
Elsubha.com – Pendahuluan : Tarbiyah Thariqah
Dalam Qawa’id at-Tashawwuf, Sayyidi Zarruq mengatakan: Guru kami Abul ‘Abbas al Hadhrami pernah berkata, “Makna tarbiyah kini telah terangkat, yang tersisa hanyalah proses istifadah (pengambilan manfaat) dengan himmah dan hal. Maka hendaknya kalian ittiba’ pada Al Qur’an dan As-Sunnah tanpa menambah-nambah dan menguranginya.”
Pernyataan ini tidaklah bisa dipahami oleh orang yang tidak memiliki dzauq, tidak memiliki ilmu dan tidak memiliki kejujuran jiwa; bahwa tarbiyah sudah benar-benar terputus, itu terjadi pada abad ke-9, bahkan syaikh Zarruq dan juga gurunya tidak mengelakkan itu telah terjadi. Akan tetapi maksudnya adalah seperti yang dikatakan oleh Ibnu ‘Ajibah; pengarang İqâzh al Himam Syarh al Hikam al ‘Athaiyyah, berikut redaksinya: Andai engkau katakan bahwa al Hadhrami telah menyatakan bahwa tarbiyah secara terminologinya telah terputus hingga yang tersisa himmah dan hal, maka hendaknya engkau berpegang teguh pada Al Qur’an dan As-Sunnah. Aku katakan: Al Hadhrami tidaklah bermaksud bahwa tarbiyah telah terputus selama-lamanya, mustahil al Hadhrami menetapkan demikian dan meremehkan kemampuan Allah Swt, akan tetapi yang ingin beliau katakan adalah bahwa pada akhir zaman ada banyak orang yang mengaku (menjadi syaikh tarbiyah), maka ketika itu beliaupun mengingatkan penduduk zaman dimana beliau berada.
Pengetahuan al Hadhrami dan az-Zarruqlah yang menafikan kenyataan (tarbiyah telah terputus), toh jikapun kita katakan bahwa tarbiyah itu bersumber dari keduanya, maka keduanya bukanlah sosok yang ma’shum. Setiap ucapan bisa ditolak bisa juga diterima kecuali ucapan pemilik risalah, Nabi Muhammad Saw.
Ada ulama yang menganggap al Hadhrami ini adalah rijal (pembesar wali Allah); mereka adalah ulama ahli tarbiyah nabawiyyah dengan hal, maqal, himmah mereka. Jumlah mereka tidak terhitung, mereka ada di zaman kita ini, sosoknya terkenal. Banyak orang yang Allah berikan hidayah dengan perantara mereka, bahkan mereka menelurkan banyak wali Allah yang jumlahnya hanya diketahui oleh Allah Swt. -Selesai-
Pernyataan yang mengukuhkan apa yang diucapkan oleh pengarang Iqazh al Himam adalah bahwa pernyataan itu dikatakan oleh mereka berdua (al Hadhrami dan az-Zarruq) pada abad ke-9 sebelum munculnya wali khatam Tijany; sang wali pengemban tarbiyah, sehingga tidak diragukan lagi bahwa syaikh Ahmad at-Tijany adalah seorang murabbi, begitu juga sayyidi syaikh Mukhtar al Kattani; yang dari kedua wali inilah banyak rijal kummal yang menggapai martabat syaikh murabbi muraqqi.
Ketika memuji sayyidi syaikh Ahmad at-Tijany Ra, sayyidi ‘Abîdah bin Muhammad ash-Shaghir; pengarang Mîzâb ar-Rahmah ar-Rabbaniyyah menyenandungkan:
بِلَا خَلْوَةٍ رَبِّي وَرَبُّوْا بِخَلْوَةٍ # فَشَتَانِ مَا بَيْنَ الْيَزِيدَيْنِ مَنْهَلَا
“Tanpa khalwat beliau mentarbiahku dan mereka mentarbiyah dengan khalwat # keduanya berada diantara dua sumber tambahan yang berbeda.”
As-Sayyid al ‘Arabi bin Sâ’ih pernah mengatakan: Yang kami maksud bahwa tarbiyah dalam thariqah ini tanpa kelaziman khalwat dan i’tizal (menyendiri dari manusia) dan semisalnya, yang didalamnya memberatkan jiwa dan menyulitkan. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa tarbiyah tetap berlaku seperti caranya generasi salafushâlih di awal yang merupakan cara aslinya; yaitu caranya dengan bersyukur dan gembira dengan Allah Swt dan melakukan riyadhah kalbu, bukan dengan cara lain yang diistilahkan dengan “suluk” pasca abad ke-3; yaitu dengan cara mujahadah, mukâbadah dan riyadhah badaniyyah, yang jelas antara keduanya ada perbedaan jauh.
Pada fase awal, jalan menuju Allah adalah dengan sair qulub (jalan kalbu) dan pada fase kedua dengan sair abdan (jalan badan). Poros paling penting daripada jalan menuju Allah Swt adalah sair qulûb (jalan kalbu); dengan melihat pada kondisi kalbu; apa yang baik bagi kalbu dan apa yang bisa merusak kalbu, sesuai dengan sisi keadilan jiwa dan keterikatan dengan syari’at serta sunnah Nabi Saw. Bukan dengan cara memberatkan jiwa dengan cara hidup sengsara dan makan tidak enak serta berusaha hingga capek tanpa melongok kepada kondisi kalbu, seperti yang sudah kami tetapkan.
Akan tetapi ulama yang datang setelah abad ke-3 lebih mengunggulkan bersuluk dengan cara yang kedua; tepatnya ketika hawa nafsu menyeruak dan banyaknya pandangan akan suluk, sehingga mereka membangun konsep tarbiyah atas dasar membersihkan jiwa lagi mensucikannya agar kalbu bisa bersinar dan terbebas dari ragam kotoran hawa. Para ulama pun telah memperingat-kan agar tidak ghuluw (berlebihan), sehingga mereka keluar dari batasan ittiba’menuju batasan ibtida’.
Syaikh Abu Abdilah bin ‘Abbad pernah menyatakan: Tazkiyatun-nafs bukanlah dengan cara memutus semua kebutuhan dengan cara memakan rerumputan liar dan dedak, berlebihan dalam kehidupan sengsara dan menyedikitkan segalanya tanpa memandang pada kondisi kalbu; kesusahan, keseimbangan dan kehendaknya, juga tidak melihat pada perkara yang membuat kalbu dipuji dan dibenci, ini semua adalah sikap berlebihan lagi perkara bid’ah. Banyak kelompok manusia yang melakukan ini dalam riyadhah dan mujahadah mereka bahkan tidak bertujuan ikhlas beribadah kepada Rabb mereka, sehingga perkara ini membuat akal mereka terbelenggu, kekuatan badan mereka pupus dan mereka pun tidak mendapatkan apa-apa dari apa yang telah mereka lakukan, hal ini terjadi lantaran kebodohan mereka akan As-Sunnah dan generasi salaf ash-shalih.
Dalam al Jawab asy-Syafi, Abul Mawahib as-Sayyid al ‘Araby bin Sa`ih menyatakan: Alhamdulillah, dalam thariqah ini, ulama yang mentarbiyah banyak jumlahnya, bahkan setiap tempat dan setiap zaman tidak pernah kosong dari ulama yang mentarbiyah sejak wafatnya sayyidi syaikh Ahmad at-Tijany Ra, bahkan ada yang muncul semasa hidupnya sayyidi syaikh Ahmad at-Tijany Ra, hanya saja mereka tidak menampakkan diri dengan hal itu (tarbiyah) lantaran hukum waktu, sehingga mereka tidak terlacak terkecuali orang yang memang Allah mampukan ia mengambil manfaat dari mereka. Perkara ini lantaran apa yang Allah khususkan, sebab keberkahan guru mereka yang dalam posisi kamal (sempurna). Para muhaqqiq menyebut hal ini dengan istilah “ghirah ‘alallah”; yang bentuknya menyembunyikan nurani dan asrar. Ini merupakan kondisi wali yang paling tersembunyi; yang paling terbebas dari cercaan orang-orang yang bodoh akan hakikat diri mereka. Sehingga tidak nampak dari mereka adanya kekhususan, sebab mereka melakukan pekerjaan yang dilakukan kebanyakan orang dari ketaatan yang nampak, hal yang biasanya tidak dilakukan oleh ahlullah. Inilah perkara yang Allah hadirkan pada dirinya berikut keutamaan yang mereka dapatkan, baik mereka mampu merasakan keutamaan itu atau tidak. -Selesai-
Dalam Bughyah al Mustafid, Abul Mawahib as-Sayyid al ‘Araby bin Sa`ih menyatakan: Hasil pembahasan masalah ini adalah bahwa ahli (ulama) thariqah al Muhammadiyyah ini ada sosok yang Allah berikan futuh dalam mentarbiyah; yaitu mampu mentaqinkan wiridan thariqah dan semua dzikirannya sesuai dengan syarat dan tata cara yang telah tertulis; tidak keluar dari apa yang telah dibatasi oleh sayyidi syaikh Ahmad at-Tijany Ra yang diterima dari Nabi Saw. Sebab, thariqah at-Tijaniyyah ini merupakan thariqah al Muhammadiyyah yang diberikan oleh Nabi Saw kepada sayyidi syaikh Ahmad at-Tijany Ra. Beliau Saw pun menjamin pengamalnya dengan jaminan berupa ragam asrar, kebaikan dan keberkahan. Tidak keluar dari apa yang telah diberikan oleh Nabi Saw berikut jaminan dari beliau Saw. Pahamilah ini! Ini kiranya perkara yang perlu diingatkan. Wallâhu waliyyut-taufiq wal hidayah.
Syaikh dan wasilah kami menuju Allah; al Khatm at-Tijany Ra pernah menyebutkan perkataan yang menunjukkan, bahwa didalam thariqah beliau dan juga para muridnya ada masyayikh tarbiyah. Redaksinya seperti yang disebutkan dalam al Jâmi Apabila Allah memberikan futuh pada sahabat-sahabatku, maka yang ada bersamaku di kota ini, dirinya takut binasa, maka sebagian sahabat sayyidi syaikh berkata, “Binasa darimu atau dari Allah Swt?” Sayyidi syaikh Ahmad at-Tijany Ra menjawab, “Dari Allah dan tanpa adanya pilihan dariku.”-Pernyataan ini disampaikan pada hari Ahad, 2 Sya’ban 1224 H.- Lantas pada hari Senin, sayyidi syaikh Ra berkata, “Ketakutan akan binasa itu bagi sahabatku yang telah aku izinkan untuk ber-tasharruf dan men-tarbiyah.”
Redaksi pernyataan Sayyidi Zarruq Ra sebagaimana tertuang dalam Ta ‘sis al Qawa `id. Penutup; Guru kami Abul ‘Abbas al Hadhrami pernah berkata, “Makna tarbiyah kini telah terangkat, yang tersisa kini hanyalah proses istifâdah (pengambilan manfaat) dengan himmah dan hal. Maka hendaknya kalian ittba pada Al Qur’an dan As-Sunnah tanpa menambah-nambah dan menguranginya. Perkara ini berlaku dalam ranah muamalah dengan Allah, jiwa dan manusia. Yang berkaitan dengan mu’amalah kepada Allah, maka itu terkait dengan tiga perkara: Menjalankan ragam perkara wajib, menjauhi ragan perkara yang haram dilakukan dan berserah diri atas hukum yang berlaku. Sedangkan yang berkaitan dengan mu’amalah kepada jiwa, maka itu berkaitan dengan tiga perkara: Insyaf dengan ketentuan Al Haq, tidak menolong jiwa dan berhati-hati dari bencana jiwa dalam hal menarik dan mendorong, menolak dan menerima, datang dan pergi. Sementara yang berkaitan dengan mu’amalah kepada manusia, maka itu dengan tiga perkara: menyampaikan hak mereka; mencukupkan diri untuk tidak menginginkan apa yang ada di tangan mereka dan berlari dari perkara yang membuat kalbu mereka cemburu, terkecuali pada hak yang wajib. Setiap murid menolak untuk menunggangi kuda atau mengedepankan kemaslahatan umum, atau menyibukkan diri dengan merubah yang mungkar pada masyarakat secara umum, atau pergi berjihad tanpa melihat keutamaan jihad tersebut atau adanya waktu luang, atau ia menepati ragam perkara yang memiliki fadhilah tertentu, atau mencari aib saudaranya dan orang lain, atau tersinggung dengan teguran, atau terus mendengarkan orang lain bicara, atau banyak berkumpul meski tidak bertujuan untuk belajar atau juga karena ada harta, atau membeli budak tanpa menggaulinya dan menerima aib sang budak, atau berani mentarbiyah tanpa adanya taqdim dari syaikh atau dari seorang imam atau dari seorang yang ‘alim; atau mengikuti setiap orang yang berbicara benar atau berbicara buruk tanpa mengetahui detail kondisi mereka; atau sikap meremehkan yang dinisbatkan kepada Allah, sekalipun dia berprasangka ketidakbenarannya perkara itu dengan adanya tanda, atau lebih condong kepada rukshah atau penakwilan; atau mendahulukan perkara bathin daripada perkara zhahir, atau mencukupkan diri dengan perkara zhahir daripada perkara yang bathin; atau dia mendatangkan perkara lain yang tidak cocok dengan keduanya; atau mencukupkan diri dengan ilmu tanpa mengamalkannya; atau mencukupkan diri dengan amal perbuatan tanpa ahwal dan ilmu; atau mencukupkan diri dengan ahwal tanpa ilmu, sementara iapun tidak memiliki pijakan asal, tempat kembalinya sisi ilmu, amal, dan ahwal jiwa, dimana keberagamaan merupakan bagian dari pondasi yang disepakati dalam ragam kitab ulama, seperti kitab Ibnu Athaillah dalam perkara bathin; terlebih khusus; Madkhal Ibnu al Haj perkara zhahir, juga kitab gurunya Ibnu Abi Jamrah dan ulama ahli tahqiq yang mengikuti mereka; jika demikian kondisi sang murid, maka dia lah yang binasa, tidak ada keselamatan baginya. Sedangkan orang yang mengambil dua sisi tersebut (sisi zhahir dan bathin), maka insyaAllah diapun akan selamat.
Suatu ketika Rasulullah Saw pernah ditanya mengenai maksud firman Allah Swt, “Jagalah dirimu…” (Qs. al Ma’idah [5]: 105).
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا عَلَيْكُمْ اَنْفُسَكُمْ ۚ لَا يَضُرُّكُمْ مَّنْ ضَلَّ اِذَا اهْتَدَيْتُمْ ۗ اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُـنَـبِّـئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu ‘alaikum angfusakum, laa yadhurrukum mang dholla izahtadaitum, ilallohi marji’ukum jamii’ang fa yunabbi-ukum bimaa kungtum ta’maluun
“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; (karena) orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu semua akan kembali, kemudian Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 105)
Nabi Saw bersabda,
إِذَا رَأَيْتَ شُحًا مُطَاعًا، وَهَوَى مُتَّبَعًا، وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً، وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيِ بِرَأْيِهِ، فَعَلَيْكَ بِخُوَيْصَّةِ نَفْسِكَ
“Apabila engkau melihat sifat kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dunia yang membekas, bangga dengan pendapatnya sendiri, maka hendaklah engkau jaga diri sendiri.” (HR. Abu Dawud dalam Sunar-nya; Kitab. al Malahim, Bab. Perintah dan Larangan, vol. 4, hal. 121, no. 4341. Abu ar-Rabi’ Sulaiman bin Dawud al ‘Ataki menceritakan kepada kami, Ibnu al Mubarak menceritakan kepada kami, dari ‘Utbah bin Abi Hakim, ia berkata: ‘Amru bin Jariyah Al-Lakhami menceritakan kepadaku, Abu Umayyah asy-Syaibani menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Tsa’labah seraya berkata, “Wahai Abu Tsa’labah, bagaimana pendapatmu mengenal ayat, “Jagalah dirimu,” Beliau menjawab, “Demi Allah, engkau telah bertanya pada orang yang tepat, akupun pernah bertanya kepada Rasulullah Saw mengenal ayat tersebut dan bellau Saw menjawab, Saling perintahlah kepada perkara yang ma’ruf dan saling mencegahlah dari perkara yang mungkar, bahkan jika engkau melihat sifat kikir yang dita’ati, hawa yang diikuti, dunia yang lebih diutamakan (daripada urusan agama), dan setiap orang bangga dengan pendapatnya sendiri, maka hendaknya engkau jaga dirimu sendiri dan Jauhilah orang-orang awam (bodoh). Sebab, dibelakang kalian ada hari-hari (yang kalian wajib) bersabar, sabar yang pada saat itu seperti orang yang memegang bara api dan orang yang beramal pada saat itu pahalanya sebanding dengan lima puluh kall amalan orang yang beramal seperti amalnya, la menambahkan untukku, ‘seperti amalan lainnya. Abu Tsa’labah kembali bertanya, “Wahai Rasulullah, seperti pahala lima puluh orang dari mereka!.” Bellau Saw menjawab, “Bahkan seperti pahala lima puluh orang dari kallan.” (HR. Abu Daud), Kairo: Darul Hadits. HR. at-Tirmidzi dalam Sunarnya; Kitab. Tafsir, surah al Ma’idah, vol. 5, hal. 257-258, no. 3058.
Sa’id bin Yaqub ath-Thaliqani menceritakan kepada kami, ‘Abdullah bin Mubarak menceritakan kepada kami, ‘Uthbah bin Abi Hakim mengabarkan kepada kami..hingga akhir sanad (HR. Abu Dawud). Abu ‘Isa at-Tirmidzi mengatakan, “Hadits ini hasan gharib. Kairo: Dar al Hadits, tahqiq Ibrahim ‘Athwah.)
Nabi Saw bersabda: Dalam Shuhuf Ibrahim disebutkan, “Bagi seorang yang cerdas hendaknya ia tahu zamannya, menjaga lisannya, menerima kondisi dirinya. Orang yang cerdas hendaknya memiliki empat waktu: Waktu dia menghisab dirinya; waktu dia bermunajat pada Rabbnya; waktu dia membuka diri kepada saudaranya untuk membantu aibnya dan menunjukkannya kepada Rabbnya; waktu dia menyendiri antara diri dan juga ragam syahwatnya yang diperbolehkan.” Atau sebagaimana beliau Saw juga bersabda, “Semoga Allah karuniakan kita itu dan menolong kita untuk itu, memberikan taufik pada kita, membersamai kita dengan ‘afiyat, sungguh tahu akan penghujungnya. Dia Allah, cukuplah Allah bagi kita dan Dialah sebaik-baik penolong. Semoga shalawat dan salam Allah senantiasa terlimpahkan atas penghulu dan tuan kami Muhammad dan juga terlimpah atas keluarga dan sahabat beliau.”
Orang yang memikirkan perkataan diatas dari awal hingga akhir, niscaya ia akan tahu maksudnya. Oleh karena itu al ‘Arifbillah as-Sayyid al ‘Arabi bin Sa`ih mengatakan, “Yang dimaksud dengan tarbiyah pada batasan ini adalah tarbiyah sesuai terminologi yang adanya pasca abad ke-3; tarbiyah yang dikatakan oleh syaikh Zarruq dari sebagian gurunya telah terputus.
Muhaqqiq al Yusi pun mengikuti pendapat ini. Yang mereka maksudkan dari tarbiyah adalah mengambil irsyad dengan Al Qur’an dan As-Sunnah dan mantalqinkan dzikir serta semacamnya; perkara yang mampu menyirnakan kebatilan dari jiwa dan memutuskan ragam keterkaitan dari jiwa, lantaran jiwa terbantu dengan adanya madad dan himmah syaikh sesuai dengan apa yang diizinkan dari hadhrah Allah dalam sirr-nya atau dari hadhrah Rasulullah Saw secara yaqzhah atau dalam kondisi tidur yang tidak mungkin terputus, mustahil ahlullah beranggapan demikian. Lihat, Adz-Dzahab al Ibriz.-
Syaikh Abdul Aziz ad-Dibagh menegaskan kembali dalam adz-Dzahab al Ibriz terkait dengan jawaban masalah ini: Sungguh yang dimaksud dari tarbiyah adalah proses mensucikan jiwa dan membersihkannya dari ragam kotoran hingga jiwa mampu mengemban sirr, dan hal itu mau tidak mau harus dengan menghilangkan sisi kegelapan dari jiwa tersebut dan memutuskan ragam keterkaitannya dengan yang batil, kemudian memutuskan kebatilan dari jiwa tersebut, biasanya dengan mensucikan-nya sejak awal penciptaan, dimana Allah Swt langsung membersikan jiwa tersebut tanpa perantara.
Ini adalah kondisi generasi ketiga yang unggul, mereka adalah generasi terbaik. Manusia di zaman itu senantiasa terkait dengan Allah dan senantiasa berupaya mendekat pada-Nya; apabila mereka tidur, mereka tidur dengan kedekatan dengan Allah; apabila mereka bangun dari tidur, merekapun bangun dengan kedekatan diri dengan Allah; apabila mereka bergerak, merekapun bergerak untuk Allah, bahkan orang yang Allah berikan futuh pada penglihatannya dan mampu melihat pada sisi batin generasi terdahulu, niscaya ia akan menemukan bahwa jarang diantara mereka yang tidak terikat dengan Allah Swt, mereka senantiasa mencari jalan untuk sampai pada ridha Allah. karena alasan inilah ada banyak kebaikan pada mereka. Jiwa-jiwa mereka menggambarkan cahaya ilahi yang bersinar, sehingga bermunculan ilmu, bahkan mereka sampai pada taraf ber-ijtihad; perkara yang tidak perlu dipertanyakan bagaimana itu bisa terjadi dan tidak ada pula generasi setelah mereka yang mampu untuk itu. Maka tarbiyah tidaklah lagi dibutuhkan bagi generasi ini, akan tetapi seorang syaikh mentalqinkan muridnya, begitu juga sahabat sirr dan pewaris anwar-nya, sehingga syaikh mengucapkan sesuatu pada telinga sang murid hingga terjadilah futuh pada si murid hanya dengan hal tersebut, itu terjadi lantaran sucinya dzat dan akal serta senantiasa termotivasi ke jalan irsyad. Futuh tersebut terkadang disebabkan dari sisi syaikh; maksudnya syaikh mampu menyibak kegelapan dari dzat sang murid.
Namun setelah generasi yang unggul ini, dimana banyak niatan yang telah rusak, tujuan (akhirat) pun telah lesu, hingga akal lebih dominan dengan urusan dunia, senantiasa mencari harta untuk bisa sampai pada pemuasan syahwat dan kelezatan, sehingga seorang syaikh pemilik bashirah menalqinkan sang murid dan pewarisnya, sehingga syaikh tersebut pun mengenalnya dan mampu menemukan akalnya terkait dengan kebatilan dan berupaya memenuhi ragam syahwat. Beliau pun mendapati jiwanya sang murid mengikuti akal, sehingga ia lalai bersama orang-orang yang lalai, lupa bersama orang-orang yang lupa serta kerap condong bersama orang-orang yang tenggelam dalam kebatilan, tubuhnya tergerak untuk melakukan kebatilan, dimana akal miliknya terikat dengan kebatilan dan tidak terikat dengan Allah al Haq.
Apabila syaikh mendapatinya dalam kondisi ini, beliaupun menyuruhnya untuk melakukan khalwat, berdzikir dan menyedikitkan makan. Khalwat mampu memutuskannya dari orang-orang yang bathil dengan menganggap mereka telah meninggal dunia. Berdzikir mampu menyirnakan ungkapan bathil, ungkapan yang melalaikan dan ungkapan sia-sia yang keluar dari lisannya. Dengan menyedikitkan makan, maka itu mampu menyedikitkan kadar uap dalam darah sehingga mampu menurunkan syahwat, sehingga akal bisa kembali terkait dengan Allah Swt dan Rasul-Nya. Apabila sang murid telah sampai pada kebersihan dan kesucian jiwa ini, maka jiwanya kini telah mampu mengemban sirr. Inilah tujuan seorang syaikh mentarbiyah dan memasukkan sang murid ke dalam khalwat. Kondisi tarbiyah sampai disini hingga bercampurnya kebenaran dengan kebatilan, cahaya dengan gelap yang membuat ahli kebatilan juga men-tarbiyah orang yang datang padanya dengan menganjur-kannya ber-khalwat (bertapa) dan menalqinkan-nya asma untuk tujuan yang busuk dan tujuan yang menyelisihi kebenaran, mereka selalu membekali orang tersebut dengan jimat dan pegangan lainnya, hal ini masuk ke dalam ranah makar terhadap Allah dan juga istidraj.
Kondisi inilah yang banyak terjadi pada zaman syaikh Zarruq dan juga zaman guru beliau, sehingga syaikh Zarruq memberikan nasehat agar mengarahkan manusia untuk kembali dari proses tarbiyah (yang akhir); dimana banyak dilakukan oleh orang yang bathil, seraya memposisikan manusia pada posisi aman yang tidak ada lagi ketakutan dan juga kesedihan; yaitu dengan cara mengikuti Al Qur’an dan As-Sunnah yang membuat orang yang mengikuti keduanya tidak akan sesat.
Ungkapan syaikh Zarruq Ra dan guru beliau keluar sebagai ungkapan nasehat dan kehati-hatian, mereka sejatinya tidak menghendaki keterputusan tarbiyah secara hakiki, mustahil jika mereka malah menghendaki itu. Sebab cahaya Nabi Saw akan senantiasa ada, kabar beliau menyeluruh dan keberkahan beliau umum hingga hari Kiamat.
Aku (Syaikh Ibrahim Niass) katakan: Ragam ayat dan hadits nabi diatas merupakan isyarat dan juga ungkapan gamblang sebagai berita gembira atas kelompok yang senantiasa nampak dengan kebenaran. Isyarat tersebut tidak dikhususkan bagi zaman tertentu, tidak pula dikhususkan bagi tempat tertentu.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمِمَّنْ خَلَقْنَاۤ اُمَّةٌ يَّهْدُوْنَ بِا لْحَـقِّ وَبِهٖ يَعْدِلُوْنَ
wa mim man kholaqnaaa ummatuy yahduuna bil-haqqi wa bihii ya’diluun
“Dan di antara orang-orang yang telah Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan (dasar) kebenaran, dan dengan itu (pula) mereka berlaku adil.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 181)
Berkaitan dengan ayat diatas; Syaikh al ‘Arifbillah sayyidi ash-Shawi mengatakan dalam Hasyiyah-nya, “Mereka adalah umat Nabi Muhammad Saw.”
Sebagaimana yang tertera dalam hadits,
لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الحَقِّ حتى يأتي أمر اللّٰه
“Akan senantiasa ada sekelompok orang diantara umatku yang selalu menang di atas kebenaran hingga datang ketetapan Allah,” (HR. al Bukhari dalam Shahihrnya; Kitab. all’isham, Bab. Qaul an-Nabi: la tazalu thaifatun min ummati zhahirina ‘ala al haq yugatiluna wa hum ahla ‘llmin, no. 7311. Ubaidillah bin Musa menceritakan kepada kami, dari Isma’il, dari Qals, dari Mughirah bin Syu’ban, dari Nabi Saw, bellau bersabda, “Akan ada sekelompok orang diantara umatku yang senantiasa menang di atas kebenaran hingga datang ketetapan Allah, dan mereka nampak. “Manshurah: al Iman, 1419 H-1998 M.
HR. Muslim dalam Shahih-nya; Kitab. al Imârah, Bab, Qaul la tazału thaifatun min ummati zhâhirina ‘ala al haq la yadhurruhum man khalafahum, vol. 1, hal. 1523, no. 1920.
Sa’id bin Manshur dan Abu ar-Rabi’ al ‘Ataki dan Quthaibah bin Sa’id, mereka mengatakan: Hammad Ibnu Yazid menceritakan kepada kami dari Ayyub, dari Abu Qilabah, dari Abu Asma’, dari Tsaubah, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda, “Akan senantiasa ada sekelompok orang diantara umatku yang senantiasa menang di atas kebenaran, orang yang meremehkan mereka tidaklah bisa memudharatkan hingga datang ketetapan Allah, dan mereka…. Dalam hadits Qutaibah tidak ada redaksi, ” dan mereka..”
Dalam bab ini pula, diriwayatkan dari Mu’awiyah dengan lafazh tersebut, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Akan senantiasa ada sekelompok orang diantara umatku yang senantiasa menang di atas kebenaran, orang yang meremehkan atau yang menyelisihi mereka tidaklah bisa memudharatkan hingga datang ketetapan Allah, dan mereka nampak diantara manusia.” Kairo: Isa al Halabi; tahqiq Muhammad Fuad ‘Abdul Baqi.M
HR. Abu Dawud dalam Sunar-nya; Kitab al Fitan, Bab. Fitnah dan Ragam Petunjuknya, vol. 4, hal. 95, No. 4252; dari jalur periwayatan Muhammad bin ‘Isa dan Salman bin Harb; keduanya berkata: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami dari Ayyub…hingga jalur periwayatan Muslim, lafazh haditsnya milik Muslim, hanya saja ini bagian dari hadits yang panjang.
HR. at-Tirmidzi dalam Sunar-nya; Kitab al Fitan, bab, ma ja ‘a fi al a ‘immati al mudhillin, no. 2229; Qutaibah bin Sa’id menceritakan kepada kami, Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami hingga akhir Jalur periwayatan Muslim, lafazh haditsnya milik Muslim. Abu ‘lsa at-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih.”
HR. Ahmad dalam Musnad-nya; vol. 5, hal. 279; Musnad Tsauban dari jalur periwayatan Yunus; Hammad bin Zald menceritakan kepada kami, dari Ayyub…hingga akhir sanad Muslim, lafazh hadisnya milik Muslim. Beirut, Libanon.)
Diriwayatkan dari Mu’awiyah, ia berkata: Aku mendengar beliau Saw berkhutbah seraya mengatakan, “Akan senantiasa ada sekelompok orang diantara umatka umat yang tegak berdiri dengan ketentuan Allah, orang yang meremehkan mereka tidak dapat memudharatkan mereka, tidak juga orang yang menyelisihi mereka (tidak bisa memudharatkan) hingga datang ketentuan Allah dimana mereka tetap seperti itu.”
Redaksi “umat” diatas tidak dikhususkan untuk zaman tertentu, tidak pula untuk tempat tertentu, bahkan mereka sejatinya ada pada setiap tempat dan setiap zaman. Agama Islam senantiasa tinggi dan tidak ada yang bisa menandingi ketinggiannya, meskipun jumlah orang yang fasiknya banyak, orang bejatnya banyak, sebab perkaranya tidak berkaitan dengan mereka, tidak pula ada keterkaitan dengan mereka. Pada perkara ini terdapat berita gembira bagi umat al Muhammadiyyah ini, bahwa agama Islam itu tinggi dan mulia, begitu juga pemeluknya, seperti ini kondisinya hingga mendekati datangnya hari Kiamat; hingga para pengemban Al Qur’an dan ulama wafat, Al Qur’an terlepas dari mushaf, datanglah angin lembut, hingga setiap orang yang memiliki keimanan pada Allah meski semisal biji dzarrah (biji sawi) pun mati, dan perkara ini tidak terjadi kecuali setelah kematian nabi Isa As. -Selesai.-
Aku (Syaikh Ibrahim Niass) katakan: Wafatnya nabi Isa As akan terjadi setalah nabi Isa As berhasil membunuh Dajjal dan hidup selama 40 tahun, sebagaimana kerap diulang-ulang dalam berbagai hadits. Dajjal pun tidaklah datang kecuali setelah munculnya al Mahdi selama 700 tahun.
Dalam riwayat lain disebutkan, “Akan senantiasa ada sekelompok orang di Maghrib…”
Syaikh Muhyiddin Ibnu’ Arabi pernah mengatakan, “Sungguh mengapa Allah menjadikan kota Maghrib ini sebagai tempat khatmiyyah dan katmiyyah, sebab itu adalah tempatnya ragam asrar dan tersembunyi.” Lebih lengkapnya lihat pada Futûhât al Makkiyyah dan juga ‘Unaqa Maghrib fi Khatm al Auliya ‘i wa Syams al Maghrib. Lihat pula pada Bughyah al Mustafid.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
ثُلَّةٌ مِّنَ الْاَ وَّلِيْنَ
sullatum minal-awwaliin
“segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu,”
(QS. Al-Waqi’ah 56: Ayat 39)
وَثُلَّةٌ مِّنَ الْاٰ خِرِيْنَ
wa sullatum minal-aakhiriin
“dan segolongan besar pula dari orang yang kemudian.”
(QS. Al-Waqi’ah 56: Ayat 40)
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda,
الثُّلُثَانِ مِنْ أُمَّتِي
“Dua pertiga golongan besar bagian dari umatku. ” Lihat Jawahirul Hisân. (Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan dalam Tafsir-nya; Jami’ al Bayan ‘an Ta’wil Ây al Qur’an, pada surah al Waqi’ah; yaitu pada firman Allah Swt: Tsullatun minal awwaliina watsullatun minal akhiriina: Ibnu Humaid menceritakan kepada kami, ia berkata: Mahran menceritakan kepada kami dari Sufyan, dari Aban bin Abi ‘Ayyasy, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas: ((Tsullatun minal awwalina wa tsullatun minal akhirina)); ia berkata: Nabi Saw bersabda, “Keduanya semua bagian dari umatku.”
Dalam tafsir ayat tersebut, Ibnu Jarir berkata: Telah diriwayatkan secara shahih dari Nabi Saw. Pada sisi lain diriwayatkan pula dengan shahih, ia berkata: Nabi Saw bersabda, “Dua pertiga golongan besar merupakan bagian dari umatku.”; Mesir, Musthafa al Halabi wa Awladuh, cet. 2, 1388 H/1968 Μ.
Al Haitsami menyebutkan dalam Majma’ az-Zawa ‘id wa manba’ al Fawa ‘id, kitab Tafsir, bab. Surah al Waqi’ah 118-119 riwayat: Diriwayatkan dari Bakrah dari Nabi Saw pada firman Allah, Tsullatun minal awwallina watsullatun minal akhiriina,” beliau Saw bersabda, “Semua golongan tersebut bagian dari umat ini.” al Haltsami mengangkat hadits ini kepada riwayat ath-Thabrani dengan dua sanad periwayatan; yang satu para periwayatnya rijal shahih, selain ‘Ali bin Zaid; tsiqah tetapi memiliki hafalan yang buruk. Cet. al Quds.)
Dalam Nasim ar-Riyadh, Syihabud-Din al Khafaji mengatakan kala ia memberikan syarah hadits
خَيْرَكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik kalian adalah generasiku, kemudian orang-orang yang datang setelah mereka (sahabat nabi), kemudian orang-orang yang datang setelah mereka (tabi’in),” (HR. al Bukhari dalam Shahih-nya; kitab Syahadat, bab la yasyhad ‘ala syahadah jaurin ida asyhada, vol. 2, hal. 161, no. 2651: Adam menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, Abu Hamzah menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku pernah mendengar Adam Zahdam bin Madhrab berkata: Aku pernah mendengar ‘Imran bin Hashih, ia berkata: Nabi Saw pernah bersabda, “Sebaik-baik kallian adalah generasiku, kemudian orang-orang yang datang setelah mereka (Sahabat), lalu kemudian orang-orang yang datang setelah mereka (tabi’in).” Imran berkata: Aku tidak tahu apakah Nabi Saw menyebutkan setelah dua generasi atau tiga generasi; Nabi Saw bersabda, “Sungguh setelah kalian ada kaum yang berkhianat dan tidak bisa dipercaya, mereka menyaksikan tetapi tidak mau mati syahid, mereka bernadzar tetapi tidak menepatinya dan nampak kegendutan pada mereka.”; Kitab Fadha ‘il Ashab an-Nabi Saw; Bab Fadha ‘il Ashab an-Nabi; wa an shahiba an-Nabi Saw aw ro’ahu min al muslimin fahuwa min ashabih, 426. Dalam hadits 3650: Ishaq menceritakan kepada kami, An-Nadhar menceritakan kepada kami, Syu’bah mengabarkan kepada kami hingga akhir jalur periwayatan yang lalu. Disebutkan dengan lafazh lainnya: Sebaik-baik umat adalah umat generasiku…
Disebutkan juga dalam kitab ar-Raqa ‘iq, bab ma yahdzaru min zuhrah ad-dunya wat-tanafus fiha, vol. 4, hal. 181, no. 6428: Muhammad bin Basyar menceritakan kepadaku, Ghandar menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Hamzah…hingga akhir jalur periwayatan yang pertama berikut lafazhnya.
Diriwayatkan pula oleh Muslim dalam Shahih-nya; kitab Fadha ‘il ash-Shahabah redaksi, “kemudian orang-orang yang datang setelah mereka, lalu orang-orang yang datang setelah mereka;” vol. 4, hal. 1964, no. 2535: Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Muhammad bin al Mutsanna serta Ibnu Basysyar menceritakan kepada kami, semuanya dari Ghandar, Ibnu al Mutsanna berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, Aku mendengar Abu Hamzah…hingga akhir jalur periwayatan al Bukhari dan lafazh-nya milik beliau.
An-Nasa’i dalam Sunan-nya; Kitab al Aiman wan-Nudzur, bab al wafa wan-nudzur, vol. 7, hal. 17-18: Muhammad bin Abd al A’la mengabarkan kepada kami, ia berkata: Khalid menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami…(dengan lafazh-nya)
Diriwayatkan pula oleh Ahmad dalam Musnad-nya, vol. IV, hal. 436; dari jalur periwayatan Yahya bin Sa’ad, Syu’bah menceritakan kepada kami, Abu Hamzah menceritakan kepadaku… (dengan lafazh-nya).
Ath-Thahawi meriwayatkannya dalam Syarh Ma’ani Atsar: Kitab al Qadha wasy-syahadah, bab ar-rajulu yakunu ‘Indahu asy-syahadah lir-rajuli, hal yajibu ‘alaihi an yukhbirahu biha, wa hal yuqabbiluhu al hakimi ‘ala dzalika am la?, vol. 4, hal 151: Ibnu Marzuq menceritakan kepada kami, la berkata: Bisyr bin Tsabit al Bazzar menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami… (dengan lafazhnya).
Ath-Thabrani meriwayatkan dalam Mu’jam al Kabir, vol. 18, hal. 233.)
Bahwa kondisi ini tidaklah menafikan hadits,
أُمَّتِي كَالْمَطَرِ لَا يَدْرِي الْخَيْرُ فِي أَوَّلِهِ أَمْ فِي آخِرِهِ
“Umatku seperti air hujan, tidak diketahui apakah kebaikan ada di awal atau di akhirnya.” (At-Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunar-nya; Kitab. Al Amtsal, bab no. 6, vol. 5, hal. 152, no. 2869: Qutaibah menceritakan kepada kami, Hammad bin Yahya al Abah menceritakan kepada kami, dari Tsabit al Bunanıl, dari Anas, la berkata: Rasulullah Saw bersabda, “Umatku seperti air hujan, tidak diketahui apakah yang awal itu balk atau yang akhir. Dalam bab ini diriwayatkan juga dari ‘Ammar, Abdullah bin Amru dan Ibnu ‘Umar. Abu Isa berkata: Hadits hasan gharib dari sisi ini.”
Ahmad mengabarkan dalam Musnad-nya (3/130); Musnad Anas bin Malik; al Hasan al Asyib menceritakan kepada kami, Hammad bin Yahya menceritakan kepada kami, Tsabit al Bunani menceritakan kepada kami, dari Anas, kemudian la menyebutkan hadits seperti riwayat al Tirmidzi, hal, 143 dengan jalur periwayatan yang sama.)
Hadits ini ada pada satu sisi dan hadits sebelumnya ada pada sisi lainnya, hal ini menunjukkan bahwa terkadang pada umat ini ada yang datang dengan memberikan manfaat yang besar bagi orang lain, yang belum digapai generasi terdahulu. Ini jika kita melihat dari individunya, sedang hadits lainnya melihat dari aspek kumpulan zaman dan apa yang ada diantara zaman tersebut. Oleh karena itulah, dalam hadits ini disebutkan dengan perlambangan qarn (1 Abad). Lihat, Nasimur-Riyadh.-
Syaikh Zarruq Ra menyatakan dalam Ta ‘sisul Qawa `id, “Memandang pada zaman dan juga personal tanpa memandang pada dasar syari’at adalah perkara yang jahil, dimana orang-orang kafir mengatakan sebagaimana yang terekam dalam Al Qur’an,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَقَا لُوْا لَوْلَا نُزِّلَ هٰذَا الْقُرْاٰ نُ عَلٰى رَجُلٍ مِّنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيْمٍ
wa qooluu lau laa nuzzila haazal-qur-aanu ‘alaa rojulim minal-qoryataini ‘azhiim
“Dan mereka (juga) berkata, “Mengapa Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada orang besar (kaya dan berpengaruh) dari salah satu (di antara) dua negeri ini (Mekah dan Taif)?””
(QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 31)
Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala balas dengan firman-Nya:
اَهُمْ يَقْسِمُوْنَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۗ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَّعِيْشَتَهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَـتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
a hum yaqsimuuna rohmata robbik, nahnu qosamnaa bainahum ma’iisyatahum fil-hayaatid-dun-yaa wa rofa’naa ba’dhohum fauqo ba’dhing darojaatil liyattakhiza ba’dhuhum ba’dhong sukhriyyaa, wa rohmatu robbika khoirum mimmaa yajma’uun
“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”
(QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 32)
Kaum kafir juga mengatakan sebagaimana terekam dalam Al Qur’an, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
بَلْ قَا لُـوْۤا اِنَّا وَجَدْنَاۤ اٰبَآءَنَا عَلٰۤى اُمَّةٍ وَّاِنَّا عَلٰۤى اٰثٰرِهِمْ مُّهْتَدُوْنَ
bal qooluuu innaa wajadnaaa aabaaa-anaa ‘alaaa ummatiw wa innaa ‘alaaa aasaarihim muhtaduun
“Bahkan mereka berkata, “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami mendapat petunjuk untuk mengikuti jejak mereka.””
(QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 22)
Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala balas dengan firman-Nya :
قٰلَ اَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِاَ هْدٰى مِمَّا وَجَدْتُّمْ عَلَيْهِ اٰبَآءَكُمْ ۗ قَا لُوْۤا اِنَّا بِمَاۤ اُرْسِلْـتُمْ بِهٖ كٰفِرُوْنَ
qoola a walau ji-tukum bi-ahdaa mimmaa wajattum ‘alaihi aabaaa-akum, qooluuu innaa bimaaa ursiltum bihii kaafiruun
“(Rasul itu) berkata, “Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih baik daripada apa yang kamu peroleh dari (agama) yang dianut nenek moyangmu?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami mengingkari (agama) yang kamu diperintahkan untuk menyampaikannya.””
(QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 24)
Oleh karena itu, kita pun wajib melihat lantaran umumnya keutamaan Allah Swt meski tanpa memperhati-kan waktu maupun individunya, terkecuali orang yang Allah khususkan Al Qur’an padanya, dimana para wali Allah mengikuti jejak para nabi, sebab karamah wali itu adalah saksi dari mukjizat yang pernah terjadi. Para ulama itu pewaris para nabi dalam hal kehormatan dan rahmat Allah, meskipun sebenarnya kita semua juga jelas mendapatkan asal dari keutamaan tersebut, pahamilah ini!.
Syaikh, perantara kami, asupan ruh kami dan pemberi madad kami; sang wali quthub al Khatim al Muhammady mengatakan berkaitan dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
وَثُلَّةٌ مِّنَ الْاٰ خِرِيْنَ
wa sullatum minal-aakhiriin
“dan segolongan besar pula dari orang yang kemudian.”
(QS. Al-Waqi’ah 56: Ayat 40); mereka adalah sahabat kami. Sampai disini lihatlah dengan kacamata keinsyafan diri, niscaya engkau temui bahwa sosok beliau memiliki kesempurnaan dalam hal pewaris, hingga umat terbagi menjadi dua pertiga; sepertiga awal adalah untuk datuk beliau; mereka adalah para sahabat nabi. Dan sepertiga lainnya untuk beliau; mereka adalah sahabat beliau Ra.
Ragam isyarat ilahiyyah yang tersisa adalah perkara berat yang penaku tidak dapat menuliskannya. Dalam nurani ada rahasia lembut lagi meremukkan, jika kami lantangkan, maka suara kamipun parau
Dengan paparan ini engkau sudah tahu bahwa terputusnya madad Nabi Saw atau upaya untuk mengurangi cahaya kenabian tidak pernah dikatakan meski dari orang yang memiliki martabat keimanan terendah sekalipun.
Syaikh kami Ra pernah mengatakan, sebagaimana tertuang dalam al Jâmi dan Jawahir al Ma’âni.
Ketahuilah, bahwa Nabi Muhammad Saw menyampaikan beragam hukum umum untuk orang yang umum dalam kehidupan beliau Saw; maksudnya apabila Nabi Saw mengharamkan sesuatu, itu berarti Nabi Saw mengharam-kan untuk semuanya dan apabila Nabi Saw mewajibkan suatu perkara, maka Nabi Saw mewajibkannya untuk semuanya, begitu juga dengan ragam hukum yang zhahir.
Disamping itu, Nabi Saw pun menyampaikan perkara khusus untuk orang yang khusus pula. Nabi Saw mengkhususkan sebagian perkara kepada sebagian sahabat nabi, perkara ini pun sudah tersebar dalam berbagai riwayat. Ketika Nabi Saw berpindah ke alam akhirat, dimana kondisi Nabi Saw sama seperti kala beliau Saw masih hidup; menyampaikan kepada umatnya perkara khusus untuk orang khusus pula, sehingga perkara ini tidak ada kaitannya dengan orang umum. Maka sungguh hal tersebut terputus setelah wafatnya Nabi Saw dan yang tersisa adalah kucuran ilahiyyah terkait dengan perintah khusus untuk orang yang khusus pula. Maka jika ada yang berprasangka bahwa madad Nabi Saw untuk umatnya terputus seperti hal yang umum terjadi pada orang yang telah meninggal dunia, maka ia bodoh akan martabat Nabi Saw dan telah su’ul adab kepada beliau Saw, bahkan ditakutkan orang tersebut meninggal dunia dalam kondisi kafir jika ia tidak bertobat dari keyakinan tersebut. -Selesai.-nusteb
Alhamdulillah, inilah ulasan akhir dari pendahuluan. Insya Allah akan banyak tambahan penjelasan nantinya ketika kita berbicara mengenai syaikh tarbiyah berikut sifatnya.
-Semoga Allah senantiasa memberikan kita taufik kepada kebenaran dan kepada-Nyalah tempat kembali dan berharap.-
