You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Keberhakan Maqam Khatmiyyah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Keberhakan Maqam Khatmiyyah

Terkait dengan pendapat al Hakim at-Tirmidzi dalam permasalahan yang ke-13; Andai engkau katakan: Lantas siapa yang berhak menjadi wali khatam sebagaimana Nabi Muhammad Saw berhak menjadi penutup kenabian?

Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby mengakhiri pernyataan beliau dengan redaksi pertanyaan ini, maka kami jawab sebagai berikut: Wali khatam itu ada dua: Pertama, wali dimana dengannya Allah Swt tutup sisi kewalian secara mutlak; dan yang kedua, wali dimana dengannya Allah tutup kewalian sisi al Muhammady. Maqam khatmiyyah itu ada dua: Sisi khatmiyyah dimana Allah Swt tutup kewalian secara mutlak dan sisi khatmiyyah dimana Allah tutup kewalian sisi al Muhammady.

Penutup kewalian secara mutlak adalah nabi Isa As, beliau adalah wali dengan pangkat kenabian yang mutlak pada zaman umat ini. Ada jarak antara sosoknya dan juga kenabian sisi syari’at dan risalah pada akhir zaman, beliaupun turun kembali sebagai penutup wali setelahnya, sebagaimana Nabi Muhammad Saw adalah penutup kenabian, yang setelahnya tidak ada kenabian tasyri. Andai ada nabi tasyri’ setelah Nabi Muhammad Saw, maka ia adalah nabi Isa As dari kalangan ulul ‘azmi dan para nabi khusus, akan tetapi hukum (kenabian) beliau pada zaman ini telah beralih pada yang lain, sehingga beliau turun kembali sebagai wali yang memiliki sisi kenabian yang mutlak, bersama para wali sisi Al Muhammady. Beliau bagian dari kita (umat Islam), beliaulah penghulu kita. Pangkat kenabian khusus pertama ada pada nabi Adam As dan yang akhir ada pada nabi Isa As; sehingga pada hari Kiamat nanti, beliau (nabi Isa As) memiliki dua kebangkitan; dibangkitkan bersama kami (umat nabi Muhammad Saw) dan dibangkitkan bersama para utusan Allah.

Sedangkan penutup kewalian sisi al Muhammady, maka itu milik seseorang dari Arab; sosoknya nampak di zaman kita saat ini, aku tahu sosoknya para tahun 595 Η, akupun melihat tanda yang Allah sembunyikan dari hamba Allah dan Dia tampakkan padaku, sosoknya berada di kota Fess, hingga aku melihat tanda penutup kewalian darinya yang berupa “cap penutup kenabian” yang tidak diketahui oleh banyak orang. Allah uji dia dengan pengingkaran terhadap ilmu yang Allah berikan dalam sirr-nya, hal ini seperti halnya Allah Swt tutup sisi kenabian yang membawa syari’at dengan Nabi Muhammad Saw, begitu juga Allah Swt tutup wali khatam sisi al Muhammady yang digapai dari sisi pewaris sisi al Muhammady, bukan dari sisi para nabi sebelumnya. Sebab dari kalangan wali Allah ada yang mewarisi sisi nabi Ibrahim, sisi nabi Musa dan sisi nabi Isa As. Kelompok wali seperti ini tidak ada lagi setelah sosok pewaris sisi al Muhammady ini, dimana setelah beliau tidak ada lagi wali Allah yang mewarisi sisi qalbu-nya Nabi Muhammad Saw; inilah makna dari sosok wali khatam sisi al Muhammady.

Sementara terkait dengan wali khatam secara umum, yang setelah sosoknya ini tidak ada lagi wali Allah, maka beliau adalah nabi Isa As. Kamipun pernah bertemu dengan wali yang mewarisi sisi qalbu-nya nabi Isa As dan juga pewaris qalbu lainnya. Akupun pernah berkumpul antara sahabatku ‘Abdullah, Isma’il bin Sudkin dan juga sosok wali khatam ini, dimana beliaupun mendo’akan keduanya dan alhamdulillah kamipun merasakan manfaat do’a tersebut. Selesai jawaban Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby Ra.-

Aku (penulis) katakan: Jawaban dari Syaikh Akbar Muhyiddin Ibnu ‘Araby di atas, secara gamblang menjadi kesaksian yang jelas, bahwa wali khatam sisi al Muhammady itu berasal dari pewaris sisi al Muhammady dan itu bukanlah beliau, sesuai dengan pernyataan beliau: “Beliau ada pada zamannya dan aku mengenal beliau tahun 595 H,” juga sebagaimana beliau dan kedua sahabat beliau berkumpul dengan sosok wali khatam, dimana sang wali khatam mendo’akan keduanya dan alhamdulillah kamipun merasakan manfaat do’a tersebut. Jika toh kemudian sosok wali khatam adalah beliau (Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby), maka beliau justru akan mengatakan mereka berkumpul bersama kami, mereka pun mendapatkan manfaat dari kami.”

Aku (penulis) kembali menegaskan: Bisa jadi Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby al Hatimy memberikan pengamatan sang wali khatam dari perspektif dirinya, bahwa kala itu beliaulah yang ada pada zaman tersebut, beliau juga merupakan sosok lelaki yang Allah muliakan dari Arab, beliaupun telah mengkhususkan pangkat wali khatam bagi diri beliau, sehingga beliau mampu berkumpul dengan kedua sahabat beliau tersebut. Perkara ini bukanlah perkara yang menakjubkan, sebab beliau mampu mengeluarkan jiwa beliau dari jasad dan mengitari alam ini serta kembali dengan membawa pengetahuan baru, beliaupun mampu masuk ke bumi Simsimah dan berkumpul dengan wali lain, maka tidak diragukan lagi bahwa beliau adalah wali khatam.

Kami (penulis) kembali tegaskan: Ragam perkara tersebut tidak bisa dijauhkan dari sosok beliau (Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby al Hatimi), akan tetapi itu tidak cocok dengan pernyataan beliau sendiri dan juga tidak ada ketegasan bahwa beliaulah yang dimaksud sebagai pemilik pangkat wali khatam, sehingga tidak perlu lagi digeneralisir perkaranya bersamaan dengan pernyataan beliau sendiri bahwa beliau adalah wali khatam, akan tetapi bukan pada maqam ini (wali khatam sisi al Muhammady), dimana ada wali lain yang juga mengakui maqam tersebut.

Kamipun tidak katakan, bahwa yang beliau maksud disini adalah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra. Sebab beliau tergolong Alu Bait dan sosok wali khatam yang berjumpa dengan Syaikh Muhyiddin adalah seorang lelaki dari Arab. Kemudian apa yang beliau katakan, “Sungguh sang penutup kenabian mutlak yang aku lihat dari sang wali khatam, itulah yang Allah sembunyikan dari hamba-Nya dan Dia singkapkan bagiku, sosoknya berada di kota Fess,” itu adalah rahasia maqam khatmiyyah dari sisi keluasan qalbu beliau terhadap orang yang ingkar, dengan memberikan maaf bagi mereka, dan inilah ciri bahwa beliau pantas menempati maqam tersebut.

Dari pemaparan sebelumnya, aku telah jabarkan beragam ilmu yang diketahui oleh seorang wali khatam berikut maqâmât yang beliau peroleh; jika sang wali khatam ditanya, maka beliaupun akan menjawab pertanyaan itu tanpa henti kecuali pada perkara yang wajib beliau sembunyikan, hal ini tentu kembali pada rahasia takdir Allah Swt. Wallahu a’lam.

Sumber : BUKU KUPAS TUNTAS MAQAM KHATMIYYAH & KHATMIYYAH SAYYIDI SYAIKH AHMAD AT-TIJANI RA (NAHJ AL HIDAYAH FI KHATM AL WILAYAH) SYAIKH AL ‘ALLAMAH SAYYIDI AHMAD SUKAIRIJ AT-TIJANY