You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pondasi Ke-40 : Menjadi Pemaaf

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Pondasi Ke-40 : Menjadi Pemaaf

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِا لْعُرْفِ وَاَ عْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ
khuzil-‘afwa wa-mur bil-‘urfi wa a’ridh ‘anil-jaahiliin

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 199)

Memberikan maaf merupakan akhlak khusus para nabi, akhlak ini merupakan pemberian dari Allah dan tidak bisa diusahakan, ini ditunjukkan dengan redaksi dalam ayat diatas, خُذِ الْعَفْوَ “Jadilah engkau pema’af,” maksudnya ambillah akhlak ini dari-Ku wahai orang yang Kucinta sebagai hadiah berharga untukmu. Sedangkan orang yang berperilaku memaafkan, maka itu belum menjadi sifatnya.

Allah suka pada hamba-Nya yang memiliki akhlak sempurna; Rasulullah Saw, sebagai sosok hamba yang menampakkan sisi nama-Nya, “Al ‘Afwu (Pemaaf),” sehingga Rasulullah Saw penah bersabda,

اذْهَبُوا فَأَنْتُمُ الطَّلَقَاءُ

“Pergilah kalian, maka kalian adalah orang-orang yang bebas, ” (Redaksi haditsnya:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ: مَا تَرَوْنَ أَنِّي فَاعِلٌ فِيكُمْ؟. قَالُوا: خَيْرًا أَخٌ كَرِيمٌ وَابْنُ أَخٍ كَرِيمٍ. قَالَ : اذْهَبُوا فَأَنْتُمُ الطَّلَقَاءُ.

Rasulullah Saw pernah bersabda pada hari pembukaan kota Makkah, “Wahai penduduk Quraisy, terpikirkah oleh kalian tindakan apa yang aku berlakukan pada kalian?” Mereka berkata, “Yang pasti kebaikan tentunya, wahai saudara yang pemurah, anak dari saudara yang pemurah.” Rasulullah bersabda, “Pergilah kalian, maka kalian adalah orang-orang yang bebas.” (HR. Al Baihaqi; Ibnu Ishaq dalam Sirah-nya; Ibnu Sirin dalam Sirah-nya; dan Ibnu Hibban dalam Ats-Tsiqat).


Allah suka pada hambanya yang memiliki akhlak sempurna; Rasulullah Saw, sebagai sosok hamba yang menampakkan sisi nama-Nya, “Al Muntaqim (Pendendam),” sehingga Rasulullah dalam sehari membunuh empat ratus orang dari bani Quraizhah. Maka hati-hatilah terhadap  orang yang pema’af ketika ia menampakkan sisi nama Allah, “Al Muntaqim (Pendendam).” Sebab mereka memberi maaf karena Allah, maka merekapun bisa mendendam karena Allah. (Sesuai dengan sabda Rasulullah Saw:
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّهُ قَالَ: رُمِيَ يَوْمَ الْأَحْزَابِ سَعْدُ بْنُ مُعَادٍ، فَقَطَعُوا أَكْحَلَهُ، فَحَسَمَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنَّارِ، فَانْتَفَخَتْ يَدُهُ، فَتَرَكَهُ فَنَزَفَهُ الدَّمُ، فَحَسَمَهُ أُخْرَى، فَانْتَفَحَتْ يَدُهُ، فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ، قَالَ : اللَّهُمَّ لَا تُخْرِجْ نَفْسِي حَتَّى تُقِرَّ عَيْنِي مِنْ بَنِي قُرَيْظَةَ، فَاسْتَمْسَكَ عِرْقُهُ، فَمَا قَطَرَ قَطْرَةً، حَتَّى نَزَلُوا عَلَى حُكْمِ سَعْدِ بْنِ مُعَادٍ، فَأَرْسَلَ إِلَيْهِمْ: فَقَالَ : تُقْتَلُ رِجَاهُمْ وَتُسْتَحْيِي نِسَاؤُهُمْ وَذِرَارِتُهُمْ، فَغَنِمَ الْمُسْلِمُوْنَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَصَبْتَ حُكْمَ اللهِ فِيهِمْ، وَكَانُوا أَرْبَعَ مِائَةٍ، فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ قَتْلِهِمْ انْفَتَقَ عِرْقُهُ، فَمَاتَ.

Diriwayatkan dari Jabir Ra, ia berkata: Pada perang Ahzab (khandaq) Sa’d bin Mu’adz terkena tombak dibagian urat bahunya, lalu Rasulullah mengobatinya dengan api, lalu tangannya pun bengkak, Rasulullah meninggalkannya dan kondisi darah masih mengalir, orang lain pun langsung mengobatinya dan tangannya pun masih bengkak. Ketika Rasulullah melihat itu, Sa’ad berkata, “Ya Allah, jangan Engkau cabut nyawaku sampai aku menyelesaikan urusanku dengan bani Quraizhah.” Ia pun menahan uratnya itu hingga tidak ada darah yang jatuh sampai keputusan hukum Sa’ad bin Mu’adz selesai, Sa’ad berkata, Para lelaki (dewasa) dibunuh, para wanitanya ditawan dan hartanya dibagi rata. Rasulullah Saw bersabda, “Sungguh engkau telah menghukum dengan hukuman yang ada di atas langit.” Semua lelaki (dewasa) berjumlah 400 orang dan ketika semua lelaki sudah dibunuh, iapun melepaskan urat nadi bagian bahu yang ditutup oleh tangan dan langsung meninggal dunia. (HR. Ahmad; Ad-Darimi; Ibnu Hibban; An-Nasa ‘i; dan Al Baihaqi).

Memang harus ada orang-orang bodoh yang berlebihan kepada para nabi, orang-orang ‘alim dan kepada para wali, ditambah penghiasan kebaikan oleh iblis. Ini merupakan sunnatullah yang sudah ada sejak dahulu kala. Rasulullah Saw bersabda,

إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ

“Sungguh ulama adalah pewaris para nabi.” (Redaksi haditsnya:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ، وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ، وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَبَّةُ الأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلا دِرْهَمَا وَلَكِنْ وَرَثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بحظ وافي.

Diriwayatkan dari Abu Ad-Darda’, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang berjalan pada suatu jalan, yang didalamnya ia menuntut ilmu, niscaya Allah akan jalankan dia pada satu dari sekian banyak jalan surga. Sungguh para malaikat akan menaungi orang yang menuntut ilmu. Sungguh semua yang ada di langit, bumi dan hewan melata yang ada di dalam air meminta ampunan bagi orang ‘alim. Sungguh keutamaan orang yang ‘alim daripada orang yang ahli ibadah, layaknya keutamaan bulan kala purnama dibanding beragam bintang yang ada. Sungguh para ulama adalah pewaris para Nabi, sungguh para nabi tidaklah mewariskan dinar atau dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu, maka orang yang mengambilnya termasuk orang yang mendapatkan kebaikan yang banyak.” (HR. At-Tirmidzi; Ibnu Hibban; Al Baihaqi; Ibnu Majah; dan Abu Daud).

Maka merekapun mewarisi nabi Saw dalam hal pengingkaran terhadap mereka, bahkan juga mewarisi para nabi dalam hal membunuh; seperti yang tertera dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْفُرُوْنَ بِاٰ يٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيّٖنَ بِغَيْرِ حَقٍّ ۙ وَّيَقْتُلُوْنَ الَّذِيْنَ يَأْمُرُوْنَ بِا لْقِسْطِ مِنَ النَّا سِ ۙ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَا بٍ اَ لِيْمٍ
innallaziina yakfuruuna bi-aayaatillaahi wa yaqtuluunan-nabiyyiina bighoiri haqqiw wa yaqtuluunallaziina ya-muruuna bil-qisthi minan-naasi fa basysyir-hum bi’azaabin aliim

“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar) dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, sampaikanlah kepada mereka kabar gembira, yaitu azab yang pedih.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 21)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِا لْعُرْفِ وَاَ عْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ
khuzil-‘afwa wa-mur bil-‘urfi wa a’ridh ‘anil-jaahiliin

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 199)

Allah Swt memerintahkan rasul-Nya untuk berpaling dari orang-orang yang bodoh, yang hasud dan pendengki dan agar sibuk dengan diri sendiri, sebagai bentuk kecemburuan dari Allah terhadap kalbu hamba-Nya yang sholeh, bahkan Allah sudah mempersiapkan pasukannya untuk menolak keburukan orang-orang yang dengki terhadap mereka.

Beragam penyakit, musibah dan cobaan lainnya pun termasuk pasukan-pasukan Allah.

Allah Swt berfirman dalam hadits qudsi:

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

“Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku telah izinkan ia untuk diperangi.” (HR. Al Bukhari dalam Shahih-nya)

Maka siapapun manusia yang menyakiti manusia lain dengan lisan atau tangannya, maka ia telah membuka pintu kebaikan bagi orang tersebut. Orang tersebut bisa saja mengambil kebaikan orang yang telah menyakitinya sesuai yang ia inginkan, hingga habis kebaikan pelaku tersebut, kemudian keburukan yang ada dalam catatan orang shaleh tersebut diambil dan diberikan kepada orang yang menyakitinya. Apabila orang yang shaleh ini tidak memiliki keburukan, maka keburukan pengikut dan muridnyalah yang akan diambil dan ditulis dicatatan keburukan orang yang menyakitinya itu.

Rasulullah Saw bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ ؟. قَالُوا : الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu? para sahabat berkata, “Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak lagi memiliki dirham dan tidak pula memiliki perhiasan,” lalu Rasulullah Saw menimpali dengan sabda beliau, “Orang yang bangkut dari umatku pada hari kiamat adalah orang yang datang dengan membawa pahala sholat, puasa dan zakat mereka, ia datang dan telah mencerca ini dan menuduh itu, memakan harta si fulan dan menumpahkan darah serta memukul itu, maka orang yang ini diberi (pahala) dari kebaikannya, orang itu juga diberi (pahala) dari kebaikannya. Andai kebaikannya itu sudah habis sebelum perbuatannya itu digantikan, maka dosa-dosa mereka (orang yang teraniaya) diambil dan dilemparkan padanya kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya.)

Orang-orang shaleh senantiasa cinta pada orang yang menyakitinya, karena merekalah penyebab datangnya kebaikan yang besar padanya, bahkan orang yang shaleh akan berbicara baik pada orang yang menyakitinya itu, bahkan jika ia tinggal disebuah daerah dan tidak ada yang menyakitinya, ia malah akan pindah ke daerah lainnya.

Jika Allah menghendaki kebaikan pada hamba-Nya, maka ia akan dibiarkan tersakiti meski telah meninggal dunia dan berada di dalam kubur, karena inilah yang menjadi shadaqah jariyah baginya.

Kita sering melihat ada anjing yang menggonggongi manusia, namun kita tidak pemah melihat manusia yang menggonggongi anjing.

Allah Swt memuji orang-orang yang pemaaf, seperti yang tertera dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَا لضَّرَّآءِ وَا لْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَا لْعَا فِيْنَ عَنِ النَّا سِ ۗ وَا للّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ 
allaziina yungfiquuna fis-sarrooo-i wadh-dhorrooo-i wal-kaazhimiinal-ghoizho wal-‘aafiina ‘anin-naas, wallohu yuhibbul-muhsiniin

“(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 134)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيَعْجَرُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكُونَ مِثْلَ أَبِي ضَمْضَمٍ ؟ . قَالُوا: وَمَنْ أَبُو ضَمْضَمٍ؟، قَالَ: رَجُلٌ فِيمَنْ كَانَ مِنْ قَبْلِكُمْ بِمَعْنَاهُ قَالَ : عِرْضِي لِمَنْ شَتَمَنِي.

Rasulullah Saw bersabda, “Tidak mampukah salah seorang dari kalian menjadi seperti Abu Dhamdham? Para sahabat berkata, “Siapa itu Abu Dhamdham wahai Rasulullah,” Rasulullah bersabda, “Seorang lelaki, orang sebelum kalian yang berkata, ‘kehormatanku bagi orang yang mencelaku’,” (HR. Abu Daud.)

Dalam riwayat lain disebutkan:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيَعْجِرُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكُوْنَ كَأَبِي ضَمْضَمْ؟، قَالُوا: وَمَنْ هُوَ أَبُو ضَمْضَمَ ؟، قَالَ: رَجُلٌ كَانَ إِذَا أَصْبَحَ يَقُوْلُ : اللَّهُمَّ إِنِّي قَدْ وَهَبْتُ نَفْسِي وَعِرْضِي فَلَا يَشْتُمُ مَنْ شَتَمَهُ ، وَلَا يَظْلِمُ مَنْ ظَلَمَهُ ، وَلَا يَضْرِبُ مَنْ ضَرَبَهُ

Rasulullah Saw bersabda, “Tidak mampukah salah seorang dari kalian untuk menjadi seperti Abu Dhamdham,” para sahabat berkata, “Siapa itu Abu Dhamdham?” Rasulullah bersabda, “Seorang lelaki yang dipagi hari berkata, ‘Ya Allah, sungguh aku telah menghibahkan kehormatan dan jiwaku, maka dia pun tidak mencela orang yang mencelanya (mencela kehormatan dan jiwanya), tidak menzhalimi orang yang menzhaliminya dan tidak memukul orang yang memukulnya’.” (HR. Al Bazzar; Ath-Thabrani dalam Makarim al Akhlaq, Ibnu As-Sunni dalam Amal al Yaum wal-Lailah.)

Diriwayatkan dari ‘Aun, ia berkata: Abu Ad-Darda berkata, “Apabila engkau mencela manusia, maka merekapun akan melakukan yang demikian padamu, namun andai engkau tinggalkan mereka, maka merekapun tidak akan meninggalkanmu. Dia berkata:” Lantas apa yang engkau perintahkan untukku?” Dia berkata, “Pinjamkanlah dari kehormatanmu untuk hari kefakiranmu.” (HR. Abu Daud dalam Az-Zuhd, Ibnu Abi Syaibah; Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyqa, Ibnu Hajar berkata dalam Al Mathalib Al Aliyah, “Sanadnya shahih dan seluruh periwayatnya tsiqat.“)

Maksudnya adalah, jika ada orang yang mencela dan mencercamu, maka jangan engkau balas perbuatan itu, jadikanlah perbuatan orang itu sebagai pinjamanmu yang dibayar nanti, agar ia membayarnya saat engkau membutuhkannya di hari kiamat.

Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY