You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pondasi Ke-18 : Perbendaharaan Allah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Pondasi Ke-18 : Perbendaharaan Allah

Yang ghaib dan yang nampak semuanya nampak disisi Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ نْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا عِنْدَنَا خَزَآئِنُهٗ وَمَا نُنَزِّلُهٗۤ اِلَّا بِقَدَرٍ مَّعْلُوْمٍ
wa im ming syai-in illaa ‘ingdanaa khozaaa-inuhuu wa maa nunazziluhuuu illaa biqodarim ma’luum

“Dan tidak ada sesuatu pun, melainkan pada sisi Kamilah khazanahnya; Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu.”
(QS. Al-Hijr 15: Ayat 21)

Seluruh alam semesta ini tersimpan pada perbendaharaan ghaib Allah, tanpa jumlah, tanpa tata cara, tanpa hubungan, seluruhnya berstatus sama.

Kemudian Allah menciptakan sesuatu yang merupakan ciptaan yang pertama; yaitu cahaya Rasulullah Saw.

Rasulullah Saw bersabda,

أَوَّلُ مَا خَلَقَ اللَّهُ نُوْرُ نَبِيِّكَ يَا جَابِرُ

“Yang pertama Allah ciptakan adalah cahaya nabimu wahai Jabir, ” (HR. Abdurrazzaq; Ash-Shan’ani dengan sanadnya, dari riwayat Ma’mar dari Ibnu Al Munkadir, dari Jabir bin ‘Abdullah.)

Cahaya itu adalah cahaya Allah, dimana segala dzat yang sina tunduk padanya dan semua perbendaharaan yang ada pada perbendaharaan Allah pun tunduk padanya, sehingga alam penyaksian pun nampak dengan cahaya tersebut.

Rasulullah Saw bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ خَلَقَ خَلْقَهُ فِي ظُلْمَةٍ، فَأَلْقَى عَلَيْهِمْ مِنْ نُوْرِهِ، فَمَنْ أَصَابَهُ مِنْ ذَلِكَ النُّوْرِ اهْتَدَى، وَمَنْ أَخْطَأَهُ ضَلَّ.

“Sungguh Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan ciptaan-Nya dalam kegelapan, kemudian Dia lemparkan bagian dari cahaya-Nya pada ciptaan tersebut. Siapa terkena cahaya tersebut akan mendapatkan hidayah dan yang tidak mendapatkannya, maka ia akan sesat.” (HR. At-Tirmidzi, dimana la menilainya hasan, Ahmad dan Ath-Thayalisi.)

Maksudnya adalah mendapatkan hidayah kehidupan setelah sebelumnya tiada. Hal tersebut tak lain dengan keutamaan Nur Al Muhammadiy yang nampak jelas. Tidak ada satupun makhluk yang tercipta atau keluar dari ketiadaan menuju alam semesta yang ada ini kecuali setelah dzatnya mendapatkan pancaran cahaya Rasulullah Saw. Beliaulah sosok yang pertama kali memberikan syafa’at, beliau pulalah yang memberikan syafa’at di sisi Allah dalam menciptakan/mengeluarkan suatu makhluk dari gelapnya ketiadaan menuju cahaya di alam ini.

Itulah syafa’at Rasulullah Saw yang pertama bagi makhluk dan inilah syafa’at yang paling agung.

Maka Allah pun mengeluarkanmu dari perbendaharaan ghaib Allah, yang terikat dengan waktu, tempat dan kedudukan maupun posisi. Sehingga bisa dikatakan, bahwa ini adalah manusia, itu adalah hewan, ini adalah tumbuhan dan yang lainnya adalah benda mati.

Bahkan Allah Swt memberimu pendengaran, penglihatan dan penciuman.

Maka engkau bisa mendengar lantaran engkau adalah pemilik pendengaran dan bukan lantaran engkau pemilik telinga.

Engkau bisa melihat lantaran engkau adalah pemilik penglihatan dan bukan lantaran engkau pemilik mata.

Engkau bisa mencium lantaran engkau pemilik indera penciuman dan bukan lantaran engkau pemilik hidung.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا للّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْــئًا ۙ وَّ جَعَلَ لَـكُمُ السَّمْعَ وَا لْاَ بْصٰرَ وَا لْاَ فْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
wallohu akhrojakum mim buthuuni ummahaatikum laa ta’lamuuna syai-aw wa ja’ala lakumus-sam’a wal-abshooro wal-af-idata la’allakum tasykuruun

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 78)

Perut ibu merupakan satu dari ragam perbendaharaan milik Allah dan juga sisi ghaib-Nya.

Alam nyata dapat dilihat dengan mata.

Matapun dapat melihat dengan cahaya yang nyata.

Sedangkan mata hati mampu melihat dengan bashirah.

Dan bashirah mampu melihat dengan cahaya maknawi dari Allah Swt.

Alam ghaib merupakan penggerak alam yang nyata.

Bahkan alam yang nyata ini ada dibawah cengkeraman kekuasaan dan juga penundukan alam ghaib.

Maka sisi yang nampak dari dirimu itu mengikuti sisi yang tersembunyi dari dirimu. Bahkan sisi tersembunyimu itulah yang menghukumi sisi dirimu yang nampak.

Rasulullah Saw bersabda,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sungguh perbuatan itu bergantung pada niat-nya, ” (HR. Al Bukhari dalam Shahih-nya.)

Orang yang melazimkan adab kepada Tuhannya, niscaya ia mendapatkan apa yang diangan-angarıkanrıya.

Orang yang menyandarkan diri pada bukti-bukti (dirinya), maka tidak ada lagi baginya selain kerendahan diri.

Maka pemilik petunjuk diri ini Allah naungi dengan nama-Nya, “Al Mudzill (Yang Maha Menghinakan makhluknya),” sehingga ia beradab dan merendah diri.

Sedangkan orang yang suka mengaku-ngaku, maka ia telah mendekatkan dirinya pada kebinasaan.

Maka jadilah dirimu sebagai hamba untuk-Nya, niscaya engkau akan dapati Dia sebagai Rabbmu.

Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY