You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pondasi Ke-35 : Kehidupan

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Pondasi Ke-35 : Kehidupan

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ مَكَّـنّٰكُمْ فِى الْاَ رْضِ وَجَعَلْنَا لَـكُمْ فِيْهَا مَعَايِشَ ۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ
wa laqod makkannaakum fil-ardhi wa ja’alnaa lakum fiihaa ma’aayisy, qoliilam maa tasykuruun

“Dan sungguh, Kami telah menempatkan kamu di bumi dan di sana Kami sediakan (sumber) penghidupan untukmu. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 10)

Allah Swt telah menetapkan manusia hidup di bumi dan bukan di planet lain, dimana bumi sebenarnya adalah museum kejaiban alam.

Allah Swt telah menciptakan bumi dengan teliti, sehingga menghasilkan bumi yang indah ini.

Bahkan malaikat pun berangan-angan, andai Allah Swt mempercayakan bumi kepada para malaikat untuk memakmurkannya; sebagaimana yang tertera dalam firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذْ قَا لَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَا عِلٌ فِى الْاَ رْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَا لُوْۤا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ ۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ قَا لَ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
wa iz qoola robbuka lil-malaaa-ikati innii jaa’ilung fil-ardhi kholiifah, qooluuu a taj’alu fiihaa may yufsidu fiihaa wa yasfikud-dimaaa, wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqoddisu lak, qoola inniii a’lamu maa laa ta’lamuun

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 30)

Gambaran kata yang terucap dari malaikat mengindikasikan bahwa mereka takut jika keindahan bumi ini dirusak oleh manusia.

Harapan para malaikat kepada Allah Swt dituangkan dengan sikap malu nan berharap andai mereka (para malaikat) diberi tugas untuk memakmurkan bumi, sehingga keindahan bumi tetap terjaga.

Meskipun para malaikat memiliki perhatian penuh terkait keindahan bumi, tetapi mereka tidak memiliki kemampuan untuk berkreasi yang memang hanya Allah Swt berikan kepada manusia. Bahkan tidak ada satu makhluk pun selain manusia yang memiliki kemampuan tersebut, sehingga manusia mampu menguak beragam rahasia alam ini, menundukkannya, mengembangkannya bahkan mengambil manfaat dari bumi ini. Semua perkara ini berkaitan dengan ketentuan Allah pada masa azali, sementara kini qalam (pena) yang digunakan untuk menuliskan perkara itu telah diangkat dan tintanya telah habis; seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Saw,

رفعتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ .

“Pena telah diangkat dan kertaspun telah kering. ” (HR. At-Tirmidzi, dimana la berkata, “Hasan Shahih”; Ahmad; Ath-Thabrani dan Abu Ya’la.)

Juga seperti yang tertera dalam sabda lainnya,

جَفَّ الْقَلَمُ عَنْ عِلْمِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا

“Pena itu telah kering dari ilmunya Allah. ” (HR. Ibnu Hibban; Al Baihaqi.)

Allahlah yang menempatkan manusia di bumi ini.

Jika bukan karena-Nya, maka tidak mungkin manusia

bisa menempati bumi ini, meski menempati suatu tempat itu bukanlah ciri Dzat-Nya.

Manusia tidak mungkin menempati bulan, sebab disana tidak ada kehidupan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذْ قَا لَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَا عِلٌ فِى الْاَ رْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَا لُوْۤا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ ۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ قَا لَ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
wa iz qoola robbuka lil-malaaa-ikati innii jaa’ilung fil-ardhi kholiifah, qooluuu a taj’alu fiihaa may yufsidu fiihaa wa yasfikud-dimaaa, wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqoddisu lak, qoola inniii a’lamu maa laa ta’lamuun

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 30)

Redaksi “اِنِّيْ جَا عِلٌ فِى الْاَ رْضِ” Aku hendak menjadikan di bumi ini, maksudnya adalah Allah memberikan tempat bagi manusia di bumi ini.

Redaksi “خَلِيْفَةً” seorang khalifah, maksudnya adalah Allah memberikan kedudukan bagi manusia.

Pola kehidupan manusia pun berbeda-beda,

Masa depan pertama; dimulai dengan berburu, dari sini tersingkaplah pandangan masa depan yang pertama; yaitu kondisi antara dirinya dan hewan buruannya yang ketika itu Allah lepaskan.

Pandangan pertama ini adalah perjalanan antara dua titik pemberhentian.

Kemudian beralih ke pertanian, maka manusia membutuhkan sebidang tanah yang memiliki panjang dan lebar, maka iapun telah mengetahui pandangan kedua.

Lalu manusia perlu membangun rumah, sehingga muncullah pandangan ketiga, yaitu peningkatan. Kondisinya akan tetap pada kondisi peningkatan ini sampai tersingkap apakah ia akan membuat pandangan masa depan lain; yang keempat, yaitu waktu. Oleh karenanya nampaklah aspek harmonitas, yang menjadikan Albert Entein masuk dalam sejarah sebagai salah satu cendikiawan abad 20.

Kemudian ada pula pandangan masa depan yang mengejutkan; pandangan masa depan kelima, dimana ini merupakan pandangan yang komperhensif, bahkan tanpa ini penghidupan manusia tidak akan ada; hal tersebut adalah pengetahuan.

Lantas apa yang dimaksud dengan pengetahuan disini?

Pengetahuan yang dimaksud adalah kemampuan untuk merasakan segala hal yang ada di sekitar.

Tidaklah Allah ciptakan makhluk apapun kecuali Allah anugerahkan pengetahuan yang sesuai dengan peranannya disaat tercipta, bahkan sampai virus dan mikroba sekalipun.

Kemampuan manusia untuk mengetahui beragam warna, ukuran dan takaran ini berbeda dengan kemampuan yang dimiliki oleh makhluk lainnya di semesta ini. Pengetahuan manusia tak sama dengan pengetahuan seekor hewan.

Bahkan setiap manusia pun memiliki pengetahuan yang hanya khusus dimiliki olehnya, sekalipun pengetahuan mendasar dan ragam yang manusia miliki itu sama.

Setiap umur pun memiliki ragam pengetahuannya sendiri, sehingga pengetahuan anak kecil tidaklah sama dengan pengetahuan remaja yang sedang tumbuh, pengetahuan remaja ini pun tidaklah sama dengan pengetahuan orang yang sudah tua, dimana pengetahuan wanita pun tidak sama dengan pengetahuan lelaki, bahkan setiap pengetahuan yang khusus pun ada pada alamnya yang juga khusus, sampai elektronik sekalipun. Belakangan ini terungkap dengan beragam percobaan bahwa elektronik pun menyimpan banyak pengetahuan.

Ketika engkau merasakan bahwa elektronik yang bekerja layaknya sel darah, dan ketika engkau merasakan bahwa ada seseorang yang tidak memantaunya, maka elektronik tersebut bekerja layaknya gelombang.

Orang yang naik pesawat yang melaju dengan cepat, maka dia tidak tahu berapa cepatnya pesawat itu ketika kecepatannya teratur.

Begitu juga orang yang ada di bumi, diapun tidak mengetahui seberapa cepat pesawat itu di angkasa. Berapa kecepatan di sekitar matahari, kecepatan disekitar galaxi dan kecepatan planet bumi, bahkan manusia pun tidak merasa jika bumi ini bergerak.

Ini adalah pengetahuan.

Pengetahuan ini ada pada semua makhluk; yaitu pengetahuan yang ada dalam satu alam; alam indrawi.

Terkait dengan manusia, maka pengetahuan manusia terbagi menjadi: Pengetahuan hakiki yang dihasilkan dari otak yang sadar dan pengetahuan imajinasi yang dihasilkan dari otak di alam bawah sadar.

Alam imajinasi ini hanya khusus bagi manusia saja.

Maka kehidupan manusia ini tidak lepas dari kelima pandangan masa mendatang pokok, yang paling penting dari itu adalah pengetahuan, lalu diikuti dengan aspek waktu, kemudian panjang pendek dan peningkatannya.

Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY