You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU
Stock Terbatas Kualitas Terjamin

RELIK PUSAKA BERSEJARAH KAYU BERTUAH WUNGLEN BEKAS PUGARAN CUNGKUP MAKAM SULTAN AGUNG HANYAKRAKUSUMA, MAKAM RAJA MATARAM IMOGIRI UKURAN 19x5x4cm (Simpanan Trah KRT. Mandoyo Negoro, Wirobrajan, Yogyakarta)

Dilihat 59x • Terjual 0

Rp380.000.000

-
+

Untuk pemesanan, silahkan klik tombol di bawah ini:

SMS: 081312340489

Cara Membeli

Silahkan menghubungi kami via SMS di 081312340489 pada perangkat handphone Anda.

×
Telp: 081312340489

Cara Membeli

Silahkan menghubungi kami via Phone di +6281312340489 pada perangkat handphone Anda.

×
@elsubha

Deskripsi

Kayu Wunglen adalah kayu yang berasal dari kerangka (Cungkup) makam Sultan Agung Hanyokrokusumo dan dan tidak terdapat di makam Raja yang lain selain dari makam Sultan Agung walaupun satu komplek di komplek makam raja-raja mataram di Pajimatan Imogiri-Bantul.

Kayunya hitam kemerahan, tenggelam diair bahkan serbuknya juga tenggelam diair, tahan api dan anti rayap. Ciri lain bila disemprot alkohol akan mengeluarkan zat warna merah.

Menurut sejarah kayu Wunglen berasal dari reruntuhan Kerajaan Sriwijaya di palembang, dulu Sultan Agung membawa bagian kayu bekas reruntuhan itu untuk membangun rumah makam utama untuk calon makamnya di bukit Imogiri Bantul, konon yang memikul kayu ini sampai dijawa adalah Pasukan Bergajah.

Tapi namanya juga kayu sesuai takdirnya maka dalam perjalanan waktu terkena panas dan hujan, pada akhirnya kayu dirumah makam inipun ada beberapa yang menyusut dan melengkung. Selain juga karena adanya Perombakan area komplek makam maka dilakukan restorasi pada tahun 1930.

Sebanyak 30 usuk yg kondisinya sudah melengkung diganti dengan kayu yang baru, kayu-kayu bekas usuk itulah yg akhirnya diberikan kepada juru kunci dan abdi dalem yang sekarang disebut kayu wunglen dan disimpan menjadi pusaka turun temurun (relik) oleh anak keturunan abdi dalem tersebut.

Kayu ini diyakini bisa memberi aura positif bagi pemakainya terutama bagi orang yang memegang jabatan memiliki tuah untuk kewibawaan, kelancaran rejeki, keselamatan dan memacu keberanian….., namun tidak ada halangan. untuk dimiliki orang biasa sebagai sarana meningkatkan karier(pangkat dan derajat), kemakmuran, ketentraman, pengasihan, kekayaan dan menjaga keselamatan(anti santet, pelet dll).

Hanya saja pemakai kayu ini diharapkan bisa menahan emosinya karena bila digunakan memukul orang bisa fatal akibatnya…..!!!.

Kayu wunglen dipercayai sebagai salah satu wasilah/pengantar Sultan Agung untuk memberikan pertolongan.

Menurut cerita, kayu wunglen ini peninggalan Kanjeng Sultan yang dianggap keramat. Kayu tersebut dapat dijadikan untuk menjaga badan dari gangguan sesuatu yang ghaib, dapat menambah kewibawaan serta dapat juga menyembuhkan orang sakit.

Pemakaman kerajaan terdahulu berada di Pasarean Mataram. yakni berada di Kota Gede Sayangan, Jagalan, Kecamatan. Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sedangkan Astana Pajimatan Himagiri dibangun di atas bukit Merak oleh Kanjeng Sinuwun Sri Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo (1613-1645) pada dekade keempat abad ke-17, pembangunannya dimulai pada tahun 1632.

Pembangunan kompleks Astana Pajimatan Himagiri dipimpin oleh Kanjeng Raden Kiai Tumenggung Citrokusumo, arsitekturnya merupakan perpaduan budaya Jawa – Hindu. Struktur bangunan yang berada di area pemakaman merupakan ciri utama arsitektur Jawa pra-Islam. Kompleks pemakaman ini terletak di sebuah bukit yang bernama Merak dengan ketinggian sekitar 100 meter di atas permukaan laut.

Sebelum membangun pemakaman baru di bukit Merak, Sultan Agung awalnya memerintahkan membangun kembali pemakaman di Girilaya, yang merupakan tempat pemakaman keluarganya. Orang yang dipercaya untuk membangun pemakaman tersebut adalah Kanjeng Panembahan Juminah yang merupakan paman Sultan Agung. Setelah pembangunan tersebut selesai, Panembahan Juminah wafat. Untuk menghormati jasanya, maka Sultan Agung memerintahkan agar pamannya dimakamkan di Girilaya.

Adapun tokoh yang dimakamkan di Astana Girilaya adalah Ki Ageng Giring, Ki Ageng Sentong, Kanjeng Panembahan Girilaya (mertua Sultan Agung), Kanjeng Ratu Ageng Banawati (ibu Sultan Agung) dan Panembahan Juminah (paman Sultan Agung). Oleh karena Girilaya telah digunakan sebagai tempat pemakaman keluarga, Sultan Agung berencana membangun pemakaman untuk keturunannya di bukit Merak yang berada di selatan Girilaya.

Pemilihan bukit Merak sebagai lokasi pemakaman tidak dapat dilepaskan dari konsep masyarakat Jawa yang memandang gunung dan bukit atau dataran yang lebih tinggi sebagai suatu tempat yang sakral dan menjadi penghubung manusia kepada tuhan. Bukit Merak dipercaya memiliki kekuatan magis dan sakral. Hal tersebut sebagai konstruksi intelektual yang dibentuk untuk memenuhi kebutuhan manusia terhadap hal-hal yang bersifat religius.

Sultan Agung wafat pada tahun 1646 dan menjadi raja pertama yang dimakamkan di Astana Pajimatan Himagiri, kemudian penerus wangsa Mataram dan keturunannya juga turut dimakamkan di sini. Hingga pasca Perjanjian Giyanti pada tahun 1755, yang membagi Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta, maka raja, keluarga keturunan dan kerabatnya dimakamkan di Astana Pajimatan Himagiri. Di sisi barat menjadi lokasi pemakaman raja-raja dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, sedangkan di sisi timur menjadi lokasi pemakaman raja-raja dari Keraton Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat.

Astana Pajimatan Himagiri termasuk jaringan tradisi ziarah masyarakat Jawa ke lokasi makam-makam leluhur. Hal ini menjadikan pemakaman ini sebagai salah satu destinasi utama wisata religi yang umum dilakukan oleh masyarakat Jawa. Kompleks pemakaman ini dikelola oleh Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta dengan menempatkan para abdi dalem yang menjaga pemakaman dan dikelola secara bersama.

Ulasan

Belum ada ulasan.

Jadilah yang pertama memberikan ulasan “RELIK PUSAKA BERSEJARAH KAYU BERTUAH WUNGLEN BEKAS PUGARAN CUNGKUP MAKAM SULTAN AGUNG HANYAKRAKUSUMA, MAKAM RAJA MATARAM IMOGIRI UKURAN 19x5x4cm (Simpanan Trah KRT. Mandoyo Negoro, Wirobrajan, Yogyakarta)”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *