
Elsubha.com – ‘Ilmul Yaqîn, ‘Ainul Yaqin dan Haqqul Yaqin
Engkau pasti tidak akan ragu bahwa orang yang menaruh tangannya di atas api akan terbakar, sekalipun terkadang memang tangan orang itu bisa juga tidak terbakar, inilah perumpamaan ilmu yaqin, kemudian apabila engkau melihat dengan mata kepalamu bahwa ada orang yang menaruh tangannya dan tangan orang itu terbakar, maka inilah perumpamaan ‘ainul yaqin, sementara jika engkau sendiri yang menaruh tangan di atas api, maka inilah perumpamaan haqqul yaqin, hal ini seperti yang Allah Swt firmankan,
كَلَّا لَوْ تَعْلَمُوْنَ عِلْمَ الْيَقِيْنِ
kallaa lau ta’lamuuna ‘ilmal-yaqiin
“Sekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti,”
(QS. At-Takasur 102: Ayat 5)
لَتَرَوُنَّ الْجَحِيْمَ
latarowunnal-jahiim
“niscaya kamu benar-benar akan melihat Neraka Jahim,”
(QS. At-Takasur 102: Ayat 6)
ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِيْنِ
summa latarowunnahaa ‘ainal-yaqiin
“kemudian kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri,” (Ainul yaqin)
(QS. At-Takasur 102: Ayat 7)
Orang yang hanya pernah mendengar beragam kondisi jiwa orang-orang yang shaleh, tidaklah seperti mereka yang sudah melihat, berbaur sendiri dengan mereka dan mengabarkan kondisi jiwa mereka. Orang yang demikian ini pun itu tidak sama kondisinya dengan orang yang mengaplikasikan sendiri akhlak, beragam asrar dan beragam perkara yang telah mereka saksikan sendiri, bahkan hingga ia mencapai titik akhir dalam bersuluk kepada Allah Swt.
خَلِيْلِي إِنَّ السَّائِرِينَ إِلَى الْعُلَا # كَثِيرٌ وَإِنَّ الْوَاصِلِيْنَ قَلِيلٌ
“Sahabatku, sungguh orang-orang yang melakukan perjalanan menuju Dzat Al ‘Ulâ (Allah) itu # banyak dan sungguh yang wushul itu sedikit.”
Hal tersebut lantaran semua orang-orang yang banyak itu pergi menuju keinginan diri mereka dalam hidup ini, sementara mereka (yang wushul) pergi menuju hadrah Allah Swt.
لَيْسَ مَنْ نُوِّهَ بِالْوَصْلِ لَهُ # كَالَّذِي سُيِّرَ بِهِ حَتَّى وَصَلْ
لَا وَلَا الْوَاصِلُ عِنْدِي كَالَّذِي # طَرَقَ الْبَابَ وَلِلدَّارِ دَخَلْ
وَلَا الدَّاخِلُ عِنْدِي كَالَّذِي # أَجْلَسُوْهُ عِنْدَهُمْ فِي الْمُسْتَهَلْ
لَا وَلَا مَنْ أَجْلَسُوهُ كِالَّذِي # سَارَرُوْهُ فَغَدَا لِلسِّرِّ مَحَلٌ
لَا وَلَا مَنْ سَارَرُوهُ كَالَّذِي # صَارَ إِيَّاهُمْ فَدَعْ عَنْكَ الْجَدَلْ
ذَاكَ شَيْءٌ عَلَقَ الْقَلْبُ بِهِ # مَا تُبْدِي بَعْضَهُ إِلَّا قَتَلَ
“Orang yang sengaja dipanggil agar dirinya wushul untuk-Nya (Allah) # tidak sama dengan orang yang diperjalankan oleh Allah sampai ia bisa wushul”
Tidak pula orang yang sudah wushul (pada-Ku) seperti # orang yang mengetuk pintu dan penghuni rumah mengizinkannya masuk
Tidak pula orang yang sudah masuk (pada-Ku) seperti # orang yang dipersilahkan duduk oleh tuan rumah di ruang tamu
Tidak pula orang yang sudah disuruh duduk (oleh-Nya) seperti # orang yang disenangkan dengan diperjalankan disore hari, dimana ada tempat untuk asrar tersebut
Tidak pula orang yang disenangkan dengan diperjalankan di sore hari seperti # orang yang seolah-olah ada diantara mereka (Allah), maka tinggalkanlah perdebatan
Itulah sesuatu yang membuat kalbu tertambat (pada-Nya) # sesuatu itu tidaklah tampak kecuali akan menyebabkan tumpahnya darah.”
Maksud kata, “Seolah-olah ada diantara mereka (Allah) adalah penyaksian diri seorang kala ia dalam kondisi fana`. Kala itu, kondisi dirinya dimaklumi lantaran hilangnya kesadaran diri. Apabila kondisinya telah kembali pada kondisi semula, maka penyaksian diri yang hakiki pun juga sudah kembali, makhluk bukanlah dzat Allah Swt, akan tetapi Allah lah yang menjadikan eksistensi dirinya (makhluk tersebut) ada. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَـيُّ الْقَيُّوْمُ ۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌ ۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَ رْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗۤ اِلَّا بِاِ ذْنِهٖ ۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖۤ اِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ ۚ وَلَا يَــئُوْدُهٗ حِفْظُهُمَا ۚ وَ هُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ
allohu laaa ilaaha illaa huw, al-hayyul-qoyyuum, laa ta-khuzuhuu sinatuw wa laa na-uum, lahuu maa fis-samaawaati wa maa fil-ardh, mang zallazii yasyfa’u ‘ingdahuuu illaa bi-iznih, ya’lamu maa baina aidiihim wa maa kholfahum, wa laa yuhiithuuna bisyai-im min ‘ilmihiii illaa bimaa syaaa, wasi’a kursiyyuhus-samaawaati wal-ardh, wa laa ya-uuduhuu hifzhuhumaa, wa huwal-‘aliyyul-‘azhiim
“Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 255)
