You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Permasalahan Yang Biasa Terjadi Dalam Wiridan Thariqah At-Tijaniyyah : Membaca Hailalah Sendirian

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Permasalahan Yang Biasa Terjadi Dalam Wiridan Thariqah At-Tijaniyyah : Membaca Hailalah Sendirian

Membaca Hailalah Sendirian

Bagaimana hukum seorang Ikhwan membaca hailalah sendirian? Lantas bagaimana pula hukumnya ikhwan yang lupa membaca hailalah sampai matahari tenggelam?

Ikhwan yang memiliki udzur syari, yang membuat nya tidak hadir bersama ikhwan lainnya, maka dia bisa membaca hallalah tersebut setelah shalat Ashar pada hari Jum’at sebanyak 1000 kali bacaan hailalah, diapun akan mendapatkan pahala bacaannya tersebut. Dia pun bisa menambahkan jumlah bilangannya 100, 200 sampai 600 bacaan hailalah. Jumlah bacaan yang lebih dari jumlah ini belum didengar dari Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra. Yang terpenting adalah engkau tahu jumlah yang lazim dalam pembacaan hailalah, yaitu 1000. Yang perlu diketahui pula bahwa menunggu waktu dzikir hingga hampir tenggelamnya matahari tidaklah menjadi syarat bagi orang yang berdzikir; yang pasti bagi ikhwan yang membacanya secara berjama’ah; durasi waktunya sekitar 1 jam dan harus bersambung dengan waktu tenggelamnya matahari; baik jama’ah ikhwan tersebut membaca hailalah dengan menentukan jumlah bilangan tertentu atau tidak.

Yang memperbolehkanmu membaca hailalah sendiran adalah jika adanya udzur syar’i yang benar seperti sakit, sedang bepergian dan tidak adanya ikhwan disekitar rumahmu, serta udzur semisalnya.

Sedangkan jika ikhwan tersebut terlewat membaca hailalah ini lantaran adanya kesibukan atau juga lupa, maka pendapat yang dijadikan pegangan adalah dia tidak perlu meng-qadha-nya, meski sebagian ikhwan ada yang meng-qadha bacaan hailalah tadi, namun pendapat ini tidak perlu diamalkan. Lain halnya dengan wiridan dan wazhifah, selamanya itu harus di-qadha jika dia meninggalkannya secara sengaja atau lantaran lupa. Hal ini dikarenakan wiridan itu menjadi wajib dengan kelaziman ikhwan dalam membacanya, sama seperti perkara ta’at yang dinadzarkan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يُوْفُوْنَ بِا لنَّذْرِ وَيَخَا فُوْنَ يَوْمًا كَا نَ شَرُّهٗ مُسْتَطِيْرًا
yuufuuna bin-nazri wa yakhoofuuna yaumang kaana syarruhuu mustathiiroo

“Mereka memenuhi nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.”
(QS. Al-Insan 76: Ayat 7)

Maka menepati nadzar merupakan ciri orang mukmin yang sempurna. Semoga Allah jadikan kita demikian.-

Sumber : BUKU NAHJUL HAMID RAGAM KEWAJIBAN BAGI MUQADDAM DAN MURID (NAHJUL HAMID FIMA YAJIBU ‘ALAL MUQADDAMI WAL MURIID) SYAIKH IBRAHIM AL HUSAINI AT-TIJANY