
Elsubha.com – Sifat Murid Tijany 21. Al Farasah
Secara etimologi Al Farâsah (firasat) diartikan: Kepastian dan penglihatan.
Menurut epistimologi kaum sufi, firasat dimaknai: Tersingkapnya keyakinan dan melihat perkara ghaib dengan kasat mata.
Ada ulama yang mengatakan, “Firasat adalah sebuah detikan jiwa yang menghujam kalbu, ia mengabarkan perkara yang bertentangan, dimana firasat mampu menghukumi kalbu sesuai dengan kuat-nya iman dalam diri, setiap kali iman seorang lebih kuat, maka firasatnya pun akan lebih benar.”
Ulama lain mengatakan, “Orang yang melihat dengan cahaya firasat, ia sejatinya melihat dengan cahaya Allah Swt, dimana materi ilmunya itu langsung dari Allah Swt tanpa ada yang dilupakan atau dilalaikan; wujudnya adalah hikmah dari Allah Swt yang Dia keluarkan dari lisan hamba tersebut.”
Al Washithi pernah mengatakan, “Sungguh firasat itu adalah kilatan cahaya yang menyinari kalbu dan menetapnya sebuah pengetahuan yang membawa ragam rahasia dari sisi ghaib, yaitu dari sisi ghaib (Allah) ke sisi ghaib lainnya hingga yang bersangkutan mampu menyaksikan beragam perkara yang Allah Swt sendiri tampakkan kepadanya dan dia menyampaikannya dengan bahasa makhluk (manusia).”
Sebagian ulama ditanya tentang maksud firasat, dia menjawab, “Arwah yang bolak-balik di alam malakut sehingga mendapatkan ragam makna ghaib, dengan itulah dia mampu menyampaikan ragam rahasia makhluk dengan bahasa penyaksian diri dan tidak sekedar bahasa dugaan dan perkiraan.”
Syah Al Kirmâni pernah mengatakan, “Tajam nya firasat tidak akan pernah salah.”
Beliaupun pernah mengatakan, “Barangsiapa yang menundukkan pandangannya dari ragam perkara haram, dirinya pun mampu menahan syahwat, mampu memenuhi batinnya dengan murâqabah dan jasadnya dengan senantiasa mengikuti As-Sunnah, serta makan makanan yang halal, maka firasatnya tidak akan pernah salah.”
Ada juga ulama yang mengatakan, “Firasatnya murid bersifat dugaan yang perlu diasah, sementara firasatnya orang yang ‘Arifbillah bersifat realitas yang membutuhkan hakekat.”
Ahmad bin ‘Ashim Al Anthâki pernah mengatakan, “Jika kalian duduk dengan Ahlus-Shidq, maka duduklah bersama mereka dengan kejujuran jiwa, sebab hati mereka memiliki panca indera; mereka bisa masuk dan keluar ke dalam kalbu kalian tanpa kalian ketahui.”
