
Elsubha.com – Pondasi Ke-17 : Cinta Yang Besar
Rasulullah Saw bersabda,
أَخْلِصْ دِينَكَ يَكْفِكَ الْعَمَلُ الْقَلِيلُ.
“Ikhlaslah untuk agamamu, niscaya perbuatan yang sedikit itu sudah cukup bagimu. ” (HR. Al Baihaqi; Abu Nu’aim; Al Hakim dimana ia menilainya shahih dan Adz-Dzahabi pun mengakuinya.)
Maksudnya adalah sesuatu yang sedikit itu sudah cukup bagimu.
Sabda lainnya,
اكْلَفُوْا مِنَ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُوْنَ
“Bebankanlah kalian dengan pekerjaan sesuai kemampuan kalian. ” (HR. Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya.)
Sabda lainnya,
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Perbuatan yang paling dicintai Allah adalah yang konsisten sekalipun sedikit.” (HR. Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya.)
Sabda lainnya,
إِنَّ هَذَا الدِّينَ مَتِينٌ، فَأَوْغِلُوا فِيْهِ بِرِفْقٍ
“Sungguh agama ini kokoh, maka berjalanlah kalian dengan lembut (tidak terbebani).” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi.)
Sabda lainnya,
الْبَذَادَةُ مِنَ الْإِيْمَانِ
“Al Badzadzah bagian dari iman.” (HR. Abu Daud; Ibnu Majah; Ahmad dan Ath-Thabrani.)
Al Badzdzadzah artinya adalah sikap sederhana dan tawadhu’dalam berpakaian dan berpenampilan.
Sederhana dalam makan, minum dan berpakaian.
Sedikit sedih, gembira, gelisah dan cemburu.
Sedikit dalam beribadah, yaitu ketika melakukan shalat, puasa dan shalat malam.
Sedangkan yang banyak; maka yang dipinta banyak adalah dzikir dan ilmu.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ الْمُسْلِمِيْنَ وَا لْمُسْلِمٰتِ وَا لْمُؤْمِنِيْنَ وَا لْمُؤْمِنٰتِ وَا لْقٰنِتِيْنَ وَا لْقٰنِتٰتِ وَا لصّٰدِقِيْنَ وَا لصّٰدِقٰتِ وَا لصّٰبِرِيْنَ وَا لصّٰبِرٰتِ وَا لْخٰشِعِيْنَ وَا لْخٰشِعٰتِ وَا لْمُتَصَدِّقِيْنَ وَ الْمُتَصَدِّقٰتِ وَا لصَّآئِمِيْنَ وَا لصّٰٓئِمٰتِ وَا لْحٰفِظِيْنَ فُرُوْجَهُمْ وَا لْحٰـفِظٰتِ وَا لذّٰكِرِيْنَ اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّ الذّٰكِرٰتِ ۙ اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا
innal-muslimiina wal-muslimaati wal-mu-miniina wal-mu-minaati wal-qoonitiina wal-qoonitaati wash-shoodiqiina wash-shoodiqooti wash-shoobiriina wash-shoobirooti wal-khoosyi’iina wal-khoosyi’aati wal-mutashoddiqiina wal-mutashoddiqooti wash-shooo-imiina wash-shooo-imaati wal-haafizhiina furuujahum wal-haafizhooti waz-zaakiriinalloha kasiirow waz-zaakirooti a’addallohu lahum maghfirotaw wa ajron ‘azhiimaa
“Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 35)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوْا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرًا
yaaa ayyuhallaziina aamanuzkurulloha zikrong kasiiroo
“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, (berzikirlah) dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya,”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 41)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَتَعٰلَى اللّٰهُ الْمَلِكُ الْحَـقُّ ۚ وَلَا تَعْجَلْ بِا لْقُرْاٰ نِ مِنْ قَبْلِ اَنْ يُّقْضٰۤى اِلَيْكَ وَحْيُهٗ ۖ وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا
fa ta’aalallohul-malikul-haqq, wa laa ta’jal bil-qur-aani ming qobli ay yuqdhooo ilaika wahyuhuu wa qur robbi zidnii ‘ilmaa
“Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya. Dan janganlah engkau (Muhammad) tergesa-gesa (membaca) Al-Qur’an sebelum selesai diwahyukan kepadamu, dan katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 114)
Simpelnya demikian: Dzikir yang banyak ditambah ilmu yang banyak akan menghasilkan cinta yang besar. Sedangkan cinta yang besar itu adalah Allah ber-tajalli di hadapan wajahmu dengan cahaya wajah-Nya.
Pada dzatmu, Dia berperan dengan kucuran Dzat-Nya dan pada sifatmu, Dia berperan dengan cahaya sifat-Nya, sehingga Diapun menegakkanmu antara Dzat-Nya dengan makhluk-Nya.
Orang yang sudah melihatmu namun tidak melihat wajah Allah Swt pada wajahmu; dan melihat sifat-Nya pada sifatmu, maka ia telah berbuat syirik.
Maka ketika kondisinya demikian, engkaulah yang harus memotivasi orang yang hanya mau jika dimotivasi. Menakut-nakuti orang yang hanya ampuh dengan ditakut-takuti, engkau akomodir mereka semua dalam motivasi dan ancaman, sehingga engkau menjadi hamba yang sayang dengan diri mereka.
Sedangkan Allah memotivasi dan menakut-nakuti hamba-Nya dengan kondisi jiwa yang cocok bagi mereka.
Dia menakut-nakutimu sebelum engkau melakukan dosa dengan ketakutan yang bentuknya belas kasihan dan perhatian padamu.
Ketika engkau terjebak pada kubangan dosa, Diapun menenangkanmu seraya berfirman,
قُلْ يٰعِبَا دِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰۤى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
qul yaa ‘ibaadiyallaziina asrofuu ‘alaaa angfusihim laa taqnathuu mir rohmatillaah, innalloha yaghfiruz-zunuuba jamii’aa, innahuu huwal-ghofuurur-rohiim
“Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 53)
Sementara Syeithan, dia menyemangatimu untuk melakukan dosa, membuat dirimu berani kepada Allah, mengelabuhimu, menipumu dengan ampunan Allah sebelum dirimu melakukan sebuah dosa, sehingga ketika engkau melakukan dosa, dia membuatmu putus asa dari rahmat Allah dan membuatmu berprasangka bahwa tak mengapa engkau dimasukkan ke dalam neraka, diapun mengagungkan dosa di pelupuk matamu sehingga engkau lupa akan rahmat Allah.
Memikirkan adzab yang menimpa, itu pertanda dirimu tidak ma’rifat Allah, jika engkau memang telah mengenal Allah, maka engkaupun akan sibuk dengan-Nya daripada memikirkan adzab.
Ma’rifat adalah mengetahui dengan kacamata hakekat tentang apa yang ada pada hakekat tersebut. Al Junaid Al Baghdadi mendefinisikannya: Engkau mengetahui apa yang tergambarkan pada kalbumu mengenai Allah, bahwa Allah beda dengan apa yang kau gambarkan. Sedangkan Al Kalabadzi membagi ma’rifat itu kedalam dua makna: Pertama, mengenal Allah (Al Haq); yaitu dengan menetapkan keesaan Allah pada ragam sifat-Nya yang nampak; dan Kedua, mengenal suatu hakekat; yaitu kadar pengetahuan seseorang dengan kelemahan dirinya bahwa ia tidak mampu mengetahui Dzat Allah.” (Lihat, Abdurrazzaq Al Kâsyâni, Mu’jam Isthilâhât Ash-Shüfiyyah, (Kairo, Dar Al Manar, 1992, hal. 363).
Begitu pula seluruh kenikmatan yang ada, jika engkau telah mengenal Allah, maka engkaupun akan sibuk dengan-Nya daripada memikirkan nikmat.
Engkaulah yang dihasilkan dan engkaulah yang dimaksud oleh-Nya, dimana kecintaanmulah yang dipinta-Nya.
Semua makhluk telah menyembah-Ku dan Aku hanya mencintai engkau (manusia).
Semua makhluk mengucapkan untaian tasbih dengan pujian-Ku dan seluruhnya tidak mengenal-Ku.
Aku simpan ma’rifat dan kecintaan-Ku hanya untukmu (manusia) seorang.
Akulah Rabbmu yang mengawalimu dengan kecintaan,
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْـنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗۤ ۙ اَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ ۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَا فُوْنَ لَوْمَةَ لَآئِمٍ ۗ ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu may yartadda mingkum ‘ang diinihii fa saufa ya-tillaahu biqoumiy yuhibbuhum wa yuhibbuunahuuu azillatin ‘alal-mu-miniina a’izzatin ‘alal-kaafiriina yujaahiduuna fii sabiilillaahi wa laa yakhoofuuna laumata laaa-im, zaalika fadhlullohi yu-tiihi may yasyaaa, wallohu waasi’un ‘aliim
“Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 54)
Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY
