You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Permasalahan Yang Biasa Terjadi Dalam Wiridan Thariqah At-Tijaniyyah : Masbuq Dalam Pembacaan Wiridan, Wazhifah dan Hailalah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Permasalahan Yang Biasa Terjadi Dalam Wiridan Thariqah At-Tijaniyyah : Masbuq Dalam Pembacaan Wiridan, Wazhifah dan Hailalah

Masbuq Dalam Pembacaan Wiridan, Wazhifah dan Hailalah

Apakah ikhwan yang datang masbuq harus memulai wiridannya dari awal ataukah lansung ikut membaca bacaan yang sedang dibaca?

Jika ikhwan masbuq pada wazhifah, maka dia langsung mengikuti bacaan yang sedang dibaca dengan kondisi duduknya itu dan tidak perlu membaca bacaan pembuka wazhifah. Bacaannya bersama ikhwan lainnya pun dianggap sempurna, sepertihalnya orang yang sedang shalat dan masbuq, maka diapun masbuq pada satu raka’at yang sempurna.

Sedangkan jika ikhwan tersebut masbuq pada saat membaca hailalah di hari Jum’at, maka dia harus memulainya dengan bacaan pembuka wiridan terlebih dahulu sebelum mengikuti bacaan hialalah ikhwan lainnya. Dimana pembuka wiridan seperti yang sudah kita ketahui bersama adalah bacaan ta’awwudz, basmalah, surah Al Fatihah (3 kali), istighfar (3 kali) dan shalawat nabi (3 kali), akhir yaqthin (Subhana Rabbika…) setelah ini barulah ikhwan tersebut membaca bacaan hailalah bersama yang lain.

Sementara jika ikhwan tersebut datang pada perkumpulan ikhwan yang bentuk duduknya melingkar, maka dia tetap dalam posisi duduknya tanpa perlu menghadap kiblat, sebab menghadap kiblat tidak wajib baginya dalam kondisi itu, ia hanya sunah bagi ikhwan yang berdzikir sendirian, sementara kondisinya kala itu dia sedang duduk bersama jama’ah ikhwan lainnya. Diapun akan ditulis membaca wazhifah secara berjama’ah.

Suatu hari aku (Syaikh Ibrahim Shalih Al Husaini) pernah menyaksikan Syakh ‘Ali Sisi di kota Kulkhi datang pada pembacaan wazhifah dalam kondisi masbuq, beliaupun langsung berbaur dengan ikhwan lainnya, kemudian meski ada ikhwan yang memberikan beliau tempat, namun beliau tetap saja pada kondisi duduknya dan seraya menyempumakan bacaan wazhifah yang kurang taripa menghadap kiblat. Akupun perhatikan masalah ini, ternyata perkara ini pun dilakukan pada beberapa zawiyah di kota kami. Maknanya adalah bukan ingin mengatakan bahwa menghadap kiblat itu dilarang atau termasuk perkara yang paling utama, tetapi yang ingin kami tekankan adalah bahwa menghadap kiblat itu tidaklah wajib kala itu. Andaipun ada sebagian ulama yang menghadap kiblat kala menyempurna kan bacaan wazhifah berjama’ah yang kurang, maka ini pun tak mengapa pahami perkara ini dengan baik!.

Lantas pertanyaan kemudian adalah, apakah ikhwan tadi perlu mengulangi bacaan yang kala itu dia ikuti bersama jama’ah ikhwan? Jawaban akan perkara ini adalah: Andai dia mendapati para ikhwan itu dari awal pembukaan wazhifah, maka dia harus mengulanginya lagi, sedangkan jika ia mendapati mereka pada pertengahan bacaan, maka dia harus menyempurnakan bacaan bersama mereka dan tidak perlu mengulangi dari awal. Lalu setelah pembacaan shalawat jauharatul kamal selesai, ikhwan tadi langsung menyempurnakan bacaannya yang kurang; jika ia mendapati jama’ah ikhwan membaca shalawat fatih pada urutan bacaan shalawat fatih yang ke-30; maka setelah selesai pembacaan shalawat jauharatul kamal, dia langsung membaca bacaan istighfar sebanyak 30 kali, shalawat fatih 20 kali (bilangan yang belum ia baca bersama ikhwan), kemudian membaca Innallaha wa Malaikatahu……). Dia tidak perlu mengaqadha bacaan ta’awwudz, basmalah dan surah Al Fatihah. Sebab bacaan ini semua merupakan bacaan sunah kala ikhwan berdzikir sendirian dan juga bagi ikhwan yang membuka wiridan secara berjama’ah.

Sebagian ulama thariqah At-Tijaniyyah berkata tentang perkara ini: A

Dalam Fathurrabbani disebutkan: “Sungguh ikhwan yang mendapati jama’ah ikhwan sedang membaca kalimat musyarrafah dari rangkaian bacaan wazhifah, maka dia harus membaca ta’awwudz dan basmalah, kemudian lanjut mengucapkan, Lâ ilaha illallah, sampai akhir bacaan hailalah. Dia melengkapi bacaan wazhifah bersama jama’ah ikhwan dan sebelum mereka mengucapkan, Innallaha wa Malaikatahu..) Atau bisa juga setelah bacaan (Innallaha wa Malaikatahu) sebelum do’a; hal ini bersandar pada sebuah hadits qudsi,

مَنْ شَغَلَهُ ذِكْرِي عَنْ مَسْأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِيَ السَّائِلِينَ

“Barangsiapa yang sibuk dengan berdzikir mengingat-Ku daripada meminta pada-Ku, niscaya Aku berikan padanya perkara yang lebih utama dari apa yang dipinta orang-orang yang meminta (pada-Ku).”

Gambaran tatacara melengkapi wazhifah yang kurang sebagai berikut: Surah Al Fatihah, istighfar 30 kali, shalawat fatih 50 kali, kemudian langsung membaca, Innallaha wa Malaikatahu..’dan disambung dengan do’a (sebab ikhwan tersebut mendapati ikhwan lainnya yang kala itu pada kondisi awal membaca bacaan Lâ ilaha Illallah).-Selesai.-

Aku (Syaikh Ibrahim Shalih Al Husaini) berkata: Apa yang dikatakan oleh beliau tentang bolehnya ikhwan yang masbuq bergabung dengan jama’ah ikhwan kala mereka membaca Innallaha wa Malaaikatahu pada bacaan wazhifah…sebelum yang bersangkutan menyempumakan bacaan sebelumnya, maka ini perkataan ini tidak diamalkan, yang diamalkan adalah menyempurnakan bacaan yang kurang setelah jama’ah ikhwan membaca shalawat jauharatul kamal sebelum Innallaha wa Malaaikatahu, kemudian membaca kalimat musyarrafah dan ayat yaqthiin.

Ketika ragam rukum wiridan Tijany diambil dari Al-Qur’an, sementara orang yang membaca Al Qur`an diperintah untuk terlebih dahulu membaca ta’awwudz, maka pengarang kitab Fathurrabbani pun menganggap sangat dianjurkannya ikhwan yang akan membaca wiridan untuk memulainya dengan membaca ta’awwudz dan basmalah.

Pendapat ini bersandar pada firman Allah Swt,

فَاِ ذَا قَرَأْتَ الْقُرْاٰ نَ فَا سْتَعِذْ بِا للّٰهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ
fa izaa qoro-tal-qur-aana fasta’iz billaahi minasy-syaithoonir-rojiim

“Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al-Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 98)

Juga bersandar pada sabda Nabi Saw,

كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُبْدَأُ فِيْهِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ فَهُوَ أَبْتَرُ أَوْ أَقْطَعُ

“Setiap perkara baik yang tidak diawali dengan bismillahirrahmanirrahim, maka perkara itu tidak ada keberkahan atau terputus. ” (Ibnu Shalah menilal hasan riwayat Abu Daud.)

Terkait ikhwan masbuq yang tidak membaca pembukaan wiridan, hal ini seperti do’a iftitah dalam shalat, orang yang masbuq tidak lagi membaca atau juga tidak mengqadha bacaan tersebut setelah sang imam salam dan dia melengkapi jumlah raka’at shalatnya yang kurang; inilah pendapat yang kami pilih, bahkan pembesar thariqah At-Tijaniyyah ini pun menegaskan hal ini; seperti Asy-Syingqithi dalam Futuhat-nya. Selaras dengan itu pula sebelumnya Ibnu As-Sa`ih pernah mengatakan terkait pembahasan masbuq ini: “Dia membaca wazhifah (dengan jama’ah ikhwan lainnya) sesuai dengan urutan wazhifah yang mampu diabaca bersama mereka, setelah jama’ah ikhwan membaca wazhifah secara lengkap, dia baru membaca sejumlah bacaan wazhifah yang kurang sampai selesai, dimana ketika dia memulai bersama mereka, maka dia pun telah mulai membaca wazhifah tersebut bersama mereka.”

Hal ini pun sesuai pendapat Al Jasuqi dalam As-Sirr Al Abhar, yang mana beliau menyamakan perkara wazhifah ini seperti orang yang sedang melakukan shalat, sebab orang yang masbuq dalam shalat hanya melanjutkan yang kurang saja.

Syaikh Muhammad Al Hafiz Al Mishri pun, syaikh Muhamad bin Umar (Salagh Al Kinawi); Imam Abu Bakar bin Muhammad (Majaniyu) dalam kitab beliau; An-Nafhah Ar-Rahmaniyyah, Syaikh Atiq dalam Ifadatul Murid dan selain mereka pun sepakat dengan perkara ini.

Sumber : BUKU NAHJUL HAMID RAGAM KEWAJIBAN BAGI MUQADDAM DAN MURID (NAHJUL HAMID FIMA YAJIBU ‘ALAL MUQADDAMI WAL MURIID) SYAIKH IBRAHIM AL HUSAINI AT-TIJANY