You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Perkataan Sufi Dalam Fikih

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Perkataan Sufi Dalam Fikih

Mengenai perkataan mereka dalam kajian fikih, maka itu sebenarnya merupakan hal yang ada di luar gambaran kebanyakan orang, para muhaqqiq tidak berbeda pendapat, bahwa itulah sebenarnya ruh fikih; fikihnya kalbu. Kami pun akan berikan contoh dari perkataan mereka dalam hal wudhu:

Air yang mampu membersihkan apa yang ada pada jasad, itu adalah air yang bersumber dari bumi atau yang turun dari langit, begitu juga dengan air laut. Maka, sudah seyogyanya seseorang membersihkan batin dengan air suci yang hanya mampu membersihkan batin. Barangsiapa yang hanya bersuci jasadnya namun tidak bersuci kalbunya, maka ia berdosa lantaran telah meninggalkan maksud yang terpenting dari prosesi bersuci. Hikmah dari hal ini adalah agar seorang hamba bisa menghadap Rabbnya dengan kondisi suci dari segala sesuatu, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَ يَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الْمَحِيْضِ ۗ قُلْ هُوَ اَذًى ۙ فَا عْتَزِلُوْا النِّسَآءَ فِى الْمَحِيْضِ ۙ وَلَا تَقْرَبُوْهُنَّ حَتّٰى يَطْهُرْنَ ۚ فَاِ ذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ اَمَرَكُمُ اللّٰهُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّا بِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
wa yas-aluunaka ‘anil-mahiidh, qul huwa azang fa’tazilun-nisaaa-a fil-mahiidhi wa laa taqrobuuhunna hattaa yath-hurn, fa izaa tathohharna fa-tuuhunna min haisu amarokumulloh, innalloha yuhibbut-tawwaabiina wa yuhibbul-mutathohhiriin

“Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang haid. Katakanlah, “Itu adalah sesuatu yang kotor.” Karena itu jauhilah istri pada waktu haid; dan jangan kamu dekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 222)

Telah disebutkan dari orang yang beranggapan, bahwa mandi adalah syarat bersuci bagi orang yang telah melakukan jima’. Makna kata “yathuma” dalam ayat di atas adalah berhentinya darah haid, sedangkan makna “yatathahharna” adalah mandi besar.

Begitu juga tentang firman Allah Swt ,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat,” sebelum firman Allah,وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ ” dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (Qs.Al Baqarah [2]: 222), ini menunjukkan pada air yang digunakan untuk membersihkan sisi batin seseorang; yaitu tobat yang murni. Allah Swt menamakannya dengan ini, sebab bersuci dari hal tersebut adalah dengan ikhlas karena Allah Swt tanpa adanya riya’dan juga cacat. Jika orang itu mencuci kedua tangannya, maka Allah Swt akan memberinya tobat dari dosa tangan, sehingga ia tidak lagi menggunakannya untuk hal yang tidak dicintai Allah Swt. Jika ia berkumur-kumur, ia pun mencuci batinnya dari penciuman benda yang haram baik itu berupa makanan atau juga minuman.

Saat ia mencuci wajahnya, ia pun mencuci batinnya dari berhadapan dan melihat hal yang haram. Dia pun juga mencuci batinnya dari menyakiti orang lain ketika ia membasuh kedua tangannya, sebab kedua tangan merupakan simbol untuk menggenggam sesuatu. Di saat ia membasuh kepalanya, ia pun mencuci batinnya dari pemikiran dan juga keinginan yang haram. Ketika ia membasuh kedua telinganya, ia pun mencuci batinnya dari mendengar hal yang haram, begitu juga ketika ia membasuh kedua kakinya, ia pun mencuci batinnya dari berusaha menggapai hal yang haram. Dan di dalam kamar mandi sebelum ia mencuci batinnya, hendaknya ia melepaskan bagian auratnya dari hal yang haram.

Maka dengan ini semualah orang tersebut baru menghadap Rabbnya dalam kondisi suci secara zhahir dan bathin (suci jasmani dan ruhani). Maka jika ada orang yang berwudhu tidak seperti paparan di atas, sesungguhnya ia tidak berwudhu sesuai yang diinginkan oleh syari’at.

Mengenai orang yang berada pada martabat istiqomah, maka hendaknya ia bersuci dari ragam kesalahan yang sesuai dengan kondisi jiwanya dan beginilah yang seharusnya ada pada setiap maqam agama.

Inilah gambaran pemahaman fikih para sufi dalam hal berwudhu, maka kiaskanlah semua ibadah seperti gambaran di atas, dimana niatan mereka dalam beribadah adalah melaksanakan perintah Ilahi dengan panduan Nabi Muhammad Saw dan memang telah diriwayatkan dengan shahih dari Nabi Muhammad Saw, bahwa beliau pernah bertanya kepada Ali, “Dengan apa kau ucapkan selamat datang wahai Ali?” Ali berkata, “Dengan apa yang diucapkan oleh Nabi Muhammad Saw.”

Beginilah kondisi para sufi, begitu juga dengan adat yang mereka kerjakan, niatan mereka adalah mencari ridha Allah Swt dan bukan memperturutkan hawa (kecenderungan biologis; hasrat kebinatangan) mereka.

Sayyidi Abul Hasan Asy-Syadzili pernah berkata, “Jangan sampai tidur itu menyibukkanku untuk (membaca) wiridanku,”. Sebab beliau ingin agar diberi kekuatan untuk bisa kuat berdzikir kepada Allah Swt.

Para sufi juga mengikuti tuntunan Nabi Muhammad Saw dalam niatan yang mereka tidak ketahui, dimana mereka makan, minum dan bersedekah dengan niatannya Nabi Muhammad Saw, bahkan pada semua kondisi jiwa mereka.

Sementara orang yang hanya mengikuti Nabi Muhammad Saw pada pakaiannya dan tidak mengikuti beliau pada akhlak yang beliau miliki, maka ia sudah meninggalkan maksud yang diinginkan oleh syari’at, dimana nabi Isa pernah mengumpamakan pemuka Yahudi dengan kuburan yang diberi dekorasi.

Yang terpenting adalah, mengikuti Nabi Muhammad Saw dalam kondisi jiwa beliau, sementara pakaian yang nampak hanyalah sarana belaka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَا نَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَا نَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَا لْيَوْمَ الْاٰ خِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا 
laqod kaana lakum fii rosuulillaahi uswatun hasanatul limang kaana yarjulloha wal-yaumal-aakhiro wa zakarolloha kasiiroo

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 21)

Sumber : BUKU SUFI MENGGAPAI ILAHI (AHL AL HAQQ AL ‘ARIFUNA BILLAAH) SYAIKH MUHAMMAD AL HAFIZ AT-TIJANY AL MISHRI