
Elsubha.com – Pendahuluan Kitab As-Syama `il At-Tijaniyyah
Dari judul buku ini nampak jelas bagi orang yang mengkaji atau orang yang akan mengkritisi, bahwa Al ‘Allamah Sukairij mengisi setiap sendi keilmuan dengan penjabaran yang cukup jelas. Inilah kekhususan yang beliau miliki dan sedikit yang memiliki kekhususan seperti beliau ini. Dengan kata lain, kita bisa katakan, bahwa sejak lama kita belum mendengar ada ulama yang menulis dalam berbagai sisi keilmuan. Singkat kata, keunggulan sisi pengetahuan beliau ini dikarenakan beliau menaruh perhatian besar untuk senantiasa mengkaji, meneliti dan mengkroscek kembali ragam pengetahuan yang ada, terlebih bahwa beliau menguasai sumber rujukan utama, dimana posisi beliau diibaratkan seperti perbendaharaan umum yang mencakup ratusan tulisan tangan yang jarang dilihat.
Dalam kenyataannya Al ‘Allamah Sukairij menuliskan buku ini dengan tujuan agar bermanfaat bagi manusia lain dengan ragam tingkatan mereka yang berbeda-beda, juga memberikan rasa gembira dan ketenangan pada kalbu mereka. Otak beliau penuh dengan ragam pengatahuan yang banyak lagi beragam. Beliau ibarat penyair ulung dikalangan para penyair, ibarat seperti pakar fikih ulung dikalangan ahli fikih, gurunya sejarah dikalangan sejarawan, gurunya bahasa dikalangan ahli bahasa. Inilah yang menjadi sebab beliau mampu menyelesaikan ragam karya; baik yang sudah sempurna maupun yang belum sempat disempurnakan. Buku beliau ini berjudulkan “Asy-Syama ‘il At-Tijaniyyah,” buku ini termasuk karya beliau yang belum sempat beliau sempurnakan lantaran satu dan sebab yang lainnya, terutama keterbatasan waktu. Akupun mengira jika Al’ Allamah Sukairij memiliki waktu yang banyak, maka beliaupun tidak akan pernah meninggalkan karya beliau kecuali semuanya itu beliau sempurnakan.
Puji syukur bagi Dzat yang mengenakan mahkota penerimaan ahl khusushiyyah dari kalangan orang-orang yang berkhidmah pada hadhrah-Nya. Dzat yang mampu memasukkan orang yang berafiliasi kepada-Nya dari pintu wushul dengan bermodalkan khidmah yang tulus.
هُمُ الرِّجَالُ لَهُمْ مَجَالُ مَعْرِفَةٍ # بِرَبِّهِمْ فَحَبَاهُمْ مُنْتَهَى الأمل
“Mereka adalah pembesar yang memiliki sisi ma’rifat #pada Rabb mereka, denga itulah Allah berikan mereka puncak angan-angan”
Dzat yang menduduki kursi yang mencurahkan perhatian, yang mampu melingkupi mereka dengan rahmat-Nya, yang juga mampu membentangkan bendera kewalian dengan modal mereka yang berupa kecintaan sempurna dalam diri.
بَاعُوْا نُفُوسُهُمْ اللَّهِ فَانْشَرَحَتْ # صُدُوْرَهُمْ لِلَّذِي يَرْضَاهُ مِنْ عَمَلٍ
“Mereka menjual diri mereka untuk Allah # sehingga dada mereka pun lapang terhadap amalan yang senantiasa diridhoi-Nya.”
Allah membentangkan ragam kenikmatan bagi mereka dengan bermodalkan diri mereka merasa nyaman dengan-Nya, setiap dari mereka akan merasakan nikmatnya kemuliaan dengan cara ber-taqarrub (mendekatkan diri) pada-Nya sesuai dengan jala yang telah ditentukan-Nya.
ذَاقُوْا بِحَضْرَتِهِ طَعْمَ الْوُصُوْلِ فَلَمْ # يَسْلَى امْرُءٌ مِنْهُمْ عَنْ طَعْمِ مَا ذَاقَهُ
قَدِ اسْتَلَذُوْا بِمَا قَدْ ذَاقَ فِي طَرْبٍ # فَجُلَّ فِي حَضْرَةِ الْعُشَاقِ أَطْوَاقُهُ
“Di hadhrah-Nya mereka telah merasakan rasanya wushul # dimana belum ada seseorang dari mereka yang beristirahat dari apa yang mereka rasakan. Mereka telah merasakan nikmat dengan apa yang sudah mereka rasakan, leher mereka pun terlihat di pusara orang-orang yang merindu.”
Dia mengangkat hijab setelah Dia minumkan mereka kondisi wushul nan memabukkan, sehingga mereka pun menjadi sosok yang dijadikan perantara untuk menggapai segala kebutuhan.
أَلَا إِنَّ أَهْلَ اللَّهِ لَا شَكٍّ هُمْ هُمْ # الْوَسَائِطُ فِي نَيْلِ الْمُرَادِ مِنَ اللَّهِ
“Sungguh tidak diragukan lagi, mereka adalah Ahlullah, #mereka adalah ragam perantara untuk menggapai keinginan dari Allah.”
Sungguh wali Allah yang paling mulia dari kalangan orang-orang pilihan-Nya; adalah sosok yang Allah Swt khususkan dari hadhrah Al Muhammadiyyah dengan wujud sempurna pada kekhlifahan bathin dan dialah penutup para wali:
أَحْمَدَ الْخَتَمُ التِّجَانِي الْمُرْتَقَى # فِي مَرَاقِي الْمَجْدِ فِي أَوْلَى الْعُلَا
مَرْكَزُ الْفَضْلِ الَّذِي قَدْ نَالَ مِنْ # خَاتَمِ الرُّسُلِ مَقَامًا قَدْ عَلَا
“Ahmad At-Tijany sang penutup (wali) yang menapaki # tingkatan kemuliaan yang paling utama di sisi Allah Dialah pusara keutamaan Allah yang telah mendapatkan maqam tinggi # dari penutup Rasul.”
Allah Swt memuliakan sosok wali di akhir zaman ini dengan rahmat yang sempurna melalui perantara Nabi Saw meski mereka tidak merasakannya. Dengan perantara Nabi Saw pula, Allah Swt muliakan dada beliau dengan rahasia hikmah yang tidak ditandingi ulama lain pada setiap tempat yang disebutkan nama Allah lagi mereka senantiasa bersyukur.
نَالَ مِنْ خَيْرِ الْوَرَى # غَمَرَ الْكُونِ بِالنَّوَالِ الْعَمِيمِ
تَوَّجَتْهُ يَدُهُ تَاجَ الرِّضَا # فَغَدَا خَتْمًا بِعُلْيَاهُ ظَهَرَ
“Beliau mendapatkan angan-angan dari paling baiknya makhluk (Nabi Saw) # Dari beliau Saw pula dia mendapatkan puncaknya keberuntungan
Tangan beliau Saw berhiaskan mahkota keridhaan, maka dia menjadi penutup yang nampak dengan keluhurannya.”
Allah Swt pun ridha kepada beliau, sehingga Dialah yang mengurus semua urusan beliau, Allah pun ikat ia dengan pandangan Al Muhammady yang penuh perhatian-Nya, sehingga tangan beliau bisa menjadi saksi bahkan memberikan solusi.
هُوَ قُطْبُ الْوُجُوْدِ وَالْجُوْدُ مِنْهُ # غَمَرَ الْكَوْنَ بِالنَّوَالِ الْعَمِيمِ
قَد تَحَلَّى بَيْنَ الْوَرَى فِي مَقَامٍ # تَحْتَهُ كُلَّ ذِي مَقَامٍ عَظِيمٍ
“Dialah wali quthubnya, kedermawanan Allah menutupi alam ini dengan nikmat yang agung
Allah telah ber-tajalli pada suatu maqam diantara manusia # maqam yang dibawahnya terdapat setiap maqam yang besar.
Beliau telah menggapai puncaknya maqâm Quthbaniyyah, bahkan beliau telah sampai pada ragam maqâmât yang memilik peranan penting dalam tingkatan ma’rifat, sebelum maqam kenabian. Maqâm beliau setelah maqâm-nya sahabat nabi Saw. Selain beliau, tidak ada yang mampu menggapainya secara konsisten.
Semoga Allah berkenan menyampaikan pada nabi terbaik yang telah memilih beliau dan juga yang telah memberikan apa yang tidak ada tandingannya pada lisannya pakar bahasa dalam memuji para pembesar khalifah. Semoga Allah Swt meridhai Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra juga semua keluarga dan para sahabat beliau. Âmîn
Setelah aku kehilangan sosok yang memberikan-ku rasa cinta dari sisi Al Ahmady dan maqâm Al Muhammady, maka kini aku buat syama` il (gambaran perangai baik) beliau yang bisa menyejukkan mata orang-orang yang memiliki loyalitas tinggi pada beliau. Akupun berupaya mendiktekan sebagian manâqib dan ragam keutamaan beliau yang didalamnya ada petunjuk dan kesembuhan.
Sepanjang hayat Al ‘Allamah Sukairij, beliau senantiasa condong untuk mengkaji peninggalan guru beliau; Abul Abbas Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra, beliau bersungguh-sungguh meneliti ragam hal yang berkaitan dengan seluk beluk kehidupan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra. Oleh karena itu beliau pernah mengatakan:
مَاثِرُ الشَّيْخِ فِيهَا الْخَيْرَ أَجْمَعُهُ # طُوبَى لِمَنْ عَيْنَهُ تَرَى لَهُ أَثَرًا كَفَى الَّذِي لَمْ يَكُنْ رَأَهُ رُؤْيَتُهَا # بُشْرَى بِنَيْلِ الَّذِي لَهُ قَدْ إِدَّخَرَ
“Ada kebaikan bagiku mengumpulkan bekas peninggalan Syaikh #beruntunglah orang yang mampu melihat bekas peninggalan tersebut
Cukuplah orang yang belum melihatnya tetapi sudah melihatnya dalam mimpi # ada berita gembira dengan meraih apa yang telah tersimpan sebagai perbendaharaan.”
Pada suatu hari Al ‘Allamah Sukairij pernah menemukan tongkat yang biasa dipegang oleh tangan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dan beliau pakai ketika bepergian ke sana-kemari. Beliaupun cari itu untuk kemudian ber-tabarruk dengannya, hingga ketika beliau memegangnya tak terbendung lagi luapan jiwa beliau, hingga beliau tuangkan dalam sya’ir berikut:
بُشْرَايَ قَدْ جَادَ دَهْرِى بِأَمْنِيَّتِي # وَحَازَ كَفَى سِرًّا لَمْ يَكُنْ حَازَهُ
إِنْ فَا تَنِي مِنْ يَدَيْ شَيْخِي مُصَافَحَةً # فَالْيَوْمَ هَا أَنَا ذَا صَافَحْتُ عُكَازَهُ
“Berita gembira bagiku sepanjang usiaku aku telah bersungguh-sungguh dengan angan-anganku # telapak tanganku pun telah melampaui rahasia yang belum dilampaui tangan yang lain. Meski dua tanganku ini luput untuk bisa bersalaman dengan syaikhku #maka ini aku, hari ini aku bersalaman (dengan memegang) tongkat beliau.
يَحْيَا بِهِ قَلْبُ الْمُحِبُّ وَتَنْجَلِيَ # عَنْهُ بِهِ الْأَكْدَارَ وَالْأَعْيَارَ
وَ بِهِ يُنَالُ مِنَ السُّرُورِ مَسَرَّةً # فِيْهَا بِشَرْحِ صُدُورِهِ أَسْرَارُ
“Dengan mengenang beliaulah kalbu pecinta senantiasa hidup dan mampu # membersihkan kotoran dan memupus kecemburuan
Dengan itulah seseorang mendapatkan kesenangan # di dalam kesenangan ada rahasia yang mampu melapangkan dada.”
Yang mendorongku (Al ‘Allamah Sukairij) menuliskan buku ini adalah adanya getaran jiwa yang terus mengajak untuk membuatnya. Getaran jiwa tersebut mampu memberikan manfaat bagi jiwa-jiwa yang bersih dan tak diragukan lagi, keberadaan getaran jiwa ini pula lah yang menjadi petanda, bahwa dengan pertolongan Allah apa yang diinginkan dapat terwujud dan dengan ketersambungan itulah, mampu dipetik buah wushul, yaitu syamâ il Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra; didalamnya berisikan ragam sisi kemuliaan yang akan disebutkan pada bab-babnya tersendiri.
Al ‘Allamah Sukairij melihat bahwa pemaparan syama’ il (perangai baik) dan bekas peninggalan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra merupakan pendorong yang mampu memperdalam ikatan cinta seorang murid terhadap Syaikhnya. Sebagaimana hal ini pun mampu memberikan pengaruh baik dalam tarbiyahnya seorang murid yang memiliki kecintaan yang tulus dari jiwanya dan juga mampu membuat murid tersebut naik kepada posisi yang terpuji. Atas dasar inilah beliau pun tenggelam pada kecintaan terhadap Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dengan kecintaan yang tidak mungkin digapai kecuali oleh para pembesar wali dan Shiddiqin. Suatu hari beliau pernah berkunjung ke beberapa rumah teman beliau untuk melihat bekas peninggalan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra; dimana bekas peninggalan tersebut sudah sangat lama umurnya, beliaupun tidak lagi bisa menuliskan apa yang beliau lihat itu diatas kertas yang berupa catatan atau jawaban, beliau malah langsung mengecupnya sebagai simbol ber-tabarruk dengannya. Lantaran sangat senangnya beliau, beliau menggubah syair “Nuniyyah” yang begitu panjang, berikut ungkapan awalnya:
يحيى فِيْكَ صِرْتَ قَرِيرَ عَيْنِي # وَعَنْ قَلْبِي بِوُدِّكَ زَالَ عَيْنِي
“Dengan kecintaanku padamu engkau menjadi penyejuk mataku # dengan kecintaanku padamu, hilang sudah kesesatan dari kalbuku.”
Sampai beliau berkata:
وَسَاعَدَنِي الزَّمَانُ فَنِلْتُ فِيْهِ # مَائِرٌ قَدْ أَزَالَتْ حُجُبَ عَيْنِي
نَظَرْتُ بِنَاظِرِي أَيَاتَ حَقٌّ # بَدَتْ لِي مِنْهُ بَيْنَ الْخَافِقَيْنِ
وَلَمْ أَرَى مِثْلَ وَقْتٍ طَابَ عِنْدِي # بِسِرٌ بَلْتُ مِنْ نَظَارَتَيْنِ
فَإِنِّي مُذْ وَضَعْتُهُمَا بِأَنْفِي # نَظَرْتُ بِعَيْنِهِ إِنْسَانَ عَيْنِي
“Waktu telah membantuku, hingga aku mendapatkan bekas peninggalan #yang mampu menghilangkan tirai penghalang mataku
Akupun memandang dengan pandanganku ragam tanda kebenaran yang nampak bagiku diantara manusia Akupun belum melihat waktu yang baik bagiku # seperti halnya ketika memperoleh sirr dari dua sisi kaca mata Sungguh sejak aku taruh dua sisi kacamata di atas hidungku # denganyalah aku dapat melihat sosok manusia dengan pandangannya.”
Kemudian sahabat beliau yang sama; yaitu Al ‘Allamah Al Amin Al Hajj Muhammad bin Sayyidi Ahmad Bannani Kalla menunjukkan kertas yang didalamnya tertulis surah Ar-Rahman dengan tangan kanan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, Al ‘Allamah Sukairij pun banyak ber-tabarruk dengan itu, Lalu kepekaan sya’ir beliau muncul dan terucaplah sya’ir berikut:
اللَّهِ لَوْحٌ فِيْهِ نَيْل أَمَانِي # وَكَبِيرُ سِرِّ ظَاهِرٌ لِعَيَّانِ
تَشَعْشَعَتِ الْأَنْوَارُ مِنْهُ لِنَاظِرٍ # وَيُزِيْحَ كُلَّ عَنِّى عَنِ الْأَعْيَانِ
كَمُلَتْ مَحَاسِنُهُ بِخَطِّ الشَّيْخِ إِذْ # رُسِمَتْ بِهِ أَيِّ مِنَ الْقُرْآنِ
قَدْ أَقْبَلَ الفَتْحَ الْمُبِيْنِ لِمَنْ لَهُ # قَدْ خَطَّ فِيْهِ سُوْرَةَ الرَّحْمَانِ
وَلِمَنْ رَأَهُ بِشَارَةً بِمَفَازَةٍ # وَاقَتْ لَهُ بَعِنَايَةِ الْمَنَّانِ
مَا هُوَ إِلَّا الْكَنْزُ فِيهِ مِنَ الْمُنَى # لِلنَّفْسِ مَا يَشْفِي مِنَ الْأَحْزَانِ
فَهُوَ الدَّخِيْرَةُ عِنْدَ مَنْ ظَفَرَتْ بِهِ # يَدَهُ وَمِفْتَاحٌ لِنَيْلِ أَمَانِ
اللّٰهِ دُرِّ يَدْ مُبَارَكَةٌ بِهِ # رَسَمَتْ حُرُوفًا مِثْلَ عَقْدِ جُمَانِ
“Allah memiliki kertas, disanalah aku menggapai anganku #sirr yang besar nampak dihadapan mataku
Ragam cahaya meruak darinya kepada yang melihatnya # ia pun mampu menghilangkan ragam perkara dariku
Kebagusannya sempurna dengan tulisan tangan Syaikh # dimana yang dituliskan adalah ayat dari Al Qur`an
Futuh yang nyata telah diberikan bagi sosok yang tulisannya dituliskan pada surah Ar-Rahman.
Orang yang melihat beliau telah mendapatkan berita gembira dengan kemenangan, # berupa perhatian Allah yang Maha pemberi nikmat padanya
Tidaklah beliau kecuali merupakan harta terpendam untuk menggapai angan-angan diri # yang mampu menghapus kesedihan
Beliau adalah simpanan bagi tangan orang yang beruntung pernah melihat beliau # dan juga kunci untuk mendapatkan rasa aman.
Untuk Allah lah jiwa yang tangannya penuh keberkahan itu # melukiskan ragam huruf seperti untaian mutiara.” Hingga akhir sya’ir yang panjang.
فَإِنَّ فِي كُلِّ بَابٍ مِنْ مَنَاقِبِهِ # مَا فِيهِ بَاهِرُ أَسْرَارٍ وَأَنْوَارٍ
تَشْفِي قُلُوْبَ الْمُحِبِّيْنَ الَّذِيْنَ لَهُمْ # فِيْهِ جَمِيْلَ اعْتِقَادٍ دُوْنَ الْأَشْرَارِ
“Sungguh dari setiap bab bagian dari perangai terpuji beliau didalamnya terdapat ragam rahasia dan cahaya Yang dapat mengobati ragam kalbu para pecinta # kalbu mereka terdapat keyakinan yang bagus yang tidak ada pada kalbu para penjahat.”
Aku beri judul “Syama `il At-Tijaniyyah.” Demi Allah, aku mohon pada-Nya agar bisa memberi manfaat bagi seluruh ikhwan, juga menjadi sebab para pengingkar itu surut dan tidak lagi mengingkari Ahlullah.
فَإِنَّ مَنْ كَانَ بِالْإِنْكَارِ مُشْتَغِلًا # وَلَمْ يَتُبْ سُلِبَ الإِيمَان وَالدُّنْيَا
فَكَمْ أُنَاسٌ بِإِنْكَارٍ لَهُمْ أَخَذُوا # بِالْخُسْرَانِ فِيْمَا يُحَاوِلُوْنَهُ حِيْنَا
“Sungguh orang yang sibuk dengan pengingkarannya # dan belum bertobat, keimanannya akan tercerabut begitu juga dunianya.
Berapa banyak orang yang ingkar dan terus berusaha mengingkari mereka (Ahlullah) berujung # pada kerugian seketika.”
Oleh karena itu, perkara ini wajib diperhatikan bagi orang yang belum bisa merasakan nikmatnya percaya pada Ahlullah, kamipun senantiasa berangan-angan mereka mendapatkan taufik-Nya Allah untuk bertobat dari perbuatan yang terkadang mereka tidak rasakan; yaitu menyakiti Ahlullah (orang yang Allah Swt sudah janjikan akan perangi orang yang menyakiti mereka). Sebab, sedikit sekali orang yang memperhati-kan tujuan seperti ini; yaitu berangan-angan perkara yang baik bagi kaum muslimin. Maka kamipun memohon pada Allah Swt agar kita semua dijalankan pada jalan keselamatan dunia dan akhirat. Semoga apa yang kami lakukan inipun termasuk pekerjaan yang diterima dan semoga Allah Swt membalas semuanya dengan pahala yang besar, Amîn.
