You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Tujuan Puncak Kaum Sufi

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Tujuan Puncak Kaum Sufi

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَا تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
qul ing kungtum tuhibbuunalloha fattabi’uunii yuhbibkumullohu wa yaghfir lakum zunuubakum, wallohu ghofuurur rohiim

“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 31)

Allah Swt membedakan antara maqam muhib (tingkatan orang yang mencintai) dan maqam mahbub (tingkatan orang yang dicintai).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْـنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗۤ ۙ اَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ ۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَا فُوْنَ لَوْمَةَ لَآئِمٍ ۗ ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu may yartadda mingkum ‘ang diinihii fa saufa ya-tillaahu biqoumiy yuhibbuhum wa yuhibbuunahuuu azillatin ‘alal-mu-miniina a’izzatin ‘alal-kaafiriina yujaahiduuna fii sabiilillaahi wa laa yakhoofuuna laumata laaa-im, zaalika fadhlullohi yu-tiihi may yasyaaa, wallohu waasi’un ‘aliim

“Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 54)

Sedangkan pangkat kenabian telah habis, sehingga tidak ada harapan bagi seorang pun untuk mendapatkan pangkat tersebut, sebagaimana keutamaan menjadi sahabat Rasulullah Saw yang tidak bisa dicapai lagi, karena sahabat itu adalah orang yang bertemu dengan Rasulullah Saw dalam keadaan memeluk Islam dan meninggal dalam keislamannya.

Tujuan puncak yang bisa dicapai oleh para wali adalah berkumpul dengan Nabi Saw dalam keadaan yaqzhah (terjaga), sesuai dengan apa yang disampaikan oleh para muhaqqiq ahli syuhûd. Kembalilah kepada apa yang disebutkan oleh Al Hafizh Ibnu Abi Hamzah dalam Syarh-nya terhadap Mukhtashar Shahih Al Bukhari dan yang lainnya dari kalangan tokoh sufi. Berkumpul dengan Nabi Saw itu adalah awal perjalanan seorang sahabat, sehingga puncak perjalanan para wali adalah awal perjalanan para sahabat Ra.

Hukum melihat dalam mimpi bisa seperti melihat dalam keadaan terjaga harus dipertimbangkan berdasarkan syari’at yang, sehingga apa yang bisa diterima oleh syari’at, maka kami pun akan menerimanya dan apa yang ditolak oleh syari’at, maka kami pun tidak akan mengambilnya. Hal ini telah dicoba untuk ditampakkan dengan beberapa cara, namun semuanya tertolak, karena demikian itu adalah keadaan ruhiyyah, bukan kedaan yaqzhah (kondisi sadar diri) yang bisa diperlihatkan.

Jadi, tujuan orang-orang yang arif itu adalah meyakini dengan sempurna apa yang mungkin diyakini bagi orang Islam sesuai dengan tingkatan mereka, berupa makrifat, amal perbuatan dan kondisi jiwa. Bukan dunia dan bukan pula jabatan, karena sedikit pun itu bukanlah tujuan.

Al ‘Arif Ibnu ‘Atha`illah berkata, “Tujuanmu ada di hadapanmu, maka tinggalkanlah setiap kenangan yang ada di belakangmu.”

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا صْبِرْ نَـفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِا لْغَدٰوةِ وَا لْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْ ۚ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ وَ لَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَا تَّبَعَ هَوٰٮهُ وَكَا نَ اَمْرُهٗ فُرُطًا
washbir nafsaka ma’allaziina yad’uuna robbahum bil-ghodaati wal-‘asyiyyi yuriiduuna waj-hahuu wa laa ta’du ‘ainaaka ‘an-hum, turiidu ziinatal-hayaatid-dun-yaa, wa laa tuthi’ man aghfalnaa qolbahuu ‘ang zikrinaa wattaba’a hawaahu wa kaana amruhuu furuthoo

“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 28)

Al Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah Ra, dari Nabi Saw, beliau bersabda,

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ . الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لأعِيدَنَّهُ

“Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan genderang perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai daripada apa yang Aku wajibkan atasnya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah, hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, penglihatannya yang dengannya dia melihat, tangannya yang dengannya dia menyentuh dan kakinya yang dengannya dia berjalan. Apabila dia meminta kepada-Ku, tentu Aku berikan kepadanya dan apabila dia meminta perlindungan kepada-Ku, tentu Aku melindunginya.”

Di dalam hadits ini ada tiga tingkatan:

1. Orang yang melaksanakan kewajiban, baik ilmu maupun amal, baik zhahir maupun bathin.

2. Orang yang mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan beragam amalan sunnah setelah melaksanakan amalan wajib, sehingga dengannya dia mencapai maqam mahbubiyah.

3. Orang yang dengan beragam amalan sunah bisa mencapai maqam mahbubiyah di sisi Al Haq Swt. Ini adalah tingkatan yang paling tinggi dan kedudukan yang paling mulia,

كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ

” maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, penglihatannya yang dengannya dia melihat.” Allah Swt tidak mengatakan, “Aku akan menjadi kedua matanya dan tidak pula kedua telinganya,” karena perkara ini tidak bisa masuk dalam zona yang bisa di indera.

Baik kita memahami dalam hadits itu bahwa Al Haq Swt menjamin keadaannya, sehingga Dia akan memperdengarkan kepadanya apa yang tidak bisa didengar oleh telinganya dan Dia akan memperlihatkan kepadanya apa yang tidak bisa dilihat oleh matanya…..dan seterusnya; atau Al Haq Swt menjaga penglihatan dan pendengarannya, lalu Dia meliputinya dengan perlindungan-Nya yang khusus; atau Al Haq Swt membuat hamba itu lupa kepada dirinya sendiri dan membuatnya sibuk dengan Dzat-Nya yang luhur, sehingga dia tidak mendengar, melihat dan merasakan, kecuali dengan izin Rabbnya Swt.

Sedangkan penyatuan Al Haq dalam diri hamba-Nya adalah perkara yang jauh dari pemikiran Islami. Tidak diragukan lagi, bahwa orang yang meyakininya bukan termasuk kaum muslimin dan dia ingkar dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah Saw berupa penyucian Al Haq Yang Maha Mulia keadaan-Nya. Kayakinan itu juga bertentangan dengan akal, sehingga menurut akal yang sehat tidak mungkin Dzat yang tidak terbatas menyatu dalam dzat yang serba terbatas.

Redaksi,

وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيدَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ  شَيْء أَنا فَاعِلُهُ

“Andaikan dia meminta kepada-Ku, tentu Aku berikan kepadanya, andaikan dia memohon perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku akan melindunginya. Aku tidak pernah ragu tentang sesuatu yang Kulakukan,…” -seandainya Dia ja ‘iz (boleh) memiliki keraguan dalam melakukan sesuatu. Hadits ini menjelaskan tentang tercapainya sebuah tujuan karena pertolongan Allah Swt, dengan menyegerakannya lantaran keridhaan Allah Swt kepada orang yang Dia beri anugerahi maqam mahbubiyah.

Rasulullah Saw bersabda,

إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ مَنْ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهُ لَأَبَرَّهُ

“Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah ada seseorang yang seandainya dia bersumpah atas nama Allah, tentu Dia mengabulkannya.”

Allah Swt menambatkan hati mereka, sehingga keinginan mereka lebur dalam keinginan-Nya Swt dan menyirami mereka dengan cahaya, sehingga mereka mencari hakikat dari balik penutupnya, lalu hati mereka tidak menghadap kecuali kepada apa yang telah dikehendaki sejak zaman azali.

Ilmu mereka seperti manusia pada umumnya, namun Allah Swt mengkhususkan mereka dengan ilmu yang khusus.

Al Khalil As berkata (yang disebutkan dalam Al Qur’an), Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذْ قَا لَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اَرِنِيْ كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتٰى ۗ قَا لَ اَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۗ قَا لَ بَلٰى وَلٰـكِنْ لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِيْ ۗ قَا لَ فَخُذْ اَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ اِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلٰى كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِيْنَكَ سَعْيًا ۗ وَا عْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
wa iz qoola ibroohiimu robbi arinii kaifa tuhyil-mautaa, qoola a wa lam tu-min, qoola balaa wa laakil liyathma-inna qolbii, qoola fakhuz arba’atam minath-thoiri fa shur-hunna ilaika summaj’al ‘alaa kulli jabalim min-hunna juz-ang summad’uhunna ya-tiinaka sa’yaa, wa’lam annalloha ‘aziizun hakiim

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman, “Belum percayakah engkau?” Dia (Ibrahim) menjawab, “Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap).” Dia (Allah) berfirman, “Kalau begitu, ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu, kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 260)

Jadi, iman kepada perkara ghaib merupakan keimanan yang memutus rantai keraguan, tetapi dalam ayat ini penyaksian disandarkan kepada apa yang telah disampaikan, sehingga pemiliknya memadukan antara iman pada perkara yang ghaib dengan iman pada perkara yang tampak. Maka barangsiapa yang beriman kepada malaikat padahal dia tidak pernah melihatnya, maka dia mukmin. Dan barangsiapa yang beriman kepada malaikat dan pernah melihatnya, maka dia telah mengumpulkan dua keimanan tersebut.

Redaksi,

كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ

“Maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, penglihatannya yang dengannya dia melihat…….. sehingga tak ada lagi penghalang dan hijab. Apabila suatu kaum telah mencapai keyakinan melalui jalur kajian, baik secara akal ataupun pendengaran, maka terkait orang-orang yang memiliki kecintaan khusus (al Mahbubiyah al Khash), Rabb Pemilik dalil telah memilih mereka sehingga Dia menempatkan mereka dalam ainul yaqin, yaitu keyakinan yang bersifat pengetahuan (ilmi), baik melalui akal ataupun pendengaran-; dan keyakinan yang bersifat penyaksian langsung (syuhudi),

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَكَذٰلِكَ نُرِيْۤ اِبْرٰهِيْمَ مَلَـكُوْتَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَلِيَكُوْنَ مِنَ الْمُوْقِـنِيْنَ
wa kazaalika nuriii ibroohiima malakuutas-samaawaati wal-ardhi wa liyakuuna minal-muuqiniin

“Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 75)

Bagian dari orang-orang yang yakin adalah ilmu yaqin.
Jadi, Allah Swt menyebutkan keyakinan dengan dua nama, yaitu ‘ilmu yaqin dan ainul yaqin.

Para ulama adalah pewaris para nabi dalam setiap sesuatu yang bukan bagian dari spesialisasi kenabian.

Pernahkah engkau melihat orang yang diliputi oleh sinar matahari sehingga penglihatannya tidak bisa memandangi sinarnya yang berkilau, wajahnya menjadi hangus dan panasnya menjadi semakin panas, apakah engkau mengira dia akan meminta dalil kepada matahari? Pernahkah engkau melihat orang yang menutup pendengarannya seperti yang dilakukan oleh orang yang menolak untuk itu, sehingga hampir saja dia membuat tuli telinganya, apakah seseorang akan menanyakan tentangnya?

Bahkan barangsiapa yang melemparkan dirinya dalam kobaran api, apakah dengan kekekalannya itu, engkau masih melihat keraguan tentang adanya api? Demikianlah keadaan orang-orang yang memiliki keyakinan syuhudi. Keyakinan tidak akan menjauhi hakikat mereka, sehingga mereka yakin. Sedangkan kondisi berita yang sampai tidaklah seperti kondisi melihat secara langsung.

Demikian itu adalah (kondisi) wushul kepada Al Haq; Allah Swt menghilangkan sifat-sifat tercela dari seorang hamba tersebut dan Dia menyucikan dirinya dari sifat-sifat tersebut, kemudian Dia menganugerahi dan menghiasinya dengan sifat-sifat kesempurnaan sesuai dengan kedudukan makhluk, lalu Dia menyibukkan dirinya dari selain-Nya, sehingga dia tenggelam dalam cintanya kepada Allah Swt.

Mereka adalah kaum sufi. Barangsiapa yang tidak demikian, berarti dia bukanlah sufi. Betapa banyak orang yang menisbatkan kepada suatu kaum, padahal dia bukan bagian dari mereka. Hendaknya orang yang demikian itu mencari nama dengan nama yang pantas bagi dirinya.

Tidak ada salahnya bagi orang yang menggapai maqam mahbubiyah jika dia menjadi ‘amir atau orang fakir. Kaum sufi tidak memiliki tempat penyimpanan harta. Diantara mereka ada yang memiliki kekayaan, namun dia hanya mengambil apa yang dia ambil dari Allah Swt kemudian dia menafkahkannya dengan nama Allah Swt dan karena Allah Swt. Apabila dia fakir, maka dia akan menjadi orang fakir yang sabar dan apabila dia kaya, maka dia akan menjadi orang kaya yang pandai bersyukur.

Pencapaian puncak dalam ilmu adalah pangkat mereka dalam iman dan makrifat. Apakah mereka akan berhenti pada pangkat yang lebih rendah, dimana mereka bisa menggapai yang lebih tinggi dari beberapa pangkat ilmu tersebut? Berdasarkan inilah amal yang kerap mereka lakukan. Mereka diliputi dengan perlindungan, sehingga mereka beramal berdasarkan keterangan dari Tuhan mereka, lalu Dia akan menganugerahkan mereka puncak keikhlasan dalam beramal, kemudian Dia akan menggambarkan kondisi jiwa yang dihasilkan dari ilmu dan amal ini. Ketika itu, Allah Swt memadukan untuk mereka, kemurniaan ilmu, kemuniaan amal dan kemurniaan hal (kondisi jiwa).

Redaksi,
كُنتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي  يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأَعِيدَنَّهُ

“Maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, penglihatannya yang dengannya dia melihat, tangannya yang dengannya dia menyentuh dan kakinya yang dengannya dia berjalan. Apabila dia meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan kepadanya dan apabila dia meminta perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku melindunginya.” Demikianlah keadaan orang-orang yang mencapai maqam mahbubiyah, mereka mendapatkan kenikmatan yang paling agung -semoga Allah yang Maha Besar meridhai mereka.-

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

جَزَآ ؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۤ اَبَدًا ۗ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ ۗ ذٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهٗ
jazaaa-uhum ‘ingda robbihim jannaatu ‘adning tajrii ming tahtihal-an-haaru khoolidiina fiihaaa abadaa, rodhiyallohu ‘an-hum wa rodhuu ‘an-h, zaalika liman khosyiya robbah

“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah Surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.”
(QS. Al-Bayyinah 98: Ayat 8)

Sumber : BUKU SUFI MENGGAPAI ILAHI (AHL AL HAQQ AL ‘ARIFUNA BILLAAH) SYAIKH MUHAMMAD AL HAFIZ AT-TIJANY AL MISHRI