
Elsubha.com – Pondasi Ke-44 : Rahasia Kematian
Ada sekelompok orang yang Allah matikan mereka kemudian Allah bangkitkan kembali:
1. Al ‘Aziz
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَوْ كَا لَّذِيْ مَرَّ عَلٰى قَرْيَةٍ وَّ هِيَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوْشِهَا ۚ قَا لَ اَنّٰى يُحْيٖ هٰذِهِ اللّٰهُ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ فَاَ مَا تَهُ اللّٰهُ مِائَةَ عَا مٍ ثُمَّ بَعَثَهٗ ۗ قَا لَ كَمْ لَبِثْتَ ۗ قَا لَ لَبِثْتُ يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۗ قَا لَ بَلْ لَّبِثْتَ مِائَةَ عَا مٍ فَا نْظُرْ اِلٰى طَعَا مِكَ وَشَرَا بِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۚ وَا نْظُرْ اِلٰى حِمَا رِكَ ۗ وَلِنَجْعَلَكَ اٰيَةً لِّلنَّا سِ وَا نْظُرْ اِلَى الْعِظَا مِ كَيْفَ نُـنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوْهَا لَحْمًا ۗ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهٗ ۙ قَا لَ اَعْلَمُ اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
au kallazii marro ‘alaa qoryatiw wa hiya khoowiyatun ‘alaa ‘uruusyihaa, qoola annaa yuhyii haazihillaahu ba’da mautihaa, fa amaatahullohu mi-ata ‘aaming summa ba’asah, qoola kam labist, qoola labistu yauman au ba’dho yauum, qoola bal labista mi-ata ‘aaming fangzhur ilaa tho’aamika wa syaroobika lam yatasannah, wangzhur ilaa himaarik, wa linaj’alaka aayatal lin-naasi wangzhur ilal-‘izhoomi kaifa nungsyizuhaa summa naksuuhaa lahmaa, fa lammaa tabayyana lahuu qoola a’lamu annalloha ‘alaa kulli syai-ing qodiir
“Atau seperti orang yang melewati suatu negeri yang (bangunan-bangunannya) telah roboh hingga menutupi (reruntuhan) atap-atapnya, dia berkata, “Bagaimana Allah menghidupkan kembali (negeri) ini setelah hancur?” Lalu Allah mematikannya (orang itu) selama seratus tahun, kemudian membangkitkannya (menghidupkannya) kembali. Dan (Allah) bertanya, “Berapa lama engkau tinggal (di sini)?” Dia (orang itu) menjawab, “Aku tinggal (di sini) sehari atau setengah hari.” Allah berfirman, “Tidak! Engkau telah tinggal seratus tahun. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, tetapi lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang-belulang). Dan agar Kami jadikan engkau tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Lihatlah tulang-belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka ketika telah nyata baginya, dia pun berkata, “Saya mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 259)
2. Kaum Nabi Musa yang berjumlah tujuh puluh orang.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاِ ذْ قُلْتُمْ يٰمُوْسٰى لَنْ نُّؤْمِنَ لَـكَ حَتّٰى نَرَى اللّٰهَ جَهْرَةً فَاَ خَذَتْكُمُ الصّٰعِقَةُ وَاَ نْتُمْ تَنْظُرُوْنَ
wa iz qultum yaa muusaa lan nu-mina laka hattaa narolloha jahrotang fa akhozatkumush-shoo’iqotu wa angtum tangzhuruun
“Dan (ingatlah) ketika kamu berkata, “Wahai Musa! Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas,” maka halilintar menyambarmu, sedang kamu menyaksikan.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 55)
ثُمَّ بَعَثْنٰكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّکُمْ تَشْكُرُوْنَ
summa ba’asnaakum mim ba’di mautikum la’allakum tasykuruun
“Kemudian, Kami membangkitkan kamu setelah kamu mati agar kamu bersyukur.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 56)
3. Ribuan orang yang lari dari wabah menular.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ دِيَا رِهِمْ وَهُمْ اُلُوْفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ ۖ فَقَا لَ لَهُمُ اللّٰهُ مُوْتُوْا ۗ ثُمَّ اَحْيَاھُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَذُوْ فَضْلٍ عَلَى النَّا سِ وَلٰـكِنَّ اَکْثَرَ النَّا سِ لَا يَشْکُرُوْنَ
a lam taro ilallaziina khorojuu ming diyaarihim wa hum uluufun hazarol-mauti fa qoola lahumullohu muutuu, summa ahyaahum, innalloha lazuu fadhlin ‘alan-naasi wa laakinna aksaron-naasi laa yasykuruun
“Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halamannya, sedang jumlahnya ribuan karena takut mati? Lalu, Allah berfirman kepada mereka, “Matilah kamu!” Kemudian, Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah memberikan karunia kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 243)
Inilah tiga tipe orang yang Allah matikan dan kemudian Allah hidupkan kembali berjumlah 1071 orang, bahkan lebih; yaitu dengan jumlah orang-orang yang dihidupkan oleh nabi Isa As, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
وَرَسُوْلًا اِلٰى بَنِيْۤ اِسْرٰٓءِيْلَ ۙ اَنِّيْ قَدْ جِئْتُكُمْ بِاٰ يَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ ۙ اَنِّيْۤ اَخْلُقُ لَـكُمْ مِّنَ الطِّيْنِ كَهَیْــئَةِ الطَّيْرِ فَاَ نْفُخُ فِيْهِ فَيَكُوْنُ طَيْرًا بِۢاِذْنِ اللّٰهِ ۚ وَاُ بْرِئُ الْاَ كْمَهَ وَا لْاَ بْرَصَ وَاُ حْيِ الْمَوْتٰى بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۚ وَ اُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُوْنَ وَمَا تَدَّخِرُوْنَ ۙ فِيْ بُيُوْتِكُمْ ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰ يَةً لَّـكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
wa rosuulan ilaa baniii isrooo-iila annii qod ji-tukum bi-aayatim mir robbikum anniii akhluqu lakum minath-thiini kahai-atith-thoiri fa angfukhu fiihi fa yakuunu thoirom bi-iznillaah, wa ubri-ul-akmaha wal-abrosho wa uhyil-mautaa bi-iznillaah, wa unabbi-ukum bimaa ta-kuluuna wa maa taddakhiruuna fii buyuutikum, inna fii zaalika la-aayatal lakum ing kungtum mu-miniin
“Dan sebagai rasul kepada Bani Israil (dia berkata), “Aku telah datang kepada kamu dengan sebuah tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah berbentuk seperti burung, lalu aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah. Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahir dan orang yang berpenyakit kusta. Dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah, dan aku beri tahukan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu orang beriman.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 49)
Juga orang mati yang Allah hidupkan kembali pada kisah nabi Musa As, sesuai firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
وَ اِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًا فَا دّٰرَءْتُمْ فِيْهَا ۗ وَا للّٰهُ مُخْرِجٌ مَّا كُنْتُمْ تَكْتُمُوْنَ
wa iz qotaltum nafsang faddaaro’tum fiihaa, wallohu mukhrijum maa kungtum taktumuun
“Dan (ingatlah) ketika kamu membunuh seseorang, lalu kamu tuduh-menuduh tentang itu. Tetapi Allah menyingkapkan apa yang kamu sembunyikan.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 72)
فَقُلْنَا اضْرِبُوْهُ بِبَعْضِهَا ۗ كَذٰلِكَ يُحْيِ اللّٰهُ الْمَوْتٰى ۙ وَيُرِيْکُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ
fa qulnadhribuuhu biba’dhihaa, kazaalika yuhyillaahul-mautaa wa yuriikum aayaatihii la’allakum ta’qiluun
“Lalu Kami berfirman, “Pukullah (mayat) itu dengan bagian dari (sapi) itu!” Demikianlah Allah menghidupkan (orang) yang telah mati dan Dia memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya) agar kamu mengerti.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 73)
Maka kematian bukanlah sesuatu yang sulit, ia bukanlah adzab, ia juga bukan hal yang perlu ditakuti.
Ribuan orang diatas, mereka berlari dari kematian, mereka takut mati, maka Allah pun matikan mereka dengan satu kalimat, maka ketika mereka telah merasakan manisnya kematian dan betapa mudahnya kematian itu, Allahpun menghidupkan mereka kembali, sehingga mereka pun tahu hakekat kematian, maka kini mereka malah berangan-angan dan menganggapnya sebagai keutamaan Allah, bahkan keutamaan yang harus disyukuri, oleh karena itu Allah swt pun mengakhirkan firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ دِيَا رِهِمْ وَهُمْ اُلُوْفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ ۖ فَقَا لَ لَهُمُ اللّٰهُ مُوْتُوْا ۗ ثُمَّ اَحْيَاھُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَذُوْ فَضْلٍ عَلَى النَّا سِ وَلٰـكِنَّ اَکْثَرَ النَّا سِ لَا يَشْکُرُوْنَ
a lam taro ilallaziina khorojuu ming diyaarihim wa hum uluufun hazarol-mauti fa qoola lahumullohu muutuu, summa ahyaahum, innalloha lazuu fadhlin ‘alan-naasi wa laakinna aksaron-naasi laa yasykuruun
“Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halamannya, sedang jumlahnya ribuan karena takut mati? Lalu, Allah berfirman kepada mereka, “Matilah kamu!” Kemudian, Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah memberikan karunia kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 243)
Terkadang mereka mengharapkan kematian dan terkadang mereka pun ingin dibangkitkan.
Setiap orang yang mati dan Allah hidupkan kembali, mereka tidak merasa sama sekali bahwa mereka benar-benar mati, yang mereka rasakan malah kenikmatan yang tiada tara; yaitu nikmat menjalarnya cahaya Dzat Allah yang suci pada dzatnya setelah mampu melepaskan dari letih dan beratnya jasad, iapun merasakan ketenangan yang mutlak dari beban hidup; mulai dari rasa sakit, penyakit, kesengsaraan dan tanggungan hidup. Inilah rahasia kematian yang ditakuti manusia, padahal pada hakekatnya kematian adalah kesabaran dan imajinasi.
Rasulullah Saw bersabda,
وَاللَّهِ لَتَمُوْتُنَّ كَمَا تَنَامُوْنَ، وَلَتُبْعَثُنَّ كَمَا تَسْتَيْقِظُوْنَ
“Demi Allah, niscaya kalian akan mati seperti halnya kalian tidur dan kalian akan dibangkitkan seperti halnya kalian bangun dari tidur. ” (HR. Al Baladzri dalam Ansáb Al Asyraf, Ibnu Al Atsir dalam Al Kamil Ada pula yang mengatakan bahwa Ibnu ‘Asakir meriwayatkannya dalam Tarikh-nya.)
Tidur merupakan waktu yang ditunggu oleh manusia untuk beristirahat dan keselarasan serta penyesuaian, kematian akan seperti ini, tetapi dengan istirahat yang abadi nan penuh dengan cahaya Allah yang suci. Oleh karena itu, pada hari kiamat, kematian akan menyerupai gambaran kambing jinak yang dagingnya enak, yang disembelih diantara surga dan neraka. (HR Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya, dari riwayat Abu Sa’id Al Khudri Ra, ia berkata:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يُؤْتَى بِالْمَوْتِ كَهَيْقَةِ كَيْشٍ أَمْلَحَ، فَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ، فَيَشْرَبُونَ وَيَنْظُرُونَ، فَيَقُولُ: هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، هَذَا الْمَوْتُ، وَكُلُّهُمْ قَدْ رَآهُ ثُمَّ يُنَادِي : يَا أَهْلَ النَّارِ، فَيَشْرَبُونَ وَيَنْظُرُونَ، فَيَقُولُ : هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، هَذَا الْمَوْتُ وَكُلُّهُمْ قَدْ رَآهُ، فَيُذْبَحُ ثُمَّ يَقُولُ: يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ حُلُودٌ فَلَا مَوْتَ، وَيَا أَهْلَ النَّارِ خُلُودٌ فَلَا مَوْتَ، ثُمَّ قَرَأَ (وَأَنذِرْهُمْ يَوْمَ الْمَسْرَةِ إِذْ قُضِيَ الْأَمْرُ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ) وَهَؤُلَاءِ فِي غَفْلَةٍ أَهْلُ الدُّنْيَا وَهُمْ لَايؤْمِنُونَ
Rasulullah Saw bersabda, “Kematian didatangkan layaknya kambing amlah (berwarna putih dengan loreng hitam), maka ada yang memanggil, “Wahai penghuni surga, maka merekapun tertarik dan melihat ke arah sumber suara; suara itu kembali berbunyi, “Apakah kalian mengenal ini?” para penghuni surga berkata, “lya, ini adalah kematian, dan seluruhnya telah melihatnya.” Kemudian ada yang memanggil lagi, “Wahal penghuni neraka, maka merekapun tertarik dan melihat ke arah sumber suara; suara itu kembali terdengar, “Apakah kalian mengenal ini?” para penghuni neraka berkata, ” lya, ini adalah kematian, dan seluruhnya telah melihatnya. Maka kambing itupun disembelih, kemudian diserukan, “Wahai penghuni surga, kekal tanpa kematian, wahai penghuni neraka kekal tanpa kematian, kemudian suara itu berbunyi, “Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (vaitu) ketika segala perkara telah diputus. dan mereka dalam kelalaian (maksudnya mereka dalam kelalaiannya penghuni dunia), dan mereka tidak (pula) beriman” (Qs. Maryam[19]: 39)
Jikalau memang kematian adalah hal yang menakutkan, maka iapun akan diperumpakan dengan singa, atau diperumpakan dengan hewan buas yang ditakuti manusia.
Bayi yang masih ada di perut ibunya mengira bahwa perut ibunya merupakan seluruh kehidupan, ketika detik-detik kelahirannya, ia mengira akan mati, dan iapun menangis. Ketika ia sudah keluar ke alam dunia yang luas ini dan melihat cahaya dan juga kehidupan, maka ia pun tidak ingin lagi masuk ke dalam perut sang ibu sekalipun banyak harta yang sudah dijanjikan. Inilah kondisinya ketika engkau keluar ke dunia ini, engkau mengira bahwa dunia ini adalah seluruh kehidupan itu, engkau tidak tahu bahwa engkau akan pergi ke alam yang luas dan terang benderang; seluas dunia.
Rasulullah Saw bersabda,
النَّوْمُ أَخُوْ الْمَوْتِ
“Tidur itu saudaranya kematian.” (Redaksi haditsnya:
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيَنَامُ أَهْلُ الْجَنَّةِ؟، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : النَّوْمُ أَخُو الْمَوْتِ، وَأَهْلُ الْجَنَّةِ لَا يَنَامُوْنَ.
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah, ia berkata: Rasulullah pernah ditanya, dikatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah penghuni surga itu tidur?” Rasulullah Saw bersabda, “Tidur itu saudaranya kematian dan penghuni surga tidak tidur.” (HR. Ahmad; Ath-Thabrani; Tammam dalam Fawa’id-nya; Al Baihaqi; dan Abu Nu’aim).
Rasulullah Saw menyamakan antara tidur dengan kematian dan membedakannya dalam beberapa kondisi.
Tidur mampu membawa ruhmu dengan penuh ketenangan, rahmat dan kelembutan dari alam dunia menuju alam lain dalam waktu tertentu, kemudian engkau kembali (bangun tidur). Begitu juga dengan kematian, iapun akan membawa ruhmu dengan kondisi yang sama dan juga ke alam yang sama, namun engkau tidak kembali untuk yang kedua kalinya ke dunia yang penuh dengan kegundahan, beban hidup dan lain sebagainya.
Tidaklah orang yang mati syahid berangan-angan, kecuali mereka ingin kembali ke dunia untuk kembali berperang di jalan Allah, kemudian kembali ke alam sana dan kembali ke alam dunia lagi untuk berperang di jalan Allah kembali, hal ini lantaran kematian itu sangatlah mudah. (Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih keduanya dari riwayat Abu Hurairah dari Nabi Saw, beliau bersabda :
انْتَدَبَ اللَّهُ لِمَنْ خَرَجَ فِي سَبِيلِهِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا إِيْمَانٌ بِي وَتَصْدِيقٌ بِرُسُلِي أَنْ أَرْجِعَهُ بِمَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ أَوْ غَنِيمَةٍ أَوْ أُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، وَلَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي مَا فَعَدْتُ خَلْفَ سَرِيَّةٍ ، وَلَوَدِدْتُ أَنِّي أَقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ أَحْيَا ثُمَّ أَقْتَلْ ثُمَّ أَحْيَا ثُمَّ أَقْتَلُ.
“Allah menganjurkan bagi orang yang ingin keluar (berperang) di jalan Allah, hendaknya ia tidak keluar (untuk berperang) kecuali lantaran iman pada-Ku dan percaya pada para utusan-Ku, niscaya Aku akan kembalikan ia dengan apa yang dia dapatkan, baik pahala maupun harta rampasan perang, atau Aku akan masukkan ia ke dalam surga. Seandainya tidak memberatkan umat-Ku, aku tidak akan diam dibelakang pasukan, bahkan betapa senangnya jika aku bisa berperang di jalan Allah dan terbunuh kemudian dihidupkan kembali, lalu terbunuh, kemudian dihidupkan kembali, lalu terbunuh lagi.”)
Kematian bukan hanya mudah, akan tetapi ia memiliki kenikmatan yang memabukkan, yang membuatnya ingin berjoget dan berdendang, sema persis seperti kondisi orang yang sedang mabuk. Oleh karena itu dinamakan dengan sekarat maut, sebagaimana Rasulullah Saw pernah bersabda,
إِنَّ لِلْمَوْتِ لَسَكَرَاتٌ
“Sungguh kematian itu ada sekaratnya.”
Ayat yang paling diharapkan adalah firman Allah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَاِ نَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّا رِ وَاُ دْخِلَ الْجَـنَّةَ فَقَدْ فَا زَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا مَتَا عُ الْغُرُوْرِ
kullu nafsing zaaa-iqotul mauut, wa innamaa tuwaffauna ujuurokum yaumal-qiyaamah, fa mang zuhziha ‘anin-naari wa udkhilal-jannata fa qod faaz, wa mal-hayaatud-dun-yaaa illaa mataa’ul-ghuruur
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 185).
Maka janganlah kalian bersedih, seluruhnya akan merasakan cahaya sisi Jamal-Nya Allah, yang biasa dinamai dengan, “Kematian,” padahal pada hakekatnya adalah kehidupan; yaitu ketika jasadnya merasakan beragam cahaya Allah yang mengalir di jasad, dan engkau bisa melihat seluruhnya tanpa menggunakan mata, engkau bisa mendengar tanpa perlu telinga, engkau bisa terbang meski tak punya sayap, dan kini engkau tidak lagi butuh pada panca indera yang terkungkung oleh waktu, tempat dan kemampuan. Engkau kini bebas secara mutlak setelah sebelumnya engkau terpenjara.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَ جَآءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِا لْحَـقِّ ۗ ذٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيْدُ
wa jaaa-at sakrotul-mauti bil-haqq, zaalika maa kungta min-hu tahiid
“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari.”
(QS. Qaf 50: Ayat 19)
Kematian adalah momentum terindah dalam hidupmu, yang lebih dari kenikmatam lainnya, maka ketika itu pulalah Engkau dapat melihat Rabb-mu, dimana engkau akan melihat Allah dalam kondisi sekarat maut.
Ketika penutup kegelapan diangkat dan Allah ber-tajalli dengan cahaya rabbani, maka seluruh dirimu dapat menjadi mata yang melihat, menjadi mata batin yang terbuka, setelah sebelumnya engkau buta, tidak dapat melihat di kegelapan, tidak melihat apa yang ada di hadapanmu, tidak dapat melihat meski dengan perantara, maka kini engkaupun dapat mendengar dan melihat apapun, dimana semuanya ini merupakan nikmat Allah. (Berubah menjadi seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Saw, Sunguh aku melihat kalian dari sisi belakang, sebagaimana aku melihat kalian (seperti biasanya).”
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْۤا اَمْوَا لَـكُمْ بَيْنَكُمْ بِا لْبَا طِلِ اِلَّاۤ اَنْ تَكُوْنَ تِجَا رَةً عَنْ تَرَا ضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْۤا اَنْـفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ بِكُمْ رَحِيْمًا
yaaa ayyuhallaziina aamanuu laa ta-kuluuu amwaalakum bainakum bil-baathili illaaa ang takuuna tijaarotan ‘ang taroodhim mingkum, wa laa taqtuluuu angfusakum, innalloha kaana bikum rohiimaa
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 29)
Allah kasihan padamu ketika engkau menyakiti diri dan mati, bahkan Allah juga kasihan padamu ketika engkau merasakan sakitnya luka, atau sakitnya racun ketika orang yang ingin membunuhmu memberimu racun seraya berkata, “Aku akan membunuhmu dengan penuh kasih sayang sekalipun kurenggut nyawamu tanpa sebab.”
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَللّٰهُ يَتَوَفَّى الْاَ نْفُسَ حِيْنَ مَوْتِهَا وَا لَّتِيْ لَمْ تَمُتْ فِيْ مَنَا مِهَا ۚ فَيُمْسِكُ الَّتِيْ قَضٰى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَ يُرْسِلُ الْاُ خْرٰۤى اِلٰۤى اَجَلٍ مُّسَمًّى ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰیٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
allohu yatawaffal-angfusa hiina mautihaa wallatii lam tamut fii manaamihaa, fa yumsikullatii qodhoo ‘alaihal-mauta wa yursilul-ukhrooo ilaaa ajalim musammaa, inna fii zaalika la-aayaatil liqoumiy yatafakkaruun
“Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir.”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 42) ; maksudnya adalah tanpa adzab, bahkan tanpa merasakan sakit sedikitpun.
Lantas mengapa engkau malah menyakiti diri?
Rasulullah Saw pernah bersabda,
الْمَوْتُ تُحْفَةُ الْمُؤْمِنِ
“Kematian adalah hadiah bagi orang mukmin, ” (Ad-Dailami dan Ad-Daruquthni meriwayatkan dengan lafazh ini dari riwayat Jabir bin ‘Abdillah Ra secara marfu; Sedangkan Ath-Thabrani dalam Al Kabir dari riwayat Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan secara mauqul dengan lafazh, “Kematian adalah hadiah setiap muslim.”; HR. Ibnu Abl Syaibah dari Abdullah bin Mas’ud secara mauquf.“)
Pembahasan ini merupakan ulasan akhir dari buku ini, yang kepadanyalah para salikin menuju, sehingga ketersambungan seorang salik pada Rabbnya senantiasa terjaga, bahkan dapat menghantarkan pada keterbukaan mata batin, yang dengannya tirai penghalang yang sangat halus antara seorang hamba dengan Tuhannya akan tersingkap dan dengannyalah hamba itu senantiasa bisa menyaksikan Allah pada segala sesuatu yang ada di alam ini.
Akhirnya kamipun memohon kekuatan dan pertolongan pada Allah karena tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah, agar kita mampu meresapi semua ilmu yang telah dikucurkan dalam buku ini dan dimampukan untuk mengaplikasikannya dengan optimal dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kitapun senantiasa wushul pada Allah.
Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY
