You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pondasi Ke-42 : Tajalli

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Pondasi Ke-42 : Tajalli

Allah Swt ber-tajalli pada hamba-Nya dengan asma`-Nya, sifat-Nya dan juga dengan dzat-Nya.

Mengenai tajalli dengan ragam nama-nama Allah dan sifat-Nya; maka hal ini dibatasi dengan setiap batasan yang ada, Dia nampak pada setiap penampakan yang ada, dapat diukur dengan setiap ukuran, terikat dengan waktu, tempat dan kemungkinan terjadinya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَلَمَّاۤ اَتٰٮهَا نُوْدِيَ مِنْ شَا طِیٴِ الْوَا دِ الْاَ يْمَنِ فِى الْبُقْعَةِ الْمُبٰرَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ اَنْ يّٰمُوْسٰۤى اِنِّيْۤ اَنَا اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ 
fa lammaaa ataahaa nuudiya ming syaathi-il-waadil-aimani fil-buq’atil-mubaarokati minasy-syajaroti ay yaa muusaaa inniii anallohu robbul-‘aalamiin

“Maka ketika dia (Musa) sampai ke (tempat) api itu, dia diseru dari (arah) pinggir sebelah kanan lembah, dari sebatang pohon, di sebidang tanah yang diberkahi, “Wahai Musa! Sungguh, Aku adalah Allah, Tuhan seluruh alam!”
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 30)

Batasan yang dimaksud adalah tempat kejadian itu, hal ini untuk menunjukkan bahwa nabi Musa As mendengar dari sifat bicaranya, dia tidak mendengar dari Dzat yang berbicara. Sebab, mendengar dari Dzat yang berbicara adalah tajalli Dzat-Nya Allah, yang nabi Musa As tidak mampu akan hal itu.

Tajalli dengan sifat-Nya Allah dapat disimpulkan dengan adanya sisi dan juga tempat kejadian, adanya tambahan dan kekurangan serta ada yang dinisbatkan dan juga suara.

Ketika kondisi Taurat dan Injil merupakan bagian dari tajalli sifat, maka keduanya pun tersusupi perubahan, penyelewengan dan penggantian.

Sedangkan tajalli dzat, maka hal ini terlepas dari bagaimana caranya, dimana, kapan waktunya, dimana tempatnya, iapun tidak bisa dirubah dan diganti, seperti Al Qur’an misalnya, ia bersifat dzati, dimana sesuatu yang sifatnya dzati mengindikasikan ketetapan (tidak berubah muatannya). Oleh karenanya, Al Qur’an belum dirubah dan tidak bisa dirubah sampai kapanpun; sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِ نَّا لَهٗ لَحٰـفِظُوْنَ
innaa nahnu nazzalnaz-zikro wa innaa lahuu lahaafizhuun

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.”
(QS. Al-Hijr 15: Ayat 9)

Hanya Rasulullahlah yang Allah khususkan dengan tajalli dzati, beliau mendengarkan percakapan dari Dzat yang berbicara, dimana wahyu pun bisa beliau dapatkan dari segala sesuatu, bahkan bisa beliau dapatkan dari dalam jiwa beliau, dari alam yang ada disekitar beliau, tidak ada yang mengetahui seluk-beluk hal ini kecuali Allah Swt, sehingga perkara ini tidak terikat dengan tempat dan juga waktu.

Sementara nabi Musa As, dia mengetahui bahwa ada tongkat ditangannya, sampai beliau berkata; (yang diabadikan dalam Al Qur’an), Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَ هِيَ عَصَايَ ۚ اَتَوَكَّؤُا عَلَيْهَا وَاَ هُشُّ بِهَا عَلٰى غَـنَمِيْ وَلِيَ فِيْهَا مَاٰ رِبُ اُخْرٰى
qoola hiya ‘ashooy, atawakka-u ‘alaihaa wa ahusysyu bihaa ‘alaa ghonamii wa liya fiihaa ma-aaribu ukhroo

“Dia (Musa) berkata, “Ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya, dan aku merontokkan (daun-daun) dengannya untuk (makanan) kambingku, dan bagiku masih ada lagi manfaat yang lain.””
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 18)

Ada perbedaan yang cukup mencolok antara kedua kondisi ini:

1. Nabi Musa As mendengar percakapan tersebut sebanyak tiga kali:

Pertama, Ketika beliau pulang dari Madyan, beliau telah dipilih dan diutus tanpa perlu meminta dan berusaha mendapatkannya.

Kedua, Ketika Allah menjanjikannya; yaitu setelah beliau melakukan khalwat (menyendiri) selama empat puluh hari. Ini terjadi setelah beliau melakukan suluk, riyadhah dan juga tarbiyah.

Ketiga, ketika beliau ditemani oleh tujuh puluh orang dari kaumnya, yaitu ketika mereka pergi memohonkan ampunan untuk Bani Isra`il lantaran mereka menyembah patung anak sapi.

Maka setiap kali nabi Musa As mendengar percakapan Ilahiyyah, beliau mendengarnya dari sisi luar.

2. Sementara pada Rasulullah Saw, maka beliau mendengarnya melalui tajalli dzati, yang tidak terbatasi dengan waktu, tidak pula tempat, bahkan Rasulullah Saw telah mendengar percakapan Ilahiyyah sejak zaman azali hingga akhir nanti.

عَنْ مَيْسَرَةَ الْفَجْرِ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَتَى كُنْتَ نَبِيًّا؟ قَالَ : وَآدَمُ بَيْنَ الرُّوحِ وَالْحَسَدِ.

Diriwayatkan dari Maisarah Al Fakh, ia berkata: Aku berkata kepada Rasulullah Saw, “Kapan baginda telah menjadi nabi?” Beliau bersabda, “Sejak Adam masih ada diantara ruh dan jasad.” (HR. Ath-Thabrani; Ahmad; Al Hakim, dimana la menilainya shahih dan Adz-Dzahabi mengakuinya.)

Tidak ada kenabian kecuali hal itu terjadi melalui pendengaran, terkadang kondisinya pun sangat berat, bahkan gunung pun tidak mampu menanggungnya, ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰ نَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَ يْتَهٗ خَا شِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ۗ وَتِلْكَ الْاَ مْثَا لُ نَضْرِبُهَا لِلنَّا سِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ
lau angzalnaa haazal-qur-aana ‘alaa jabalil laro-aitahuu khoosyi’am mutashoddi’am min khosy-yatillaah, wa tilkal-amsaalu nadhribuhaa lin-naasi la’allahum yatafakkaruun

“Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.”
(QS. Al-Hasyr 59: Ayat 21)

Ketika Allah ber-tajalli pada Musa As untuk kedua kalinya dengan tajalli yang luapan cahayanya lebih terang dari sebelumnya, dimana nabi Musa As pun rindu dan ingin sekali melihat Allah Swt, maka yang terjadi seperti yang digambarkan dalam Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

وَلَمَّا جَآءَ مُوْسٰى لِمِيْقَا تِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗ ۙ قَا لَ رَبِّ اَرِنِيْۤ اَنْظُرْ اِلَيْكَ ۗ قَا لَ لَنْ تَرٰٮنِيْ وَلٰـكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَـبَلِ فَاِ نِ اسْتَقَرَّ مَكَا نَهٗ فَسَوْفَ تَرٰٮنِيْ ۚ فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ اَفَا قَ قَا لَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَ نَاۡ اَ وَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ
wa lammaa jaaa-a muusaa limiiqootinaa wa kallamahuu robbuhuu qoola robbi ariniii angzhur ilaiik, qoola lang taroonii wa laakiningzhur ilal-jabali fa inistaqorro makaanahuu fa saufa taroonii, fa lammaa tajallaa robbuhuu lil-jabali ja’alahuu dakkaw wa khorro muusaa sho’iqoo, fa lammaaa afaaqo qoola sub-haanaka tubtu ilaika wa ana awwalul-mu-miniin

“Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” (Allah) berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 143)

Meskipun nabi Musa As mampu pada tajalli kalam (berupa mendengar percakapan), namun beliau belum mampu pada tajalli ru’yah (berupa melihat secara langsung), sementara Rasulullah Saw pernah bersabda,

رَأَيْتُ رَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى

“Aku telah melihat Rabbku tabaraka wa ta’ala.”(HR Ahmad dalam Musnad-nya.)

Nabi Musa As mendengar percakapan tersebut dari luar dirinya, sedangkan Rasulullah Saw mendengar bahkan melihat Allah secara langsung, dari sini nampak bahwa Rasulullah Saw lebih sempurna, bahkan sampai Allah berfirman pada hak Rasulullah,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَلَمْ تَقْتُلُوْهُمْ وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ قَتَلَهُمْ ۖ وَمَا رَمَيْتَ اِذْ رَمَيْتَ وَ لٰـكِنَّ اللّٰهَ رَمٰى ۚ وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِيْنَ مِنْهُ بَلَآ ءً حَسَنًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
fa lam taqtuluuhum wa laakinnalloha qotalahum wa maa romaita iz romaita wa laakinnalloha romaa, wa liyubliyal-mu-miniina min-hu balaaa-an hasanaa, innalloha samii’un ‘aliim

“Maka (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka, dan bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 17)

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala lainnya,

اِنَّ الَّذِيْنَ يُبَايِعُوْنَكَ اِنَّمَا يُبَايِعُوْنَ اللّٰهَ ۗ يَدُ اللّٰهِ فَوْقَ اَيْدِيْهِمْ ۚ فَمَنْ نَّكَثَ فَاِ نَّمَا يَنْكُثُ عَلٰى نَفْسِهٖ ۚ وَمَنْ اَوْفٰى بِمَا عٰهَدَ عَلَيْهُ اللّٰهَ فَسَيُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا
innallaziina yubaayi’uunaka innamaa yubaayi’uunalloh, yadullohi fauqo aidiihim, fa man nakasa fa innamaa yangkusu ‘alaa nafsih, wa man aufaa bimaa ‘aahada ‘alaihulloha fa sayu-tiihi ajron ‘azhiimaa

“Bahwa orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka, maka barang siapa melanggar janji, maka sesungguhnya dia melanggar atas (janji) sendiri; dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan memberinya pahala yang besar.”
(QS. Al-Fath 48: Ayat 10)

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala lainnya,

مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَا عَ اللّٰهَ ۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا 
may yuthi’ir-rosuula fa qod athoo’alloh, wa mang tawallaa fa maaa arsalnaaka ‘alaihim hafiizhoo

“Barang siapa menaati Rasul (Muhammad) maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barang siapa berpaling (dari ketaatan itu) maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 80)

Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY