
Elsubha.com – Penutup dalam Kitab Nahj al Hidayah fi Khatm al Wilayah
Wahai orang yang menelaah apa yang telah kami nukil dan ungkapkan; bisa jadi engkau adalah orang yang yakin terhadap Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra (sosok yang menisbatkan dirinya kepada hadrah Allah), dengan demikian berarti engkau telah meyakinkan diri dengan keimanan pada perkara ghaib, dan meyakini pandangan orang lain bahwa para ahlullah terbebas dari kekurangan dan juga aib.
Kami (penulis) melihat ungkapan ahlullah sebagai sebuah kesempurnaan diri mereka dengan apa yang Allah Swt tajallikan pada kami tentang inti makna ungkapan tersebut. Kami pun berlindung dari kecemburuan terhadap wali Allah, sebagaimana kami pun berlindung agar terhindar dari beragam hawa (kecondongan negatif jiwa) yang mengganggu sisi ma’rifat kami ber-suluk menuju Allah Swt.
Atau bisa jadi engkau berpasangka buruk dan tidak memiliki i’tikad yang baik saat menelaah buku ini; ketahuilah, engkau kini duduk bersama penolong wali Allah, yang dengan kecintaan kepada Allah Swt dan hati lapang menerima pengkritik konsep wali khatam ini tanpa menyakiti mereka. Karena siapapun kita, tentu senang dengan saudaranya, tetapi kita pun tidak bisa memberikan hidayah kepada mereka terkait fitnah yang dijauhi oleh orang yang meyakini perkara wali khatam ini. Walhasil, saya atau kalian bisa saja ada pada kebenaran atau bahkan dalam kesesatan yang nyata.
Toh, madzhab-madzhab pun berbeda, bahkan masyrab pun juga beragam. Jika kalian tidak bermadzhab dengan madzhab kami dan tidak ber-masyrab dengan masyrab kami, maka keingkaran kalian pun tidak memudharatkan kami, hanya saja kami menyayangkan hal tersebut lantaran kalian terhalang dari apa yang orang lain dapatkan. Andai kalian masih terus saja mengkritik, maka kami pun tidak segan memberikan kritik balik terhadap kritikan kalian kepada kami dengan berlepas diri dari pernyataan yang kalian pahami dan kalian nisbatkan kepada wali Allah; mereka tidak mungkin melakukan perkara yang tidak diridhai Allah Swt atau bahkan perkara yang sifatnya menyesatkan makhluk.
Semua kritikan yang kalian lontarkan itu menunjukkan adanya kekurangan pada sisi Rububiyyah Allah dan juga sisi kenabian atau itu berisikan perkara yang mengurangi hak setiap orang yang Allah Swt berikan ismah kepada mereka dengan dalil yang jelas, yaitu La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah (Tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah), dan kritikan itu tidaklah benar, sehingga tidak ada lagi yang tersisa kecuali menjawab setiap kebodohan orang yang pura-pura bodoh lagi menyulut rasa marah terhadap Ahlullah maupun semua makhluk.
نَحْنُ بِمَا عِنْدَنَا وَأَنْتَ بِمَا عِنْدَكَ رَاضٍ وَالرَّأْسُ مُخْتَلِفٌ
“Kami ridha dengan pendapat kami dan engkau pun ridha dengan pendapat yang kau miliki, meski isi kepala berbeda.”
Andai engkau termasuk orang yang insaf, piawai dalam ilmu keagamaan dan menguasai beragam perbedaan madzhab secara global maupun terperinci, maka timbanglah pernyataanmu itu dengan timbangan yang tidak tersisipi hawa, timbang pula perbuatanmu dan imbas dari perbuatanmu itu dengan timbangan yang tidak tersisipi hawa, bahkan timbang pula kecondongan negatif dirimu dengan timbangan itu pula.
Akan tetapi jika engkau bukan bagian dari orang alim, maka lebih baik engkau duduk di rumah dan melakukan perkara sunnah yang menjadi kebiasaanmu, biarlah orang-orang khusus (para wali Allah) yang menangani perkara tersebut. Sebab, berapa banyak kebaikan orang-orang khusus yang nyatanya engkau lewatkan.
Dalam buku ini memang ada kecondongan diri kami dalam menulisnya, harapan kami agar engkau diberikan petunjuk berupa jalan penyerahan diri (taslim) kepada kaum Sufi; atau minimal engkau malu kepada para wali Allah karena telah ikut campur dalam permasalahan mereka, terlebih jika engkau adalah orang awam. Sebab, mereka berada di satu posisi dan engkau berada di posisi lain. Jika toh kemudian engkau masuk ke dalam posisi mereka, maka engkau akan dapati tiap dari mereka berdiam diri dengan apa yang Allah Swt khususkan baginya saja.
Kemudian jika engkau menyelami dunia mereka,
maka mereka pun tidak bisa melihatmu. Lihat apa yang para perindu katakan pada Dzat yang dia cintai:
كُلُّ مَنْ فِي حِمَاكَ يَهْوَاكَ لَكِنْ # أَنَا وَحْدِى بِكُلِّ مَنْ فِي حِمَاكَ
“Setiap orang yang ada di tempat-Mu menginginkan-Mu akan tetapi aku merasa sendiri di tempat-Mu”
Dari sini dapat kami (penulis) pastikan, bahwa orang yang mencintai akan bersama dengan orang yang dicintainya. Setelah itu ia akan mengetahui kondisi tersebut lantaran dia adalah orang yang tenggelam dalarn cinta, tidak ada orang lain dalam kecintaannya tersebut, hanya dia yang ada di tempat tersebut, tidak ada orang lain.
Jika kita melihat syair di atas dan kita tambahkan huruf “ba” pada perkataan bi kulli man fi himāka, maka dapat kita katakan sebagai berikut: “Aku sendirilah yang menginginkanmu dengan semua yang ada pada dirimu,” dan dia pun berkata “Aku pun menginginkanmu dengan apa yang ada pada dirimu,” sehingga semua keinginan yang beragam itu bersatu padu dalam kecintaan.
Pernyataan dalam syair di atas, baik itu berasal dari ketukan jiwa di bawah sadar maupun perkataan dengan sadar diri, pernyataan tersebut sama seperti pertanyaan orang biasa yang menyaksikan pada alam semesta ini apa yang telah ia peroleh. Maka Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dalam hal ini menempati posisi tahadduts bin-ni’mah sebagai sebuah ungkapan syukur beliau Ra kepada Allah Swt.
Kami pun telah menukil pernyataan Al ‘Arifbillah An-Nâbulisi Ra dalam buku ini yang menguatkan argumentasi para Sufi tentang kondisi tahadduts bin-ni’mah. Dengan pernyataan yang jelas, mereka mampu menunjukkan maqam dan juga kekhususan yang mereka miliki di kalangan orang yang mampu menyaksikannya.
Diriwayatkan dari ‘Umar Bin Khattab Ra, bahwa beliau berkata di atas mimbar, “Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan seseorang diantara kalian lebih utama dariku,” maka ada sahabat yang tidak terima dengan pernyataan tersebut, ‘Umar pun menjawab, “Aku telah melihat nikmat Allah dan aku ingin mensyukurinya,” Aku pun berkata, “Wahai ‘Umar, tentu engkau tidak menyatakan itu tanpa adanya dalil, dimana engkau katakan, bahwa dirimu adalah sahabat yang paling utama setelah khalifah sebelumnya dan engkau menyatakan hal tersebut dengan penuh keyakinan atau malah ngelantur, sehingga engkau tidak mau berdebat dan tidak mau didebat,” maka Umar pun menjawab perkara tadi, “Aku katakan demikian sebagai simbol pelaksanaan syukur tersebut, maka apa yang aku katakan memang seperti itu kenyataannya.”
Inti dalil diatas adalah tentang tahaddus bini’matillah yang bentuknya rasa syukur. Hal ini merupakan akumulasi dari apa yang dibicarakan oleh kaum Sufi ketika itu.
An-Nâbulisi juga menukilkan untuk kita pernyataan Syaikh Abu Hasan Asy-Syadzili Ra, “Aku pernah belajar kepada 600 guru kemudian aku timbang keilmuan mereka dengan keilmuanku dan ternyata keilmuanku mengungguli mereka semua.” Andai kemudian engkau katakan, bahwa para guru itu adalah ibaratnya orang tua dengan anak, dimana anak merupakan satu dari ragam kebaikan orang tua. Anak masih masuk dalam timbangan kebaikan orang tua, lantas bagaimana mungkin seorang Sayyid ini bisa mengungguli para gurunya?.”
Kami tegaskan: Ini tentang perkara bersyukur, tidak ada yang berkaitan dengan hak yang dimiliki. Karena, betapa banyak orang tua yang ada dalam timbangan kebaikan sang anak dari satu sisi. Bahasa seperti ini sebenarnya sudah terpatrikan pada kalangan Sufi ketika mereka tahadduts bin-ni’mah lantaran keutamaan yang mereka dapatkan, sosoknya keluar dari sisi pengunggulan diri yang nyatanya tidak bisa ditandingi oleh orang lain; khususnya pada kebaikan yang Allah Swt berikan kepadanya.
وَلَمْ أَرَ أَمْثَالَ الرِّجَالِ تَفَاوُتًا # لِدِي الْوَصْفِ حَتَّى عَدَّ أَلْفٌ بِوَاحِدٍ
بَلْ …
كَمْ وَاحِدٌ فَاقَ أَلْفًا وَاحِدُهُمْ # بِالْأَلْفِ أَلْفًا وَمَا فِي الْأَلْفِ صَغْرٌ
“Aku belum pernah melihat contoh orang yang memiliki beragam sifat hingga aku anggap seribu itu adalah satu.”
Akan tetapi..
“Berapa banyak orang bisa mengungguli seribu, satu dari mereka itu bernilai seribu dan pada yang seribu itu tidak ada yang kecil.”
Al ‘Arifbillah Sayyid Al Mu’thi bin Shaleh dalam catatan beliau terkait dengan pembahasan Istisqa Al-Ma’nawi; beliau mengatakan berikut, “Ketahuilah ketika perkara thariqah ini menjadi sebuah perkara yang menakjubkan, bahkan rahasianya pun aneh, maka engkau akan menemui ahli thariqah satu mengukuhkan yang lain, bahkan tiap dari mereka akan mengunggulkan yang lain, atau juga mengagungkan orang lain. Tetapi kenyataannya engkau akan melihat sendiri, setiap dari mereka akan mengaku, bahwa dialah yang telah wushul dan yang lainnya tidak, bahkan ia pun akan mengulas sisi tersebut panjang lebar.’
Sebagian ulama mengatakan, “Seorang wali Quthub itu memiliki 142.000 derajat, setiap orang yang bersuluk pada satu tingkatan atau satu maqam, maka dia pun akan melihat, bahwa belum ada orang yang sampai pada maqam tersebut, hal ini lantaran kuatnya cahaya yang sang wali miliki dan agungnya ragam asrar tersebut.”
Sebagian orang yang Arifbillah mengatakan, bahwa Nabi Muhammad Saw senantiasa ber-tarqiyyah. Jika beliau Saw telah sampai pada martabat tertentu, maka martabat sebelumnya beliau anggap sebagai sebuah kekurangan diri, sehingga beliau Saw pun kerap beristighfar sebanyak 70 kali (dalam satu hari).
Maka dikatakan bagi orang yang Arifbillah, masalah kealpaan yang membuat Nabi Saw beristighfar, itu lantaran kondisi jiwa beliau Saw tertutupi cahaya ilâhiyyah dan bukan lantaran tertutupi dengan selain Allah Swt, maka pahami ini!. Sementara seorang murid itu senantiasa memiliki wijdan yang berubah-ubah lagi berpindah-pindah, serta mampu mengetahui ragam maqâmât yang tidak pernah terdetik dalam kalbu, sama seperti kondisi orang yang melakukan perjalanan di suatu daerah yang indah, ia tidak menetap kecuali sampai ke rumahnya sendiri, begitu pula sisi kema’rifatan yang juga seperti itu, pahami ini!.
Alhamdulillah, kami pahami itu bahkan kami memahami lebih dari pemahaman tersebut, bahwa ada orang khusus dari kalangan wali Allah yang mendapatkan maqam tertinggi khatmiyyah, yaitu maqam untuk seorang wali pada zamannya, kala itu tidak ada wali khatam lain semasa beliau Ra hidup, terkecuali jika masyrab-nya berbeda. Maka ketika derajat khusus wali khatam seperti sebuah cawan yang diperuntukkan bagi siapapun hingga terakhir ditutup dengan wali khatam akbar yang muncul dengan kesempurnaan maqam khatmiyyah; sosoknya menjadi sumber dzauq ragam masyrab yang meliputi maqamât yang ada secara nyata dan faktual, dan itu sudah terejawantahkan pada sosok al Quthub al Maktum; yaitu al Khatam at-Tijany yang sisi khatmiyyah-nya secara umum tidak terputus hingga nanti ditutup oleh sang wali khatam aulad dan setelah itu mandullah hamba Allah.
Akan tetapi kebanyakan ahwal wali Allah yang memiliki ragam martabat luhur, dirinya tidak mengakui adanya wali selain dirinya yang memiliki beragam maqamât dan kemuliaan, hal ini lantaran adanya sisi ghirah (kecemburuan) pada wali lainnya, sehingga dimatanya tidak nampak lagi wali lain yang memiliki kesempurnaan mutlak dengan ragam kekhususan yang tidak bisa digapai dengan tipuan bahkan juga nafsu dalam proses suluk, sungguh para wali Allah lainnya pun sejatinya berada pada maqam yang lain. Kami pun mempercayai mereka semua dalam hal kedekatan dan jauhnya diri mereka dari Allah Swt.
Inilah kiranya yang dapat kami (penulis) suguhkan, kami pun memohon ampunan Allah Swt lantaran telah lancang masuk kedalam ranah maqam khatmiyyah ini, khususnya berkaitan dengan maqam khatmiyyah dan juga maqam katmiyyah.
Kami telah mendalami perkara ini dari guru kami yang juga telah mendalami perkara tersebut, dan ini merupakan jawaban beragam pertanyaan yang tertuang dalam kitab Khabíatul Kaun sebagai bentuk pernyataan dari kalangan Tijany, untuk membenarkan pandangan mereka terkait maqam khatmiyyah, juga merubah persepsi kepemilikan maqam tersebut yang telah dituangkan dalam sebagian pertanyaan Al Hakim At-Tirmidzi. Jawaban yang telah kami suguhkan dalam kitab Qurrat al ‘Ain juga mencakup ragam persyaratan maqam katmiyah.
Warid yang datang kepada kami pada tulisan ini tentu untuk menyempurnakan jawaban tersebut, bahwa engkau (Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby) bukanlah sang wali khatam, perkara ini pun ditunjukkan dengan beragam perkara yang beliau (Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby) terima.
Kami pun telah memastikan dan mengejawantah-kan sisi khatmiyyah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dengan suara lantang maupun lirih, dimana para murid Tijany pun nyatanya mendapatkan manfaat dari wiridan Tijany tersebut, meski itu tidak diindahkan oleh orang yang mengkritik beliau (Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra). Kamipun menyerahkan semuanya kepada Allah Swt dengan membebaskan diri dari beragam pengakuan terhadap maqam tersebut, serta memohon kepada Allah Swt agar dapat menggapai karamah berupa ma’rifat akan perkara dan keutamaan maqam tersebut.
Kami memuji Allah Swt sejak awal hingga akhir atas beragam ilham yang Allah Swt telah berikan pada kami. – Tiada daya dan upaya kecuali datangnya dari Allah Swt yang Maha Luhur dan Maha Agung. Cukuplah Allah dan Dialah sebaik-baiknya penolong kami.-
