّةٌ بِابْنِ آدَمَ وَلِلْمَلَكِ لَمَّةً فَأَمَّا لَمَّةُ الشَّيْطَانِ فَإِيعَادٌ بِالشَّرِّ وَتَكْذِيبُ بِالحَقِّ، وَأَمَّا لَمَّةُ الْمَلَكِ فَإِيعَادُ بِالْخَيْرِ وَتَصْدِيقٌ بِالحَقِّ، فَمَنْ وَجَدَ ذَلِكَ فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مِنَ اللَّهِ فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ وَمَنْ وَجَدَ الأُخْرَى فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيمِ.
“Sungguh syeithan itu punya bisikan bagi anak keturunan Adam, dan malaikat pun punya bisikan. Bisikan syeithan adalah mengembalikan manusia pada keburukan dan mendustakan kebenaran. Sementara bisikan malaikat adalah mengembalikan manusia pada kebaikan dan mempercayai kebenaran. Siapa yang mendapatkan kebaikan itu, ketahuilah bahwa itu dari Allah dan hendaknya dia memuji Allah Swt, sedangkan orang yang mendapati selain itu hendaknya ia memohon per-lindungan Allah dari syeithan.” (HR. At-Tirmidzi, An-Nasa`i, dan Ibnu Hibban dari riwayat Ibnu Mas’ud Ra.)
Telah ditetapkan dalam Al Qur’an dan As-Sunnah bahwa ada sebagian wali Allah yang telah melihat malaikat dan berbincang-bincang dengan mereka. Percakapan antara malaikat dengan seorang wali tidaklah mengharuskan seorang wali tersebut bermartabat nabi, bahkan Allah Swt telah bercakap-cakap dengan iblis yang merupakan makhluk paling buruk. Maka orang yang bodoh adalah orang yang meyakini bahwa perkacapan dengan malaikat ini haruslah seorang nabi. Percakapan para nabi merupakan percakapan khusus yang bukan termasuk ilham bagi wali Allah, jadi wahyu kenabian itu satu perkara dan wahyu ilham itu perkara yang lainnya, dimana wahyu kenabian adalah wahyu syari’at dan tidak demikian dengan wahyu ilham.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاِ ذْ قَا لَتِ الْمَلٰٓئِكَةُ يٰمَرْيَمُ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰٮكِ وَطَهَّرَكِ وَا صْطَفٰٮكِ عَلٰى نِسَآءِ الْعٰلَمِيْنَ
wa iz qoolatil-malaaa-ikatu yaa maryamu innallohashthofaaki wa thohharoki washthofaaki ‘alaa nisaaa-il-‘aalamiin
“Dan (ingatlah) ketika para malaikat berkata, “Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas segala perempuan di seluruh alam (pada masa itu).”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 42)
يٰمَرْيَمُ اقْنُتِيْ لِرَبِّكِ وَا سْجُدِيْ وَا رْكَعِيْ مَعَ الرّٰكِعِيْنَ
yaa maryamuqnutii lirobbiki wasjudii warka’ii ma’ar-rooki’iin
“Wahai Maryam! Taatilah Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.””
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 43)
Jika dikatakan bahwa ayat ini merupakan tanda awal mukjizat Nabi Isa As, maka tanggapan kami akan hal ini adalah bahwa percakapan para wali Allah dengan malaikat merupakan mukjizat Nabi Muhammad Saw sebagai penutup para nabi dan rasul.
Ibnu ‘Arabi dalam Ahkâm Al Qur’an yang merupakan tafsir beliau, mengemukakan tentang firman Allah Swt, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ قَا لُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَا مُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰٓئِكَةُ اَ لَّا تَخَا فُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَ بْشِرُوْا بِا لْجَـنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ
innallaziina qooluu robbunallohu summastaqoomuu tatanazzalu ‘alaihimul-malaaa-ikatu allaa takhoofuu wa laa tahzanuu wa absyiruu bil-jannatillatii kungtum tuu’aduun
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.””
(QS. Fussilat 41: Ayat 30)
Para mufasir mengatakan, “Malaikat turun ketika manusia meninggal dunia, sedangkan aku berkata, malaikat turun setiap hari, tepatnya hari-hari menjelang kematian, saat di alam kubur dan hari Kiamat, terkait semua ini banyak sekali atsar yang sudah kami jelaskan pada pembahasannya’.”
Pernyataan Ibnu ‘Arabi itu bersandar pada hadits Muslim dalam Shahih-nya, yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Ra, ia menceritakan dari Nabi Saw, bahwa beliau bersabda,
أَنَّ رَجُلاً زَارَ أَخَا لَهُ فِي قَرْيَةٍ أُخْرَى فَأَرْصَدَ اللَّهُ لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا، فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ، قَالَ : أَيْنَ تُرِيدُ؟ قَالَ: أُرِيدُ أَنَّا لِي فِي هَذِهِ الْقَرْيَةِ. قَالَ : هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرْتُهَا؟ قَالَ: لا، غَيْرَ أَنَّى أَحْبَبْتُهُ فِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ. قَالَ: فَإِنِّى رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكَ بِأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيْهِ.
“Ada seorang lelaki yang ingin menziarahi saudaranya di desa lain, lalu Allah mengutus dibelakangnya seorang malaikat, ketika malaikat itu sampai padanya, sang malaikat berkata, “Engkau ingin kemana?” Lelaki itu berkata, “Aku ingin menziarahi saudaraku di desa ini,” malaikat berkata, “Apakah engkau punya nikmat yang ingin engkau berikan padanya?” Lelaki itu berkata, “Tidak ada, aku hanya ingin menziarahinya karena aku mencintainya karena Allah,” malaikat itu berkata, “Sungguh aku adalah utusan Allah, sungguh Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintainya karena Allah.”
Imam An-Nawawi berkata ketika memberikan penjelasan Shahih Muslim, “Didalam hadits tersebut dinyatakan bahwa ada manusia yang kerap melihat malaikat.”
Malaikat tidak turun ke bumi kecuali dengan perintah Allah Swt, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَا نَتَنَزَّلُ اِلَّا بِاَ مْرِ رَبِّكَ ۚ لَهٗ مَا بَيْنَ اَيْدِيْنَا وَمَا خَلْفَنَا وَمَا بَيْنَ ذٰلِكَ ۚ وَمَا كَا نَ رَبُّكَ نَسِيًّا
wa maa natanazzalu illaa bi-amri robbik, lahuu maa baina aidiinaa wa maa kholfanaa wa maa baina zaalika wa maa kaana robbuka nasiyyaa
“Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali atas perintah Tuhanmu. Milik-Nya segala yang ada di hadapan kita, yang ada di belakang kita, dan segala yang ada di antara keduanya, dan Tuhanmu tidak lupa.”
(QS. Maryam 19: Ayat 64)
Malaikat pun tidak akan melakukan sesuatu kecuali itu merupakan perkara yang diperintahkan oleh Allah, sebab Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَ هْلِيْكُمْ نَا رًا وَّقُوْدُهَا النَّا سُ وَا لْحِجَا رَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَا ظٌ شِدَا دٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu quuu angfusakum wa ahliikum naarow wa quuduhan-naasu wal-hijaarotu ‘alaihaa malaaa-ikatun ghilaazhung syidaadul laa ya’shuunalloha maaa amarohum wa yaf’aluuna maa yu-maruun
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
(QS. At-Tahrim 66: Ayat 6)
Malaikat juga tidak membawa suatu perkara kecuali itu merupakan perkara yang diperintahkan oleh Allah Swt, ia pun tidak akan tampak kepada manusia kecuali atas dasar perintah Allah Swt, namun penampakan malaikat kepada seorang wali tentu berbeda dengan penampakannya kepada seorang nabi, sehingga berlakulah dua perkara sesuai dengan martabat yang berbeda juga.
Al Hafiz As-Suyuthi mengarang sebuah kitab khusus yang diberi judul Tanwir al Halak Fi Ru`yat An-Nabiyyi wal Malak, maka jika ada yang ingin menambah wawasan akan hal tersebut silahkan mengkaji kembali buku tersebut.
Dari paparan ini, jelas sudah bahwa para sufi sama sekali tidak keluar dari Al Qur’an dan As-Sunnah, bahkan mereka orang-orang yang memiliki pemahaman yang benar terhadap Al Kitab dan As-Sunnah, merekalah pengemban Al Qur’an secara pengamalannya, sedangkan selain mereka adalah pengemban Al Qur ‘an secara intelektual.
