
Elsubha.com – Pondasi Ke-36 : Timbangan
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَاَ مَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَا زِيْنُهٗ
fa ammaa mang saqulat mawaaziinuh
“Maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya,”
(QS. Al-Qari’ah 101: Ayat 6)
فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّا ضِيَةٍ
fa huwa fii ‘iisyatir roodhiyah
“maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang).”
(QS. Al-Qari’ah 101: Ayat 7)
وَاَ مَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَا زِيْنُهٗ
wa ammaa man khoffat mawaaziinuh
“Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya,”
(QS. Al-Qari’ah 101: Ayat 8)
فَاُ مُّهٗ هَاوِيَةٌ
fa ummuhuu haawiyah
“maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah.”
(QS. Al-Qari’ah 101: Ayat 9)
Ringan dan berat dalam ayat ini hanya kembali pada kebaikan semata.
Kebaikan adalah pusat pandangan Allah bagi hamba-Nya.Salah satu diantara sisi rahmat Allah serta perlindungan Allah adalah bahwa Allah tidak pernah melihat pada perbuatan dosa, hal ini sebagai bentuk rahmat dan curahan kelembutan-Nya.
Sedangkan syeithan, maka keinginan dan semangatnya terfokus pada segenap keburukan, inilah tempat kerja dan kesibukan syeithan. Ia akan bersikap senang ketika ia dapat memenuhi catatan amal manusia dengan keburukan, diapun akan marah ketika tidak mampu memenuhi catatan tersebut dengan keburukan.
Syeithan terhalang dari segenap kebaikan yang ada.
Diantara kekhususan yang hanya diperuntukkan bagi umat Nabi Muhammad Saw adalah dilipatgandakannya pahala kebaikan. Tidaklah kebaikan itu diperbuat kecuali akan dilipatgandakan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat pahalanya bahkan akan dilipatgandakan lebih dari itu; sebagaimana firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
سَا بِقُوْۤا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَآءِ وَ الْاَ رْضِ ۙ اُعِدَّتْ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِا للّٰهِ وَرُسُلِهٖ ۗ ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ
saabiquuu ilaa maghfirotim mir robbikum wa jannatin ‘ardhuhaa ka’ardhis-samaaa-i wal-ardhi u’iddat lillaziina aamanuu billaahi wa rusulih, zaalika fadhlullohi yu-tiihi may yasyaaa, wallohu zul-fadhlil-‘azhiim
“Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”
(QS. Al-Hadid 57: Ayat 21)
Tiada yang binasa kecuali memang orang-orang yang Allah binasakan.
Terkait dengan nama Allah Swt, “Asy-Syakur,” Asy-Syukr artinya adalah tambahan.
Ketika engkau melakukan perbuatan baik, maka syukurmu akan hal itu akan dibalas minimal sepuluh kali lipat, bahkan kata “وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمُلأُ الْمِيزَانَ“Segala puji bagi Allah dapat memenuhi timbangan. ” (HR. Muslim dalam Shahih-nya.)
Ini adalah perkataan yang sangat mudah diucapkan oleh seorang hamba, sehingga pada akhirnya catatan amal pun dipenuhi dengan kebaikan. Dan ketika kondisinya demikian, hamba tersebut naik ke martabat diatas martabat yang mengandalkan kebaikan dan keburukan.
Dan kini engkau berada pada derajat,
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْـنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗۤ ۙ اَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ ۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَا فُوْنَ لَوْمَةَ لَآئِمٍ ۗ ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu may yartadda mingkum ‘ang diinihii fa saufa ya-tillaahu biqoumiy yuhibbuhum wa yuhibbuunahuuu azillatin ‘alal-mu-miniina a’izzatin ‘alal-kaafiriina yujaahiduuna fii sabiilillaahi wa laa yakhoofuuna laumata laaa-im, zaalika fadhlullohi yu-tiihi may yasyaaa, wallohu waasi’un ‘aliim
“Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 54)
Pada derajat ini tidak ada lagi balasan untuk pekerjaan yang telah dilakukan kecuali mendapatkan kecintaan.
Dimana tak ada balasan dari kecintaan kecuali kecintaan itu sendiri. Dan pahala paling agung (dalam kondisi ini) adalah mendapatkan posisi orang yang dicinta.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ مَكَّـنّٰكُمْ فِى الْاَ رْضِ وَجَعَلْنَا لَـكُمْ فِيْهَا مَعَايِشَ ۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ
wa laqod makkannaakum fil-ardhi wa ja’alnaa lakum fiihaa ma’aayisy, qoliilam maa tasykuruun
“Dan sungguh, Kami telah menempatkan kamu di bumi dan di sana Kami sediakan (sumber) penghidupan untukmu. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 10)
Dia tidak menafikan rasa syukurmu, tetapi Dia menginginkan hal yang lebih banyak dari dirimu.
Allah Swt telah mewakilkan pencatatan amal kebajikan manusia pada malaikat rahmat yang mulia sebelum mereka menuliskan amal perbuatan itu;
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
كِرَا مًا كَا تِبِيْنَ
kiroomang kaatibiin
“yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu),”
(QS. Al-Infitar 82: Ayat 11)
Dimana rahmat Allah itu dikedepankan dibanding sifat adil-Nya, sehingga Diapun memberikan ganjaran berkali lipat kepada seorang hamba atas kebajikan yang dia perbuat.
Pemberian ganjaran berkali lipat ini diatas kecintaan, ini adalah bentuk penghormatan, pengagungan dan pengutamaan sisi baginda Rasulullah Muhammad Saw, dan bukan lantaran lainnya. Sehingga pemberian ganjaran berkali lipat ini semakin bertambah dan juga berkurang sesuai tataran kecintaan dan penghormatan kepada baginda Rasulullah Saw yang memiliki kedudukan yang tinggi.
Semoga keselamatan, rahmat dan keberkahan Allah senantiasa terlimpah padamu wahai Nabi Muhammad Saw.
Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY
