You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Penyebab Seseorang Mendapatkan Maqam Khatmiyyah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Penyebab Seseorang Mendapatkan Maqam Khatmiyyah

Terkait dengan pertanyaan ke-15 yang mengatakan, “Apa penyebab seseorang menjadi wali khatam dan apa maknanya?.”

Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby mengatakan sebagai berikut: Penyebab orang tersebut mendapat pangkat wali khatam terletak pada kesempurnaan maqam jiwa yang dimiliki, dimana maknanya adalah larangan dan batasan. Maksudnya adalah, bahwa semua yang ada di dunia ini ada permulaan dan ada juga akhirnya. Allah Swt telah menetapkan semuanya itu ada permulaan dan juga ada akhirnya.

Diantara perkara tersebut adalah turunnya beragam syari’at, dimana Allah Swt menutup turunnya syari’at ini dengan syari’at Nabi Muhammad Saw, maka beliaulah sang penutup kenabian. Allah sangat mengetahui akan segala sesuatu.-

Yang juga termasuk perkara tersebut adalah perkara kewalian secara umum yang dimulai dari nabi Adam As dan ditutup dengan nabi Isa As, dimana sang penutup bisa menandingi yang awal, seperti dalam firman Allah Swt,

اِنَّ مَثَلَ عِيْسٰى عِنْدَ اللّٰهِ كَمَثَلِ اٰدَمَ ۗ خَلَقَهٗ مِنْ تُرَا بٍ ثُمَّ قَا لَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
inna masala ‘iisaa ‘ingdallohi kamasali aadam, kholaqohuu ming turoobing summa qoola lahuu kung fa yakuun

“Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) ‘Isa bagi Allah, seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 59)

Maka Allah pun tutup dengan yang semisal (tercipta dari tanah), maka asal mula perkaranya adalah seorang nabi secara mutlak dan ditutup dengan yang semisal.

Nah, ketika ragam hukum Nabi Muhammad Saw berbeda dengan hukum nabi dan utusan Allah yang lainnya dalam perkara kebangkitan (setelah kematian), halalnya binatang temak, sucinya bumi untuk dijadikan masjid, beliau Saw diberikan Jawami’ al Kalim dan kemenangan dengan diberikan rasa takut pada diri musuh, beliaupun diberikan ragam perbendaharaan bumi, maka Allah Swt tutup kenabian dengan sosok nabi Muhammad Saw, dimana pangkat setiap nabi yang turun setelah beliau menjadi berpangkat wali Allah, maka Allah Swt turunkan maqam kekhususan sang wali dan pantas jika maqam kewalian yang khusus juga ada penutupnya, dimana narnanya sama dengan nama Nabi Saw dan menggantikan beliau Saw yang kita kenal dengan nama al Muntazhar, dimana beliau ini masih keturunan Nabi Muhammad Saw. Sementara wali khatam bukanlah berasal dari keturunan secara jasmani, tetapi yang menuruni sisi kema’rifatan dan ragam akhlak Nabi Muhammad Saw. Tidakkah engkau pernah mendengar firman Allah Swt terkait dengan itu,

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌ ۚ فَاِ ذَا جَآءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَئ۟خِرُوْنَ سَا عَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ
wa likulli ummatin ajal, fa izaa jaaa-a ajaluhum laa yasta-khiruuna saa’ataw wa laa yastaqdimuun

“Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 34); dimana setiap jenis makhluk di dunia ini merupakan umat.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يُوْلِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَا رِ وَيُوْلِجُ النَّهَا رَ فِى الَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَا لْقَمَرَ ۖ كُلٌّ يَّجْرِيْۤ اِلٰۤى اَجَلٍ مُّسَمًّى وَّاَنَّ اللّٰهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
a lam taro annalloha yuulijul-laila fin-nahaari wa yuulijun-nahaaro fil-laili wa sakhkhorosy-syamsa wal-qomaro kullui yajriii ilaaa ajalim musammaw wa annalloha bimaa ta’maluuna khobiir

“Tidakkah engkau memperhatikan, bahwa Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar sampai kepada waktu yang ditentukan. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Luqman 31: Ayat 29)

Oleh karenanya, Allah jadikan adanya penutup sebagai simbol berakhirnya waktu.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَا لْاَ رْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّ ۗ وَاِ نْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰـكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا
tusabbihu lahus-samaawaatus-sab’u wal-ardhu wa mang fiihinn, wa im ming syai-in illaa yusabbihu bihamdihii wa laakil laa tafqohuuna tasbiihahum, innahuu kaana haliiman ghofuuroo

“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 44)

Maka tidaklah ada jenis apapun kecuali ia itu adalah umat. Pahamilah apa yang telah kami jelaskan padamu, sebab itu bagian dari rahasia ilmu yang tersembunyi, yang tidak dapat diketahui kecuali dari jalur kasyaf. -Allahlah yang menunjukkan pada kebenaran dan juga jalan yang lurus.-

Aku katakan: Sungguh Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby telah memaparkan cakrawala terkait maqam khatmiyyah sebelum ini, maka ulasan disini terkait dengan nama sang wali khatam ini yang sama dengan nama Nabi Muhammad Saw dan itu bukan Al Mahdi, sebab Al Mahdi termasuk keturunan Nabi Saw, sementara wali khatam ini bukan dari keturunan nasab, tetapi keturunan dari sisi akhlak Nabi Saw, hanya saja sosoknya tidak menyatakan secara gamblang, bahwa dirinya adalah wali khatam, hal ini sebagaimana yang tertuang dalam kitab ‘Unaqa Maghrib, kala itu Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby mengatakan, bahwa dirinya adalah wali khatam, beliau juga mengatakannya secara gamblang dalam Futâhât Al Makkiyyah terkait keselarasan beliau sebagai batu bata pada dua dinding yang belum terisi dari suatu rumah, beliau melihat satu batu bata terbuat dari perak dan batu bata lainnya terbuat dari emas, sehingga beliau menakwilkan itu sebagai maqam khatmiyah diri beliau.

Beliau menyatakan hal ini dalam Futûhât al Makkiyyah dan pada buku lainnya lantaran beliau cemburu dan berharap mendapatkan maqam ini, namun di akhir perkara maqam khatmiyyah ini tidak diketahui lagi oleh beliau dan beliau sebut dengan sebutan maqam maktum (yang tersembunyi), tanpa diragukan lagi, bahwa maqam ini dimiliki oleh wali selain beliau, sosoknya telah mendapatkan martabat yang tinggi dalam ilmu zhahir dan ilmu bathin. Beliau telah mendapatkan martabat tinggi dari syari’at dan hakekat; hal itu pertama lantaran keselarasan beliau pada posisi dua batu bata tersebut. Jika keselarasannya pada satu posisi batu bata, maka itu tanda sempurnanya dua ilmu (ilmu zhahir dan ilmu bathin), kondisi ini cocok dengan kondisi wali khatam, maka tidak masalah jika kami berani mengatakan dengan adab yang sopan akan kesesuaian diri beliau dengan dua batu bata, dimana beliau hanya selaras dengan satu batu bata saja dan posisi bata lainnya belum nampak bagi beliau karena memang untuk sosok wali lain; yaitu sang wali maktum (yang tersembunyi), dimana dengan sosok wali inilah, syari’at dan hakekat menjadi sempurna sesuai ajaran Nabi Muhammad Saw. Bisa jadi kami tetapkan dan tutup pembicaraan ini dengan menyimpulkan, bahwa sosok wali khatam lagi katam, ia adalah sang wali quthub at-Tijany Ra, beliau memiliki penampakan yang sempurna dalam sisi khatmiyyah, kelak akan ditutup oleh wali khatam yang setelahnya tidak ada wali lain sesuai dengan apa yang kami yakini sebagai sikap percaya dengan apa yang Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra katakan.

Sumber : BUKU KUPAS TUNTAS MAQAM KHATMIYYAH & KHATMIYYAH SAYYIDI SYAIKH AHMAD AT-TIJANI RA (NAHJ AL HIDAYAH FI KHATM AL WILAYAH) SYAIKH AL ‘ALLAMAH SAYYIDI AHMAD SUKAIRIJ AT-TIJANY