You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pondasi Ke-39 : ‘Arasy

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Pondasi Ke-39 : ‘Arasy

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى
ar-rohmaanu ‘alal-‘arsyistawaa

“(yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy.”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 5)

Tidaklah ada satu dari sekian ‘Arasy kecuali Allah ber-istiwa diatasnya dengan salah satu nama-Nya atau dengan satu dari sekian sifat-Nya, atau dengan satu dari ragam penampakan-Nya atau dengan satu dari beberapa bentuk tajalli-Nya.

1. Pada hari kiamat, Allah ber-istiwa diatas ‘Arasy mauqif dengan nama-Nya; “Ar-Rahman” (Yang Maha Pemurah); Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلْمُلْكُ يَوْمَئِذِ ٱِلْحَـقُّ لِلرَّحْمٰنِ ۗ وَكَا نَ يَوْمًا عَلَى الْكٰفِرِيْنَ عَسِيْرًا
al-mulku yauma-izinil-haqqu lir-rohmaan, wa kaana yauman ‘alal-kaafiriina ‘asiiroo

“Kerajaan yang hak pada hari itu adalah milik Tuhan Yang Maha Pengasih. Dan itulah hari yang sulit bagi orang-orang kafir.”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 26)

2. Di dunia, Allah pun ber-istiwa diatas ‘Arasy semua makhluk yang ada, dengan nama-Nya; “Ar-Rahman” (Yang Maha Pemurah); Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى
ar-rohmaanu ‘alal-‘arsyistawaa

“(yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy.”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 5)

لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَ رْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرٰى
lahuu maa fis-samaawaati wa maa fil-ardhi wa maa bainahumaa wa maa tahtas-saroo

“Milik-Nyalah apa yang ada di langit, apa yang ada di Bumi, apa yang ada di antara keduanya, dan apa yang ada di bawah tanah.”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 6)

Tidak ada yang luput dari rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

A. Allah Swt memiliki ‘Arasy yang berada diatas air, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

وَ هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ فِيْ سِتَّةِ اَ يَّا مٍ وَّكَا نَ عَرْشُهٗ عَلَى الْمَآءِ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا ۗ وَلَئِنْ قُلْتَ اِنَّكُمْ مَّبْعُوْثُوْنَ مِنْۢ بَعْدِ الْمَوْتِ لَيَـقُوْلَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْۤا اِنْ هٰذَاۤ اِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ
wa huwallazii kholaqos-samaawaati wal-ardho fii sittati ayyaamiw wa kaana ‘arsyuhuu ‘alal-maaa-i liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amalaa, wa la-ing qulta innakum mab’uusuuna mim ba’dil-mauti layaquulannallaziina kafaruuu in haazaaa illaa sihrum mubiin

“Dan Dialah yang menciptakan langit dan Bumi dalam enam masa, dan ‘Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Jika engkau berkata (kepada penduduk Mekah), “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan setelah mati,” niscaya orang kafir itu akan berkata, “Ini hanyalah sihir yang nyata.””
(QS. Hud 11: Ayat 7)

Allah ber-istiwa diatasnya dengan nama-Nya; Al Hayyu (Yang Maha Hidup), Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَوَلَمْ يَرَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْۤا اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ كَا نَـتَا رَتْقًا فَفَتَقْنٰهُمَا ۗ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَآءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۗ اَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ
a wa lam yarollaziina kafaruuu annas-samaawaati wal-ardho kaanataa rotqong fa fataqnaahumaa, wa ja’alnaa minal-maaa-i kulla syai-in hayy, a fa laa yu-minuun

“Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 30)

Disetiap kerajaan atau negara juga ada ‘Arasy (singgasana); Rasulullah Saw bersabda,

السُّلْطَانُ ظِلُّ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ، فَمَنْ أَكْرَمَهُ أَكْرَمَهُ اللَّهُ، وَمَنْ أَهَانَهُ أَهَانَهُ اللَّهُ

“Penguasa/pemimpin adalah naungan Allah di muka bumi. Orang yang memuliakannya, maka akan dimuliakan oleh Allah, dan orang yang merendahkannya, maka akan direndahkan oleh Allah, (HR. Ibnu Abi ‘Ashim; Al Baihaqi dengan lafazh hadits milik keduanya; Ahmad dari riwayat Abu Bakrah Ra; Al Bazzar dan Al Baihaqi dengan lafazh hadits yang lain dari riwayat Abdullah bin ‘Amr Ra, dari Nabi Saw, beliau bersabda, “Penguasa itu adalah naungan Allah di bumi ini, tempat berlindungnya setiap orang yang dizhalimi.”)

Disebutkan pula:

إِنَّ اللَّهَ لَيَزَعُ بِالسُّلْطَانِ مَالَا يَزَعُ بِالْقُرْآنِ

“Sungguh Allah akan mempengaruhi dengan penguasa apa yang tidak bisa dipengaruhi dengan Al Qur’an.” (Al Mawardi dalam Adab Ad-Dunya wad-Din secara marfu dengan lafazh ini; Al khathib Al baghdadi dalam Tarikh Baghdad dari riwayat Umar bin Al Khaththab Ra secara mauquf dengan lafazh, “Apa yang Allah pengaruhi dengan penguasa itu lebih besar pengaruhnya dari apa yang dipengaruhi oleh Al Qur’an.”; Ibnu ‘Abdil Barr dalam At-Tamhid, Ibnu Katsir dalarn Al Bidayah wan-Nihayah, Al Qurthubi dalam Tafsir-nya dari riwayat “Utsman bin ‘Affan secara mauquf dengan lafazh. “Apa yang dipengaruhi oleh seorang Imam lebih besar (pengaruhnya) daripada apa yang dipengaruhi oleh Al Qur’an.”)

Maka tidak ada seorang raja atau penguasa kecuali ia nampak dengan satu dari sekian banyak nama Allah, dimana Allah ber-tajalli dengan nama-Nya dengan memberikan ragam hak penduduk.

Oleh karena itu Rasulullah Saw bersabda,

لَا تَسُبُّوا السُّلْطَانَ، فَإِنَّهُمْ ظِلُّ اللَّهِ فِي أَرْضِهِ

“Janganlah kalian cerca penguasa, karena mereka adalah naungan Allah di muka bumi ini.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah.)

Sebab, para pejabat dan juga penguasa merupakan penampakan Allah semata, bukan yang lainnya.

B. Allah Swt juga memiliki ‘Arasy (singgasana) diatas waktu, Dia bertajalli dengan nama-Nya: “Ad-Dahr.” Dalam hadits disebutkan,

لَا تَسُبُّوا الدَّهْرَ، فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الدَّهْرُ

“Janganlah kalian caci waktu, sebab Allahlah waktu itu.” (HR. At-Tirmidzi, dimana ia berkata, “Hasan,”; Ibnu Majah; Ahmad dan Ath-Thayalisi.)

C. Allah Swt juga memiliki ‘Arasy diatas kerajaan cobaan dan ujian yang baik, Dia ber-tajalli dengan nama-Nya; “Al Muhib (Yang Mencinta)”; Rasulullah Saw pernah bersabda,

إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ

“Sungguh Allah itu, jika Dia mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka.” (HR. At-Tirmidzi, dia berkata: Hasan, Ibnu Majah; Ahmad dan Ath-Thabrani.)

D. Allah Swt juga memiliki ‘Arasy diatas alam penyembuhan dari penyakit. Dia ber-tajalli dengan nama-Nya; “Ath-Thabib” (dokter). Rasulullah Saw pernah bersabda,
اللّٰهُ الطَّبِيْبُ

“Allahlah dokter itu.” (HR. Abu Daud; Al Humaidi; Ath-Thabrani; dan Al Baihaqi.)

E. Allah Swt juga memiliki ‘Arasy diatas beragam perkara baik. Dia ber-tajalli dengan nama-Nya; “Ath-Thayyib.” Rasulullah Saw bersabda,

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلا طَيِّبًا

“Sungguh Allah itu baik dan tidak menerima kecuali kebaikan (pula).” (HR. Muslim dalam Shahih-nya.)

F. Ada pula ‘Arasy besar yang menguasai kalbu. Dia ber-tajalli dengan nama-Nya; “Al Jamil (Indah),” sehingga kalbupun lunak dengan sisi keindahan Allah dimanapun berada. Kalbu sejatinya condong pada keindahan penciptaan atau condong pada keindahan sifat atau keindahan perilaku. Rasulullah Saw bersabda,

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

“Sungguh Allah itu indah dan menyukai keindahan.”129

G. Allah juga ber-istiwa diatas ‘Arasy ruh yang paling mulia; sayyidina Muhammad Saw, dengan nama-Nya, “Ar-Rahman, Ar-Rahim (Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang). Ar-Rahman merupakan pemberian sisi rububiyyah Allah bagi seluruh makhluk, sedangkan Ar-Rahim merupakan pemberian sisi uluhiyyah Allah yang khusus bagi orang mukmin. Maka Allah Swt telah mengumpulkan pada kita rahmat dari sisi kasih dan rahmat dari sisi sayang, dimana Allah Swt berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ (١)

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Qs. Al Anbiya [21]: 107).

Alam semesta ini meliputi semua makhluk. Setiap dzat yang diayomi oleh Allah sang Pengayom alam semesta akan mendapatkan rahmat Allah bagi alam semesta ini; Rasulullah Saw.

H. Allah juga ber-istiwa diatas Arasy para nabi dengan nama-Nya; “Al Hadi.” Para utusan Allah ini datang dengan membawa petunjuk, meski di tangan mereka pun tidak ada apa-apa; ini sesuai dengan firman-Nya,

لَّيْسَ عَلَيْكَ هُدَتْهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya.” (Qs. Al Baqarah [2]: 272);

Firman Allah Swt lainnya,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Qs. Al Qashash [28]: 56).

Rasulullah Saw bersabda,

إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةٌ أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةٌ

“Sungguh iblis itu menaruh singgasananya diatas air, kemudian air tersebut dialirkan ke selokannya, maka yang paling rendah kedudukannya, dialah yang menanggung fitnah yang cukup besar. “130

I. Ini ada lagi ‘Arasy yang Allah ber-tajalli dengan nama-Nya; “Al Mudhill (Yang Menyesatkan).” Iblis memang diciptakan untuk menyesatkan, namun ditangannya tidak ada apa-apa (tidak memiliki kemampuan untuk menyesatkan).

130 HR. Muslim dalam Shahih-nya.





129 HR. Muslim dalam Shahih-nya.

Allah Swt berfirman,

قُلْ إِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ أَنَابَ )

“Katakanlah, “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertobat kepada-Nya,” (Qs. Ar-Ra’du [13]: 27);

Juga firman-Nya,

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِن يُضِلُّ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ

“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (Qs. An-Nahl [16]: 93).;

Juga firman-Nya,

فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; ” (Qs. Fâthir [35]: 8).

Akan tetapi seyogyanya tidak disebutkan nama Allah;

Al Mudhill (Yang Menyesatkan),” kecuali setalah disebutkan nama, “Al Hadi (Yang Memberi Petunjuk).” Tidak pula nama “Al Dharr (Yang Memberi Mudharat)” kecuali setelah menyebutkan, “An-Nafi’ (Yang Memberi Manfaat).” Hal ini dilakukan sebagai simbol adab dihadapan hadrah Ilahiyyah.

Iblis yang dilaknat Allah Swt mencerca setiap anak keturunan Adam As yang menyeleweng. Jika bukan karena iblis, maka kekhususan bagi orang khusus tidak akan pernah nampak, dari sisi ini Rasulullah Saw bersabda,

لا تَسُبُّوا الشَّيْطَانَ فَإِنَّهُ يَتَغَيَّظَ وَلَكِنْ تَعَوَّذُوْا بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ شَرِّهِ

“Janganlah kalian mencela syeithan, sebab ia akan marah, akan tetapi berta’awudz lah dengan Allah ‘Azza wa jalla dari keburukannya.” 131

Maka tidak ada satu ‘Arasy pun kecuali Allah ber-istiwa diatasnya.

Setiap dari nama-nama Allah memiliki ‘Arasy besar dan Allah telah ber-istiwa diatasnya dengan perantara nama-nama tersebut.

Dimana nama-nama Ilahiyyah tersebut tidaklah ada habisnya sesuai dengan nash yang sangat jelas:

أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ

“Aku memohon pada-Mu dengan setiap nama-Mu, yang Engkau namai Dzatmu dengannya, atau apa yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau apa yang Engkau ajarkan kepada salah seorang makhlukmu, atau apa yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada disisi-Mu.”132

Begitu juga dengan ‘Arasy yang jumlahnya tidak terhitung.

Setiap nama-nama Allah ini berputar pada poros nama Ar-Rahman. Dimana ‘Arasy Ar-Rahman meliputi semua ‘Arasy yang ada.

Di alam ini tidak ada yang lain selain Dzat Allah; Ar-Rahman. Bahkan meskipun beragam kejadian yang nampak, namun sisi nama Allah; Ar-Rahman akan nampak didalamnya.

132 HR. Al Bazzar; Al Khallal; Ath-Thabrani; Ibnu Hibban; Al Hakim, dimana ia men-shahih-kannya; Abu Nu’aim; Al Baihaqi; Abu Ya’la; dan Ibnu Abi Syaibah.

131 HR. Tamman dalam Fawaid-nya.

Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY