
Elsubha.com – Sifat Murid Tijany 22. Al Jüd was-Sakha’
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا لَّذِيْنَ تَبَوَّؤُ الدَّا رَ وَا لْاِ يْمَا نَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَا جَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَا جَةً مِّمَّاۤ اُوْتُوْا وَيُـؤْثِرُوْنَ عَلٰۤى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَا نَ بِهِمْ خَصَا صَةٌ ۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَـفْسِهٖ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
wallaziina tabawwa-ud-daaro wal-iimaana ming qoblihim yuhibbuuna man haajaro ilaihim wa laa yajiduuna fii shuduurihim haajatam mimmaaa uutuu wa yu-siruuna ‘alaaa angfusihim walau kaana bihim khoshooshoh, wa may yuuqo syuhha nafsihii fa ulaaa-ika humul-muflihuun
“Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Al-Hasyr 59: Ayat 9)
Dalam hadits Nabi Saw disebutkan,
السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنَ اللَّهِ، قَرِيبٌ مِنَ الجَنَّةِ، قَرِيبٌ مِنَ النَّاسِ، بَعِيدٌ مِنَ النَّارِ، وَالبَخِيْلُ بَعِيدٌ مِنَ اللَّهِ، بَعِيدٌ مِنَ الْجَنَّةِ، بَعِيدٌ مِنَ النَّاسِ، قَرِيبٌ مِنَ النَّارِ، وَالْجَاهِلُ السَّخِيُّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْعَابِدِ الْبَخِيْلِ
“Orang yang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga dan jauh dari neraka. Dan orang yang bakhil itu jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga dan dekat dengan neraka. Seorang bodoh yang dermawan lebih Allah ‘Azza wa Jalla sukai daripada seorang hamba yang bakhil.” (HR. At-Tirmidzi dari riwayat Abu Hurairah).
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu An-Najjar dari hadits Ibnu Abbas, disebutkan,
السَّحَاءُ خُلُقُ اللَّهِ الْأَعْظَمُ
“Kedermawanan adalah akhlaknya Allah yang paling agung.”
Dalam hadits Ad-Daruquthni pada Al Afrad dan Al Baihaqi dari riwayat Ali Kw disebutkan,
السَّحَاءُ شَجَرَةٌ مِنْ أَشْجَارِ الْجَنَّةِ، أَغْصَانُهَا مُتَدَلِّيَاتٌ فِي الدُّنْيَا، فَمَنْ أَخَذَ بِغُصْنٍ مِنْهَا قَادَهُ ذَلِكَ الْغُصْنُ إِلَى الجَنَّةِ، وَالْبُخْلُ شَجَرَةٌ مِنْ أَشْجَارِ النَّارِ، أَغْصَانُهَا مُتَدَلِّيَاتٌ فِي الدُّنْيَا، فَمَنْ أَخَذَ بِغُصْنٍ مِنْهَا قَادَهُ ذَلِكَ الْغُصْنُ إِلَى النَّارِ
“Kedermawanan adalah satu dari pepohonan surga, rantingnya menjulur di dunia, siapa yang mengambil sebagiannya saja, maka ranting tadi akan menggiring-nya ke surga. Kebakhilan juga merupakan satu dari pepohonan neraka rantingnya menjulur di dunia, siapa yang mengambil sebagiannya saja, maka ranting tadi akan menggiringnya ke neraka.’
Pakar ilmu tidak membedakan antara kedermawanan dan kemurahan hati, dimana hakekat kedermawanan adalah tidak sulit mengerahkan harta yang dimiliki.
Ada pula ulama lain yang mengatakan, “Kedermawanan adalah jawaban dari detikan jiwa yang pertama kali.”
‘Abdullah bin Al Mubarak pernah mengatakan, “Kedermawanan jiwa adalah mengerjakan apa yang ada di tangan manusia dan itu lebih baik dari kedermawanan jiwa itu sendiri.”
