
Elsubha.com – Penisbatan Makhluk kepada Khâliq
Tidak ada perbedaan pendapat diantara cendekiawan tentang wujud yang wajib (Tuhan) yang merupakan sumber segala sesuatu yang terdapat dalam semesta, mulai dari susunan, aturan, ilmu dan hikmah. Beberapa agama datang dengan membawa sifat Al Wajib (Dzat yang wajib ada) dengan kesempurnaan yang paling tinggi. Tidak ada perbedaan pendapat diantara mereka dalam hal ini. Namun mereka berbeda pendapat dalam memahami kesempurnaan tersebut. Setiap agama memilih satu dari beberapa kewajiban dalam penisbatan semua ciptaan kepada Al Wajib Swt.
Satu kelompok mengklaim, bahwa Al Khaliq membekas dalam Dzat-Nya, kemudian Dia mengelola semuanya atau sebagiannya, lalu Dia menjadikan itu sebagai semesta ini, sehingga semesta ini adalah Dia dan Dia adalah semesta ini. Tidak ada perbedaan pendapat diantara kaum muslimin, baik kaum sufi maupun selain mereka, bahwa akidah ini adalah akidah yang bathil. Perubahan sebuah dzat adalah tanda-tanda perkara baru. Orang yang berpedapat demikian, maka dia telah kafir lagi musyrik terhadap Allah Swt, serta menisbatkan akidah ini kepada akidah penyembah berhala Hindu.
Ada juga yang berpendapat, bahwa setiap sesuatu yang bisa diindera dan yang lainnya dari semesta ini atau sebagiannya, ada dengan dzatnya sendiri tanpa membutuhkan Rabbnya Swt. Keyakinan ini juga batil, dibantah oleh Islam dan kaum muslimin. Karena Al Wajib (Allah) tidak ada kecuali Dzat yang memiliki kesempurnaan mutlak dan kesempurnaan mutlak itu tidak bisa tergambar kecuali tunggal. Barangsiapa yang masih memiliki tandingan yang lebih tinggi dari kesempurnaanya, maka tidak mungkin dia memiliki tandingan.
Atau ada yang berpendapat, bahwa semesta ini berikut isinya membutuhkan Rabbnya (Allah Swt), sehingga tidak benar jika ia tidak membutuhkan-Nya secara pasti. Dialah yang Maha Kaya dengan Dzat-Nya sendiri yang mulia lagi agung. Ini adalah agama semua para nabi dan ini adalah pendapat tentang wihdatul wujud yang disebutkan oleh kaum sufi.
Rasulullah Saw bersabda,
أَصْدَقُ كَلِمَةٍ قَالَهَا الشَّاعِرُ كَلِمَةُ لَبِيدٍ: أَنَا كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللَّهَ بَاطِل
“Kalimat paling benar yang diungkapkan oleh para penyair adalah kalimat Labid; ‘Ketahuilah, bahwa segala sesuatu selain Allah adalah bathil.”
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تَدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ ۘ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ كُلُّ شَيْءٍ هَا لِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗ ۗ لَـهُ الْحُكْمُ وَاِ لَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
wa laa tad’u ma’allohi ilaahan aakhor, laaa ilaaha illaa huw, kullu syai-in haalikun illaa waj-hah, lahul-hukmu wa ilaihi turja’uun
“Dan jangan (pula) engkau sembah Tuhan yang lain selain Allah. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Segala keputusan menjadi wewenang-Nya, dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.”
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 88)
Kaum sufi berkata, “Maksud dari penyataan ini adalah tidak ada sifat berdiri bagi-Nya, kecuali dengan Dzat-Nya sendiri.”
Wihdatul wujud dengan pengertian seperti inilah yang dimaksud, maka tidak sah keimanan seseorang, kecuali berpendapat seperti itu.
Jadi, penisbatan makhluk kepada Khaliq adalah nisbat kebutuhan dzat kepada Dzat Yang Maha Kaya lagi mutlak.
Apabila gambar makhluk tampak di beberapa cermin dengan begitu banyak dan gambar-gambar itu tidak bisa berdiri sendiri, kecuali dengan dzatnya, berarti dia itu satu, sedangkan gambar-gambar itu bisa tampak semua dengan dzatnya. Di samping itu, gambar-gambar tersebut tidak bisa menjadikannya berbilang, tidak pula bisa menjadikannya berubah dan terpisah, sehingga gambar itu hanya sebatas gambar. Semua gambar itu kembali kepadanya dan senantiasa tetap menjadi gambar.
Ini adalah perumpaan bagi makhluk, Tuhan kita Sut disucikan darinya dan dari perumpamaan yang lain, karena Dia tidak memiliki jism sehingga gambar-gambar itu tidak bisa merubah-Nya. Dia disucikan dari kaif (cara) dan sesuatu yang membatasi. Terkadang Dia digiring kepada sesuatu yang memungkinkan bagi-Nya tampak di semesta ini, dari beberapa kesempurnaan-Nya yang suci, berupa ilmu, qudrah (kuasa), hidup, mendengar dan melihat.
Kelompok yang paling menjauhi dari pendapat tajassud (Allah Swt memiliki jasad) dan ittihad (menyatu dengan makhluk) adalah kaum sufi. Akan tetapi tujuan dalam ungkapan ini berbeda dari redaksinya. Apabila mereka berkata, “Tidak ada yang wujud kecuali Allah Swt,” maka maksudnya adalah tidak ada yang mewujudkan wujud yang hak, kecuali Allah Swt, sehingga tidak ada yang Maha Kaya secara dzat kecuali Dia.
Sesuatu yang masih membutuhkan dzat lain untuk mewujudkannya, berarti wujudnya bukan dengan wujud-nya sendiri, tetapi dia memilikinya karena ada yang memberikannya, sehingga yang azali lagi qadim dalam akidah kaum muslimin hanyalah satu (Allah Swt), sedangkan selain-Nya adalah baru, dengan-Nya wujudnya (makhluk) dan dengan-Nya sifat berdirinya (makhluk).
Jadi, sifat ke-Esa-an tetap pada dzat-Nya, dzat-Nya adalah milik-Nya. Sedangkan banyaknya ciptaan-Nya didunia inipun milik-Nya, sehingga tidak ada lagi kontroversi, karena dzat itu terbebas dari apapun.
Melalui hal ini, dari manakah keyakinan bahwa tuhan bapak itu dzat, anak itu dzat, ruh al qudus itu adalah burung yang terbang diantara langit dan bumi dan semua itu bersifat azali lagi qadim, sehingga yang tiga itu adalah satu secara hakikat?
Bukankah dalam diri manusia itu ada akal? Bukankah manusia memiliki pertimbangan yang baik? Begitu indah jika memang pemahaman itu tidak berlebihan.
Mereka mengklaim bahwa kaum sufi berpendapat, bahwa Nur Muhammadiyah itu bersifat azali, mereka sepakat dengan para pengikut Al Masih yang berpendapat, bahwa Al Masih As itu bersifat azali. Ini adalah pendapat yang tidak pernah disampaikan oleh seorang pun dari kalangan sufi dan tidak pula selain mereka. Akan tetapi tujuan dari orang-orang yang mengatakan demikian adalah untuk membenarkan pendapat yang menyatakan, bahwa hamba dan utusan Allah Swt adalah Isa As dan itu bersifat azali.
Orang yang berpendapat, Nur Muhammadi itu adalah permulaan makhluk, maka cukuplah untukmu pernyataan, bahwa tidak ada penjelasan yang menyatakan, bahwa yang bersifat azali itu adalah makhluk, sehingga sifat azali tidak bisa dipadukan dengan sesuatu yang sebelumnya tidak ada (makhluk).
Apabila makhluk yang pertama bukan Nur Muhammadi, maka Qalam adalah makhluk yang pertama atau ‘Arasy atau air atau udara. Karena dari semua itu, tentu ada yang menjadi makhluk yang pertama dalam setiap keadaan dan makhluk pertama dalam agama Islam itu tidak dianggap sebagai tuhan atau anak tuhan; atau dia berhak memiliki salah satu sifat dari beberapa sifat ketuhanan. Dari hal ini, bagaimana mereka bisa menjadikan Al Masih memiliki sifat azali, menjadikannya sebagai anak Allah dan menjadikannya sebagai tuhan utusan dari tuhan?
Abu Ishaq Al Marwazi Al Hanbali dan yang lainnya menyatakan sebagai ijma’ tentang semua ruh, bahwa ruh seseorang, baik yang beriman maupun yang kafir telah diciptakan sebelum adanya jasad. Zhahir-nya nash Al Qur’an menunjukkan demikian.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ خَلَقْنٰكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنٰكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلٰٓئِكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰ دَمَ فَسَجَدُوْۤا اِلَّاۤ اِبْلِيْسَ ۗ لَمْ يَكُنْ مِّنَ السّٰجِدِيْنَ
wa laqod kholaqnaakum summa showwarnaakum summa qulnaa lil-malaaa-ikatisjuduu li-aadama fa sajaduuu illaaa ibliis, lam yakum minas-saajidiin
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan kamu, kemudian membentuk (tubuh)mu, kemudian Kami berfirman kepada para malaikat, “Bersujudlah kamu kepada Adam,” maka mereka pun sujud kecuali Iblis. la (Iblis) tidak termasuk mereka yang bersujud.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 11)
Demikian juga dengan beberapa hadits shahih sebagai penjelas Al Qur’an. Tidak apa-apa memahami ayat itu dengan beberapa pengertian yang berbeda dengan penjelasan Rasulullah Saw, namun hal itu bisa menghancurkan kenabian yang dinisbatkan kepada Isa As yang diyakini, bahwa dia terlahir dari seorang ibu tanpa seorang ayah. Karena semua ruh bisa berserikat dengan junjungan kita Isa As dalam wujudnya sebelum jasad Adam As.
Ketika jasad itu seperti pakaian atau rumah bagi ruh, sementara ruh adalah insan yang bisa mengetahui, berkehendak lagi mendengar dan anak yang terlahir dari Maryam As bukanlah ruh Sayyidina Isa As, tetapi ia adalah jasadnya, pakaiannya dan rumahnya. Demikian juga dengan setiap manusia, baik berserikat dalam satu bangunan yang ditempati oleh seorang perempuan atau seorang perempuan dengan seorang lelaki, demikian juga dia tidak bisa masuk dalam penciptaan ruh, maka ruh-ruh tersebut wujud sebelum semuanya tercipta, di antaranya adalah ruh Sayyidina Isa As. Ia bukanlah ruhku, ruhmu, ruh salah seorang dari jasad bapak kita dan ibu kita, akan tetapi tanah itu berasal dari tanah.
Firman Allah Swt yang menyebutkan, bahwa Sayyidina Isa As adalah ruh-Nya dan di dalam hadits disebutkan, bahwa dia adalah ruh Allah Swt, maka idhafah (penggabungan dua kata) dalam hal ini mempunyai arti milik, seperti kata “rumah Allah” dan “unta betina Allah”. Hal ini juga menunjukkan kemuliaan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَقَا لَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللّٰهِ نَا قَةَ اللّٰهِ وَسُقْيٰهَا
fa qoola lahum rosuulullohi naaqotallohi wa suqyaahaa
“lalu Rasul Allah (Salih) berkata kepada mereka, “(Biarkanlah) unta betina dari Allah ini dengan minumannya.”“
(QS. Asy-Syams 91: Ayat 13)
Padahal semua unta betina itu milik Allah Swt, tetapi Dia mengkhususkan unta tersebut untuk memuliakan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَا تَّخَذَتْ مِنْ دُوْنِهِمْ حِجَا بًا ۗ فَاَ رْسَلْنَاۤ اِلَيْهَا رُوْحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا
fattakhozat ming duunihim hijaabaa, fa arsalnaaa ilaihaa ruuhanaa fa tamassala lahaa basyarong sawiyyaa
“lalu dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna.”
(QS. Maryam 19: Ayat 17)
Yang dimaksud ruh Kami, adalah Jibril. Maksudnya, salah satu ruh diantara beberapa ruh yang Kami miliki.
Jadi, idhafah ini menunjukkan kemuliaan. Hal ini sudah dikenal dalam istilah bahasa Arab.
Orang yang berpendapat, bahwa makhluk yang pertama adalah cahaya atau air atau ‘Arasy atau Qalam. Jika dia benar, maka pendapat itu bagus, namun jika dia keliru, maka pendapat itu pun tidak berakibat mengurangi kesempurnaan Dzat, tidak pula menyifati makhluk dengan sifat Khaliq, tidak pula menyifati Khaliq dengan sifat makhluk, sehingga sifat yang tercipta pertama kali itu telah ditetapkan bagi makhluk.
Beberapa masalah yang berkaitan dengan ciptaan ada pada satu bahasan, sedangkan beberapa masalah yang mendustakan apa yang dibawa oleh Rasulullah Saw adalah pembahasan yang lainnya. Hal itu tidak berdampak negatif terhadap keyakinan tentang ke-Esa-an Allah Swt sedikit pun, selama keyakinan itu menyatakan, bahwa dia (Jibril) adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah Swt, dia tidak memiliki dirinya sendiri. Tidak pula bisa memberikan manfaat kepada yang lainnya, tidak bisa memberi bahaya, kematian, kehidupan dan kebangkitan. Dalam dirinya tidak ada sifat Rububiyyah dan Uluhiyyah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَقَا لُوا اتَّخَذَ الرَّحْمٰنُ وَلَدًا سُبْحٰنَهٗ ۗ بَلْ عِبَا دٌ مُّكْرَمُوْنَ
wa qooluttakhozar-rohmaanu waladang sub-haanah, bal ‘ibaadum mukromuun
“Dan mereka berkata, “Tuhan Yang Maha Pengasih telah menjadikan (malaikat) sebagai anak.” Maha Suci Dia. Sebenarnya mereka (para malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan,”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 26)
لَا يَسْبِقُوْنَهٗ بِا لْقَوْلِ وَهُمْ بِاَ مْرِهٖ يَعْمَلُوْنَ
laa yasbiquunahuu bil-qouli wa hum bi-amrihii ya’maluun
“mereka tidak berbicara mendahului-Nya dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 27)
Tidak ada seorang muslim pun berpendapat, bahwa Allah Swt menciptakan manusia kemudian Dia memasrahkan kepadanya untuk menciptakan semesta. Akidah mereka ialah Khaliq (pencipta) itu hanya Allah Swt semata, sedangkan selain Nya adalah makhluk. Al Mudabbir (yang mengatur) hanya Allah Swt semata, sedangkan selain-Nya adalah hamba yang diperintah.
Sedangkan akidah para pengikut Al Masih, baik kelompok orientalis ataupun selain mereka sesuai dengan yang tertera dalam beberapa kitab mereka adalah, kalimat yang ada di zaman azali ialah bahwa ada yang menciptakan alam semesta, ada yang mengatunya dan ada yang menghisabnya di akhirat. Lantas dimanakah akidah ini diantara beberapa akidah kaum muslimin?
Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Arabi menjelaskan tentang barunya alam semesta dalam bab 69 dari Al Futûhât, dia berkata, “Seluruh semesta ini ada dari sebelumnya tidak ada dan keberadaannya diambil dari wujudnya Dzat yang mewujudkannya, yaitu Allah Swt. Jadi, mustahil semesta ini wujud sejak zaman azali, karena hakikat Dzat yang mewujudkan adalah mewujudkan sesuatu yang tidak disifati dengan wujud, yaitu tidak ada. Dia tidak mewujudkan sesuatu yang telah wujud sejak zaman azali, karena hal itu mustahil, sebab seluruh semesta ini berdiri dengan yang lainnya dan bukan dengan sendirinya.”
Perumpamaan pendapat tentang azaliyyah yang jauh dari hakikatnya adalah pendapat yang mengatakan, bahwa Rasulullah Saw menyatu dengan orang yang datang sepeninggal beliau, dari kalangan para wali. Orang yang berpendapat demikian tidak dianggap sebagai orang Islam, lantas bagaimana mungkin dia menjadi golongan sufi? Sementara Islam itu adalah hujjah bagi orang yang menisbatkan diri kepadanya, sedangkan orang yang menyelisihinya sangatlah jelas sekali.
Yang jelas kelompok orientalis tidak paham makna “mewarisi” yang terdapat dalam hadits,
إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
“Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi.”
Ahli waris yang sempurna adalah yang mewarisi Nabi Saw secara zhahir dan bathin. Maksudnya, sesuatu yang berkaitan dengan anggota badan dan sesuatu yang berkaitan dengan akhlak yang berhubungan aktivitas qalbu serta apa yang tersingkap bagi ruh dari penyaksian yang benar. Hal itu bukan berarti, bahwa batin agama itu menafikan zhahir-nya, karena hal itu adalah kesesatan yang nyata.
Diriwayatkan dari Ummu Salamah Ra, bahwa Nabi Saw bersabda,
إِنَّ فِي السَّمَاءِ مَلَكَيْنِ أَحَدُهُمَا يَأْمُرُ بِالشَّدَّةِ وَالْآخَرُ يَأْمُرُ بِاللَّينِ وَكُلِّ مُصيبٌ جِبْرِيلُ وَمِيكَائِيلُ، وَنَبِيَّانِ أَحَدُهُمَا يَأْمُرُ بِالدِّينِ وَالآخَرُ يَأْمُرُ بالشِّدَّةِ وَكُلِّ مُصِيبٌ، وَذَكَرَ إِبْرَاهِيمَ وَنُوحًا، وَلِي صَاحِبَانِ أَحَدُهُمَا يَأْمُرُ باللين وَالآخَرُ بِالشَّدَّةِ وَكُلِّ مُصِيبٌ، وَذَكَرَ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ
“Sesungguhnya di langit itu ada dua malaikat, yang satunya memerintah dengan keras dan yang satunya lagi memerintah dengan lembut, namun semuanya benar, yaitu Jibril dan Mika`il; (dan di langit itu) ada dua nabi, yang satunya memerintah dengan keras dan yang satunya lagi memerintah dengan lembut, namun semuanya benar, -kemudian beliau menyebut Ibrahim dan Nuh, sedangkan aku memiliki dua sahabat, yang satunya memerintah dengan keras dan yang satunya lagi memerintah dengan lembut namun semuanya benar, -kemudian beliau menyebut Abu Bakar dan Umar.” (HR. Ath-Thabrani dan para periwayatnya tsiqah).
Inilah warisan yang terus berlangsung dan disebut-sebut oleh kaum muslimin. Mereka mewarisi beliau dengan cara berakhlak sesuai akhlak beliau yang terpuji dan perjalanan ruhani yang lurus. Demikianlah yang dimaksud dengan iqtida (mengikuti Nabi Saw), bukan hulul (menyatu) dan bukan pula tanasukh (bergantian).
Demikian juga hadits Nabi Saw tentang Abu Dzarr Ra, bahwa dia mirip Isa As dalam hal ke-wara ‘an-nya. (yang disebutkan dalam hadits At-Tirmidzi dari Anas Ra) dan diriwayatkan dari Abu Ad-Darda Ra, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda,
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى المَسِيحِ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ إِلَى بِرِّهِ وَصِدْقِهِ وَجِدِّهِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى أَبِي ذَرٍّ
“Barangsiapa yang ingin melihat Al Masih Isa bin Maryam maksudnya melihat kebaikannya, kejujuran dan kegigihannya-, hendaklah dia melihat Abu Dzar.” (HR. Ath-Thabarani. Hadits yang serupa diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, namun di dalamnya terdapat periwayat yang dha’if. Asal hadits ini telah disebutkan dalam As-Sunan)
Mereka juga tidak bisa memahami dengan baik tentang syafa’at Nabi Saw yang diyakini oleh kaum muslimin dan beberapa hadits yang telah disampaikan oleh Rasulullah Saw melalui beberapa jalur periwayatan yang shahih sebagai penjelas bagi nash Kitab Allah Swt, sebab yang disepakati adalah Allah Swt memberi izin kepada Nabi-Nya Saw tentang syafa’at bagi orang yang dikehendaki oleh Allah Swt untuk diampuni dosanya.
Jadi, syafa’at itu mutlak dari Allah Swt, tidak ada pengaruh bagi yang memberi syafa’at (Nabi Saw) dalam kehendak Al Haq Swt. Akan tetapi Dia ingin menampakkan kemuliaan Rasulullah Saw di sisi-Nya. Syafa’at ini adalah syafa’at untuk orang-orang yang mengesakan Allah Swt dan bukan untuk orang-orang musyrik.
Sedangkan tawassul, maka tawassul itu melalui orang yang kita cintai, yaitu Nabi Saw, karena beliau adalah kekasih Allah Swt. Cintamu kepada Rasulullah Saw adalah wajib dan itu termasuk dari amalmu yang shaleh. Sedangkan tawassul kepada Allah Swt melalui amal yang shaleh itu termaktub dalam Al Qur’an, Dia berfirman,
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَا بْتَغُوْۤا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّـكُمْ تُفْلِحُوْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuttaqulloha wabtaghuuu ilaihil-wasiilata wa jaahiduu fii sabiilihii la’allakum tuflihuun
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 35)
Cinta karena Allah Swt termasuk ikatan iman yang paling kuat, lalu apa yang salah dalam hal itu? Sementara cinta kita kepada Nabi Saw terus melekat, baik saat beliau masih hidup dan setelah beliau wafat.
Tujuanku dalam pembahasan ini bukan untuk meneliti setiap kesalahan kelompok orientalis dan orang-orang yang mengikuti mereka, serta kaum yang tidak membedakan antara perkataan kaum sufi dalam keadaan extase (wajd), dimana dalam keadaan itu mereka mendapatkan toleransi dari para ulama, dengan apa yang mereka katakan dalam keadaan sadar. Kesalahan yang dilakukan oleh manusia dalam hal ini, sedikit pun tidak membahayakan mereka.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ يُدٰفِعُ عَنِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّا نٍ كَفُوْرٍ
innalloha yudaafi’u ‘anillaziina aamanuuu, innalloha laa yuhibbu kulla khowwaaning kafuur
“Sesungguhnya Allah membela orang yang beriman. Sungguh, Allah tidak menyukai setiap orang yang berkhianat dan kufur nikmat.”
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 38)
