You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pondasi Ke-43 : Pandangan dan Percakapan

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Pondasi Ke-43 : Pandangan dan Percakapan

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَوٰعَدْنَا مُوْسٰى ثَلٰثِيْنَ لَيْلَةً وَّاَتْمَمْنٰهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيْقَا تُ رَبِّهٖۤ اَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً ۚ وَقَا لَ مُوْسٰى لِاَ خِيْهِ هٰرُوْنَ اخْلُفْنِيْ فِيْ قَوْمِيْ وَاَ صْلِحْ وَلَا تَتَّبِعْ سَبِيْلَ الْمُفْسِدِيْنَ
wa waa’adnaa muusaa salaasiina lailataw wa atmamnaahaa bi’asyring fa tamma miiqootu robbihiii arba’iina lailah, wa qoola muusaa li-akhiihi haaruunakhlufnii fii qoumii wa ashlih wa laa tattabi’ sabiilal-mufsidiin

“Dan Kami telah menjanjikan kepada Musa (memberikan Taurat) tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan Musa berkata kepada saudaranya (yaitu) Harun, “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah (dirimu dan kaummu), dan janganlah engkau mengikuti jalan orang-orang yang berbuat kerusakan.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 142)

Janji itu dibuat antara dua orang yang saling mencinta, sedangkan menunggu itu terkait dengan dua pihak.

Maka posisinya adalah maqam kecintaan dan pembuktiannya tidak ada kesulitan dan juga beban.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَمَّا جَآءَ مُوْسٰى لِمِيْقَا تِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗ ۙ قَا لَ رَبِّ اَرِنِيْۤ اَنْظُرْ اِلَيْكَ ۗ قَا لَ لَنْ تَرٰٮنِيْ وَلٰـكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَـبَلِ فَاِ نِ اسْتَقَرَّ مَكَا نَهٗ فَسَوْفَ تَرٰٮنِيْ ۚ فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ اَفَا قَ قَا لَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَ نَاۡ اَ وَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ
wa lammaa jaaa-a muusaa limiiqootinaa wa kallamahuu robbuhuu qoola robbi ariniii angzhur ilaiik, qoola lang taroonii wa laakiningzhur ilal-jabali fa inistaqorro makaanahuu fa saufa taroonii, fa lammaa tajallaa robbuhuu lil-jabali ja’alahuu dakkaw wa khorro muusaa sho’iqoo, fa lammaaa afaaqo qoola sub-haanaka tubtu ilaika wa ana awwalul-mu-miniin

“Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” (Allah) berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 143)

Tajalli bermakna penyerupaan dan turun tingkatan gambarannya, dimana yang nampak bukanlah Dzat Allah yang hakiki.

Macam-macam tajalli:

Pertama, Tajalli Rububiyyah, Rasulullah Saw bersabda,

رَأَيْتُ رَبِّي فِي أَحْسَنِ صُورَةٍ

“Aku telah melihat Rabb-ku dalam gambaran yang paling baik. ” (HR. Ad-Darimi; At-Tirmidzi; Al Bazzar; Abu Ya’la; Ad-Daruquthni; Ath-Thabrani; dan Ibnu Khuzaimah.)

Kedua, Tajalli Uluhiyyah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ يُبَايِعُوْنَكَ اِنَّمَا يُبَايِعُوْنَ اللّٰهَ ۗ يَدُ اللّٰهِ فَوْقَ اَيْدِيْهِمْ ۚ فَمَنْ نَّكَثَ فَاِ نَّمَا يَنْكُثُ عَلٰى نَفْسِهٖ ۚ وَمَنْ اَوْفٰى بِمَا عٰهَدَ عَلَيْهُ اللّٰهَ فَسَيُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا
innallaziina yubaayi’uunaka innamaa yubaayi’uunalloh, yadullohi fauqo aidiihim, fa man nakasa fa innamaa yangkusu ‘alaa nafsih, wa man aufaa bimaa ‘aahada ‘alaihulloha fa sayu-tiihi ajron ‘azhiimaa

“Bahwa orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka, maka barang siapa melanggar janji, maka sesungguhnya dia melanggar atas (janji) sendiri; dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan memberinya pahala yang besar.”
(QS. Al-Fath 48: Ayat 10)

Ketiga, Tajalli Dzati, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَاِ نَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّا رِ وَاُ دْخِلَ الْجَـنَّةَ فَقَدْ فَا زَ  ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا مَتَا عُ الْغُرُوْرِ
kullu nafsing zaaa-iqotul mauut, wa innamaa tuwaffauna ujuurokum yaumal-qiyaamah, fa mang zuhziha ‘anin-naari wa udkhilal-jannata fa qod faaz, wa mal-hayaatud-dun-yaaa illaa mataa’ul-ghuruur

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 185)

Terkait dengan Dzat Allah, ada tajalli dzati.

Terkait sisi Ketuhanan, ada tajalli uluhiyyah.

Terkait sisi Pengayoman, ada tajalli rububiyyah.

Sementara baik Dzat, Ilah dan Rabb, maka hakekatnya tidak bisa kita ketahui.

Tajalli ini selalu terjadi sesuai kadar orang yang diberikan kekhususan ini.

Tajalli orang kafir tidak sama dengan tajalli orang mukmin.

Tajalli yang terjadi pada para wali tidak sama dengan tajalli para nabi.

Tajalli yang terjadi pada para utusan Allah tidak sama dengan tajalli yang terjadi pada Rasulullah Saw.

Satu tetes bagian dari tajalli Rasulullah Saw, hal tersebut cukup bagi semua nabi.

Satu tetes bagian dari tajalli seorang nabi cukup bagi semua wali.

Satu tetes bagian dari tajalli seorang wali cukup bagi semua orang mukmin.

Satu tetes bagian dari tajalli seorang mukmin cukup bagi semua orang kafir.

Musyahadah: Tajalli orang yang menyaksikan dengan kalbunya, semua alam yang ada ini adalah beragam hal yang dapat disaksikan.

Kasyaf: Pemastian diri orang yang menyaksikan Allah dengan beragam sifat Rububiyyah disaat ia menyaksikannya.

Contoh yang paling sederhana adalah, apabila engkau telah melihat bunga, maka engkau telah menyaksikan bunga itu nampak benar keberadaannya.

Sedangkan jika Allah tampakkan padamu dengan tajalli sifat dan nama-Nya pada bunga tersebut, maka engkau adalah orang yang memiliki kasyaf.

Setiap orang yang diberi anugerah kasyaf ini adalah orang yang bisa menyaksikan sisi tajalli Allah, namun tidak semua orang yang bisa menyaksikan sisi tajalli Allah adalah orang yang Allah beri anugerah kasyaf.

Ru’yah dan Nazhar: Didalamnya hanya ada fana

tanpa kata, yang ada adalah lebur, pingsan dan tak sadarkan diri. Oleh karena itu Nabi Musa As berkata yang diabadikan dalam Al Qur’an, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَمَّا جَآءَ مُوْسٰى لِمِيْقَا تِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗ ۙ قَا لَ رَبِّ اَرِنِيْۤ اَنْظُرْ اِلَيْكَ ۗ قَا لَ لَنْ تَرٰٮنِيْ وَلٰـكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَـبَلِ فَاِ نِ اسْتَقَرَّ مَكَا نَهٗ فَسَوْفَ تَرٰٮنِيْ ۚ فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ اَفَا قَ قَا لَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَ نَاۡ اَ وَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ
wa lammaa jaaa-a muusaa limiiqootinaa wa kallamahuu robbuhuu qoola robbi ariniii angzhur ilaiik, qoola lang taroonii wa laakiningzhur ilal-jabali fa inistaqorro makaanahuu fa saufa taroonii, fa lammaa tajallaa robbuhuu lil-jabali ja’alahuu dakkaw wa khorro muusaa sho’iqoo, fa lammaaa afaaqo qoola sub-haanaka tubtu ilaika wa ana awwalul-mu-miniin

“Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” (Allah) berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 143)

dan tidak mengatakan, “Saksikanlah (Dzat-Mu) untukku.” Sebab, nabi Musa sejatinya senantiasa menyaksikan Allah Swt.

Munajat: Percakapan tanpa menyaksikan.

Nabi Musa As ingin menyatukan antara melihat Allah dan bermunajat pada-Nya pada satu waktu, padahal itu merupakan tindakan yang sewenang-wenang dan perlu banyak pembuktian dihadapan firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَنِ اقْذِفِيْهِ فِى التَّا بُوْتِ فَا قْذِفِيْهِ فِى الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِا لسَّا حِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِّيْ وَعَدُوٌّ لَّهٗ ۗ وَاَ لْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَـبَّةً مِّنِّيْ ۚ وَلِتُصْنَعَ عَلٰى عَيْنِيْ 
aniqzi fiihi fit-taabuuti faqzi fiihi fil-yammi falyulqihil-yammu bis-saahili ya-khuz-hu ‘aduwwul lii wa ‘aduwwul lah, wa alqoitu ‘alaika mahabbatam minnii, wa litushna’a ‘alaa ‘ainii

“(yaitu), letakkanlah dia (Musa) di dalam peti, kemudian hanyutkanlah dia ke sungai (Nil), maka biarlah (arus) sungai itu membawanya ke tepi, dia akan diambil oleh (Fir’aun) musuh-Ku dan musuhnya. Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku.”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 39)

Bahkan yang Nabi Musa As lakukan adalah ingin melihat sisi musyahadah Allah pada waktu itu juga, sebagaimana firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَمَّا جَآءَ مُوْسٰى لِمِيْقَا تِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗ ۙ قَا لَ رَبِّ اَرِنِيْۤ اَنْظُرْ اِلَيْكَ ۗ قَا لَ لَنْ تَرٰٮنِيْ وَلٰـكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَـبَلِ فَاِ نِ اسْتَقَرَّ مَكَا نَهٗ فَسَوْفَ تَرٰٮنِيْ ۚ فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ اَفَا قَ قَا لَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَ نَاۡ اَ وَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ
wa lammaa jaaa-a muusaa limiiqootinaa wa kallamahuu robbuhuu qoola robbi ariniii angzhur ilaiik, qoola lang taroonii wa laakiningzhur ilal-jabali fa inistaqorro makaanahuu fa saufa taroonii, fa lammaa tajallaa robbuhuu lil-jabali ja’alahuu dakkaw wa khorro muusaa sho’iqoo, fa lammaaa afaaqo qoola sub-haanaka tubtu ilaika wa ana awwalul-mu-miniin

“Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” (Allah) berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 143)

Ini gambaran tindakan sewenang-wenang nabi Musa As lainnya.

Maka ketika Allah Swt menjawab agar nabi Musa pergi ke tempat yang telah ditentukan, agar beliau tahu bahwa Allah lah yang mengatur waktu, sebagaimana firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَمَّا جَآءَ مُوْسٰى لِمِيْقَا تِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗ ۙ قَا لَ رَبِّ اَرِنِيْۤ اَنْظُرْ اِلَيْكَ ۗ قَا لَ لَنْ تَرٰٮنِيْ وَلٰـكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَـبَلِ فَاِ نِ اسْتَقَرَّ مَكَا نَهٗ فَسَوْفَ تَرٰٮنِيْ ۚ فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ اَفَا قَ قَا لَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَ نَاۡ اَ وَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ
wa lammaa jaaa-a muusaa limiiqootinaa wa kallamahuu robbuhuu qoola robbi ariniii angzhur ilaiik, qoola lang taroonii wa laakiningzhur ilal-jabali fa inistaqorro makaanahuu fa saufa taroonii, fa lammaa tajallaa robbuhuu lil-jabali ja’alahuu dakkaw wa khorro muusaa sho’iqoo, fa lammaaa afaaqo qoola sub-haanaka tubtu ilaika wa ana awwalul-mu-miniin

“Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” (Allah) berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 143)

Kesewenang-wenangan Nabi Musa tatkala menentukan sesuai selera dirinya, maka sikap ini pun terikat dengan pembuktian, dimana pembuktian itulah yang menjadi penyebab nabi Musa As bertobat setelah siuman dari pingsannya, [seperti yang Allah abadikan dalam Al Qur`an],
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَمَّا جَآءَ مُوْسٰى لِمِيْقَا تِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗ ۙ قَا لَ رَبِّ اَرِنِيْۤ اَنْظُرْ اِلَيْكَ ۗ قَا لَ لَنْ تَرٰٮنِيْ وَلٰـكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَـبَلِ فَاِ نِ اسْتَقَرَّ مَكَا نَهٗ فَسَوْفَ تَرٰٮنِيْ ۚ فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ اَفَا قَ قَا لَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَ نَاۡ اَ وَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ
wa lammaa jaaa-a muusaa limiiqootinaa wa kallamahuu robbuhuu qoola robbi ariniii angzhur ilaiik, qoola lang taroonii wa laakiningzhur ilal-jabali fa inistaqorro makaanahuu fa saufa taroonii, fa lammaa tajallaa robbuhuu lil-jabali ja’alahuu dakkaw wa khorro muusaa sho’iqoo, fa lammaaa afaaqo qoola sub-haanaka tubtu ilaika wa ana awwalul-mu-miniin

“Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” (Allah) berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 143)

Rasulullah Saw bersabda,

لَيَقِفَنَّ أَحَدُكُمْ بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ حِجَابٌ وَلَا تُرْجُمَانٌ يُتَرْجِمُ له

“Kelak salah seorang dari kalian yang berdiri dihadapan Allah tanpa adanya penghalang antara diri-Nya dengan Allah, tanpa adanya tirai penghalang dan penerjemah yang dapat menerjemahkan baginya.” (HR. Al Bukhari dalam Shahih-nya.)

Ini berlaku di akhirat nanti, dimana Allah ketika itu menyatukan antara kondisi melihat, berbicara dan juga munajat, tetapi orang-orang yang kafir, maka pada waktu itu mereka terhijab dari Allah, sehingga mereka tidak bisa melihat dan tidak pula bisa berbicara.

Sedangkan kondisi di dunia; maka Allah belum pernah mengumpulkan kondisi melihat dan berbicara kecuali untuk Rasulullah Saw, dan itu terjadi ketika wahyu turun kepada beliau. Rasulullah Saw pernah bersabda, dari Rabbnya ‘Azza wa Jalla, Dia berfirman (dalam hadits qudsi),

تَحَلْتُ إِبْرَاهِيمَ خُلَّتِي، وَكَلَّمْتُ مُوسَى تَكْلِيْمًا، وَأَعْطَيْتُ مُحَمَّدًا كِفَاحًا

“Ibrahim telah Kuberikan jubah-Ku, Aku sudah berbicara dengan Musa, dan Aku berikan pada Muhammad secara kifah.” Seorang lelaki berkata, “Apa yang dimaksud dengan, ‘kifah’?” Rasulullah bersabda, “Maha Suci Allah, arti kifah tidak diketahui oleh orang arab?, Al Kifah artinya berbicara berhadap-hadapan. ” (HR. Ad-Daruquthni dalam Ar-Ru’yah, Abu Abdillah Ar Raudzabani dalam Amali-nya; Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh-nya; As-Suyuthi juga menyebutkannya dalam Al Khasha ‘Is Al Kubra.)

Ketika Nabi Musa As adalah orang pertama yang meminta untuk dapat melihat Allah Swt, maka beliaulah orang pertama yang Allah firmankan padanya, maka beliau pulalah orang yang pertama kali beriman akan firman Allah tersebut. Sebab jika tidak demikian maka sebelum beliaupun sudah ada orang yang beriman,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَمَّا جَآءَ مُوْسٰى لِمِيْقَا تِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗ ۙ قَا لَ رَبِّ اَرِنِيْۤ اَنْظُرْ اِلَيْكَ ۗ قَا لَ لَنْ تَرٰٮنِيْ وَلٰـكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَـبَلِ فَاِ نِ اسْتَقَرَّ مَكَا نَهٗ فَسَوْفَ تَرٰٮنِيْ ۚ فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ اَفَا قَ قَا لَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَ نَاۡ اَ وَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ
wa lammaa jaaa-a muusaa limiiqootinaa wa kallamahuu robbuhuu qoola robbi ariniii angzhur ilaiik, qoola lang taroonii wa laakiningzhur ilal-jabali fa inistaqorro makaanahuu fa saufa taroonii, fa lammaa tajallaa robbuhuu lil-jabali ja’alahuu dakkaw wa khorro muusaa sho’iqoo, fa lammaaa afaaqo qoola sub-haanaka tubtu ilaika wa ana awwalul-mu-miniin

“Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” (Allah) berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 143)

Disaat gunung menjadi titik permulaan Nabi Musa As melihat Allah, gunung itupun dihancurkan. Sebab, gunung adalah tirai penghalang Musa As dengan Allah. Ketika gunung sudah hancur dan tirai penghalang diangkat, Nabi Musa As mulai melihat dan dia langsung pingsan.

Ketika Nabi Musa As sadar diri, ia melihat gunung itu tidak kembali seperti sedia kala. Maka Nabi Musa As pun mengurungkan niatannya itu, sebab Musa As memiliki ruh yang menjaga badannya, sehingga ia bisa kembali sadarkan diri. Sedangkan gunung itu tidak kembali ke bentuk sebelumnya karena tidak memiliki ruh yang mampu membuatnya tegak kembali.

Nabi Musa As merupakan sosok yang mampu memberikan pembuktian yang agung, Sementara Nabi Ibrahim As belum berani mengatakan demikian, sehingga ia berkata dalam Al-Quran Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذْ قَا لَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اَرِنِيْ كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتٰى ۗ قَا لَ اَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۗ قَا لَ بَلٰى وَلٰـكِنْ لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِيْ ۗ قَا لَ فَخُذْ اَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ اِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلٰى كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِيْنَكَ سَعْيًا ۗ وَا عْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
wa iz qoola ibroohiimu robbi arinii kaifa tuhyil-mautaa, qoola a wa lam tu-min, qoola balaa wa laakil liyathma-inna qolbii, qoola fakhuz arba’atam minath-thoiri fa shur-hunna ilaika summaj’al ‘alaa kulli jabalim min-hunna juz-ang summad’uhunna ya-tiinaka sa’yaa, wa’lam annalloha ‘aziizun hakiim

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman, “Belum percayakah engkau?” Dia (Ibrahim) menjawab, “Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap).” Dia (Allah) berfirman, “Kalau begitu, ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu, kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 260)

Allah pun tidak ridha kepada tujuh puluh orang yang telah nabi Musa As pilih, seperti firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

وَاِ ذْ قُلْتُمْ يٰمُوْسٰى لَنْ نُّؤْمِنَ لَـكَ حَتّٰى نَرَى اللّٰهَ جَهْرَةً فَاَ خَذَتْكُمُ الصّٰعِقَةُ وَاَ نْتُمْ تَنْظُرُوْنَ
wa iz qultum yaa muusaa lan nu-mina laka hattaa narolloha jahrotang fa akhozatkumush-shoo’iqotu wa angtum tangzhuruun

“Dan (ingatlah) ketika kamu berkata, “Wahai Musa! Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas,” maka halilintar menyambarmu, sedang kamu menyaksikan.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 55).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَكَتَبْنَا لَهٗ فِى الْاَ لْوَا حِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَّوْعِظَةً وَّتَفْصِيْلًا لِّـكُلِّ شَيْءٍ ۚ فَخُذْهَا بِقُوَّةٍ وَّأْمُرْ قَوْمَكَ يَأْخُذُوْا بِاَ حْسَنِهَا ۗ سَاُ ورِيْكُمْ دَا رَ الْفٰسِقِيْنَ
wa katabnaa lahuu fil-alwaahi ming kulli syai-im mau’izhotaw wa tafshiilal likulli syaii, fa khuz-haa biquwwatiw wa-mur qoumaka ya-khuzuu bi-ahsanihaa, sa-uriikum daarol-faasiqiin

“Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada lauh-lauh (kepingan dari batu atau kayu yang tertulis padanya isi Taurat yang diterima Nabi Musa As sesudah munajat di gunung Thursina) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan untuk segala hal; maka (Kami berfirman), “Berpegang teguhlah kepadanya dan suruhlah kaummu berpegang kepadanya dengan sebaik-baiknya, Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang fasik.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 145)

Allahlah yang menulis lauh nabi Musa dengan tangan-Nya, Diapun menanami surga ‘Adn dengan tangan-Nya (kekuasaan-Nya). (Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda,

إِنَّ اللهَ غَرَسَ جَنَّةَ عَدْنٍ بِيَدِهِ وَزَخْرَفَهَا وَأَمَرَ الْمَلائِكَةَ، فَشَقَّتْ فِيهَا الْأَنْهَارَ فَتَدَلَّتْ فِيْهَا الثَّمَارُ، فَلَمَّا نَظَرَ إِلَى زَهْرَيْهَا وَحُسْنِهَا، قَالَ: وَعِزَّنَى وَجَلالِي وَارْتَفَاعِى فَوْقَ عَرْشِي لَا يُجَاوِرُنِي فِيْكَ بِخَيْلٌ

“Sungguh Allah Tabaraka wa Ta’ala menanami dan menghias surga Adn dengan tangan-Nya (kekuasaan-Nya), Diapun memerintahkan malaikat, sehingga terbelahlah sungai dan buah-buahan pun menyeruak. Ketika Dia melihat hiasan dan keindahannya, Dia berfirman, Demi keperkasaan, keagungan dan ketinggian-Ku, orang yang pelit tidak bertetangga denganmu.” (HR Al Khathib Al Baghdadi).

Diapun menciptakan nabi Adam As dengan tangan-Nya seraya berfirman,

قَا لَ يٰۤـاِبْلِيْسُ مَا مَنَعَكَ اَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۗ اَسْتَكْبَرْتَ اَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَا لِيْنَ
qoola yaaa ibliisu maa mana’aka ang tasjuda limaa kholaqtu biyadayy, astakbarta am kungta minal-‘aaliin

“(Allah) berfirman, “Wahai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan tangan-Ku (kekuasaan-Ku). Apakah kamu menyombongkan diri atau kamu (merasa) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?””
(QS. Sad 38: Ayat 75)

Redaksi, “يَدَيَّ [ tangan,]” disini adalah sisi tajalli Allah dengan sifat tangan, dimana tajalli sifat senantiasa berubah-ubah antara dua hal yang bertentangan, oleh karena itu Taurat pun tersembunyi dan tetap akan tersembunyi.

Sedangkan Al Qur’an, maka ia adalah bentuk tajalli dzati, dimana tajalli dzati mengindikasikan kekokohan dan berkelanjutan sampai kapanpun. Bahkan ketika orang-orang mukmin masuk ke dalam surga, maka sebagian dari mereka ada yang mendengar bacaan Al Qur’an langsung dari Allah, ada juga yang mendengarnya dari Rasulullah Saw. Setiap orang kelak sesuai dengan martabat kedekatan jiwanya.

Maka Al Qur’an adalah tajalli-nya Dzat Allah yang berfirman, sedangkan kitab-kitab lainnya hanya sebatas tajalli kalam. Dan tajalli tulisan adalah sisi sifat-nya Allah.

Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY