
Elsubha.com – Pondasi Ke-38 : Penciptaan dan Perintah
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الْاَ رْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّا مٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ ۗ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَا رَ يَطْلُبُهٗ حَثِيْثًا ۙ وَّا لشَّمْسَ وَا لْقَمَرَ وَا لنُّجُوْمَ مُسَخَّرٰتٍ بِۢاَمْرِهٖ ۗ اَ لَا لَـهُ الْخَـلْقُ وَا لْاَ مْرُ ۗ تَبٰرَكَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ
inna robbakumullohullazii kholaqos-samaawaati wal-ardho fii sittati ayyaaming summastawaa ‘alal-‘arsy, yughsyil-lailan-nahaaro yathlubuhuu hasiisaw wasy-syamsa wal-qomaro wan-nujuuma musakhkhorootim bi-amrihiii alaa lahul-kholqu wal-amr, tabaarokallohu robbul-‘aalamiin
“Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Maha Suci Allah, Tuhan seluruh alam.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 54)
1. Alam Khalq (Alam Penciptaan): Ini adalah alam penciptaan dengan adanya sebab tertentu, sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الَّيْلَ وَا لنَّهَا رَ خِلْفَةً لِّمَنْ اَرَا دَ اَنْ يَّذَّكَّرَ اَوْ اَرَا دَ شُكُوْرًا
wa huwallazii ja’alal-laila wan-nahaaro khilfatal liman arooda ay yazzakkaro au arooda syukuuroo
“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau yang ingin bersyukur.”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 62)
2. Alam ‘Amr (Alam Perintah): Alam keluarnya segala sesuatu dari Allah tanpa sebab tertentu, ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
اِنَّمَا قَوْلُـنَا لِشَيْءٍ اِذَاۤ اَرَدْنٰهُ اَنْ نَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
innamaa qoulunaa lisyai-in izaaa arodnaahu an naquula lahuu kung fa yakuun
“Sesungguhnya firman Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 40)
3. Alam Khalq (Alam penciptaan): Ini adalah alam beragam penisbatan dan juga alam beragam istilah, jumlah, ukuran, timbangan, takaran, waktu dan alam semesta, semua ini dapat diketahui dengan nalar.
4. Alam ‘Amr (Alam Perintah): Ini adalah alam
esensi, alam hakekat dan alam yang tipis, alam ini tidak dapat diketahui kecuali dengan ruh. Ruh merupakan bagian dari alam ‘amr, seperti yang tertera dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
وَيَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِ ۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَاۤ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا
wa yas-aluunaka ‘anir-ruuh, qulir-ruuhu min amri robbii wa maaa uutiitum minal-‘ilmi illaa qoliilaa
“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh, katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.””
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 85)
Dan dirimu bukanlah bagian dari alam amr kecuali hanya ruhmu saja yang merupakan hakekat dan esensi dirimu yang sebenarnya. Semua alam khalq bersandar pada ragam cahaya dan bantuan dari alam ‘amr. Jika saja bantuan dari alam ‘amr ini terhenti, maka alam khalq akan sima seketika.
Tubuhmu berasal dari alam khalq dan ruhmu dari alam ‘amr, dimana sisi ruhanimulah yang memberikan bantuan pada jasadmu dengan cahaya ghaib. Ketika bantuan ini terhenti atau yang disebut dengan kematian, maka jasadpun akan binasa, dan yang tersisa adalah ruh yang bisa mendengar tanpa telinga, dapat melihat tanpa mata dan mampu serta kuat tanpa tangan, bahkan kekuatan ruh ini bisa berkali-kali lipat tanpa batasan, serta yang tersisa adalah kondisi ruh yang senantiasa mendapatkan nikmat.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَهُوَ الَّذِيْ يُرْسِلُ الرِّيٰحَ بُشْرًاۢ بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهٖ ۗ حَتّٰۤى اِذَاۤ اَقَلَّتْ سَحَا بًا ثِقَا لًا سُقْنٰهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ فَاَ نْزَلْنَا بِهِ الْمَآءَ فَاَ خْرَجْنَا بِهٖ مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ ۗ كَذٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتٰى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
wa huwallazii yursilur-riyaaha busyrom baina yadai rohmatih, hattaaa izaaa aqollat sahaabang siqoolang suqnaahu libaladim mayyiting fa angzalnaa bihil-maaa-a fa akhrojnaa bihii ming kullis-samaroot, kazaalika nukhrijul-mautaa la’allakum tazakkaruun
“Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 57)
وَهُوَ الَّذِيْۤ اَرْسَلَ الرِّيٰحَ بُشْرًاۢ بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهٖ ۚ وَاَ نْزَلْنَا مِنَ السَّمَآءِ مَآءً طَهُوْرًا
wa huwallaziii arsalar-riyaaha busyrom baina yadai rohmatih, wa angzalnaa minas-samaaa-i maaa-ang thohuuroo
“Dan Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang sangat bersih,”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 48)
اَمَّنْ يَّهْدِيْكُمْ فِيْ ظُلُمٰتِ الْبَرِّ وَ الْبَحْرِ وَمَنْ يُّرْسِلُ الرِّيٰحَ بُشْرًاۢ بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهٖ ۗ ءَاِلٰـهٌ مَّعَ اللّٰهِ ۗ تَعٰلَى اللّٰهُ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
am may yahdiikum fii zhulumaatil-barri wal-bahri wa may yursilur-riyaaha busyrom baina yadai rohmatih, a ilaahum ma’alloh, ta’aalallohu ‘ammaa yusyrikuun
“Bukankah Dia (Allah) yang memberi petunjuk kepada kamu dalam kegelapan di daratan dan lautan dan yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan.”
(QS. An-Naml 27: Ayat 63)
Maka kedua tangan Allah adalah rahmat, kedua tangan-Nya membentangkan rahmat dan itu adalah kenikmatan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَقَا لَتِ الْيَهُوْدُ يَدُ اللّٰهِ مَغْلُوْلَةٌ ۗ غُلَّتْ اَيْدِيْهِمْ وَلُعِنُوْا بِمَا قَا لُوْا ۘ بَلْ يَدٰهُ مَبْسُوْطَتٰنِ ۙ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَآءُ ۗ وَلَيَزِيْدَنَّ كَثِيْرًا مِّنْهُمْ مَّاۤ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ طُغْيَا نًا وَّكُفْرًا ۗ وَاَ لْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَا لْبَغْضَآءَ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ ۗ كُلَّمَاۤ اَوْقَدُوْا نَا رًا لِّلْحَرْبِ اَطْفَاَ هَا اللّٰهُ ۙ وَيَسْعَوْنَ فِى الْاَ رْضِ فَسَا دًا ۗ وَا للّٰهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
wa qoolatil-yahuudu yadullohi maghluulah, ghullat aidiihim wa lu’inuu bimaa qooluu, bal yadaahu mabsuuthotaani yungfiqu kaifa yasyaaa, wa layaziidanna kasiirom min-hum maaa ungzila ilaika mir robbika thughyaanaw wa kufroo, wa alqoinaa bainahumul-‘adaawata wal-baghdhooo-a ilaa yaumil-qiyaamah, kullamaaa auqoduu naarol lil-harbi athfa-ahallohu wa yas’auna fil-ardhi fasaadaa, wallohu laa yuhibbul-mufsidiin
“Dan orang-orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu.” Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu, padahal kedua tangan Allah terbuka; Dia memberi rezeki sebagaimana Dia kehendaki. Dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu pasti akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan mereka. Dan Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari Kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya. Dan mereka berusaha (menimbulkan) kerusakan di bumi. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 64)
Maka ruh tersebut tetap mendapatkan kenikmatan disisi-Nya, ruh tidak bisa sakit, tidak pula gundah, tidak bersedih, tidak terkena musibah, tidak takut, tidak tidur, tetapi ruh senantiasa mendapatkan kenikmatan yang tiada batasannya, sekalipun itu ruh dari orang kafir. Karena ruh itu sejatinya beriman, sehingga label ini mustahil dihilangkan. Tidak boleh menganggap ruh itu kufur, karena ruh merupakan perkara Allah, dimana Allah tidak pernah memerintahkannya untuk kufur dan Dia pun tidak ridha dengan kekufurannya.
Sedangkan yang bisa disifati dengan kekufuran adalah jiwa, berikut paparannya:
A. Ada jiwa yang kufur, seperti yang tertera dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰٮهَا
wa nafsiw wa maa sawwaahaa
“demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya,”
(QS. Asy-Syams 91: Ayat 7)
فَاَ لْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰٮهَا
fa al-hamahaa fujuurohaa wa taqwaahaa
“maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya,”
(QS. Asy-Syams 91: Ayat 8)
B. Ada jiwa yang amarah: seperti yang tertera dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
وَمَاۤ اُبَرِّئُ نَفْسِيْ ۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَ مَّا رَةٌ بِۢا لسُّوْٓءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْ ۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
wa maaa ubarri-u nafsii, innan-nafsa la-ammaarotum bis-suuu-i illaa maa rohima robbii, inna robbii ghofuurur rohiim
“Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.””
(QS. Yusuf 12: Ayat 53)
C. Ada jiwa yang lawwamah (Sering menyesali diri): Seperti yang tertera dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
وَلَاۤ اُقْسِمُ بِا لنَّفْسِ اللَّوَّا مَةِ
wa laaa uqsimu bin-nafsil-lawwaamah
“dan Aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri).”
(QS. Al-Qiyamah 75: Ayat 2)
D. Ada jiwa yang muthmainnah (tenang), dimana ini yang paling utama: sesuai firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
يٰۤاَ يَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
yaaa ayyatuhan-nafsul-muthma-innah
“Wahai jiwa yang tenang!”
(QS. Al-Fajr 89: Ayat 27)
Jasad juga tidak bisa disifati dengan kufur, karena setiap sel yang ada, ada yang mukmin meskipun dari orang kafir sekalipun.
Maka alam ‘amr adalah alam yang berisikan kebaikan yang mutlak, kebaikan yang lawan katanya bukan keburukan.
Ditinjau dari munculnya beragam makhluk yang ada dari Allah, dengan rahasia kata, “Kun (jadilah),” maka semuanya adalah kebaikan.
Sementara ditinjau dari keterkaitan sebab, maka apa yang cocok dengan pilihan kita, sesuai dengan keinginan kita, kita namakan dengan sesuatu yang “baik,” sedangkan apa yang tidak disukai oleh jiwa kita, kita namakan dengan sesuatu yang “buruk.”
Maka rumusannya adalah:
A. Alam Amr. Berkaitan dengan sisi uluhiyah dalam mewujudkan sesuatu.
B. Alam khalq: Berkaitan dengan sisi rububiyah dalam pemberian bantuan. Dan keduanya adalah milik Allah Sang Pengayom alam semesta.
Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY
