
Elsubha.com – Sifat Yang Dimiliki Wali Khatam
Terkait dengan permasalahan ke-14; Sifat apa yang seyogyanya dimiliki oleh seorang wali khatam?
Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby menjawab dengan redaksi: Yaitu sifat amanah; ditangan beliaulah ragam pembuka jiwa; dalam kondisi diam maupun bergerak. Ini merupakan sifat nabi Isa As. Sosoknya dihidupkan dengan tiupan-Nya Allah Swt, beliau tergolong utusan Allah yang zuhud, sosoknya suka berjalan melihat kondisi masyarakat, pandai menjaga amanah. Oleh karena itu, meski orang Yahudi membenci beliau, namun beliau tidak balik mencaci-maki mereka. Aku sering berjumpa dengan beliau (nabi Isa As dalam alam ruh) pada berbagai peristiwa, di tangan beliau ada remahan makanan, aku do’akan beliau dengan keistiqamahan dalam agama pada kehidupan dunia dan akhirat, diapun memanggilku dengan “habib (orang yang dicinta)” seraya memerintahkanku untuk zuhud dan juga menyendiri.
Terkait dengan sifat yang berhak dimiliki oleh seorang wali khatam sisi al Muhammady. sosoknya seharusnya menjadi penutup kewalian; yaitu dengan kesempurnaan pengaplikasian beragam akhlak mulia terhadap Allah dan juga kepada manusia. Diantara akhlak tersebut adalah, akhlak yang sesuai dengan akhlak Allah Swt. Hal tersebut karena tujuan orang bermacam-macam dan persepsi akhlak mulia pun berbeda-beda; baik ada yang memuji atau malah mencela. Ketika dalam pandangan manusia tidak ada generalisasi tentang persepsi kebaikan, maka seyogyanya setiap orang melihat perkara tersebut dengan pandangan bijaksana, dan melakukan sesuatu dengan sepatutnya, maka ia akan melihat makhluk dan nyatanya tidak menemukan “Teman” seperti Allah Swt, Sahabat yang lebih bisa merasakan kondisi sahabat lainnya, ia bahagia dalam ber-mu’amalah dan senantiasa mencocoki diri dengan kehendak-Nya, sehingga diapun patuh dan mengikuti kehendak-Nya.
Diantara perkara yang Allah syari’atkan adalah Allah mengajarkan ia bagaimana cara bergaul dengan selain Allah Swt; baik bersikap kepada para malaikat yang suci, bersikap kepada utusan Allah yang dimuliakan, bersikap kepada imam yang memimpin kaumnya bahkan sampai pada bagaimana bergaul dengan kerabat, anak, pelayan, hewan melata, tumbuhan bahkan benda mati serta apapun yang dimilikinya dengan tetap memperhatikan persahabatan dengan Allah, ia tidak berakhlak kecuali dengan berakhlak kepada tuannya. Jika demikian kondisinya, maka dapat dikatakan seperti yang Allah Swt firmankan kepada Rasul-Nya,
وَاِ نَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
wa innaka la’alaa khuluqin ‘azhiim
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.”
(QS. Al-Qalam 68: Ayat 4)
Aisyah Ra berkata, “Al Qur’an adalah akhlak beliau Saw; beliau memuji dengan apa yang dipuji oleh Allah, mencela dengan apa yang Allah Swt cela.”
Ketika perangai beliau Saw terkenal dan akhlak mulia menyeruak dan tersebar pada semua penjuru alam semesta, maka sosok orang yang seperti beliau Saw inilah yang layak dengan kewalian sisi al Muhammady sebagaimana firman-Nya,
وَاِ نَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
wa innaka la’alaa khuluqin ‘azhiim
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.”
(QS. Al-Qalam 68: Ayat 4)
Semoga kita digolongkan menjadi orang yang dipersiapkan untuk berjalan dan menyesuaikan diri dengan petunjuk-Nya.-
Aku (penulis) tegaskan: Engkaupun telah mengetahui, bahwa pertanyaan al Hakim tidak bermaksud menguji al Mahdi dan juga Nabi Isa As, akan tetapi perkataan tersebut disampaikan agar diketahui oleh orang yang mengakui maqam khatmiyyah yang muqayyad dan mutlaq bagi dirinya, maka tidak diragukan lagi jika wali khatam al Muhammady itu berbeda dari yang lainnya dengan beragam kekhususan dan keistimewaan yang Allah Swt berikan pada sirr beliau dan juga perilaku yang nampak; berupa amanah dan akhlak yang mulia; yang ditunjukkan dengan akhlak yang memperhatikan sisi Allah dan juga sisi makhluk, dimana perkara ini tidak bisa diketahui bahkan oleh dirinya sendiri, sebab dia bersama Allah Al Haq dengan kebenaran, dia bersama makhluk dengan Allah Al Haq pada alam bathin, bahkan tidak memisahkan akhlak itu di alam nyata, kecuali dengan melakukan ragam perintah Allah dengan sempurna. Orang yang memenuhi beragam kesempurnaan jiwa, namun belum mampu menentukan martabat dirinya, maka akan ada orang yang ‘Arifbillah yang akan menisbatkan itu kepadanya sesuai kadar kepercayaannya akan sosok tersebut. Oleh karena itu, kelompok orang yang tidak mengerti akan perkara ini lebih pantas diam dan tidak mendustakan berita tersebut, kecuali dirinya termasuk orang yang diharamkan untuk mengambil manfaat dari sang wali khatam.
Sedangkan orang yang mengaku bahwa dirinya adalah wali pada maqam khatmiyyah, maka dia pun akan mengakui maqam selain maqam tersebut. Bagaimanapun kondisinya, simbol berserah diri menjadi sikap paling baik bagi orang yang tidak tahu dan tidak bisa membedakan beragam martabat kewalian. Andai ia membesar-besarkan perkara ini, maka ia pun tidak mendapatkan pahala dari sikapnya itu, sungguh benar firman Allah Swt,
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخْتَا رُ ۗ مَا كَا نَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ ۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
wa robbuka yakhluqu maa yasyaaa-u wa yakhtaar, maa kaana lahumul-khiyaroh, sub-haanallohi wa ta’aalaa ‘ammaa yusyrikuun
“Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 68) dan Allahlah yang memberikan keutamaan yang agung.
